PERNYATAAN
Pembelajaran PAI adalah jantungnya pendidikan di Indonesia dan amat
penting dalam mengembangkan kualitas manusia masa mendatang.
Melalui
pembelajaran PAI anak didik memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan
menjadi warga negara yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, produktif serta
kreatif. Sayangnya, pembelajaran masa kini masih belum mampu mengembangkan
kualitas manusia Indonesia yang diharapkan berdasarkan tujuan pendidikan
nasional. Banyak faktor penghambat yang diidentifikasi para ahli, seperti
kompetensi guru, karakteristik kurikulum, sarana dan pasilitas, serta kebijakan
lainnya yang tak mendukung. Kajian model pembelajaran PAI dapat memberikan
visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran PAI,
berdasarkan pandangan teoritis yang terdapat dalam banyak lterature model dan
desain pembelajaran pendidikan Islam. Inilah salah satu manfaat dari kajian
model pembelajaran PAI.
PERTANYAAN
1.
Jelaskan arti
pernyataan diatas!
Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa Pendidikan agama Islam di
Indonesia dewasa ini mendapatka sorotan tajam dari masyarakat. Sebagian
pengamat pendididkan berpendapat bahwa krisis ekonomi dan politik terutama
krisis moral yang melanda masyarakat Indonesia secara berkepanjangan disebabkan
pembinaan mental yang gagal. Hal ini menandakan bahwa PAI telah gagal membina
masyarakat, khususnya peserata didik unutuk menjadi insan yang beriman dan
bertaqwa. Menurut Nurkhalis Majid bahwa kegagalan Pendidikan Agama Islam
disebabakan pembelajaran PAI lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat
formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya dan juga disebabkan adanya
kurangnyakompetensi guru, karakteristik
kurikulum, sarana dan pasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak mendukung.[1]
Proses belajar mengajar diakui selama ini masih mengejar target pencapaian
kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang diperlukan lebih pada suasana
keagamaan.
Dalam
pemendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyebutkan bahwa tujuan mata
pelajaran pendidkan agama Islam yakni untuk mewujudkan manusia Indonesia yang
taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin
beribadah, cerdas, produktif, jujur adil, etis, berdisiplin, bertoleransi,
menjadi keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya
agama dalam komunitas sekolah.[2]
Dari
sini dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam bukan hanya tugas dari guru
agama saja, tetapi merupakan tugas bersama dalam lingkungan persekolahan baik
itu kepala sekolah, guru agama, seluruh aparat sekolah, dan orang tua murid,
maka pendidikan agama Islam menjadi perlu dan dikembangkan menjadi budaya
sekolah. Dan juga dengan adanya Kajian model
pembelajaran PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam
mengembangkan proses pembelajaran PAI.
2.
Model
pembelajaran dilandasi oleh pandangan filosofi yang berbeda dalam memandang
tentang anak, cara belajar, tujuan pendidikan, guru, serta lingkungan,
kemukakan dan jelaskan secara komprehensip rumpun model pembelajaran menurut
para ahli!
Joyce mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran
yakni; (1)rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada
kemampuanmemecahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakat. (2) Model pemrosesan
informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada
pengusaandisiplin ilmu. (3) Model pengembangan pribadi, rumpun model ini
lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian peserta didik. Selanjutnya
model (4) behaviorism yakni model yang berorientasi pada perubahan
perilaku.[3]
Model Classroom Meeting Ahli yang menyusun model ini adalah William Glasser. Menurut Glasser adalah
sekolah umumnya berhasil membina perilaku ilmiah, meskipun demikian adakalanya
sekolah gagal membina kehangatan hubungan antar pribadi. Kehangatan hubungan
pribadi bermanfaat bagi keberhasilan belajar, agar sekolah dapat membina
kehangatan hubungan antar pribadi, maka dipersyaratkan; (a) guru memiliki rasa
keterlibatan yang mendalam, (b) guru dan peserta didik harus berani menghadapi
realitas, dan berani menolak perilaku yang tidak bertanggung jawab, dan (c)
peserta didik mau belajar cara- cara berprilaku yang lebih baik. Agar peserta
didik dapat membina kehangatan hubungan antara pribadi, guru perlu menggunakan
strategi mengajar yang khusus. Karakteristik pendidikan agama Islam salah
satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kepribadian yang
hangat, tegas dan santun.
Model Cooperative
Learning Model ini dikembangakan salahsatunya oleh
Robert E. Slavin. Model ini membagi peserta didik dalam kelompok-kelompok
diskusi, di mana satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, masing-masing
kelompok bertugas menyelesaikan/memecahkan suatu permasalahan yang dipilih.
Model Integrated Learning Hakikat model pembelajaran terpadu merupakan suatu system pembelajaran
yang memungkinkan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok untuk
aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara
holistik, bermakna dan otentik.Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa
otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar
sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan secara
serempak dibahas. Rancangan pembelajaran terpadu secara eksplisit merumuskan
tujuan pembelajaran. Dampak dari tujuan pengajaran dan pengiringnya secara langsung
dapat terlihat dalam rumusan tujuan tersebut.
Model
Constructivist Learning
Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran
yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali
dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi
melalui pengetahuan diri (self-regulation). Dan akhirnya proses belajar,
pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil
interaksi dengan lingkungannya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat
interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki peserta didik dengan fenomena
baru yang dapat diintegrasika begitu saja, sehingga diperlukan
perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mecapai kesimbangan. Peristiwa ini
akan terjadi secara berkelanjutan selama peserta didik menerima pengetahuan
baru.
Model
Inquiry Learning. Model
inkuiri dapat dilakukan melalui tujuh langkah yaitu: (a) merumuskan masalah,
(b) merumuskan hipotesis, (c) mendefinisikan istilah (konseptualisasi), (d)
mengumpulkan data, (e) penyajian dan analisis data, (f) menguji hipotesis, (g)
memulai inkuiri baru. Selain dari pendapat para ahli di atas mengenai
langkah-langkah model inkuiri social, Joyce mengemukakan bahwa langkah-langkah
penerapan inkuiri pada pokoknya adalah (a) orientasi, (b) hipotesis, (c)
definisi, (d) eksplorasi, (e) pembuktian, (f) generalisasi.
Model
Quantum Learning. Quantum
Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar
yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan peserta didik. Dari kutipan
tersebut diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya pengorgani-sasian bermacam macam interaksi yang ada di sekitar momen belajar.[4]
3.
Landasan
filosofis, psikologis dan sosiologis memiliki implikasi terhadap pengembangan
teori pendidikan dan selanjutnya juga berimplikasi pada pengembangan teori
belajar dan model pembelajaran, jelaskan maksudnya, kemukakan contohnya!
Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang
dijadikaan titik tolak pendidikan. Ada berbagai aliran filsafat, antara lain:
Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Pancasila, dsb. Landasan filosofis pendidikan
tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Sebab itu,
dikenal adanya landasan filosofis pendidikan Idealisme, landasan filsofis
pendidikan Pragmatisme, dsb. Contoh: Penganut Realisme antara lain berpendapat
bahwa ”pengetahuan yang benar diperoleh manusia melalui pengalaman atau
penginderaan”. Implikasinya, penganut Realisme mengutamakan metode mengajar
yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperoleh pengetahuan
melalui pengalaman langsung (misal: melalui observasi, praktikum, dsb.) atau
melalui pengalaman tidak langsung (misal: melalui membaca laporan-laporan hasil
penelitian,dsb). Selain tersajikan berdasarkan aliran-alirannya, landasan
filosofis pendidikan dapat pula disajikan berdasarkan tema-tema tertentu.
Misalnya dalam tema: “Manusia sebagai Animal Educandum”
landasan Psikologis Adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah
psikologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Setiap individu
mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya
setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”.
Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi
pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta
didik.
Landasan Sosiologis Adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak
pendidikan.
Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada
setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan
yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara
bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas
perkembangan peserta didik.
4.
Berdasarkan
kajian terhadap model-model pembelajaran, menurut anda model apa yang tepat
dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia!
Pada dasarnya tidak ada strategi pembelajaran yang dipandang paling
baik, karena setiap strategi pembelajaran saling memiliki keunggulan
masing-masing. Strategi pembelajaran yang dinyatakan baik dan tepat untuk
mencapai tujuan pembelajaran tertentu
belum tentu baik dan tepat digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang lain. ltulah sebabnya,
seorang pendidik diharapkan memiliki
pengetahuan dan kemampuan dalam memilih dan menerapkan berbagai strategi
pembelajaran, agar dalam melaksanakan tugasnya dapat memilih alternatif
strategi yang dirasakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuan itu dapat tercapai melalui penataan pendidikan yang baik.
Madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam membendung efek
negatif globalisasi dan melakukan rekontruksi moral. Bukannya madrasah menolak
kemajuan iptek, hanya saja harus ada proses adaptif tanpa meninggalkan sikap
kritis atas ekses dari proses modernisasi itu sendiri. Dengan mengintegrasikan
antara iptek dan imtaq, maka kemajuan teknologi tersebut dapat diarahkan kepada
kehidupan yang lebih Islami. Dengan memberikan kaitan keagamaan dalam setiap
mata pelajaran dengan begitu siswa dapat mengetahui keseimbangan imtaq dan
ipteks.
Menurut saya model yang tepat untuk mengembangkan pembelajaran PAI di
madrasah adalah Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) yaitu
suatu model pengajaran yang teroragisasi yang terdiri atas komponen yang
menitik beratkan pada tujuan pengajaran. Sehingga pengajaran selalu mengacu
pada tujuan pendidikan khususnya tujuan instruksional. Istilah “sistem instruksional” dalam PPSI menunjukkan pada
pengertian sebagai suatu kesatuan pengajaran yang terorganisasi yang terdiri
atas sejumlah komponen antara lain : materi, metode, alat, evaluasi yang
kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran yang
telah ditetapkan. PPSI
merupakan langkah – langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai
suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.[5]
Dengan diterapkannya pola pengembangan pengajaran PPSI ini pada madrasah
– madrasah yang dikelola oleh Departemen Agama RI sebagai suatu usaha untuk
meningkatkan mutu pengajaran yang sebenarnya. Pengenalan dan pengembangan pola
PPSI ini dimaksudkan agar para tenaga pengajar agama dapat memahami dan
meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang berorientasi pada tujuan
sebagaimana yang dimaksud dalam pengembangan PPSI tersebut.
5.
Coba anda
kemukakan perbedaan dan persamaan model kooperatif integrated, berbasis
masalah, dan inquri!
Persamaan model kooperatif integrated, Inkuiri dan Strategi Berbasis
Masalah (Problem Solving)
Dalam hal
ini, guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana
siswa dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan
pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada
lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.
Keberhasilan dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berkaitan
dengan diri siswa, diantaranya adalah kemampuan, minat, motivasi, keaktifan
belajar dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri
siswa, diantaranya adalah model pembelajaran.
Ketiga Model pembelajaran ini memiliki
andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap
pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang
tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Ketiga model
pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan
pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Model pembelajaran
kooperatif, berbasis masalah dan inquiri ini dapat digunakan untuk mengajarkan
materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Perbedaan model kooperatif integrated, Inkuiri dan Strategi Berbasis
Masalah (Problem Solving)
Model
kooperatif integrated : Guru
menerangkan suatu pokok bahasan materi kepada siswa, pada penelitian ini
digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan
Model kooperatif integrated : Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian
kegiatan bersama yang spesifik
Model kooperatif integrated : Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator
model Inkuiri : Pada strategi ini materi ditemukan
sendiri oleh siswa. Guru atau pengajar tidak membawa atau memiliki materi
apapun sebagai pengacunya. Guru sudah menyediakan beberapa topik masalah untuk
diselesaikan, dan guru menuntun siswa dalam penyelesaian masalah tersebut.
Materi timbul saat studi lapangan.
model Inkuiri : Mementingkan mencari jawaban atas
permasalahan sampai tingkat yakin. Dalam mencari jawaban, siswa menganalisisnya
dengan fakta-fakta yang ada. Titik tekannya lebih pada objek hakikat yang di
cari. Guru tidak memiliki bahan untuk dianalisis
Model Inkuiri : Pemecahan masalah sampai ke kualiats
Objek. Tetapi belum tentu menyelesaikan masalah. Strategi Inkuiri lebih memakan
waktu yang lama.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Guru sudah menyediakan materi untuk
dibahas. Namun guru tidak secara langsung memberikan materi tersebut. Guru
memberi ruang bagi siswa untuk mencari masalah yang berkaitan dengan pokok
pembahasan, kemudian guru menuntun siswa agar mencari penyelesaian masalah
sesuai dengan bahan yang guru miliki.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Berpikir secara logis, tepat, tidak
sampai pada hakikat dari objek yang dicari. Karena lebih ditekankan pada
penggunaanya. Tidak mencari hakikat. Mencari sebuah objek hanya sebatas mencari
masalah yang ada. Jika sudah menemukan jawabannya, maka analisis sudah berhenti
sampai disitu. Tidak mencari hakikat lain yang berhubungan dengan objek
masalah. Masalah yang ada di Prolem Solving sudah diarahkan oleh guru.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Masalah harus terselesaikan sesuai dengan
objek.
6.
Berdasarkan
telaah terhadap model desain pembelajaran, model
desain pembelajaran yang bagaimana yang tepat untuk mata pelajaran PAI di
Sekolah!
Untuk menghasilkan suatu
produk pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang berkualitas, dapat dipilih atau
digunakan suatu model untuk pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
dengan diikuti langkah – langkah pengembangannya secara konsisten sehingga
dapat menghasilkan produk pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang
berkualitas.
Menurut
penulis Model desain Kemp lah yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI
karena Kemp mengemukakan beberapa alasan pentingnya design pengembangan
pembelajaran, antara lain (1)tingkat hasil belajar atau ketrampilan yang
diperoleh peserta didik masih jauh dari harapan, (2)biaya program pembelajaran yang
terlalu tinggi, (3)alokasi waktu yang dibutuhkan untuk program pembelajaran
lebih lama daripada yang dikehendaki, (4)adanya keinginan untuk mengubah metode
pembelajaran yang konvensional kemetode belajar yang lebih mandiri dan sesuai
dengan tingkat kecepatan individu, (5)peserta didik kurang merasa puas terhadap
program pembelajaran, (6) masukan dari hasil penelitian, rekomendasi para pakar,
dan laporan dari pengalaman penyelenggaraan program yang menghendaki perubahan,
(7) masih banyak isi program pembelajaran yang perlu ditambah dan direvisi,
(8)persyaratan kemampuan atau ketrampilan dilapangan kerja yang telah berubah,
dan (9)penyesuaian program pembelajaran dengan tuntutan kebutuhan administrasi.
Desaign
pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model Kemp
berpijak pada 4 (empat) unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan
wujud jawaban atas pertanyaan: (1)untuk siapa program itu dirancang? Peserta
didik, (2)kemampuan apa yang ingin dipelajari? Tujuan, (3)bagaimana isi
pelajaran atau ketrampilan
dapat dipelajari?
Metode, dan (4)bagaimana guru menentukan tingkat penguasaan pelajaran yang
telah dicapai? Evaluasi[6]
7.
Uraikan
kriteria penetapan isi pembelajaran, dan prinsip apa saja menurut anda dalam pemilihan
model pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan!
Bahan pembelajaran berada dalam ruang
lingkup isi kurikulum. Oleh karena itu, pemilihan bahan pembelajarn
hendaklah sejalan dengan ukuran-ukuran
atau kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum mata pelajaran yang
bersangkutan. Kriteria pemilihan bahan pembelajaran akan dikembangkan dalam
system instuksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar dan
pembelajaran. Pemilihan bahan pembelajaran tersebut hendaknya memenuhi kriteria-kriteria
berikut ini.
a.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran
Bahan pembelajaran yang terpilih
dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional khusus atau tujuan-tujuan
tingkah laku. Karena itu, materi tersebut hendaknya sejalan dengan
tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
b.
Menjabarkan tujuan pembelajaran
Perincian bahan pembelajaran
berdasarkan pada tuntutan dimana setiap tujuan pembelajaran telah dirumuskan
secara spesifik , dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan
yang erat antara spesifikasi tujuan dan
spesifikasi bahan pembelajaran.
c. Relevan dengan
kebutuhan pesrta didik
Kebutuhan peserta didik yang pokok
adalah berkembang berdasarkan potensi
yang dimilikinya. Oleh sebab itu bahan pembelajaran yang akan disajikan
hendaknya sesuai dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat
dan utuh terkait dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap.
d. Sesuai dengan
kebutuhan masyarakat
Peserta didik dipersiapkan untuk
menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu hidup mandiri. Dalam hal ini, bahan pembelajaran
yang dipilih hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif
yang bermakna bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang berguna dan mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
masyarakatnya.
e. Mempertimbangkan
norma yang berlaku
Bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya mempertimbangkan norma-norma yang
berlaku. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari bahan pembelajaran
hendaknya dapat mengembangkan diri peserta didik sebagai manusia yang memiliki
etika dan moral sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang berlaku di
masyarakatnya.
f. Tersusun
dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik serta logis
Setiap bahan pembelajaran disusun
secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya dan terpusat pada satu
topik masalah tertentu. Bahan pembelajaran disusun secara berurutan dengan
mempertimbangkan faktor perkembangan psikologis peserta didik. Dengan cara ini
diharapkan isi bahan pembelajaran tersebut akan lebih mudah diserap oleh
peserta didik dan tujuan pembelajaran dapat dapat tercapai.
g. Bersumber
dari buku sumber yang baku, keahlian guru, masyarakat dan fenomena alam.
Keempat faktor ini perlu diperhatikan
dalam memilih bahan pembelajaran. Buku sumber yang baku dimaksud adalah yang
disusun oleh para ahli dalam bidang pendidikan dan disusun berdasarkan GBPP
yang berlaku. Kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang diharapkan,
setidaknya keberadaan buku tersebut akan sangat membantu bagi penyusunan bahan
pembelajaran.
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan
bahan pembelajaran sebagaiman dijelaskan berikut ini.
1.
Memahami Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan, Silabus, Program Semeter, dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
2.
Mengidentifikasi Jenis Bahan
Pembelajaran Berdasarkan Pemahaman terhadap Poin
3.
Melakuan Pemetaan Materi
4.
Menetapkan Bentuk Penyajian
5.
Menyusun Struktur (Kerangka) Penyajian
6.
Membaca Buku Sumber
7.
Membuat Draft Bahan Pembelajaran
8.
Merevisi (Menyunting) Bahan
Pembelajaran
9.
Mengujicobakan Bahan Pembelajaran
10. Merevisi dan
Menulis Akhir (Finalisasi).[7]
Prinsip –
Prinsip pemilihan Metode Pembelajaran
PAI yang seharusnya dikembangkan adalah:
1.
Mengetahui motivasi, kebutuhan dan minat anak didik.
2.
Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
3.
Mengetahui tahap kematangan, perkembangan serta
perubahan anak didik.
4.
Mengatahui perbedaan – perbedaan individu didalam anak
didik.
5.
Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang
menggembirakan bagi anak- anak didik.
6.
Aktivitas, yaitu belajar itu hanya berhasil bila
melalui bermacam-macam kegiatan baik jasmani maupun rohani.[8]
8.
Menurut anda
bagaimana desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan untuk sekolah?analsislah berdasarkan teori-teori pendidikan dan
pembelajaran, dan pandangan Islam.
Madrasah
Desain pembelajaran PAI dimadrasah isi atau materi pelajaran agama di
madrasah sangat menonjol karena madrasah adalah lembaga pendidikan yang
bercirikan atau khas dengan Islam. Dalam pengembangannya yang panjang
eksistensinya, madrasah banyak melahirkan hal positif dan negative, sesuai
dengan pasang surut kualitas para pengelola yang terkait didalamnya.
Dalam kaitannya dengan madrasah, perangkat pokok untuk pencapaian tujuan
pendidikan Agama Islam adalah materi, karena madrasah adalah sekolah yang
banyak mengambil peran soal agama, maka isi materinya pun banyak tentang agama,
dalam hal ini dapat dicontohkan pada mata pelajaran fiqih, dalam fiqih
mengandung banyak hal yang bisa dibahas dan dikembangkan, dimadrasah pelajaran
fiqih dibahas secara mendalam dan dipelajari dengan teori dan prakteknya
sekaligus, seperti yang digambarkan dalam deskripsi atau kerangka silabus,
bahwa dimadrasah itu dipelajarai fiqih secara mendalam, teorynya dijelaskan
dengan mendalam dan dimaksud kan pula semua siswa dapat mempraktekkanya dalam
kehidupan. Dimadrasah pelajaran yang menyangkut keagamaan itu terpisah-pisah
sehingga siawa dapat mempelajari setiap materi tentang keagamaannya, misalnya
pelajaran fiqih, akhlah, aqidah, dan bahasa arab. Dalam fiqih dibahas secara
mendalam mengenai shadaqah dan infak, dimateri ini siswa harus memahai secara
teori dan praktek agar siswa bisa lebih mendalami dan mendapatkan manfaat dari
materi yang dipelajari, contohnya setelah siawa memahami arti shadaqah dan
infak, maka siswa diharapkan bisa membiasakan untuk bershadaqah. Dalam hal ini
bisa dikaitkan dengan pencapaian pendidikan Agama Islam adalah dengan
mempelajari materi pelajaran yang berbeda-beda dan terpisah-pisah antara fiqih
dan materi lain diharapkan siswa benar-benar mendapatkan banyak ilmu khususnya
soal agama, agar tujuan Pendidikan Agama Islam itu sendiri dapat berjalan
dengan baik, yaitu menjadikan siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt yang
kemudian menjadikan siswa itu bisa menjadi insane kamil.
Sekolah
Desain pembelajaran PAI di sekolah Isi materi pendidikan Agama Islam pada
sekolah tetap membahas lingkup fiqih tetapi sedikit berbeda dengan madrasah,
bila pelajaran fiqih dimadrasah itu dibahas secara mendalam tapi tidak halnya
dengan SD bahwa mata pelajaran fiqih dipelajari secara garis besarnya saja,
dalam deskripsi telah dipaparkan apasaja materi fiqih yang akan dipelajari
selama 1 semester, disana telah di sebutkan bahwa pelajaran fiqih membahas
tentang azan dan iqamah, dimata pelajaran ini siswa diharapkan bisa melafalkan
dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebelum shalat siswa
diharapkan bisa melafalkan azan dan iqamah.
Tetapi melihat bahwa materi pelajaran yang
tidak sama antara sekolah dan madrasah dapat membedakan pula hasil belajarnya,
pada madrasah tiap mata pelajaran yang menyangkut soal agama itu ter pisah –
pisah sedangkan kalau disekolah itu tidak. Dari sini lah dapat dikaitkan
kembali dengan pencapaian tujuan pendidikan agama Islam di sekolah adalah
secara nyata real dan sebenarnya, tujuan tersebut adalah menjadikan peserta
didik agar memilki kemantapan akidah dan kedalaman spiritual, keunggulan akhlak
dan wawasan keagamaan. Namun pada kenyataannya dilihat dari materi pelajaran
disekolahuntuk mencapai tujuan tersebut agaknya sedikit susah karena materi
tidak dibahas secara mendalam melainkan hanya secara garis besarnya saja.
Alokasi
Waktu
Alokasi
waktu di setiap pelajaran itu pasti ada dan antara madrasah dan Sekolah pun
berbeda mengenai alokasi waktu dalam mempelajari setiap materi PAI dimadrasah
atau disekolah sehingga keduanya pun bisa mempunyai perbedaan pencapaian tujuan
PAI dengan materi dan alokasi waktu yang berbeda, berikut ini uraian nya dari
masing-masing sekolah mengenai alokasi waktu pelajaran materi PAI di
masing-masing sekolah baik madrasah dan Sekolah.
Di madrasah alokasi waktu di setiap materi sangat berbeda karena materi
pelajaran agama yang sangat banyak maka memerlukan waktu yang sangat banyak
pula. Jika dilihat begitu banyak waktu pelajaran PAI di madrasah karena
banyaknya materi yang akan dibahas. Mata pelajaran fiqih mempunyai kajian
sendiri dengan materi lain,begitu pula dengan materi lainnya sehingga semakin
banyak materi yang akan dibaha, semakin banyak pula waktu yang akan digunakan.
Alokasi waktu yang digunakan di madrasah untuk 1 materi pembahasan tentang
kajian fiqih misalnya, itu berkisar 45 menit.dan begitu pula dengan pelajaran
pada materi lain.
Disekolah alokasi waktu setiap materi PAI
sangat berbeda dengn madrasah bila di madrasah 1 minggunya bisa mencapai lebih
dari 6jam untuk meteri agama saja termasuk pelajaran fikih dan lain-lain,
sedangkan alokasi waktu di sekolah hanya 2 – 3 jam saja setiap 1 minggu, dengan
demikian terjadilah perbedaan antara sekolah dasar dan madrasah, sehingga
pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dasar belum terelisasikan dengan baik.
ANALISA
Dari
penjelasan diatas dapat di analisa bahwa tujuan pendidikan pada umumnya adalah
sama menjadikan siswa beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan menjadi kan
siswa tersebut menjadi insan kamil, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Imam
Al-Ghazali bahwa
‘tujuan Pendidikan Agama Islam adalah
terutama adalah ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insani
yang tujuannya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat”, tetapi proses dan jalannya
suatu pencapaian tujuan pendidikannya saja yang sedikit berbeda karena
kurikulum disetiap sekolah itu berbeda. Pendekatan berbasis pada sekolah atau
madrasah dalam perkembangan kurikulum memiliki kelebihan-kelebihan di antaranya
kurikulum disusun sesuai dengan karakteristik sekolah, sehingga terjadilah perbedaan
antara wantu juga materi pelajaran di sekolah dan madrasah.
9.
Materi PAI
terdiri dari beberapa aspek kajian seperti akidah, akhlak, fikih, sejarah, dan
al-qur’an serta hadis. Masing-masing memliki karakteristik tujuan yang berbeda,
tentu kalau berdasarkan kajian model pembelajaran memiliki desain dan model
yang berbeda. Kemukakan pendapat anda, dengan dukungan teori pembelajaran!
Pendidikan agama Islam pada dasarnya hendak menghantarkan peserta didik
agar memiliki: (1) kemantapan aqidah dan kedalaman spritual; (2) keunggulan
akhlak. Dalam konsep Islam, kemantapan aqidah merupakan potensi rohani yang
harus diaktualisasikan dalam bentuk amal saleh, sehingga menghasilkan prestasi
rohani (iman) yang
disebut taqwa. Amal
saleh itu menyangkut
keserasian dan keselarasan
hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang
membentuk dengan kesalehan pribadi; hubungan manusia dengan sesamanya yang
membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan
alam sekitar. Kualitas amal saleh akan menentukan derajat ketaqwaan (prestasi
rohani/iman) seseorang di hadapan Allah SWT.
Ruang
lingkup pendidikan Islam dapat dilihat dari beberabapa dimensi yaitu (1) dimensi
keimanan peserta didik
terhadap ajaran agama
Islam; (2) dimensi pemahaman atau penalaran
(intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam; (3)
dimensi penghayatan atau pengalaman bathin yang dirasakan peserta didik dalam
menjalankan ajaran Islam; dan (4) dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana
ajaran agama yang telah diimani, dipahami, dan dihayati atau diinternalisasi
oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk
menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai- nilainya dalam
kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
SWT serta mengaktualisasikan dan
merealisasikannya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Pengajaran agama
diberikan di sekolah
diorganisasikan dalam bentuk kelompok-kelompok mata pelajaran yang
disebut bidang studi (broadfields) dandilaksanakan melalui sistem kelas. Dalam
struktur program madrasah, pengajaran agama Islam dibagi menjadi empat buah
bidang studi, yaitu: Al-Qur’an dan Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, serta Sejarah
Kebuadayaan Islam. Hal tesebut merupakan perwujudan dari keserasian,
keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah
SWT, diri sendiri,
sesama manusia, makhluk
lainnya maupun lingkungannya.[9]
Menurut pendapat penulis berdasarkan dari keterangan diatas bahwa dari beberapa
aspek kajian seperti akidah, akhlak, fikih, sejarah, dan al-qur’an serta hadis.
Masing-masing memliki karakteristik tujuan yang berbeda,karena pada dasarnya materi
yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu
dengan yang lainnya. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling
terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur’an-Hadits merupakan sumber utama
ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber aqidah-akhlak, syari’ah/fiqih
(ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Aqidah
(ushuluddin) atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Syariah/fiqih
(ibadah, muamalah) dan akhlak bertitik tolak dari aqidah, yakni sebagai
manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup).
Syari’ah/fiqih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia
dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan aspek
sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma
yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan
hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup
dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik,
ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek,
olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh aqidah yang kokoh.
Sedangkan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam merupakan perkembangan perjalanan
hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan
bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang
dilandasi oleh aqidah.
Walaupun dalam model pembelajaran PAI ini banyak model dan desain yang
berbeda semuanya itu bertujuan untuk memperkuat aktivitas pendekatan ilmiah
(scientific), dan tematik internal (dalam suatu mata pelajaran PAI) perlu
diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry
learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya
kontekstual, baik individual maupun kelompok dan guna untuk tercapainya tujuan
pembelajaran.
Daftar Pustaka
Humaidi, Model-Model Pembelajaran Kreatif, 2006, Bandung,
Rosdakarya.
Majid , Abdul & Dian Andayani , Pendidikan Agama Islam
Berbasis Kompetensi, 2005,
Bandung : Rosda Karya,
Muhaimin, Rekontruksi Pendidikan Islam,2009, Jakarta
: rajawali Press
Muhaimin, Paradigma
Pendidikan Islam, 2002, Bandung, Remaja Rosda Karya
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, 2006, Bandung.
Rosadakarya
Prastowo, Andi, Panduan Kreaftif
Membuat Bahan Ajar Inovatif, 2011,Jogjakarta:
Diva
Press
Salamah, Pengembangan Model
Kurikulum Holistik Pendidikan Agama Islam Pada
Madrasah
Tsanawiyah,2011,Yogyakarta
:Aswaja Pressindo
Usman,
Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta :
Ciputat Press.
Yamin,
Martinis. 2003. MetodePembelajaran yang Berhasil. Jakarta:Sasana Mitra
Suksesa.
[1] Abdul Majid & Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam
Berbasis Kompetensi, (Bandung :
Rosda Karya,2005), hlm 165
[6] Muhaimin, Paradigma
Pendidikan Islam, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 2002), h.221
[9] Salamah, Pengembangan Model Kurikulum Holistik Pendidikan Agama Islam
Pada Madrasah Tsanawiyah,( Yogyakarta :Aswaja Pressindo, 2011).hlm. 36