Jawaban final test
Mata kuliah :Model
Pembelajaran PAI
Prodi :
S2 PAI PASCASARJANA IAIN ANTASARI
Nama : Muhammad Taslimurrahman
NIM :
1502521497
Jawaban no 1:
Pendidikan Agama Islam
merupakan kekuatan penting dalam pendidikan, karena Pembelajaran PAI inilah
yang membuat peserta didik menjadi menghargai dirinya, keluarganya, bangsanya. PAI inilah yang
membentuk karakter siswa menjadi peserta didik yang berkepribadian yang
tangguh. Karena itulah pembelajaran PAI ini akan selalu ada dari tingkat TK
sampai perguruan tinggi. Namun sayangnya pembelajaran PAI disekolah-sekolah
masih dinomorduakan atau dalam bahasa lain dianaktirikan. Apalagi sekolah yang
berbasis kejuruan seperti SMK yang mana
pemikiran para peserta didik lebih terfokus kepada jurusan masing-masing. Kurangnya
perhatian dalam pembelajaran PAI ini disekolah tentu tidak bisa dipukul rata,
bahwa semua sekolah tidak memperhatikan pembelajaran PAI. Namun masih ada
sekolah yang memperhatikan pembelajaran PAI dan memfasilitasinya dengan baik
agar para peserta didik bisa mengikuti pembelajaran PAI disekolah dengan baik.
Kedudukan PAI dalam
proses belajar mengajar menentukan sikap siswa dan pembiasaan siswa dalam
kehidupan sehari-hari. Apabila pembelajaran PAI ini disekolah hanya sekedar
lewat maka pembentukan karakter siswa menjadi terhambat. Maka oleh sebab itu
pembelajaran PAI harus diperjuangkan dengan sepenuh hati agar tercipta
pembelajaran yang kondusif dan maksimal dalam pelaksanaannya.
Dalam beberapa hal
memang ketertinggalan pembelajaran PAI ini bisa disebabkan oleh guru PAI itu
sendiri karena kurangnya perhatian dalam proses pembelajaran PAI itu sendiri.
Maka sudah sepatutnya para guru PAI harus berusaha maksimal dalam proses belajar mengajar dikelas agar PAI bisa terus ditingkatkan dari
segi kualitasnya.
Jawaban no 2
RUMPUN MODEL PEMBELAJARAN
Joyce dan Weil (1980,1992) dalam bukunya
Models of Teaching menggolongkan model-model pembelajaran ke dalam empat
rumpun. Keempat rumpun model pembelajaran tersebut adalah: (1) rumpun model
pembelajaran Pemrosesan Informasi, (2) rumpun model pembelajaran Personal, (3)
rumpun model pembelajaran Sosial, dan (4) rumpun model pembelajaran Perilaku.
1.
Rumpun model-model Pemrosesan
Informasi
Model-model pembelajaran dalam rumpun Pemrosesan
Informasi bertitik tolak dari Prinsip prinsip pengolahan informasi, yaitu yang
merujuk pada cara-cara bagaimana manusia menangani rangsangan dari lingkungan,
mengorganisasi data, mengenali masalah, menyusun konsep, memecahkan masalah,
dan menggunakan simbol-simbol. Beberapa model
pembelajaran dalam rumpun ini berhubungan dengan kemampuan pebelajar (peserta
didik) untuk memecahkan masalah, dengan demikian peserta didik dalam belajar
menekankan pada berpikir produktif. Sedangkan beberapa model pembelajaran
lainnya berhubungan dengan kemampuan intelektual secara umum, dan sebagian lagi
menekankan pada konsep dan informasi yang berasal dari disiplin ilmu secara
akademis.
Jenis model-model pembelajaran yang termasuk ke dalam
rumpun pemrosesan informasi ini adalah seperti Berpikir Induktif, Hilda Taba Ditujukan
secara khusus untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif yang banyak
diperlukan dalam kegiatan akademik meskipun diperlukan juga untuk kehidupan
pada umumnya. Model ini memiliki keunggulan melatihkan kemampuan
menganalisis informasi dan membangun konsep yang berhubungan dengan kecakapan
berpikir.
Pembentukan konsep, Jerome Bruner, Goodnow, dan Austin
Dirancang terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif, peserta didik
dilatih mempelajari konsep secara efektif. Latihan inkuari, Richard Suchman Sama
dengan model berpikir induktif, model ini ditujukan untuk pembentukan kemampuan
berpikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik meskipun
diperlukan juga untuk kehidupan pada umumnya.
Perkembangan kognitifJean Piaget,Irving Sigel,Edmun
Sullivan,Lawrence dan Kohlberg
Dirancang terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir/pengembangan intelektual pada umumnya, khususnya berpikir logis, meskipun demikian kemampuan ini dapat diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral.
Dirancang terutama untuk pembentukan kemampuan berpikir/pengembangan intelektual pada umumnya, khususnya berpikir logis, meskipun demikian kemampuan ini dapat diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral.
Advance organizer, David Ausubel Dirancang untuk
meningkatkan kemampuan mengolah informasi melalui penyajian materi beragam
(ceramah, membaca, dan media lainnya) dan menghubungkan pengetahuan baru dengan
struktur kognitif yang telah ada. Mnemonics Pressley,Levin,Delaney Strategi
belajar untuk mengingat dan mengasimilasi informasi.
2.
Rumpun model- model
Pribadi/individual
Model-model pembelajaran yang termasuk rumpun model-model
Personal/individual menekankan pada pengembangan pribadi. Model-model
pembelajaran ini menekankan pada proses dalam “membangun/mengkonstruksi” dan
mengorganisasi realita, yang memandang manusia sebagai pembuat makna.
Model-model pembelajaran rumpun ini memberikan banyak perhatian pada kehidupan
emosional. Fokus pembelajaran ditekankan untuk membantu individu dalam
mengembangkan hubungan individu dengan lingkungannya dan untuk melihat dirinya
sendiri.
a. Pengajaran Non Direktif, Carl Rogers Penekanan pada pembentukan kemampuan belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan penemuan diri sendiri sehingga terbentuk konsep diri. Model ini menekankan pada hubungan guru-peserta didik.
b.Latihan Kesadaran,Fritz Perls, William Schutz Pembentukan
kemampuan menjajagi dan
menyadari pemahaman diri sendiri.
menyadari pemahaman diri sendiri.
c. Sinektik, William Gordon Pengembangan individu dalam
hal kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
d. Sistem Konseptual, David Hunt Didisain untuk
meningkatkan kompleksitas pribadi dan fleksibilitas.
e. Pertemuan kelas, William Glasser, Pengembangan
pemahaman diri dan tanggungjawab pada diri sendiri dan kelompok sosial lainnya.
3. Rumpun
model-model Interaksi Sosial
Model-model pembelajaran yang
termasuk dalam rumpun Sosial ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat
atau orang lain. Model-model ini memfokuskan pada proses di mana realitas
adalah negosiasi sosial. Model-model pembelajaran dalam kelompok ini memberikan
prioritas pada peningkatan kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang
lain untuk meningkatkan proses demokratis dan untuk belajar dalam masyarakat
secara produktif. Tokoh-tokoh teori sosial juga peduli dengan pengembangan
pikiran (mind) diri sebagai pribadi dan materi keakademisan. Jenis-jenis
model pembelajaran rumpun Interaksi Sosial adalah seperti
a.
Kerja
kelompok.(investigation group) Herbert Thelen, John Dewey, Mengembangkan
keterampilanketerampilan untuk berperan dalam kelompok yang menekankan
keterampilan komunikasi interpersonal dan keterampilan inkuari ilmiah. Aspek-aspek
pengembangan pribadi merupakan hal yang penting dari model ini.
b.
Inkuari Sosial,Byron
Massialas,Benjamin Cox, Pemecahan
masalah sosial, utamanya melalui inkuari ilmiah dan penalaran logis.
c.
Jurisprudential/SIMULASI
HUKUM, National Training Laboratory, Bethel, Maine Donald Oliver, James
P.Shaver, Pengembangan keterampilan interpersonal dan kerja kelompok untuk
mencapai, kesadaran, dan fleksibilitas pribadi. Didisain utama untuk melatih
kemampuan mengolah informasi dan menyelesaikan isu kemasyarakatan dengan
kerangka acuan atau cara berpikir Jurisprudensial (ilmu tentang Hokum-hukum
manusia).
d.
Role playing (Bermain
peran) Fannie ShaftelGeorge Shafted ,Didisain untuk mengajak peserta didik
dalam menyelidiki nilai-nilai pribadi dan sosial melalui tingkah laku mereka
sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber dari penyelidikan itu
e. Simulasi
Sosial, Sarene Boocock,Didisain untuk membantu pengalaman peserta didik melalui
proses sosial dan realitas dan untuk menilai reaksi mereka terhadap
proses-proses sosial tersebut, juga untuk memperoleh konsep-konsep dan
keterampilan-keterampilan pengambilan keputusan
4.
Rumpun Model-model Modifikasi Perilaku
Semua
model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu
pada teori perilaku, teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku,
atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan
penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku
secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki. Adapun
jenis-jenis model pembelajaran perilaku seperti
a. Contingency
Management (manajemen dari akibat / hasil perlakuan) B.F. SkinnerFakta-, fakta,
konsep-konsep dan Keterampilan
b.
Self Conrol, B.F. Skinner, Perilaku sosial/ keterampilan-keterampilan
c. Relaksasi, Rimm & Masters, Wolpe, Tujuan-tujuan pribadi
d. Stress Reduction (pengurangan stres), Rimm & Masters, Cara relaksasi untuk mengatasi
kecemasan dalam situasi sosial
c. Relaksasi, Rimm & Masters, Wolpe, Tujuan-tujuan pribadi
d. Stress Reduction (pengurangan stres), Rimm & Masters, Cara relaksasi untuk mengatasi
kecemasan dalam situasi sosial
e.
Assertive Training (Latihan berekspresi), Wolpe, lazarus,, Salter, Menyatakan
perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi sosial
f.
Desensititation, Wolpe, Pola-pola perilaku, keterampilan–keterampilan
g.
Direct training, Gagne, Smith & Smith Pola tingkah laku,
keterampilan-keterampilan.
Jawaban no 3
Landasan filosofis, psikologis, dan sosiologis sangat
mempengaruhi dalam pendidikan. Dalam hal ini adalah pengembangan teori
pembelajaran. Karena melalui landasan inilah semua pengembangan itu terjadi.
Misalnya landasan filosofis bangsa yaitu pancasila maka pendidikan Indonesia
mangacu dengan pancasila. Begitu juga dengan landasan psikologis dan landasan
sosiologis.
Dalam menentukan pendidikan maka faktor sosiologis harus
diperhatikan dalam memilih pengembangan
teori pembelajaran. Kalau model pembelajarannya mengacu dengan sesuatu yang
tidak tepat maka hasil yang diharapkan tidak bisa maksimal. Suatu model
pembelajaran tidak bisa dikatakan sempurna kalau penempatannya salah.
Contohnya adalah misalnya anak-anak yang tinggal di
wilayah pinggiran sungai kota Banjarmasin maka pola pendidikannya harus disesuikan
dengan kebutuhan mereka. Seperti itu juga dalam pengembangan teori belajar . Landasan psikologis pendidikan
adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi
tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala- gejala yang berkaitan
dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu
untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia
perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya
dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikit, dan
belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).
Sedangkan Menurut
Pidarta (2007:194) landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan
dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan
manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi
manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan
menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk
memudahkan proses pendidikan.
Dengan demikian Landasan
psikologis pendidikan merupakan salah satu landasan yang penting dalam
pelaksanan pendidikan karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasnya
sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Oleh karena itu
pendidik harus mengetahui apa yang harus dilakukan kepada peserta didik dalam
setiap tahap perkembangan yang berbeda mulai dari bayi hingga dewasa.
Tujuan Psikologi pendidikan ialah Mempelajari
tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku itu sebagai akibat proses dari
tangan kependidikan dan berusaha bagaimana suatu tingkah laku itu seharusnya
diubah, dibimbing melalui pendidikan.
Jawaban No 4
Model pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran
mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya
tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010: 51).
Sedangkan menurut Joyce
& Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran
adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar
mengajar. Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran
dan para guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar.
Menurut Trianto (2010:
53) fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar
dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk memilih model ini sangat
dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh
tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan
peserta didik. Di samping itu pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai
tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Antara
sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan.
Perbedaan-perbedaan ini,
diantaranya pembukaan dan penutupan pembelajaran yang berbeda antara satu
dengan yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan
berbagai keterampilan mengajar, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
beraneka ragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa
ini. Menurut Kardi dan Nur dalam Trianto (2011: 142) istilah model pembelajaran
mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur.
Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak
dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri khusus model
pembelajaran adalah:
1. Rasional teoretis logis yang disusun oleh para
pencipta atau pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang
masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan
mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif
dalam menciptakan dan mengembangankannya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa
belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai
tujuan yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan
bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah
pembelajaran.
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model
tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai
tingkah laku mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita
mengajar selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan
pembelajaran itu dapat tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan
belajar yang kondusif serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi
salah satu aspek penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran.
Pada Akhirnya setiap model
pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda.
Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik,
dan pada sistem sosial kelas. Sifat materi dari sistem syaraf banyak konsep dan
informasi-informasi dari teks buku bacaan, materi ajar siswa, di samping itu
banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. Tujuan yang akan dicapai meliputi
aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman bacaan dan lembar
kegiatan siswa (Trianto, 2010: 55).
Berdasarkan keterangan yang ada,
bahwa pembelajaran PAI di madrasah ini memiliki karakter yang berbeda
tergantung dimana madrasah itu berada serta peserta didik. Saran penulis untuk
madrasah diwilayah perkotaan model pembelajaran kooperatif learning adalah
salah satu solusi untuk model pembelajaran karena pola hidup masyarakat
perkotaan yang individu perlu kedekatan dalam bergaul. Kooperatif learning ini
merupakan sebuah jawaban.
Jawaban no 5
MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif
memiliki ciri-ciri:
- untuk memuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama
- kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
- jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang heterogen ras, suku, budaya, dan jenis kelamin, maka diupayakan agar tiap kelompok terdapat keheterogenan tersebut.
- penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
- Hasil belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit.
- Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang.
- Pengembangan keterampilan social, yaitu untuk mengembangkan keterampilan social siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.
Fase-fase
Model Pembelajaran Kooperatif :
|
Fase
|
Indikator
|
Aktivitas Guru
|
|
1
|
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin
dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
|
|
2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
|
3
|
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi efisien
|
|
4
|
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat
mengerjakan tugas
|
|
5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
|
6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari cara untuk
menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok.
|
Pengertian Model Pembelajaran Integrated
Pembelajaran integrated (terpadu)
merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan
beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.
Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan
secara utuh, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini
memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami
konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang
menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata
pelajaran.
Pembelajaran model integrated
(keterpaduan) adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan
antar bidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas
kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang
tindih dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991: 76).
Model integrated (terpadu) melihat
kurikulum menggunakan kaleidoskop. Topik interdisiplin (antar mata pelajaran)
ditata kembali diantara konsep yang sama/mirip dan munculnya pola dan
rancangan. Melalui pendekatan antar matapelajaran, model integrated
memadukan/mencampurkan empat mata pelajaran utama dengan menemukan persamaan
ketrampilan, konsep, dan sikap pada keseluruhannya
Model pembelajaran integrated
(terpadu) mempunyai ciri khusus yakni memadukan sejumlah topik dari mata
pelajaran yang berbeda tetapi inti topiknya sama. Pada model ini tema yang
berkaitan dan tumpang tindih merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan
dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program. Pertama kali guru menyeleksi
konsep-konsep, keterampilan dan sikap yang diajarkan dalam satu semester dari
beberapa bidang studi, selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan
sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara
berbagai bidang studi.
Pada tahap awal guru hendaknya
membentuk tim antar bidang studi untuk menyeleksi konsep-konsep,
keterampilan-keterarnpilan, dan sikap-sikap yang akan dibelajarkan dalam satu
semester tertentu untuk beberapa bidang studi, Langkah berikutnya dipilih
beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang mernpunyai keterhubungan yang
erat dan tumpang tindih di antara beberapa bidang studi. Bidang
studi yang diintegrasikan misal matematika seni dan bahasa, dan pelajaran
sosial.
MODEL
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)
Definisi/Konsep Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model
pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta
didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah,
peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real
world).
KELEBIHAN
PROBLEM BASED LEARNING (MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH)
·
Dengan PBL akan terjadi
pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar
memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang
dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat
semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik
berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
·
Dalam situasi PBL,
peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan
pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam
konteks yang relevan
·
PBL dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta
didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan
hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Contoh Penerapan Model Pembelajaran
Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Sebelum memulai proses belajar-mengajar
di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu
fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul.
Setelah itu tugas guru adalah meransang
peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas
guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan
mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
Contoh Penerapan
Memanfaatkan lingkungan peserta didik
untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat
dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah,
keluarga dan masyarakat.
Penugasan yang diberikan oleh guru
memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta
didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang
dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan
peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan
dasar dan materi pembelajaran.
Pengertian Inkuiri
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang
berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Pembelajaran inkuiri ini
bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan
intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir
reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus
ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan
analis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan. Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab
antara guru dan siswa.
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan
bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses
menemukan sendiri. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang
tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa
berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosi, maupun pribadinya. Oleh
karena itu dalam proses perencanaan pembelajaran, guru bukanlah mempersiapkan
sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang
memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Pembelajaran adalah proses memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan
hasil mengingat sejumlah fakta).
Jawaban no 6
Pengertian
Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran adalah praktek
penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi
transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi
penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan
pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu
terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori
belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa,
dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari pembelajaran
ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah atau
benar-benar tersembunyi dan hanya berupa asumsi.
Desain Pembelajaran menurut Istilah
dapat didefinisikan:
1. Menurut Reigeluth Desain
pembelajaran adalah Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling
baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan ketrampilan pada diri
pemelajar ke arah yang dikehendaki.
2. Menurut Briggs Desain
pembelajaran adalah Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen
tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan.
3. Menurut Seels
dan Richey Desain pembelajaran adalah Proses untuk merinci kondisi
untuk belajar, dengan tujuan makro untuk menciptakan strategi dan produk, dan
tujuan mikro untuk menghasilkan program pelajaran atau modul.
Komponen Utama Desain
Pembelajaran
Komponen utama dari desain pembeajaran adalah
·
Pembelajar (pihak yang
menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi; karakteristik mereka, kemampuan
awal dan pra syarat.
·
Tujuan Pembelajaran
(umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh
pembelajar.
·
Analisis Pembelajaran,
merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
·
Strategi Pembelajaran,
dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu
kegiatan belajar mengajar.
·
Bahan Ajar, adalah
format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
·
Penilaian Belajar,
tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang sudah dikuasai atau belum.
Model - Model Desain Pembelajaran
Model pembelajaran
merupakan suatu rencana mengajar yang memper-hatikan pola pembelajaran
tertentu, hal ini sesuai dengan pendapat Briggs (1978:23) yang menjelaskan
model adalah “seperangkat prosedur dan berurutan untuk mewujudkan suatu proses”
dengan demikian model pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan
untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan
pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang
bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk
komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan disepakati oleh pihak-pihak yang
terkait dalam proses pembelajaran sehingga menunjukkan adanya perolehan,
penguasaan, hasil, proses atau fungsi belajar bagi si peserta belajar.
Joyce
(2000) mengemukakan ada empat rumpun model pembelajaran yakni:
1) rumpun
model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuan memecahkan
berbagai persoalan sosial kemasyarakat.
2) Model
pemorosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada
pengusaan disiiplin ilmu.
3) Model
pengembangan pribadi, rumpun model ini lebih berorientasi pada pengembangan
kepribadian peserta belajar. Selanjutnya model
4) Behaviorism
Joyce (2000:28) yakni model yang berorientasi pada perubahan prilaku.
Beberapa model pembelajaran
yang dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI), diantaranya adalah: model classroom meeting, cooperative learning,
integrated learning, constructive learning, inquiry learning, dan quantum
learning.
Model Classroom Meeting.
Karakteristik
PAI salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki
kepribadian yang hangat, tegas dan santun. Model pertemuan tatap muka adalah
pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman diri
sendiri, dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Strategi
mengajar model ini mendorong siswa belajar secara aktif. Kelemahan model ini
terletak pada kedalaman dan keluasan pembahasan materi, karena lebih berorientasi
pada proses, sedangkan PAI di samping menekankan pada proses tetapi juga
menekankan pada penguasan materi, sehingga materi perlu dikaji secara mendalam
agar dapat dipahami dan dihayati serta diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
William
Glasser sebagai tokoh model Pertemuan Kelas ini bertolak dari pandangan
psikologis, yang berasurnsi bahwa kekacauan psikologis yang dialami seseorang
karena adanya campur tangan budaya atas kebutuhan vital biologis manusia berupa
sex dan aggression. Kebutuhan - kebutuhan vital
psikologis manusia yang paling esensial ialah mencintai dan dicintai.
Ketidakpuasan dalam hal cinta ini menimbulkan berbagai sindrom seperti gejala
takut tanpa alasan, depresi, dan sebagainya.
Pengertian Desain.
Para ahli dalam bidang perencanaan merumuskan desain
dengan definisi, Desain adalah salah satu aspek dari proses pengembangan yang
terdiri dari enam fase[1].Untuk
mengembangkan berbagai bentuk atau aktifitas baru yang dianalisis sebagai
proses yang terdiri dari enam karakteristik yang saling berhubungan ;
a. Riset (analisis)
b. Desain
(sintesisi)
c. Produksi
(formasi )
d. Distribusi(pemyebaran)
e. Utilisasi(kinerja)
f. Eliminasi(penghentian)
Pengertian Pendidikan
Agama Islam
Pendidikan agama adalah merupakan usaha
untuk memperkuat iman dan ketaqwaanterhadap Tuhan Yang Maha Esa
sesuai denga agama yang dianut oleh peserta didikyang bersangkutan dengan
memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan
kerukunan antar umat beragama dalam masyrakat untuk mewujudkan
pesatuan nasional[2]. Sedangkan
Pendidikan agama Islam mempuyai pengertian sebagai usaha sadar untuk
menyiapkan siswa dalam menyakini, memahami, menghayati, dan
mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama
lain dalamhubungan kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujutkanpersatuan nasional[3].
3. Desain
Pembelajaran pendidikan agama Islam yang baik
Rencana pembelajaran
yang baik menurut gagne dan briggs(1974)hendaknya mengndung tiga komponen yang
di sebut dengan anchor point[4],
1) Tujuan
pengajaran;
2) Materi pengajaran/
bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman
belajar
3) Evaluasi
keberhasilan .
Hal ini sesuai dengan
pendapat Kenneth D Moore;bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi
bebrapa komponen di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Topic bahasan
b. Tujuan
pembelajaran (kompetensi dan indicator kompetensi )
c. Materi pelajran
d. Kegiatan
pembelajaran
e. Alat atau media
yang dibutuhkan
f. Evaluasi hasil
belajar
Dari beberapa pandangan
tersebut diatas maka desain pembelajaran pendidikan agma Islam yang baik
adalah:
1. Menentukan tujuan
pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama
Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga
menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
Swtserta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa
dan bernegara[5]. Untuk
mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi
pengajaran tertentu .
2) Menentukan materi
pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam
pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan,
syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih
menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3). Menentukan
pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa
menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar., di dalam pendidikan agama Islam
metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode
ceramah, Tanya jawab dan diskusi.
4) Media pengajaran dan
pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta ajar/murid untuk
menerima pelajaran. Dalam hal ini bisa menngunakanmedia bacaaan, tip recorde
5) Evaluasi
keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalammenerima
pelajaran yang telah di berikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
Manfaat Desain
pembelajaran:
1.
Sebagai penunjuk
arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2.
Sebagai pola dasar dalam
mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terliat dalam kegiatan.
3.
Sebagai alat ukur
efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui
ketepatan dan kelambatan kerja.
4.
Sebagai pedoman
kerja bagi setiap unsur, baik unsur pengajar maupun unsur yang diajar.
5.
Untuk bahan
penyususnan data agar terjadi keseimbangan kerja
6.
Untuk menghemat waktu,
tenaga, alat-alat dan biaya.
Model desai mengajar atau pembelajaran.
a. Model ROPES..( Review, Overview,
presentation, Exsercise, Summary) dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1). Review, kegiatan ini dilakukan dalam
waktu 1 sampai 5 menit, yakni mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari
bahan ajar denganmelihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki oleh siswa
dan diperlukan sebagai prerequisite unuk memahami bahan yang
disampaikan hari itu. Dalah
hal ini diperlukanguru harus yakin dan tahu betul jika siswa sudah siap
menerima pelajaran baru. Dan jika guru mengetahui siswa belum menguasai
pelajaran sebelumnya, maka guru dengan bijak memberi kesempatan kepada
siswa untuk memahami terlebih dahulu.
2). Overview, sebagai
mana review, overview dilakukan tidak terlalu lama yaitu berkisar
antara 2 samapai 5 menet, guru menjelaskan program pembelajaranyang akan
dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi secara singkat dan
strategis yang akan di gunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan
untuk memberi kesempatan pada siswa untuk
menyampaikanpandangannya sehingga siswa merasasenang dan merasa
dihargaikeberadaannya.
3). Presentation,tahap
ini adalah merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar,
karena disini guru sudah tidak memberikan penjelasan-penjelasansingkat,
akan tetapi sudah masuk pada proses telling shoing, dan doing.
Proses tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya
ingat siswa tentang pelajaran yang mereka dapatkan.
4). Exsercise, yakni
suatu proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan
apa yang telah mereka pahami. Hal ini di maksudkan untuk memberikan
pengalaman langsung kepada siswa sehingga hasil yang dicapailebih
bermakna.
5). Summary,
dimaksudkan untuk memperkuat apa yang telah mereka fahamidalam proses
pembelajaran. Hal ini sering tertinggal oleh guru karena mereka
disibukkan dengan presentase, dan bahkan mungkin guru tidak pernah
membuat Summary ( kesimpulan) dari apa yang telah mereka ajarkan.
b. Model satuan
pelajaran adalah merupakan istilah yang dikenal sekarang denganrencana
mengajar atau persiapan mengajar. Secra sistematis rencana
pembelajarandalam bentuk satuan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1). Identitas mata pelajaran.
2). Kompetensi dasar atau indikator yang hendak dicapai.
3). Materi pokok.
4). Media yang akan digunakan dalam pembelajaran.
5). Strategi
pembelajaran atau tahapa-tahapan proses belajar-mengajar yaitu mengenai
kegitan-kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam berintraksi.
Dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi
Jawaban
no 7
PEMILIHAN MATERI PELAJARAN
Pengertian dan persyaratan materi
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang penting mendapat
perhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi
pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak di capai.
Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan adalah kemampuan dan
keberhasilan guru merancang materi
pembelajaran. Materi Pembelajaran
pada hakekatnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan
dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran.
Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa
Materi pembelajaran (instructional materials) adalah
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai
peserta didik dalam rangka memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran menempati
posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus
dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat
mencapai sasaran.
Sasaran tersebut harus
sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang
ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar
menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta
tercapainya indikator.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi
pelajaran diantaranya :
Materi pelajaran
harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan instruksional.
Materi pelajaran
hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau perkembangan siswa pada
umumnya.
Menetapkan
materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).
Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).
Materi pelajaran
di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari yang mudak menuju
yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa akan
mudah memahaminya.
Materi pelajaran
hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual maupun konseptual.
Aspek – Aspek Materi
Kalau
kita mempelajari lebih dalam mengetahui materi pelajaran ,maka kita
akan dapat melihat adanya berbagai aspek yang antara lain : konsep fakta,
proses , nilai keterampilan , bahkan juga terdapat sejumlah
masalah-masalah yang ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat.
Istilah – istilah tersebut pada garis besarnya ialah :
1. Konsep adalah suatu idea tau
gagasan atau suatu pengertian yang umum, misalnya meliputi definisi lingkaran,.
2. Prinsip adalah suatu kebenaran
dasar sebagai titik tolak untuk berpikir atau merupakan suatu petunjuk untuk
berbuat / melaksanakan sesuatu , meliputi dalil, rumus, postulat,
teorema.
3. Fakta adalah
sesuatu yang telah terjadi atau yang telah
dikerjakan/dialami.Mungkin berupa hal , objek atau
keadaan.Jadi bukan sesuatu yang diinginkan atau pendapat
atau teori.
4. Proses adalah serangkaian
perubahan , gerakan – gerakan perkembangan . Suatu proses dapat terjadi secara
sadar tidak disadari. Dapat juga merupakan cara melaksanakan
kegiatan operasional (misalnya di pabrik) atau proses pembuatan tempe, proses
perubahan warna pada daun yang kena hama wereng dan sebagainya.
5. Nilai adalah suatu pola, ukuran
atau merupakan suatu tipe atau model . Umumnya nilai bertalian dengan pengakuan
atau kebenaran yang bersifat umum, tentang baik atau buruk.
6. Keterampilan adalah kemampuan
berbuat sesuatu dengan baik. Berbuat dapat berarti secara jasmaniah ( menulis,
berbicara dan sebagainya) Biasanya kedua aspek tersebut tidak terlipas satu
sama lain.
Aspek – aspek tersebut , perlu menjadi dasar pertimbangan
dalam menentukan bahan pelajaran dan rinciannya.Sesuatu satuan
bahasan yang telah ditentukan perlu dianalisis lebih lanjut tentang konsep-
konsep apa yang terkandung dalam topic tersebut, prinsip – prinsip apa yang
perlu disampaikan dan seterusnya.
Prinsip-Prinsip Penentuan Materi
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi
pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan
kecukupan (adequacy).
a) Relevansi artinya kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar
kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan
dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi
yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah
”Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta
bagian-bagiannyamaka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya
”Referensi tentang sifat-sifat dab bagian dari kubus,balok,prisma dan limas”
(materi konsep), bukan menentukan volume dari kubus,balok,prisma dan limas.
(materi prosedur).
b) Konsistensi artinya keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam,
maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar
bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan,
pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus
meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan
bentuk akar.
c) Adequacy artinya kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta
didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu
sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang
membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika
terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target
kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu
mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah
ini:
1. potensi peserta didik;
1. potensi peserta didik;
2. relevansi dengan karakteristik daerah;
3. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan
spritual peserta didik;
4. kebermanfaatan bagi peserta didik;
5. struktur keilmuan;
6. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8. alokasi waktu.
Kriteria Pemilihan Materi
Pelajaran
Materi
pelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Karena itu , pemilihan
materi pelajaran tentu saja harus sejalan dengan ukuran – ukuran (criteria)
yang digunakan untuk memilih isi kurikulum bidang studi bersangkutan. Kriteria
pemilihan materi pelajaran yang akan dikembangkan dalam system instuksional dan
yang mendasari penentuan strategi belajar mengajar :
Kriteria tujuan istruksional
Suatu materi pelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan
instruksional khusus atau tujuan – tujuan tingkah laku. Karena itu, materi
tersebut supaya sejalan dengan tujuan – tujuan yang telah dirumuskan.
Materi pelajaran supaya terjabar
Perincian materi pelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap TIK
telah dirumuskna secara spesifik , dapat diamati dan terukur. Ini berarti
terdapat keterkaitan yang erat antara spesifikasi tujuan dan
spesifikasi materi pelajaran.
Relevan dengan kebutuhan siswa
Kebutuhan siswa yang pokok adalah bahwa mereka ingin berkembang
berdasarkan potensi yang dimilikinya. Karena berkembang berdasarkan
potensi yang dimilikinya.
Karena setiap materi pelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai
dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh. Beberapa
aspek di antaranya adalah pengetahuan ,sikap, nilai dan keterampilan.
Kesesuaian dengan kondisi masyarakat
Siswa dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu
hidup mandiri. Dalam hal ini, materi pelajaran yang dipilih
hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna
bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang mudah menyesuaikan diri.
Materi pelajaran mengandung segi-segi etik
Materi pelajaran yang akan dipilih hendaknya mempertimbangkan
segi perkembangan moral siswa kelak.Pengetahuan dan keterampilan yang bakal
mereka peroleh dari materi pembelajaran yang telah mereka terima di arahkan
untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia yang etik sesuai dengan system
nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.
Materi pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan
yang sistematik dan logis.
Setiap materi pelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas
ruang lingkupnya dan terpusat pada satu topic masalah tertentu. Materi disusun
secara berurutan dengan mempertimbangkan factor perkembangan psikologis siswa .
Dengan cara ini diharapkan isi materi tersebut akan lebih mudah diserap oleh si
siswa dan dapat segera dilihat keberhasilannya.
Materi pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku,
pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.
Ketiga factor ini perlu diperhatikan dalam memilih materi pelajaran .
Buku sumber yang baku umumnya disusun oleh para ahli dalam
bidangnya dan disusun berdasarkan
GBPP yang berlaku, kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang
diharapkan. Guru yang ahli penting, oleh sebab sumber utama memang adalah guru
itu sendiri. Guru dapat menyimak semua hal yang dianggapnya perlu
utuk disajikan kepada para siswa berdasarkan ukuran pribadianya. Masyarakat
juga merupakan sumber yang luas,bahkan dapat dikatakan sebagai materi belajar
yang paling besar.
5. Langkah-Langkah
Penentuan Materi Pembelajaran
a)Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebelum menentukan materi
pembelajaran terlebih dahulu
perlu di identifikasi aspek- aspek keutuhan kompetensi yang harus
dipelajari atau dikuasai peserta didik. Aspek tersebut perlu
ditentukan, karena setiap standar kompetensi dan kompetensi
dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.
Harus ditentukan apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang harus dikuasai peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotor
ataukah afektif.
b)Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran
dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya. Materi yang sesuai
untuk
ranah kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek
intelektual,seperti pengetahuan, pengertian,dan keterampilan berpikir.
Materi yang akan dibelajarkan perlu
diidentifikasi secara tepat agar pencapaian kompetensinya dapat
diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan
dibelajarkan,maka guru akan mendapatkan ketepatan dalam
metode pembelajarannya. Sebab,setiap jenis
materi pembelajaran memerlukan strategi, metode, media, dan
sistem evaluasi yang berbeda-beda.
c) Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan
kompetensi
dasar.
dasar.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran
yang
akan dibelajarkan adalah dengan mengetahui tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa fakta,konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik.
akan dibelajarkan adalah dengan mengetahui tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa fakta,konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik.
contohnya:
Kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan
untuk menyatakan suatu definisi ,menuliskan ciri khas sesuatu,
mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan
suatu definisi. Berarti materi yang diajarkan adalah “konsep”.
d) Memilih Sumber Bahan Ajar
Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah
menentukan
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran , internet dan sebagainya.
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran , internet dan sebagainya.
Penentuan Cakupan Dan Urutan Penyajian Bahan Ajar
Cara pemilihan materi
Dengan mengacu pada syarat dari materi pelajaran, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih atau menetapkan materi
pelajaran :
a. Tujuan pengajaran
Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada tujuan –
tujuan instruksional yang ingin dicapai.
b. Pentingnya bahan
Materi yang diberikan hendaknya merupakan bahan yang betul – betul
penting , baik dilihat dari tujuan yang ingin dicapai maupun fungsinya untuk
mempelajari bahan berikutnya.
c. Nilai praktis
Materi yang dipilih hendaknya bermakna bagi para siswa , dalam arti
mengandung bilai praktis atau bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
d. Tingkat perkembangan peserta didik
Kedalaman materi yang dipilih hendaknya ditetapkan dengan
memperhitungkan tingkat perkembangan berpikir siswa yang bersangkutan, dalam
hal ini biasanya telah dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
e. Tata urutan
Materi yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang memudahkan
dipelajarinya keseluruhan materi oleh peserta didik atau siswa.
Model
pembelajaran dipandang paling punya peran strategis dalam upaya mengdongkrak
keberhasilan proses belajar mengajar. Karena ia bergerak dengan melihat kondisi
kebutuhan anak didik, sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan
tepat tanpa mengakibatkan siswa mengalami kebosanan. Namun sebaliknya, siswa
diharapkan dapat tertarik dan terus tertarik mengikuti pembelajaran, dengan
keingintahuan yang berkelanjutan. Berbagai model pembelajaran yang telah
dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk
meningkatkan kerjasama antar anak didik, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri,
serta meningkatkan kemampuan anak didik melalui aktivitas individu maupun
kelompok.
Kriteria pemilihan model pembelajaran
Untuk memilih atau menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk
peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu, perlu disesuaikan dengan
tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar, seperti
kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktifan, dan umpan balik atau penguatan
Jawaban
no 8
Desain Pembelajaran PAI - Dalam
sebuah kegiatan pembelajaran, maka desain pembelajaran menempati sebuah posisi
yang teramat penting untuk menjamin kualitas kegiatan pembelajaran yang
berlangsung. Saat ini sendiri terdapat beberapa desain pembelajaran khususnya
pada PAI yang dinilai baik untuk dikembangkan. Di
antaranya adalah beberapa desain pembelajaran PAI berikut ini.
Desain Pembelajaran PAI Brigs.
Desain pembelajaran ini merupakan sebuah desain pembelajaran yang memiliki ciri
utama yakni tenaga pendidik yang memiliki fungsi instruksional dalam sebuah
kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran ini pada umumnya adalah merupakan
sebuah sistem pembelajaran yang memiliki tujuan untuk menyelaraskan komponen
pembelajaran yang terdapat di dalamnya seperti tujuan yang akan dicapai dalam
kegiatan pembelajaran agama Islam, strategi yang digunakan oleh tenaga pendidik
dalam memberikan materi pembelajaran pendidikan agama Islam serta upaya
melakukan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran PAI yang telah dilaksanakan.
Desain pembelajaran PAI Banathy.
Model desain pembelajaran yang satu ini memiliki ciri utama yakni tersusun dalam tahapan yang
jelas. Yakni terdiri dari 6 tahapan utama yaitu tahapan menganalisis rumusan
dan tujuan yang diinginkan pada kegiatan pembelajaran yang akan dilangsungkan,
membuat tes yang sesuai untuk rumusan dan tujuan yang dibuat, melakukan
analisis dan perumusan kegiatan pembelajaran, merancang sebuah sistem
pembelajaran, menganalisis efektifitas sistem dan terakhir melakukan perbaikan
atas evaluasi pembelajaran yang telah dilakukan.
Desain
pembelajaran PAI Kemp. Desain pembelajaran PAI yang dikembangkan oleh Kemp
merupakan sebuah desain pembelajaran siklus yang mana tersusun dalam sebuah
sistem dan terdiri dari beberapa komponen pembelajaran yang saling berkaitan.
Di antaranya komponen pembelajaran ini adalah hasil yang ingin dikehendaki,
analisis tes, tujuan khusus kegiatan belajar dan lain sebagainya yang
masing-masing saling berkaitan membentuk sebuah siklus.
Model
Gerlach dan Ely dalam kegiatan pembelajaran PAI. Model pembelajaran yang satu
ini memiliki ciri utama sebagai suatu sistem yang mengembangkan perencanaan
pembelajaran. Di antaranya beberapa hal yang diperhatikan dalam desain
pembelajaran ini adalah tujuan instruksional, materi pembelajaran, kemampuan
awal yang dimiliki oleh para peserta didik, serta teknik dan strategi yang
digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Jawaban no 9
Materi PAI memiliki aspek kajian yaitu Akidah, Akhlak,
Fiqih, SKI, Al Quran, dan Hadis. Semua
mata pelajaran ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Berbeda dari seri
pemahaman, dari segi penerapan dan segi latihannnya. Ada tiga kategori utama
atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar
behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar
konstruktivisme. Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek
objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk
menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar
sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide
baru atau konsep.
1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan
oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang
berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan
pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad
terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang
sebelumnya. Model kognitif ini
memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran
melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan
antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini
menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3.
Teori
Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks
filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya
membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan
landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep,
atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk
menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung
dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu
mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara
langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
[1]
Udin saefudin sa’ud dan abin
syansuddin makmun,perencanaan pendidikan suatu pendekatan
komprehensif,(bandung, PTremaja rosda karya, 2006 ) hlm.121
[2] Muhaimin, paradigma Pendidikan
Islam upaya Mengefektifkan pendidikan Agama Islam di
Sekolah,(Bandung, Rosda Karya,2001),75.
[5] Ibid, Muhaimin, 78