NAMA: AHMAD RASIDI ( 1502521488)
1.
Pernyataan dari
teks diatas adalah, bahwasanya pembelajaran pendidikan agama islam sangat
penting untuk dilaksanakan dengan baik agar kualitas manusia menjadi semakin
baik dalam menjalankan
kehidupan di dunia, dan pendidikan agama islam sangat
berperan penting untuk menjadikan manusia yang berakhlak mulia,beriman dan
bertakwa kepada allah swt. Namun didalam pernyataan tersebut menyatakan juga
bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pembelajaran pendidikan agama islam
di negara kita yang belum mampu menjadikan kualitas manusia yang berakhlak
mulia, yang sangat diharapkan oleh satuan pendidikan nasional. Menurut Hasan Lagulung dalan bukunya
asas-asas pendidikan islam, hasan lagulung mnjelaskan, bahwa tujuan pendidikan
harus dikaitkan dengan tujuan hidup manusia, atau lebih tegasnya, tujuan hidup
untuk menjawab persoalan, untuk apa kita hidup yakni semata-mata hanya untuk
menyembah kepada Allah swt. Oleh karena itu berbicara pendidikan agama islam,
baik makna maupun tujuannya haruslah mengacuh pada penanaman nilai-nilai islam
dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman
nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi anak
didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan diakhirat kelak.
2. Rumpun model mengajar
1.
Model pemrosesan informasi (information
Procesisng Models) menjelaskan bagaimana cara individu
memberi respon yang datang dari lingkungannya dengan
cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun
konsep dan rencana pemecahan masalah serta penggunaan simbol-simbol verbal
dan non verbal. Model ini memberikan kepada pelajar sejumlah konsep,
pengetesan hipotesis, dan memusatkan perhatian pada
pengembangan kemampuan kreatif. Model pengelolaan informasi ini secara umum
dapat diterapkan pada sasaran belajar dari berbagai usia dalam mempelajari
individu dan masyarakat. Karena itu model ini potensial untuk digunakan
dalam mencapai tujuan yang berdimensi personal dan sosial disamping
yang berdimensi intelektual. Adapun model-model pemrosesan menurut
Tom Final din (2001) terdiri atas:
a. Model berfikir Induktif.
Tokohnya adalah
Hilda Taba. Tujuan dari model ini adalah untuk mengembangkan proses mental
induktif dan penalaran akademik atau pembentukan
teori. Kemampuan-kemampuan ini berguna untuk tujuan-tujuan pribadi dan
sosial
b. Model Inkuiri Ilmiah.
Tokohnya adalah
Joseph J. Schwab. Model ini bertujuan mengajarkan sistem penelitian dari suatu
disiplin tetapi juga diharapkan untuk mempunyai efek
dalam kawasan-kawasan lain (metode-metode sosial mungkin diajarkan
dalam upaya meningkatkan pemahaman sosial dan pemecahan masalah sosial
c.
Model
Penemuan Konsep
Tokohnya,
Jerome Brunet. Model ini memiliki tujuaan untuk mengembangkan penalaran
induktif serta perkembangan dan analisis konsep.
d.
Model pertumbuhan Kognitif.
Tokohnya,
Jean Pieget, Irving sigel, Edmund Sulivan, dan Laawrence Kohlberg,
tujuannya adalah untuk meningkatkan perkembangan intelektual,
terutama penalaran logis, tetapi dapat pula diterapkan
pada perkembangan sosial moral.
e.
Model Penata Lanjutan
Tokohnya,
David ausebel. Tujuannya untuk me-ningkatkan efisiensi kemampuan pemrosesan
informasi guna menyerap dan mengkaitkan bidang-bidang pengetahuan.
2.
model personal (personal family) merupakan
rumpun model pembelajaran yang
menekankan kepada proses pengembangan kepribadian individu siswa
dengan memperhatikan kehidupan emosional. Proses pendidikan sengaja
diusahakan untuk memungkinkan seseorang dapat memahami dirinya dengan baik,
memikul tanggung jawab, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup
yang lebih baik. Model ini memusatkan perhatian keada
pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang
produktif. Sehingga diharapkan Smanusia menjadi semakin sadar diri dan
bertanggung jawab atas tujuannya. Adapun tokoh-tokohnya adalah:
a.Model
pengajaran nondirektif.
Tokohnya, Carl Rogers. Tujuan dari model ini adalah membentuk kemampuan
perkembangan pribadi dalam arti
kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
b. Model latihan Kesadaran
Tokohnya adalah fritz Peris dan William schultz tujuannya adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri. Banyak me-nekankan pada perkembangan kesadaran dan pemahaman antarpribadi.
c. Model Sinektik
Tokohnya adalah William Gordon model ini bertujuan untuk mengembangkan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
d. Model Sistem-sistem Konseptual
Tokohnya adalah, David Hunt tujuannya adalah me-ningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
e. Model pertemuan kelas
Tokohnya
adalah William Glasser. Bertujuan untuk mengembangkan pemahaman diri
sendiri dan kelompok sosial.
3. Model
sosial (social
family) menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan siswa
agar memiliki ke-cakapan untuk berhubungan dengan orang lain sebagai usaha
membangun sikap siswa yang demokratis dengan menghargai setiap perbedaan
dalam realitas sosial. Inti dari sosial model ini adalah konsep sinergi
yaitu energi atau tenaga (kekuatan) yang terhimpun melalui kerjasama
sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat. Dengan
menerapkan model sosial, pembelajaran di arahkan pada upaya
melibatkan peserta didik dalam menghayati, mengkaji, menerapkan
dan menerima fungsi dan peran sosial. Model sosial ini
dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama, membimbing para
siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai
masalah, mengumpulkan data yang relevan, dan mengembangkan serta
mengetes hipotesis, oleh karena itu guru, seyogianya mengajarkan proses
demokratis secara langsung jadi pendidikan harus diorganisasikan dengan
cara melakukan penelitian bersama (cooperative inquiry) terhadap
masalah-masalah sosial dan masalah-masalah akademis.
4. Model
sistem perilaku dalam pembelajaran (behavioral Model of Teaching)
dibangun atas dasar kerangka teori perubahan perilaku, melalui teori ini
siswa dibimbing untuk dapat memecahkan masalah belajaar melalui
penguraian perilaku kedalam jumlah yang kecil dan berurutan.
Dari
beragam pernyataan-pernyatan mengenai model pembelajaran diatas
menunjukan bahwa berbagai banyak cara untuk menerapkan pembelajaran
efektif dan efisien. Dengan semikian, melalui pendekatan-pendekatan
tersebut diharapkan guru dapat memilih pendekatan mana yang sesuai
dengan kebutuhan siswa dalam kondisi yang ada saat ini. Intinya
para guru harus bisa menyesuaikan dengan situasi didalam kelas
dan suasana hati siswa dalam proses pembelajaran. Jika hal
tersebut dapat dilakukan oleh guru secara tepat dan kontinyu,
proses pembelajaran di kelas akan dirasakan menyenangkasn baik
oleh guru maupun murid.
3.
Landasan filosofis, psikologis, dan sosiologis
memiliki implikasi terhadap pengembangan pendidikan dan juga berimplikasi pada
pengembangan teori belajar dan model pembelajaran, maksudnya disini adalah
bahwasanya Landasan Filsafat berupaya mengkaji berbagai permasalahan yang
dihadapai manusia, termasuk masalah pendidikan. Pendidikan sebagai ilmu
terapan, tentu saja memerlukan ilmu-ilmu lain sebagai penunjang, di antaranya
filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dan
pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Menurut Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang
sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya dan pendidikan
di Indonesia pada khususnya, yaitu : filsafat idealisme, realisme dan filsafat
fragmatisme. Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa,
filsafat merupakan perangkat nilai-nilai yang melandasi dan membimbing ke arah
pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, filsafat yang dianut oleh suatu
bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh
perorangan akan sangat mempengaruhi terhadap tujuan pendidikan yang ingin
dicapai.
Psikologis
dalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah psikologi yang dijadikan
titik tolak pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara
bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki
tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan
mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan
dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta didik.Psikologi belajar merupakan
suatu cabang bagaimana individu belajar. Belajar bisa diartikan sebagai
perubahan perilaku yang terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan perilaku
baik yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena
prosespengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar.
Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi secara insting atau terjadi karena
kematangan, atau perilaku yang terjadi secara kebetulan, tidak termasuk
belajar. Mengetahui tentang psikologi/teori belajar merupakan bekal bagi para
guru dalam tugas pokoknya yaitu pembelajaran anak.Psikologi atau teori belajar
yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga rumpun, yaitu :
Teori Disiplin Mental atau Teori Daya (Faculty Theory), Behaviorisme, dan
Organismik atau kognitif Gestalt Field.
Sosiologis
dalam belajar suatu Karakterstik sosial budaya di mana peserta didik
hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan. Bahkan
perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat sangat memprngaruhi pendidikan, baik
sebagai ilmu maupun aktivitas.
4. Menurut saya model yang tepat untuk mengembangkan pembelajaran PAI dimadrasah
adalah model Contextual Teaching Learning (CTL) karena konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan
dan keterampilan siswa dapat diperoleh dari usaha siswa mengkontruksikan
sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.
Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif
yakni, konstruktivisme, bertanya (questioning), menemukan (Inquiry),
masyarakat belajar (learning komunity), pemodelan (modeling), dan
penilaian sebenarnya (autentic assement)
5. Persamaan dari beberapa model tersebut adalah sama-sama memberikan
pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan anak dalam memahami suatu
pembelajaran dan untuk menumbuh
kembangkan daya berpikir dan wawasan anak dalam pembelajaran.
Perbedaannya adalah
-model pembelajaran kooperatif sama dengan model integrated yang mana siswa
disuruh belajar dalam membentuk kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan
yang berbeda-beda, dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiapa anggota saling
kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran
-Model Pembelajaran Berbasis masalah
(PBL) menurut Sugianto (2009:151) dirancang untuk membantu mencapai
tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan investigative,
memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa untuk menjadi pelajar yang
mandiri.
- Strategi pembelajaran
inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara
sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan
sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.Sasaran utama kegiatan
pembelajaran inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses
kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses
kegiatan belajar , mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang
ditemukan dalam proses inkuri.
6. Menurut saya model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran PAI disekolah
adalah model kooperatif dan integrated, karena model ini menunjukan sikap
kerjasama yang bagus untuk memahami suatu pembelajaran, yang mana jika ada
diantara siswa yang belum memahami tentang pelajaran tersebut, maka
teman-temannya bisa membantunya untuk memahami maksud dan tujuan dari
penjelasan pembelajaran tersebut.
7. Kriteria penetapan isi pembelajaran
a.
Mengidentifikasi
aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi
dasar
b. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran
c. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.
Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.
-Prinsip model
pembelajan PAI yang harus dikembangkan
Memperhatikan
kecenderungan kecenderungan siswa
Memanfaatkan
aktifitas individual para siswa
Menerapkan
prinsip kebebasan yang rasional dalam proses belajar tanpa membebani para siswa
dengan berbagai perintah atau larangan yang mereka tidak butuhkan.
8. Menurut saya desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan
untuk sekolah adalah desain pembelajaran Aktif, Inovatif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses
pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa
aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari
model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang
diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di
pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan
dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan
tentu saja rasa bosan.
Membangun
metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya
mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap
ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan
dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan
penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal
tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan
otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya
membangun rasa percaya diri siswa.
Kreatif
dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana
belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya
secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”)
tinggi.
9.
Mulyasa
(2002:100) mengemukakan bahwa pembelajaran pada hakekatnya adalah proses
interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilaku ke arah yang lebih baik
Daeng Sudirwo (2002:31) juga berpendapat bahwa pembelajaran
merupakan interaksi belajar mengajar dalam suasana interaktif yang terarah pada
tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Model pembelajaran Akidah Akhlak adalah pola atau rencana yang dapat
digunakan untuk mengoperasikan kurikulum, merancang materi pembelajaran dan
untuk membimbing belajar dalam setting kelas atau lainnya dalam menyiapkan dan
memberi pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami menghayati
dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan
sehari – hari.
Dalam suatu pembelajaran ada beberapa komponen yang
harus diperhatikan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran
diantaranya strategi, pendekatan, model, metode, maupun tekhnik serta taktik
dalam pembelajaran. Begitu pula dalam
pembelajaran aqidah akhlak sangat penting untuk guru memperhatikan beberapa
aspek komponen tersebut.
Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip - prinsip
pendidikan, teori- teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem,
atau teori- teori lain ( Joyce dan Weil,1992)
Model Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) dalam
materi Aqidah Akhlak juga dapat digunakan sebagai salah salah satu
alternative pilihan dalam pembelajaran, karena dengan Model Pembelajaran
Kooperatif (cooperative learning)
diharapkan akan mampu menjawab persoalan sosial kemasyarakatan,
sekaligus mencegah perlakuan individu yang bersifat negative yang menimpa
manusia masa kini.
Pembelajaran kooperatif, menurut
Yatim Riyanto, “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill),
sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal
skil.
Model pembelajaran fiqih bisa digunakan dengan metodepembelajaran
ceramah, diskusi, tanya jawab,
Zuhairini mendefinisikan bahwa metode ceramah “adalah suatu metode
di dalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-materi pelajaran kepada anak
didik dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan
Zuhairini, Memberikan pengertian tentang metode diskusi secara umum
sebagai salah satu metoide interaksi edukatif diartikan sebagai metode
didalam mempelajari bahan atau penyampaian bahan pelajaran dengan jalan
mendiskusikannya sehingga menimbulkan pengertian, pemahaman, serta perubahan
tingkah laku murid seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksionalnya
Menurut Bauer Sejarah ialah suatu
ilmu pengetahuan yang berikhtiar untuk melukiskan dan dengan penglihatan yang
simpatik menjelaskan fenomena kehidupan sepanjang terjadi perubahan karena
adanya hubungan antara manusia terhadap masyarakatnya. Melihat dampaknya pada
masa-masa berikutnya atau yang berhubungan dengan kualitas mereka yang khas dan
berkonsentrasi pada perubahan-perubahan yang temporer dan di dalam hubungan terhadap
yang tidak dapat diproduksi kembali.
Jadi, pendapat saya jika strategi dan metode atau model
pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dengan materi yang disampaikan
maka dapat dipastikan hasil dari pembelajaran tersebut tidak akan maksimal.
Terlebih lagi untuk jenjang MTs keatas yang membutuhkan kreatifitas dan
ketrampilan guru dalam menyampaikan materi supaya peserta didiknya tidak jenuh.
Oleh karena itu dibutuhkan guru yang kreatif dan inovatif merancang
pembelajarannya sehingga menarik bagi peserta didik sekaligus materi yang
disampaikannya dapat diterima peserta didik secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Daeng Sudirwo.
2002. Kurikulum dan Pembelajaran Dalam Rangka Otonomi Daerah.
Bandung : Andira
(Mulyasa, E.
2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung,
Rosdakarya.)
Junaedi. dkk, Strategi
Pembelajaran, (Surabaya: LAPIS-PGMI, 2008), hlm. 110
Junaedi. dkk, Strategi
Pembelajaran, Surabaya: LAPIS-PGMI,2008 hlm. 4.10 - 4.16
Joyce, B and Weil.M.
(1992). Models of Teaching,Fourth edition,massachused: needham
heights
Redja
Mudyahardjo, Waini Rasyidin, dan Saleh Soegiyanto. (1992). Materi Pokok
Dasar-
dasar Kependidikan. Modul 1-6, Jakarta : P2TK-PT Depdikbud.
Sugiyanto.
2009. Model-model Pembelajaran Inovatif.
Surakarta: Mata Padi Presindo
Umaedi (1999) Manajemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Directorate Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menegah, Directorate
Pendidikan Menengah Umum.
Indonesia, Jakarta
Yatim Riyanto, Paradigma
Baru Pembelajaran, Sebagai Referensi Bagi Pendidik Dalam
Implementasi Pembelajaran Yang
Efektif dan Berkualitas. Jakarta: Kencana
Prenada
Media Group. 2009. Hlm. 271
Zuhairini, dkk,
Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991). Cet
ke-8, h. 28)