Hakikat Manusia



BAB I
PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani. Unsur fisik yaitu berupa jasmani (raga) dan unsur psikis berupa rohaninya (jiwa). Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak dapat disebut sebagai individu lagi. Kedua unsur tersebut harus berjalan dengan seimbang dan harus tercukupi pemenuhannya.
Selain itu manusia tidak dapat hidup tanpa kehadiran manusia lain itulah yang menyebabkan adanya dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia ini walaupun kembar sekalipun, setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Atas dasar hal tersebut sering sekali terjadi konflik di dalam kehidupan. Rutinitas sehari-hari yang dilakukan secara terus menerus pula kerap kali menimbulkan titik jenuh yang akhirnya menimbulkan stress dan ketegangan psikis.
              Sejak lahir manusia dibekali pemikiran akal pemikiran yang sangat tinggi. Itulah yang menyebabkan manusia memiliki potensi di berbagai bidang.  Pemanfaatan dan menejemen pemikiran secara baik sangat dibutuhkan agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Sekalipun banyaknya hambatan dan permasalahan dalam kehidupan, kita dapat menyelesaikannya secara tenang dan dapat mengantisipasinya kelak.









BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian Hakikat Manusia
                Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu.
            Al-Qur'an menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni  al-insaan,  an-naas,  al-basyar, dan  banii Aadam. Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia. Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali. Penggunaan istilah banii Aadam menunjukkan bahwa manusia bukanlah merupakan hasil evolusi dari makhluk anthropus (sejenis kera). Hal ini diperkuat lagi dengan panggilan kepada Adam dalam al-Qur'an oleh Allah dengan huruf nidaa (Yaa Adam!).

Beberapa definisi Manusia :
1.      Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, yang  mempunyai jiwa bebas dan hakikat– hakikat yang mulia.
2.      Manusia adalah makhluk yang sadar. Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yang menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yang tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa.
3.      Manusia adalah  makhluk yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan  menilai dirinya.
4.      Manusia adalah makhluk kreatif. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan  yang memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yang tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yang belum diberikan alam.
5.      Manusia adalah makhluk idealis. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam  batasan realita yang ada. Kekuatan inilah yang selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan,  membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
6.      Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai yang terdiri dari ikatan yang ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yang lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.
7.      Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yang bersifat istimewa dan mulia. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yang tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.

            Dikalangan tasawuf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Dalam QS. as-Sajadah: 7-9 menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
üÏ%©!$# z`|¡ômr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)n=yz ( r&yt/ur t,ù=yz Ç`»|¡SM}$# `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÈ   ¢OèO Ÿ@yèy_ ¼ã&s#ó¡nS `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ä!$¨B &ûüÎg¨B ÇÑÈ   ¢OèO çm1§qy yxÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ  
Artinya: 7. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
8. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
1.      Makhluk yang memiliki tenaga yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2.      Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3.      Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4.      Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5.      Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
6.      Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.
7.      Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8.      Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Hakekat manusia menjadi kajian antropologi, yang hasilnya sangat diperlukan dalam upaya menumbuh kembangkan potensi, manusia melalui penyelenggaraan pendidikan.
1. Sifat Hakekat Manusia
Sifat hakekat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dengan hewan, walaupun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama secara biologis (lihat orang hutan). Karenanya banyak filsuf menamakan manusia identik dengan hewan seperti: Socrates, menyebut manusia Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat); Max Schaller; menyebutkan: Das Krantetier (Hewan Yang Selalu Bermasalah); demikian pula Charles Darwin dengan teori evolusinya telah membuktikan bahwa manusia berasal dari kera (Primat) tetapi dia gagal.
2. Wujud sifat Manusia
Dengan kemampuan menyadari diri :
·         manusia dapat membedakan dirinya dengan manusia lain (ia, mereka) dan dengan lingkungan non manusia (fisik).
·         Manusia dapat membuat jarak dengan manusia lain dan lingkungannya.
3. Kemampuan Bereksistensi
Kemampuan bereksistensi dimaksudkan manusia tidak hanya “ber-ada” (seperti hewan dan tumbuhan) tetapi juga “meng-ada”, dimana manusia tidak hanya bagian lingkungan seperti hewan dan tumbuhan tetapi manusia menjadi manajer lingkungan (mengolah, mengendalikan).
Kemampuan bereksistensi harus dikembangakan sejak dini, kreatifitas, keberanian, dan lain-lain.
4. Kata Hati (Consuence of Man)
Kata hati juga disebut dengan istilah: hati nurani, lubuk hati, suara hati, pelita hati dan lain sebagainya. Yang berarti kemampuan pada diri manusia untuk mengetahui baik buruknya perbuatan manusia termasuk pula kemampuan pengambilan keputusan atas dasar pertimbangan benar/salah, analisis yang didukung kecerdasan akal budi.
5. Kecerdasan Moral
Moral (etika), sinkron dengan kata hati yang tajam, yang benar-benar baik yang disebut juga dengan moral yang tinggi (luhur). Moral bertalian erat dengan keputusan kata hati, dan nilai-nilai kemanusiaan.
6. Tanggung Jawab
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang berwujud tanggung jawab, kepada diri sendiri, masyarakat dan Tuhan. Keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan dilakukan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, sehingga sanksi adapun yang di tuntutkan di terima dengan kerelaan dan kesadaran.
7. Rasa Kebebasan
Rasa bebas, bukan dimaksud perbuatan bebas membabi buta, bebas dalam arti, berbuat sepanjang tidak bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia merdeka tidak sama dengan berbuat tanpa ikatan, kemerdekaan yang sesungguhnya justru berlangsung dalam keterikatan karenanya, kemerdekaan erat kaitannya dengan kata hati dan moral orang merasa merdeka apabila perbuatannya sesuai dengan kata hatinya. Implikasinya dalam pendidikan, mengusahakan agar anak menginternalisasikan nilai-nilai aturan kedalam dirinya dan dirasakan sebagai miliknya.
8. Kewajiban dan Hak
Kewajiban dan hak, merupakan indikator bahwa manusia sebagai mahluk sosial. Dalam kehidupan hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dimaknai sebagai beban. Tapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan.
Pemenuhan akan hak dan pelaksanaan kewajiban berkaitan erat dengan keadilan, dapat dikatakan kedilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban. Kemampuan menghayati kewajiban sebagai keniscayaan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses pendidikan (disiplin).
9. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan
Kebahagiaan istilah yang sulit dijabatkan dengan kata-kata, tetapi tidak sulit dirasakan setiap orang pasti pernah mengalami rasa bahagia (senang, gembira dan lain sebagainya). Kebahagiaan milik manusia: kebahagiaan dapat dicapai apabila manusia dapat meningkatkan kualitas hubungannya sebagai makhluk dengan dirinya sendiri (memahami kelebihan dan kekurangannya); dengan alam (untuk eksploitasi dan dilestarikan); dan terhadap Tuhan Maha Pencipta.

B.        Manusia Terkait dengan Akal Pikiran
Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah satu dan yang benar serta menganalisi sesuatu yang kemampuannya tergantung pengalaman dan tingkat pendidikan pemiliknya. Akal berfungsi untuk mengigat, menyimpulkan, menganalisa, menilai apakah sesuai benar atau salah. Akal adalah alat untuk berpikir. Jadi, salah satu hakikat manusia ialah ia ingin, ia mampu, dan ia berpikir (Ahmad Tafsir, 2010:17).
Jasmani adalah berhubungan dengan kesehatan dan rekreasi fisik, yang memberi kesanggupan untuk menjalankan hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan diri pada tiap pembeda fisik yang layak.
Rohani adalah sesuatu hal yang berasa diatas moral. Rohani dikaitkan dengan hati, kalbu, jiwa, mental, fikiran dan sebagainya yang mewujudkan sebagai suatu unsur peribadi manusia yang paling unik yang tidak dapat dilihat oleh pancaindera. Tetapi gejala dalam kerjanya dapat dirasakan misalnya: menangkap dan menyimpan pengertian, mengingat, berfikir, berkemauan, rindu, sedih, gembira dan sebagainya.  Jika seseorang sehat rohaninya ia akan memiliki kemampuan beramal yang tinggi, gairah bekerja dan bersemangat untuk maju dalam kebaikan. Sebaliknya orang yang mengidap penyakit rohani akan memperlihatkan kemundurannya dalam kemampuan bekerja, hilang gairah dan semangatnya untuk maju. Yang menonjol hanyalah kelemahan dan kemalasan.
Akal merupakan simbol keistimewaan manusia. Hal ini karena ketika dianugerahkan kepada manusia bukanlah dalam bentuk jadi. Maksudnya ketika seseorang dilahirkan ke dunia nyata, akal yang menyertainya belumlah sempurna, dalam artian seratus persen siap pakai. Keberadaannya baru berupa potensi dasar, termasuk dalam kategori fitrah, yang belum sepenuhnya aktual. Untuk mengaktualkan akal, diperlukanlah proses pendidikan untuk mengembangkan potensi dasar tersebut. Allah memberikan anugerah yang sangat besar kepada manusia dan dan inilah yang membedakannya dari hewan yaitu akal. Allah sangat memuji hamba-hamba-Nya yang berakal dan menggunakan akalnya untuk berfikir sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 164, yaitu:
¨bÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏG÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$yg¨Y9$#ur Å7ù=àÿø9$#ur ÓÉL©9$# ̍øgrB Îû ̍óst7ø9$# $yJÎ/ ßìxÿZtƒ }¨$¨Z9$# !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB &ä!$¨B $uŠômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB £]t/ur $pkŽÏù `ÏB Èe@à2 7p­/!#yŠ É#ƒÎŽóÇs?ur Ëx»tƒÌh9$# É>$ys¡¡9$#ur ̍¤|¡ßJø9$# tû÷üt/ Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ÇÊÏÍÈ  
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dalam pandangan Islam, akal merupakan potensi manusiawi yang paling penting. Itulah yang mendasari pemahaman dan kesempurnaan akal dalam rukun iman. Lebih jauh lagi, al-Qur’an menganjurkan penggunaan akal dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada diri manusia dan alam semesta. al-Qur’an mengarahkan akal manusia untuk merenungi penciptaan manusia melalui analogi terhadap hari berbangkit di akhirat kelak serta kepastian akan balasan Allah sesuai dengan amal perbuatan manusia. Melalui al-Qur’an pula manusia dianjurkan untuk mentafakkuri penciptaan langit dan bumi serta mengambil hikmah dari penciptaan umat-umat terdahulu.  Bagi manusia yang mengingkari anjuran untuk merenungi dan memahami ayat-ayat al-Qur’an,  Allah akan memberi predikat sebagai manusia yang bisu, tuli, dan buta karena mereka tidak memikirkan apa yang dilihat dan didengarnya. Atau kalaupun mereka memikirkannya, mereka menolak untuk mengakui kebenaran yang mereka temukan. Pada dasarnya, mereka buta karena tidak melihat kebenaran atau ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta ini. Mereka juga tuli karena tidak mau mendengarkan kebenaran yang diserukan kepadanya atau merenungkan tempatnya kembali nanti. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Anfal: 20-23, yaitu:
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# ¼ã&s!qßuur Ÿwur (#öq©9uqs? çm÷Ytã óOçFRr&ur tbqãèyJó¡n@ ÇËÉÈ   Ÿwur (#qçRqä3s? šúïÉ©9$%x. (#qä9$s% $uZ÷èÏJy öNèdur Ÿw tbqãèyJó¡o ÇËÊÈ   * ¨bÎ) §ŽŸ° Éb>!#ur£9$# yZÏã «!$# MÁ9$# ãNõ3ç6ø9$# šúïÏ%©!$# Ÿw tbqè=É)÷ètƒ ÇËËÈ   öqs9ur zNÎ=tæ ª!$# öNÍkŽÏù #ZŽöyz öNßgyèyJó`{ ( öqs9ur öNßgyèyJór& (#q©9uqtGs9 Nèd¨r šcqàÊ̍÷èB ÇËÌÈ  
Artinya: 20. Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),
21. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata "Kami mendengarkan[603], Padahal mereka tidak mendengarkan.
22. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli[604] yang tidak mengerti apa-apapun.
23. Kalau Sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).
[603] Maksudnya: mereka mendengarkan tapi hati mengingkarinya.
[604] Maksudnya: manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

C.            Manusia Terkait dengan Hakikat Kebahagiaan
Masalah kebahagiaan merupakan suatu topik yang tiada henti-hentinya diperbincangkan orang. Bagaimana hakikatnya dan jalan atau upaya apa yang ditempuh untuk mendapatkannya. Boleh dikatakan seribu satu pandangan dan pendapat mengenai kebahagiaan itu.
Segolongan orang memandang bahwa hakikat kebahagiaan terletak pada kekayaan material yang berlimpah ruah, maka berjuanglah mereka untuk mendapatkannya menurut anggapan mereka. Segolongan pula beranggapan bahwa unsur bahagia itu ditemukan dalam kesempurnaan jasmani. Segolongan pula beranggapan bahwa kebahagiaan itu terletak dalam kewibawaan, pangkat dan kedudukan, nama yang masyhur dan tenar. Pendek kata, seribu satu pandangan, anggapan dan dugaan serta teori tentang hakikat kebahagiaan. Kita mengenal kebahagiaan yang bersifat jangka panjang dan kebahagiaan yang bersifat jangka pendek. Jangka panjang adalah target utama dalam hidup di dunia dan kebahagiaan jangka pendek adalah kebahagiaan-kebahagiaan yang ada di dunia yang menyertai perjuangan untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang tadi. Keduanya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Maka dalam mengejar kebahagiaan jangka panjang, orang tidak boleh melalaikan kebahagiaan yang ada di dunia dalam artian adanya keseimbangan antara kehidupan di dunia dan tujuan yang akan dicapai di akhirat. Hal ini senada dengan firman Allah dalam QS. al-Qashash:77, yaitu:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, al-Ghazali juga membagi kebahagiaan menjadi dua macam kebahagiaan utama: kebahagiaan ukhrawi dan kebahagiaan duniawi. Menurutnya yang pertama adalah kebahagiaan sejati sedangkan kebahagiaan duniawi hanyalah sebagai kebahagiaan yang bersifat metaforis. Keasyikan dengan kebahagiaan ukhrawi bagaimanapun tidak memalingkan perhatiannya dari jenis-jenis kebahagiaan atau kebaikan lainnya. Bahkan ia menyatakan bahwa apa pun yang kondusif bagi kebahagiaan utama maka itu merupakan kebahagiaan pula.
Di dalam Islam, hal-hal yang bersifat material dan duniawiah diciptakan Tuhan untuk dinikmati dengan cara-cara yang benar. Pemilikan materi diperintahkan kepada manusia bila materi itu bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Namun kepemilikan materi menjadi diharamkan bila hal itu menjadikan manusia semakin menjauh dari Tuhannya. Hal ini dikarenakan materi hanyalah sekedar sarana bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Materi bukanlah tujuan hidup karena tujuan hidup sendiri adalah untuk kebahagiaan yang digambarkan di dalam Islam dengan pertemuannya dengan Tuhan.
         Namun yang harus disadari bahwa kebahagiaan di dunia karena limpahan materi yang dimilikinya bukanlah segalanya, karena jika tidak digunakan untuk mencari keridhaan Allah maka semuanya akan berbalik menjadi bumerang dan berujung kepada kerugian yang akan diterimanya.
Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan adalah merupakan bagian dari upaya manusia untuk mengembangkan segala potensi dasar kemanusiaannya untuk mempertahankan hidup dan agar dapat memperoleh kebahagiaan baik di dunia ataupun di akhirat. Potensi dasar manusia adalah cenderung kepada kebaikan, bersih dari dosa, berilmu pengetahuan, serta bebas memilih dan bebas bertindak/berkreasi. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya pelayanan bagi pengembangan potensi manusia dalam berketuhanan, berbuat baik, kekhalifahan, berilmu pengetahuan dan berfikir serta bertindak bebas dalam artian bebas dan terikat kepada norma-norma agama.
Mengembangkan potensi berketuhanan berarti upaya pendidikan tersebut memberikan informasi tentang hal-hal yang menyangkut tentang Tuhan serta membimbing untuk hidup dengan sikap bertuhan, yakni mengabdi dan turut kepada peraturan Tuhan.
Dengan pengembangan potensi atau hakikat dari manusia tersebut berjalan dan digunakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, digunakan untuk pengembangan kesejahteraan di muka bumi, maka dengan demikian tujuan akhir dari pendidikan Islam akan tercapai yaitu untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.      







BAB III
PENUTUP
Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hakikat manusia berkaitan antara badan dengan ruh. Dan jika dilihat dari sumbernya, hakikat manusia itu bersumber pada dua asal. Pertama, ashal al-ba'id, (asal yang jauh), yaitu penciptaan pertama dari tanah yang kemudian Allah menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya ruh. Kedua, ashal al-qarib, (asal yang dekat), yaitu penciptaan manusia dari nutfah. Dengan demikian jelaslah bahwa substansi manusia terdiri dari dua yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari Tuhan. Di samping itu manusia juga berperan sebagai khalifatullah fil ardhi.
Akal merupakan potensi manusia yang paling penting karena akal merupakan pembeda antara manusia dengan binatang. Allah menganugerahkan akal kepada manusia agar dapat memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Selain itu Islam menawarkan pendidikan yang mengajarkan berfikir sehat, tawaddhu, ikhlas menerima kebenaran, jujur dalam keilmuan dan optimis dalam mengaplikasikan teori-teori yang diperoleh.
Kebahagiaan terbagi kepada dua macam: kebahagiaan yang bersifat jangka panjang dan kebahagiaan yang bersifat jangka pendek. Jangka panjang adalah target utama dalam hidup di dunia dan kebahagiaan jangka pendek adalah kebahagiaan-kebahagiaan yang ada di dunia yang menyertai perjuangan untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang tadi. Keduanya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir. 2010. Filsafat Pendidikan Islami (Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kamrani Buseri. 2014. Dasar, Asas, dan Prinsip Pendidikan Islam. Jogjakarta: Aswaja Pressindo.
Mohammad Daud Ali. 2011. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »