Model - Ahmad Gajali





PERNYATAAN
Pembelajaran PAI adalah jantungnya pendidikan di Indonesia dan amat penting dalam mengembangkan kualitas manusia masa mendatang.
Melalui pembelajaran PAI anak didik memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan menjadi warga negara yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, produktif serta kreatif. Sayangnya, pembelajaran masa kini masih belum mampu mengembangkan kualitas manusia Indonesia yang diharapkan berdasarkan tujuan pendidikan nasional. Banyak faktor penghambat yang diidentifikasi para ahli, seperti kompetensi guru, karakteristik kurikulum, sarana dan pasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak mendukung. Kajian model pembelajaran PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran PAI, berdasarkan pandangan teoritis yang terdapat dalam banyak lterature model dan desain pembelajaran pendidikan Islam. Inilah salah satu manfaat dari kajian model pembelajaran PAI.
PERTANYAAN
1.      Jelaskan arti pernyataan diatas!
Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa Pendidikan agama Islam di Indonesia dewasa ini mendapatka sorotan tajam dari masyarakat. Sebagian pengamat pendididkan berpendapat bahwa krisis ekonomi dan politik terutama krisis moral yang melanda masyarakat Indonesia secara berkepanjangan disebabkan pembinaan mental yang gagal. Hal ini menandakan bahwa PAI telah gagal membina masyarakat, khususnya peserata didik unutuk menjadi insan yang beriman dan bertaqwa. Menurut Nurkhalis Majid bahwa kegagalan Pendidikan Agama Islam disebabakan pembelajaran PAI lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya dan juga disebabkan adanya kurangnyakompetensi guru, karakteristik kurikulum, sarana dan pasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak mendukung.[1] Proses belajar mengajar diakui selama ini masih mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang diperlukan lebih pada suasana keagamaan.
Dalam pemendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyebutkan bahwa tujuan mata pelajaran pendidkan agama Islam yakni untuk mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjadi keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.[2]
Dari sini dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam bukan hanya tugas dari guru agama saja, tetapi merupakan tugas bersama dalam lingkungan persekolahan baik itu kepala sekolah, guru agama, seluruh aparat sekolah, dan orang tua murid, maka pendidikan agama Islam menjadi perlu dan dikembangkan menjadi budaya sekolah. Dan juga dengan adanya Kajian model pembelajaran PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran PAI.

2.      Model pembelajaran dilandasi oleh pandangan filosofi yang berbeda dalam memandang tentang anak, cara belajar, tujuan pendidikan, guru, serta lingkungan, kemukakan dan jelaskan secara komprehensip rumpun model pembelajaran menurut para ahli!
Joyce mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran yakni; (1)rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuanmemecahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakat. (2) Model pemrosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada pengusaandisiplin ilmu. (3) Model pengembangan pribadi, rumpun model ini lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian peserta didik. Selanjutnya model (4) behaviorism yakni model yang berorientasi pada perubahan perilaku.[3]
Model Classroom Meeting Ahli yang menyusun model ini adalah William Glasser. Menurut Glasser adalah sekolah umumnya berhasil membina perilaku ilmiah, meskipun demikian adakalanya sekolah gagal membina kehangatan hubungan antar pribadi. Kehangatan hubungan pribadi bermanfaat bagi keberhasilan belajar, agar sekolah dapat membina kehangatan hubungan antar pribadi, maka dipersyaratkan; (a) guru memiliki rasa keterlibatan yang mendalam, (b) guru dan peserta didik harus berani menghadapi realitas, dan berani menolak perilaku yang tidak bertanggung jawab, dan (c) peserta didik mau belajar cara- cara berprilaku yang lebih baik. Agar peserta didik dapat membina kehangatan hubungan antara pribadi, guru perlu menggunakan strategi mengajar yang khusus. Karakteristik pendidikan agama Islam salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kepribadian yang hangat, tegas dan santun.
Model Cooperative Learning Model ini dikembangakan salahsatunya oleh Robert E. Slavin. Model ini membagi peserta didik dalam kelompok-kelompok diskusi, di mana satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, masing-masing kelompok bertugas menyelesaikan/memecahkan suatu permasalahan yang dipilih.
Model Integrated Learning Hakikat model pembelajaran terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan secara serempak dibahas. Rancangan pembelajaran terpadu secara eksplisit merumuskan tujuan pembelajaran. Dampak dari tujuan pengajaran dan pengiringnya secara langsung dapat terlihat dalam rumusan tujuan tersebut.
Model Constructivist Learning Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self-regulation). Dan akhirnya proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki peserta didik dengan fenomena baru yang dapat diintegrasika begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mecapai kesimbangan. Peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan selama peserta didik menerima pengetahuan baru.
Model Inquiry Learning. Model inkuiri dapat dilakukan melalui tujuh langkah yaitu: (a) merumuskan masalah, (b) merumuskan hipotesis, (c) mendefinisikan istilah (konseptualisasi), (d) mengumpulkan data, (e) penyajian dan analisis data, (f) menguji hipotesis, (g) memulai inkuiri baru. Selain dari pendapat para ahli di atas mengenai langkah-langkah model inkuiri social, Joyce mengemukakan bahwa langkah-langkah penerapan inkuiri pada pokoknya adalah (a) orientasi, (b) hipotesis, (c) definisi, (d) eksplorasi, (e) pembuktian, (f) generalisasi.
Model Quantum Learning. Quantum Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan peserta didik. Dari kutipan tersebut diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya pengorgani-sasian bermacam macam interaksi yang ada di sekitar momen belajar.[4]

3.      Landasan filosofis, psikologis dan sosiologis memiliki implikasi terhadap pengembangan teori pendidikan dan selanjutnya juga berimplikasi pada pengembangan teori belajar dan model pembelajaran, jelaskan maksudnya, kemukakan contohnya!
Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikaan titik tolak pendidikan. Ada berbagai aliran filsafat, antara lain: Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Pancasila, dsb. Landasan filosofis pendidikan tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Sebab itu, dikenal adanya landasan filosofis pendidikan Idealisme, landasan filsofis pendidikan Pragmatisme, dsb. Contoh: Penganut Realisme antara lain berpendapat bahwa ”pengetahuan yang benar diperoleh manusia melalui pengalaman atau penginderaan”. Implikasinya, penganut Realisme mengutamakan metode mengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung (misal: melalui observasi, praktikum, dsb.) atau melalui pengalaman tidak langsung (misal: melalui membaca laporan-laporan hasil penelitian,dsb). Selain tersajikan berdasarkan aliran-alirannya, landasan filosofis pendidikan dapat pula disajikan berdasarkan tema-tema tertentu. Misalnya dalam tema: “Manusia sebagai Animal Educandum”
landasan Psikologis Adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah psikologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta didik.
            Landasan Sosiologis Adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya”. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta didik.



4.      Berdasarkan kajian terhadap model-model pembelajaran, menurut anda model apa yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia!
Pada dasarnya tidak ada strategi pembelajaran yang dipandang paling baik, karena setiap strategi pembelajaran saling memiliki keunggulan masing-masing. Strategi pembelajaran yang dinyatakan baik dan tepat untuk mencapai tujuan  pembelajaran tertentu belum tentu baik dan tepat digunakan dalam mencapai tujuan  pembelajaran yang lain. ltulah sebabnya, seorang pendidik diharapkan memiliki  pengetahuan dan kemampuan dalam memilih dan menerapkan berbagai strategi pembelajaran, agar dalam melaksanakan tugasnya dapat memilih alternatif strategi yang dirasakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan itu dapat tercapai melalui penataan pendidikan yang baik.
Madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam membendung efek negatif globalisasi dan melakukan rekontruksi moral. Bukannya madrasah menolak kemajuan iptek, hanya saja harus ada proses adaptif tanpa meninggalkan sikap kritis atas ekses dari proses modernisasi itu sendiri. Dengan mengintegrasikan antara iptek dan imtaq, maka kemajuan teknologi tersebut dapat diarahkan kepada kehidupan yang lebih Islami. Dengan memberikan kaitan keagamaan dalam setiap mata pelajaran dengan begitu siswa dapat mengetahui keseimbangan imtaq dan ipteks.
Menurut saya model yang tepat untuk mengembangkan pembelajaran PAI di madrasah adalah Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) yaitu suatu model pengajaran yang teroragisasi yang terdiri atas komponen yang menitik beratkan pada tujuan pengajaran. Sehingga pengajaran selalu mengacu pada tujuan pendidikan khususnya tujuan instruksional. Istilah “sistem instruksional” dalam PPSI menunjukkan pada pengertian sebagai suatu kesatuan pengajaran yang terorganisasi yang terdiri atas sejumlah komponen antara lain : materi, metode, alat, evaluasi yang kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan langkah – langkah pengembangan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.[5]
Dengan diterapkannya pola pengembangan pengajaran PPSI ini pada madrasah – madrasah yang dikelola oleh Departemen Agama RI sebagai suatu usaha untuk meningkatkan mutu pengajaran yang sebenarnya. Pengenalan dan pengembangan pola PPSI ini dimaksudkan agar para tenaga pengajar agama dapat memahami dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang berorientasi pada tujuan sebagaimana yang dimaksud dalam pengembangan PPSI tersebut.

5.      Coba anda kemukakan perbedaan dan persamaan model kooperatif integrated, berbasis masalah, dan inquri!
Persamaan model kooperatif integrated, Inkuiri dan Strategi Berbasis Masalah (Problem Solving)
Dalam hal ini, guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Keberhasilan dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berkaitan dengan diri siswa, diantaranya adalah kemampuan, minat, motivasi, keaktifan belajar dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa, diantaranya adalah model pembelajaran.
Ketiga Model pembelajaran ini memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Ketiga model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Model pembelajaran kooperatif, berbasis masalah dan inquiri ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Perbedaan model kooperatif integrated, Inkuiri dan Strategi Berbasis Masalah (Problem Solving)
Model kooperatif integrated : Guru menerangkan suatu pokok bahasan materi kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan
Model kooperatif integrated : Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik
Model kooperatif integrated : Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator
model Inkuiri : Pada strategi ini materi ditemukan sendiri oleh siswa. Guru atau pengajar tidak membawa atau memiliki materi apapun sebagai pengacunya. Guru sudah menyediakan beberapa topik masalah untuk diselesaikan, dan guru menuntun siswa dalam penyelesaian masalah tersebut. Materi timbul saat studi lapangan.
model Inkuiri : Mementingkan mencari jawaban atas permasalahan sampai tingkat yakin. Dalam mencari jawaban, siswa menganalisisnya dengan fakta-fakta yang ada. Titik tekannya lebih pada objek hakikat yang di cari. Guru tidak memiliki bahan untuk dianalisis
Model Inkuiri : Pemecahan masalah sampai ke kualiats Objek. Tetapi belum tentu menyelesaikan masalah. Strategi Inkuiri lebih memakan waktu yang lama.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Guru sudah menyediakan materi untuk dibahas. Namun guru tidak secara langsung memberikan materi tersebut. Guru memberi ruang bagi siswa untuk mencari masalah yang berkaitan dengan pokok pembahasan, kemudian guru menuntun siswa agar mencari penyelesaian masalah sesuai dengan bahan yang guru miliki.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Berpikir secara logis, tepat, tidak sampai pada hakikat dari objek yang dicari. Karena lebih ditekankan pada penggunaanya. Tidak mencari hakikat. Mencari sebuah objek hanya sebatas mencari masalah yang ada. Jika sudah menemukan jawabannya, maka analisis sudah berhenti sampai disitu. Tidak mencari hakikat lain yang berhubungan dengan objek masalah. Masalah yang ada di Prolem Solving sudah diarahkan oleh guru.
Model Berbasis Masalah (Problem Solving) : Masalah harus terselesaikan sesuai dengan objek.
6.      Berdasarkan telaah terhadap model desain pembelajaran, model desain pembelajaran yang bagaimana yang tepat untuk mata pelajaran PAI di Sekolah!
Untuk menghasilkan suatu produk pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang berkualitas, dapat dipilih atau digunakan suatu model untuk pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dengan diikuti langkah – langkah pengembangannya secara konsisten sehingga dapat menghasilkan produk pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang berkualitas.
Menurut penulis Model desain Kemp lah yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI karena Kemp mengemukakan beberapa alasan pentingnya design pengembangan pembelajaran, antara lain (1)tingkat hasil belajar atau ketrampilan yang diperoleh peserta didik masih jauh dari harapan, (2)biaya program pembelajaran yang terlalu tinggi, (3)alokasi waktu yang dibutuhkan untuk program pembelajaran lebih lama daripada yang dikehendaki, (4)adanya keinginan untuk mengubah metode pembelajaran yang konvensional kemetode belajar yang lebih mandiri dan sesuai dengan tingkat kecepatan individu, (5)peserta didik kurang merasa puas terhadap program pembelajaran, (6) masukan dari hasil penelitian, rekomendasi para pakar, dan laporan dari pengalaman penyelenggaraan program yang menghendaki perubahan, (7) masih banyak isi program pembelajaran yang perlu ditambah dan direvisi, (8)persyaratan kemampuan atau ketrampilan dilapangan kerja yang telah berubah, dan (9)penyesuaian program pembelajaran dengan tuntutan kebutuhan administrasi.
Desaign pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model Kemp berpijak pada 4 (empat) unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan wujud jawaban atas pertanyaan: (1)untuk siapa program itu dirancang? Peserta didik, (2)kemampuan apa yang ingin dipelajari? Tujuan, (3)bagaimana isi pelajaran atau ketrampilan
dapat dipelajari? Metode, dan (4)bagaimana guru menentukan tingkat penguasaan pelajaran yang telah dicapai? Evaluasi[6]

7.      Uraikan kriteria penetapan isi pembelajaran, dan prinsip apa saja menurut anda dalam pemilihan model pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan!
Bahan pembelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Oleh karena itu, pemilihan bahan pembelajarn hendaklah  sejalan dengan ukuran-ukuran atau kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum mata pelajaran yang bersangkutan. Kriteria pemilihan bahan pembelajaran akan dikembangkan dalam system instuksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar dan pembelajaran. Pemilihan bahan pembelajaran tersebut hendaknya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini.
a.       Sesuai dengan tujuan pembelajaran
Bahan pembelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional khusus atau tujuan-tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut hendaknya sejalan dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
b.      Menjabarkan tujuan pembelajaran
Perincian bahan pembelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap tujuan pembelajaran telah dirumuskan secara spesifik , dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan yang  erat antara spesifikasi tujuan dan spesifikasi bahan pembelajaran.

c.   Relevan dengan kebutuhan pesrta didik
Kebutuhan peserta didik yang pokok adalah berkembang berdasarkan  potensi yang dimilikinya. Oleh sebab itu bahan pembelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh terkait dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap.
d.   Sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Peserta didik dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu hidup   mandiri. Dalam hal ini, bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang berguna dan mudah menyesuaikan  diri dengan lingkungan dan masyarakatnya.
e.   Mempertimbangkan norma yang berlaku
Bahan pembelajaran yang dipilih  hendaknya mempertimbangkan norma-norma yang berlaku. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari bahan pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan diri peserta didik sebagai manusia yang memiliki etika dan moral sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.
f.    Tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik serta logis
Setiap bahan pembelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya dan terpusat pada satu topik masalah tertentu. Bahan pembelajaran disusun secara berurutan dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologis peserta didik. Dengan cara ini diharapkan isi bahan pembelajaran tersebut akan lebih mudah diserap oleh peserta didik dan tujuan pembelajaran dapat dapat tercapai.
g.   Bersumber dari buku sumber yang baku, keahlian guru, masyarakat dan fenomena alam.
Keempat faktor ini perlu diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran. Buku sumber yang baku dimaksud adalah yang disusun oleh para ahli dalam bidang pendidikan dan disusun berdasarkan GBPP yang berlaku. Kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang diharapkan, setidaknya keberadaan buku tersebut akan sangat membantu bagi penyusunan bahan pembelajaran.
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan pembelajaran sebagaiman dijelaskan berikut ini.
1.      Memahami  Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, Silabus, Program Semeter, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
2.      Mengidentifikasi Jenis Bahan Pembelajaran Berdasarkan Pemahaman terhadap Poin
3.      Melakuan Pemetaan Materi
4.      Menetapkan Bentuk Penyajian
5.      Menyusun Struktur (Kerangka) Penyajian
6.      Membaca  Buku Sumber
7.      Membuat Draft Bahan Pembelajaran
8.      Merevisi (Menyunting) Bahan Pembelajaran
9.      Mengujicobakan Bahan Pembelajaran
10.  Merevisi dan Menulis Akhir (Finalisasi).[7]

Prinsip – Prinsip pemilihan  Metode Pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan adalah:
1.      Mengetahui motivasi, kebutuhan dan minat anak didik.
2.      Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
3.      Mengetahui tahap kematangan, perkembangan serta perubahan anak didik.
4.      Mengatahui perbedaan – perbedaan individu didalam anak didik.
5.      Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak- anak didik.
6.      Aktivitas, yaitu belajar itu hanya berhasil bila melalui bermacam-macam kegiatan baik jasmani maupun rohani.[8]

8.      Menurut anda bagaimana desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan untuk sekolah?analsislah berdasarkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran, dan pandangan Islam.
Madrasah
Desain pembelajaran PAI dimadrasah isi atau materi pelajaran agama di madrasah sangat menonjol karena madrasah adalah lembaga pendidikan yang bercirikan atau khas dengan Islam. Dalam pengembangannya yang panjang eksistensinya, madrasah banyak melahirkan hal positif dan negative, sesuai dengan pasang surut kualitas para pengelola yang terkait didalamnya.

Dalam kaitannya dengan madrasah, perangkat pokok untuk pencapaian tujuan pendidikan Agama Islam adalah materi, karena madrasah adalah sekolah yang banyak mengambil peran soal agama, maka isi materinya pun banyak tentang agama, dalam hal ini dapat dicontohkan pada mata pelajaran fiqih, dalam fiqih mengandung banyak hal yang bisa dibahas dan dikembangkan, dimadrasah pelajaran fiqih dibahas secara mendalam dan dipelajari dengan teori dan prakteknya sekaligus, seperti yang digambarkan dalam deskripsi atau kerangka silabus, bahwa dimadrasah itu dipelajarai fiqih secara mendalam, teorynya dijelaskan dengan mendalam dan dimaksud kan pula semua siswa dapat mempraktekkanya dalam kehidupan. Dimadrasah pelajaran yang menyangkut keagamaan itu terpisah-pisah sehingga siawa dapat mempelajari setiap materi tentang keagamaannya, misalnya pelajaran fiqih, akhlah, aqidah, dan bahasa arab. Dalam fiqih dibahas secara mendalam mengenai shadaqah dan infak, dimateri ini siswa harus memahai secara teori dan praktek agar siswa bisa lebih mendalami dan mendapatkan manfaat dari materi yang dipelajari, contohnya setelah siawa memahami arti shadaqah dan infak, maka siswa diharapkan bisa membiasakan untuk bershadaqah. Dalam hal ini bisa dikaitkan dengan pencapaian pendidikan Agama Islam adalah dengan mempelajari materi pelajaran yang berbeda-beda dan terpisah-pisah antara fiqih dan materi lain diharapkan siswa benar-benar mendapatkan banyak ilmu khususnya soal agama, agar tujuan Pendidikan Agama Islam itu sendiri dapat berjalan dengan baik, yaitu menjadikan siswa beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt yang kemudian menjadikan siswa itu bisa menjadi insane kamil.

Sekolah
Desain pembelajaran PAI di sekolah Isi materi pendidikan Agama Islam pada sekolah tetap membahas lingkup fiqih tetapi sedikit berbeda dengan madrasah, bila pelajaran fiqih dimadrasah itu dibahas secara mendalam tapi tidak halnya dengan SD bahwa mata pelajaran fiqih dipelajari secara garis besarnya saja, dalam deskripsi telah dipaparkan apasaja materi fiqih yang akan dipelajari selama 1 semester, disana telah di sebutkan bahwa pelajaran fiqih membahas tentang azan dan iqamah, dimata pelajaran ini siswa diharapkan bisa melafalkan dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebelum shalat siswa diharapkan bisa melafalkan azan dan iqamah.
Tetapi melihat bahwa materi pelajaran yang tidak sama antara sekolah dan madrasah dapat membedakan pula hasil belajarnya, pada madrasah tiap mata pelajaran yang menyangkut soal agama itu ter pisah – pisah sedangkan kalau disekolah itu tidak. Dari sini lah dapat dikaitkan kembali dengan pencapaian tujuan pendidikan agama Islam di sekolah adalah secara nyata real dan sebenarnya, tujuan tersebut adalah menjadikan peserta didik agar memilki kemantapan akidah dan kedalaman spiritual, keunggulan akhlak dan wawasan keagamaan. Namun pada kenyataannya dilihat dari materi pelajaran disekolahuntuk mencapai tujuan tersebut agaknya sedikit susah karena materi tidak dibahas secara mendalam melainkan hanya secara garis besarnya saja.
Alokasi Waktu
Alokasi waktu di setiap pelajaran itu pasti ada dan antara madrasah dan Sekolah pun berbeda mengenai alokasi waktu dalam mempelajari setiap materi PAI dimadrasah atau disekolah sehingga keduanya pun bisa mempunyai perbedaan pencapaian tujuan PAI dengan materi dan alokasi waktu yang berbeda, berikut ini uraian nya dari masing-masing sekolah mengenai alokasi waktu pelajaran materi PAI di masing-masing sekolah baik madrasah dan Sekolah.
Di madrasah alokasi waktu di setiap materi sangat berbeda karena materi pelajaran agama yang sangat banyak maka memerlukan waktu yang sangat banyak pula. Jika dilihat begitu banyak waktu pelajaran PAI di madrasah karena banyaknya materi yang akan dibahas. Mata pelajaran fiqih mempunyai kajian sendiri dengan materi lain,begitu pula dengan materi lainnya sehingga semakin banyak materi yang akan dibaha, semakin banyak pula waktu yang akan digunakan. Alokasi waktu yang digunakan di madrasah untuk 1 materi pembahasan tentang kajian fiqih misalnya, itu berkisar 45 menit.dan begitu pula dengan pelajaran pada materi lain.
Disekolah alokasi waktu setiap materi PAI sangat berbeda dengn madrasah bila di madrasah 1 minggunya bisa mencapai lebih dari 6jam untuk meteri agama saja termasuk pelajaran fikih dan lain-lain, sedangkan alokasi waktu di sekolah hanya 2 – 3 jam saja setiap 1 minggu, dengan demikian terjadilah perbedaan antara sekolah dasar dan madrasah, sehingga pencapaian tujuan pendidikan di sekolah dasar belum terelisasikan dengan baik.
ANALISA
Dari penjelasan diatas dapat di analisa bahwa tujuan pendidikan pada umumnya adalah sama menjadikan siswa beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan menjadi kan siswa tersebut menjadi insan kamil, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali  bahwa
‘tujuan Pendidikan Agama Islam adalah terutama adalah ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insani yang tujuannya untuk kebahagiaan dunia dan akhirat”, tetapi proses dan jalannya suatu pencapaian tujuan pendidikannya saja yang sedikit berbeda karena kurikulum disetiap sekolah itu berbeda. Pendekatan berbasis pada sekolah atau madrasah dalam perkembangan kurikulum memiliki kelebihan-kelebihan di antaranya kurikulum disusun sesuai dengan karakteristik sekolah, sehingga terjadilah perbedaan antara wantu juga materi pelajaran di sekolah dan madrasah.
9.      Materi PAI terdiri dari beberapa aspek kajian seperti akidah, akhlak, fikih, sejarah, dan al-qur’an serta hadis. Masing-masing memliki karakteristik tujuan yang berbeda, tentu kalau berdasarkan kajian model pembelajaran memiliki desain dan model yang berbeda. Kemukakan pendapat anda, dengan dukungan teori pembelajaran!
Pendidikan agama Islam pada dasarnya hendak menghantarkan peserta didik agar memiliki: (1) kemantapan aqidah dan kedalaman spritual; (2) keunggulan akhlak. Dalam konsep Islam, kemantapan aqidah merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam bentuk amal saleh, sehingga menghasilkan prestasi rohani  (iman)  yang  disebut  taqwa.  Amal  saleh  itu  menyangkut  keserasian  dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk dengan kesalehan pribadi; hubungan manusia dengan sesamanya yang membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam sekitar. Kualitas amal saleh akan menentukan derajat ketaqwaan (prestasi rohani/iman) seseorang di hadapan Allah SWT.
Ruang lingkup pendidikan Islam dapat dilihat dari beberabapa dimensi yaitu (1)  dimensi  keimanan  peserta  didik  terhadap  ajaran  agama  Islam;  (2)  dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam; (3) dimensi penghayatan atau pengalaman bathin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam; dan (4) dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran agama yang telah diimani, dipahami, dan dihayati atau diinternalisasi oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama dan nilai- nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada  Allah  SWT  serta  mengaktualisasikan  dan  merealisasikannya  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Pengajaran  agama  diberikan  di  sekolah  diorganisasikan  dalam  bentuk kelompok-kelompok mata pelajaran yang disebut bidang studi (broadfields) dandilaksanakan melalui sistem kelas. Dalam struktur program madrasah, pengajaran agama Islam dibagi menjadi empat buah bidang studi, yaitu: Al-Qur’an dan Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, serta Sejarah Kebuadayaan Islam. Hal tesebut merupakan perwujudan dari keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan  Allah  SWT,  diri  sendiri,  sesama  manusia,  makhluk  lainnya  maupun lingkungannya.[9]
Menurut pendapat penulis berdasarkan dari keterangan diatas bahwa dari beberapa aspek kajian seperti akidah, akhlak, fikih, sejarah, dan al-qur’an serta hadis. Masing-masing memliki karakteristik tujuan yang berbeda,karena pada dasarnya materi yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur’an-Hadits merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber aqidah-akhlak, syari’ah/fiqih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Aqidah (ushuluddin) atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Syariah/fiqih (ibadah, muamalah) dan akhlak berti­tik tolak dari aqidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup). Syari’ah/fiqih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh aqidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidu­pannya yang dilandasi oleh aqidah.
Walaupun dalam model pembelajaran PAI ini banyak model dan desain yang berbeda semuanya itu bertujuan untuk memperkuat aktivitas pendekatan ilmiah (scientific), dan tematik internal (dalam suatu mata pelajaran PAI) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok dan guna untuk tercapainya tujuan pembelajaran.



Daftar Pustaka
Humaidi, Model-Model Pembelajaran Kreatif, 2006, Bandung, Rosdakarya.
Majid , Abdul & Dian Andayani , Pendidikan Agama Islam Berbasis  Kompetensi, 2005,
Bandung : Rosda Karya,

Muhaimin, Rekontruksi Pendidikan Islam,2009, Jakarta : rajawali Press
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, 2002, Bandung, Remaja Rosda Karya
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, 2006, Bandung. Rosadakarya
Prastowo, Andi, Panduan Kreaftif Membuat Bahan Ajar Inovatif, 2011,Jogjakarta: Diva
Press

Salamah, Pengembangan Model Kurikulum Holistik Pendidikan Agama Islam Pada
Madrasah Tsanawiyah,2011,Yogyakarta :Aswaja Pressindo

Usman, Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta : Ciputat Press.
Yamin, Martinis. 2003. MetodePembelajaran yang Berhasil. Jakarta:Sasana Mitra Suksesa.



[1] Abdul Majid & Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis  Kompetensi, (Bandung : Rosda Karya,2005), hlm 165
[2] Muhaimin, Rekontruksi Pendidikan Islam, ( Jakarta : rajawali Press, 2009),hlm 45
[3] Humaidi, Model-Model Pembelajaran Kreatif, (Bandung, Rosdakarya, 2006), h. 75.

[4] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung. Rosadakarya, 2006), h. 215
[5] Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta : Ciputat Press.hlm.85
[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 2002), h.221
[7] Prastowo, Andi, Panduan Kreaftif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Jogjakarta: Diva Press, 2011)
[8] Yamin, Martinis.. MetodePembelajaran yang Berhasil.( Jakarta:Sasana Mitra Suksesa  2003)
[9] Salamah, Pengembangan Model Kurikulum Holistik Pendidikan Agama Islam Pada Madrasah Tsanawiyah,( Yogyakarta :Aswaja Pressindo, 2011).hlm. 36

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »