Hakikat Alam Dan Kehidupan



BAB I
PENDAHULUAN
Selain masalah tentang Tuhan, ada tiga persoalan mendasar dan krusial yang selalu mengusik pikiran manusia ketika ia menjalani kehidupan di dunia ini. Pertama, adalah siapakah dirinya sebenarnya? dengan kata lain apa hakikat dirinya? Kedua, adalah alam di mana tinggal, apa hakikatnya? dan ketiga adalah tentang kehidupan, untuk apa manusia hidup? dan untuk apa kehidupan ini diadakan?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini selalu mengusik pikiran manusia dan mereka berusaha menemukan jawabannya. Namun di dalam makalah ini yang dibahas hanyalah hakikat alam dan kehidupan saja.
Pandangan manusia tentang alam bervariasi. Kaum sekuleristik-ateistik berpendapat bahwa alam ini hanyalah materi mekanistik yang bergerak dengan sendirinya dan tercipta dengan sendirinya. Sementara kaum primitif melihat alam sebagai kekuatan dahsyat yang harus disembah. Begitu pula pandangan manusia tentang hakikat kehidupan. Ada yang berpandangan bahwa hidup ini hanyalah di sini, tidak ada lagi kehidupan setelah ini karena itu hidup harus dinikmati sebebas-bebasnya sebelum kehidupan berakhir dengan kematian. Sementara yang lain berpandangan bahwa kehidupan ini pada hakikatnya adalah kesengsaraan, tanpa makna dan tujuan . Kematian adalah akhir dari kesengsaraan untuk menuju kehidupan yang lebih abadi dan menyenangkan, dan sebagainya.
Pandangan tentang hakikat alam dan kehidupan sangat penting dan sangat berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan terutama pada bidang pendidikan. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimanakah pandangan Islam tentang hakikat alam dan kehidupan? Dan apa implikasinya bagi pendidikan Islam? Pertanyaan inilah yang akan kita jawab dalam uraian-uraian selanjutnya dari makalah ini.

    
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dasar Filosofis Pendidikan Islam Tentang Hakikat Alam
1. Alam Adalah Ciptaan Allah dan Kitab Allah Dalam Bentuk Lain
Menurut an-Nahlawi, keistimewaan pandangan Islam tentang alam adalah ia tidak melihat alam semata-mata hanya menggunakan akal, tetapi juga melibatkan perasaan manusia, yakni menggerakkan perasaan manusia untuk merasakan keagungan Allah, kekerdilan manusia dihadapan-Nya dan keniscayaan untuk tunduk kepada-Nya. Semua yang ada di alam menjadi argumen rasional-faktual yang tegas mengindikasikan ke-Esaan ketuhanan Allah di seluruh alam. Alam ini diciptakan dengan tujuan-tujuan tertentu, bukan karena faktor untuk bermain-bermain atau melakukan kesia-siaan yang tidak berguna (ad-Dukhan: 38-39, al-Ahqaf: 3). Perenungan terhadap ciptaan Allah akan menggerakkan perasaan (lembut) manusia, memberi pemahaman dan mendorong manusia untuk beribadah dan mentauhidkan Allah.[1]
Implikasi pendidikan yang ingin ditanamkan pada perspektif Islam tentang alam, menurut an-Nahlawi di antaranya adalah (1) menciptakan hubungan yang erat seorang Muslim dengan Tuhannya dan mengingatkan bahwa tujuan tertinggi dari kehidupan ini adalah beribadah kepada Allah, dan (2) mendidik manusia untuk bersungguh-sungguh, karena alam ini seluruhnya ditegakkan berdasarkan atas kebenaran (al-haq) dan diwujudkan untuk tujuan yang jelas serta memiliki batas tertentu di sisi Allah. Alam tidak diciptakan untuk bersenda gurau dan berlaku sia-sia (al-Anbiya: 16-17). Ini mengajarkan manusia untuk meneliti tentang tujuan dari realitas alam ini dan menjauhkan dari berpikir tentang hal-hal yang melalaikan, main-main dan sia-sia, dan juga mengajarkan untuk merenungi alam ini dengan renungan yang logis dan ilmiah.[2]
Menurut al-Attas, alam ini adalah bentuk lain dari wahyu Tuhan, sama halnya dengan Alquran. Perbedaannya terletak pada keadaan bahwa alam yang terkembang merupakan sesuatu yang diciptakan; ia tampil dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda, yang berfungsi sebagai simbol wujud yang secara kontinu diartikulasikan melalui Kalam yang kreatif. Jika ayat Alquran terdiri dari ayat-ayat yang berarti tanda-tanda maka alam juga merupakan “buku” yang berisi tanda-tanda.[3]
Namun, menurut al-Attas, memahami fenomena alam lebih sulit karena tanda-tandanya sangat kabur dan tidak mudah dicerna. Al-Attas membuat perbandingan antara memahami kitab yang tertulis (Alquran) dan kitab Tuhan yang terbuka (alam). Ia menggaris bawahi bahwa tujuan sebenarnya dari membaca kedua kitab itu adalah untuk memahami tanda-tandanya, yang pada satu pihak (Alquran) dalam bentuk perkataan dan alam pada pihak lain dalam bentuk fenomena alam. Jika pada pembacaan Alquran hanya terfokus pada aspek-aspek fisikal dari Kitab, seperti tinta, huruf, kata dan kertas, tetapi melupakan maksud dari kata, kalimat dan kandungannya sesungguhnya seseorang telah kehilangan tujuan dari membaca Kitab (Alquran) itu, karena tak satupun ilmu yang dapat diperoleh dengan cara tersebut. Alam ini juga ibarat kitab yang maknanya hanya bisa dipahami oleh mereka yang dibekali ilmu pengetahuan yang sesuai, yakni hikmah dan intuisi spiritual. Al-Attas sering mangatakan bahwa di antara objek-objek alam, ada yang memiliki makna yang bisa ditangkap dengan jelas, sama halnya dengan ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam Alquran dan ada yang memiliki makna yang ambigu (mutasyabihat). Pemahaman dan penerjemahan yang dilakukan terhadap tanda-tanda di alam ini haruslah berdasarkan metode yang valid sebagaimana orang dalam menerjemahkan dan menafsirkan Alquran. Kesimpulannya, menurut Al-Attas, sains adalah sejenis takwil atau terjemahan alegoris terhadap segala sesuatu yang empiris pada alam natural.[4] Orang-orang yang mampu memahami tanda-tanda itu menurut Al-Attas hanyalah orang-orang beradab yakni orang yang memiliki intelektualitas, etika, dan disiplin spiritualitas.
2. Ketundukkan Alam Terhadap Sunnatullah
Alam ini ditundukkan oleh Allah dengan sunnah (hukum alam) yang telah ditetapkan-Nya dengan qadar-qadar yang telah ditetapkan-Nya (Yasin: 37-40, al-Hijr: 19-21). Perputaran matahari dan bulan tidak menyimpang dan pergantian muslim tidak berbenturan, tetapi semuanya berjalan sesuai dengan sunnah dan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan Allah bagi alam. Demikian pula Allah telah menjadikan kehidupan di bumi sesuai dengan qadar yang ditentukan-Nya. Allah telah mengajarkan manusia tentang perhitungan waktu dengan pergantian siang dan malam dan menetapkan pembagian musim, dan hitungan bulan qamariyah.[5]
Ini juga mengajarkan dua hal kepada manusia: (1) perulangan peristiwa-peristiwa alam merupakan sunnah yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah), Allah-lah yang memiliki kekuasaan untuk merubahnya jika Ia mau. Sunnatullah inilah yang menjadi dasar seluruh bangunan undang-undang ilmiah; menjadi dasar berpikir ilmiah yang dengan berpikir ilmiah itu telah membuka dan menciptakan setiap peradaban yang tak pernah ada sebelumnya. (2) Bahwa sunnah alam ini dan semua peristiwa, realitas dan kondisinya dari atom yang kecil hingga benda yang terbesar adalah diciptakan dan dijalankan Allah atau diturunkan dengan ketetapan yang diketahui, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak sesuatupun yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan-Nya.[6]
3. Seluruh Alam Berjalan Berdasarkan Kudrat Allah dan Tunduk Kepada Allah
Allah mengatur sunnah alam dan senantiasa mengurus dan menjalankan urusan-Nya di alam (al-Haj: 65, Fathir: 41, ar-Rum: 25, al-Sajadah: 5). Manusia hanyalah bagian kecil dari alam, karena itu manusia wajib untuk tunduk dalam segala keadaannya, hidupnya dan matinya terhadap ketetapan Allah yang Maha Agung dan Maha Mengetahui (al-An’am: 61). Sebab alam ini tunduk kepada Allah, yakni tunduk kepada sistem-Nya, perintah-Nya, keinginan dan kehendak-Nya, sebagaimana telah dijelaskan Allah di beberapa tempat dalam Alquran (al-Baqarah: 116-117, al-Isra`: 33).[7] Aspek pendidikan yang dapat diambil dalam hal ini adalah jika setiap makhluk dan benda mati di alam ini tunduk kepada pencipta-Nya, bersaksi atas keagungan dan kesucian Allah dari segala kekurangan, maka sepantasnyalah manusia yang memiliki akal yang mampu berpikir untuk mengenal Tuhannya melalui nikmat dan karunia-Nya untuk lebih tunduk kepada Allah, merasakan keagungan-Nya, bertasbih dan bertahmid dan bertaqdis kepada Allah. Inilah, menurut an-Nahlawi, kesimpulan pendidikan terpenting yang lahir dari konsep alam dan keistimewaannya yang dikemukakan oleh Islam.
4. Alam ditundukkan Allah Bagi Manusia
Keistimewaan agama Islam tentang manusia dan hubungannya dengan alam adalah Islam menjadikan manusia sebagai pengelola alam sekitarnya dan memberi kekuasaan kepada manusia atas alam berdasarkan izin Allah karena Allah menundukkan alam bagi manusia mulai dari benda terbesar yang berpengaruh besar bagi kehidupan manusia seperti matahari sampai benda kecil yang bermanfaat bagi manusia seperti lebah dan atom (Ibrahim: 32-34; al-Baqarah: 29; an-Nahl: 12-14). Ajaran Alquran dengan amtsal-nya tentang masalah ini mengandung aspek pendidikan seperti melembutkan hati manusia, mendidik hati dan perilaku manusia untuk tunduk kepada Allah, merasakan karunia, pertolongan, rahmat dan kelembutan Allah, mendorong manusia untuk memuji, bersyukur, bertasbih dan mentauhidkan-Nya. Juga mendidik akal manusia berdasarkan ilmiah-amaliyah.[8]
Pada aspek ilmiah, sosial dan peradaban, ayat-ayat Alquran (tentang alam) menekankan bahwa manusia dapat mengelola panas matahari yang telah ditundukkan Allah, dapat mengelola sinar bulan, angin, bintang, sungai, gunung, laut dan segala sesuatu yang ditundukkan Allah bagi manusia dan menjadikan kunci (menyingkap alam itu) di tangan manusia.[9] Sedang pada aspek pendidikan, Alquran mengajarkan manusia untuk tidak melampuai batas dalam mengelola alam, tidak mencemari air sungai, tidak membunuh habitat laut, tidak menggunakan nikmat Allah untuk menumpahkan darah dan menyebar kerusakan, tidak menzalimi sesamanya yang menimbulkan pemberontakan dan permusuhan atau melakukan dosa dan kebohongan.[10]
Manusia dalam pandangan Islam adalah pengelola alam yang ditundukkan Allah berdasarkan nama Allah dan perintah-Nya serta tetap dalam batas-batas syariat Allah. Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak membolehkan kezaliman dan permusuhan, tetapi Ia menyeru kepada keadilan di antara sesama manusia, saling berkasih sayang, saling melengkapi dan saling menolong. Jika manusia menyebut nama Allah dalam setiap perilakunya dan pada setiap apa saja yang ia lakukan maka jadilah perilakunya itu sebagai teladan dan jauh dari setiap sikap permusuhan, kerusakan, dan kebohongan.
Ditundukkannya alam bagi manusia adalah salah satu implikasi dari fungsi kekhalifahan manusia di bumi. Karenanya merupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di alam ini guna memenuhi keperluan hidupnya. Demikian pula perlu disadari bahwa kewenangan manusia untuk memanfaatkan alam semesta harus didasarkan kepada garis yang telah ditetapkan Allah SWT dan tidak boleh menyalahinya. Seperti tidak boleh merusak alam, tidak boleh mengeksploitasinya untuk kepentingan individu atau golongan, tidak boleh memanfaatkannya secara berlebihan dan hal-hal destruktif lainnya.[11]
Implikasi dari pandangan Islam tentang hakikat alam adalah, pendidikan Islam harus menyajikan tiga aspek penting:
Pertama, alam dan fenomenanya harus ditampilkan sebagai “kitab terbuka” atau wahyu Allah yang tak tertulis. Artinya, membaca fenomena alam dengan menggunakan sains sebagai kacamata bacanya pada hakikatnya sama artinya membaca ayat-ayat Allah di alam dan membaca sunnatullah-Nya. Kalau memahami Alquran harus menggunakan tafsir dan takwil, maka membaca fenomena alam harus menggunakan sains sebagai tafsirnya. Cara membaca fenomena alam, baik dalam bentuk perenungan, pengamatan maupun penelitian dalam pendidikan Islam harus berbeda dengan cara baca orang-orang yang sekuler yang tidak melibatkan aspek spiritual dan tidak melibatkan Tuhan dalam meneliti alam semesta, karena dalam pendidikan Islam membaca fenomena alam harus melibatkan intelektualitas, etika, dan disiplin spiritualitas yang berlandaskan semangat ilmiah dan kesadaran ketuhanan.
Kedua, Pendidikan Islam harus mampu melahirkan output pendidikan yang profesional dalam mengelola alam, memiliki tanggung jawab spiritual kepada Tuhan sang Pencipta alam, anti melakukan perusakan dan eksploitasi berlebihan terhadap alam memandang alam sebagai karunia yang harus disyukuri dan diperlakukan dengan baik dan menyadari bahwa hubungan alam dengan dirinya bukan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan tetapi antara hubungan segi tiga antara orang yang menanggung amanah (manusia), yang diamanahi (alam) dan pemberi amanah (Allah). Semua tindakan di alam harus berjalan di atas garis-garis yang telah ditetapkan sang Pencipta.
Ketiga, dalam pendidikan Islam, perbincangan tentang alam tidak saja menghasilkan sains atau semata-mata sains, tetapi juga melahirkan ketawadhuan, kesyukuran, ketundukkan, ketauhidan dan nilai-nilai spiritual lainnya yang mampu menembus realitas dibalik fenomena alam yang nampak. Yakni sains yang tidak lepas dari nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai kemanusiaan.
B.       Dasar Filosofis Pendidikan Islam Tentang Hakikat Kehidupan
1.      Pandangan Optimistik dan Pesimistik Tentang Kehidupan
Menurut Nurcholish Madjid, tidak sedikit kalangan pemikir yang berpandangan bahwa hidup ini tidak bermakna dan tidak pula bertujuan. Bahkan kaum pesimistik berpandangan bahwa hidup ini tidak saja tidak bermakna dan tidak bertujuan tetapi juga penuh kesengsaraan, sehingga mati menurut mereka lebih baik daripada hidup. Menurut mereka hidup ini hanyalah proses pasti menuju tragedi (kematian). Jadi hidup adalah kesengsaraan. Sehingga Darrow mengatakan bahwa hidup adalah “guyon yang mengerikan” (awful joke) dan Tolstoy melihat hidup sebagai “tipuan dungu” (stupid fraud). Implikasi dari pandangan ini kaum pesimistik berpandangan bahwa tidak ada makna dan tujuan hidup serta tidak ada kebahagiaan yang sejati. Setiap gambaran tentang kebahagiaan adalah palsu, sebab kebahagiaan itu sendiri adalah palsu. Karena kebahagiaan adalah semu dan palsu maka manusia adalah makhluk sengsara. Kalaupun ada orang yang bahagia jumlahnya pasti sedikit dan tidak langgeng. Malah kebahagiaan yang tidak langgeng itu sebenarnya adalah sumber kesengsaraan orang banyak karena bisa jadi dicapai dengan cara “memeras” orang banyak. Semboyan kaum pesimistik ini adalah “ segala yang lalu telah tiada, segala yang akan datang belum terjadi dan segala yang sedang terjadi tidak memadai, artinya merindukan masa lampau adalah sia-sia, memimpikan masa depan adalah impian belaka dan menjalani kehidupan sekarang tidak cukup menarik karena keberadaan kita di dunia ini hanyalah kebetulan belaka, tanpa makna dan tujuan hidup, bahkan tanpa hal-hal yang benar-benar menyenangkan.[12]
Berbeda dengan kaum pesimisme, kaum positivisme memandang hidup ini cukup berharga (worthwhile) dan memandang tidak masuk akal kalau kematian itu lebih berharga daripada kehidupan. Mereka membalikkan argumen kaum pesimisme. Jika benar kematian itu lebih tragis dan menakutkan, maka memandang mati lebih baik daripada hidup adalah suatu kontradiksi. Jika mati lebih baik daripada hidup maka premisnya seharusnya berbunyi bahwa mati lebih menyenangkan atau kurang menakutkan daripada hidup. Kalau mati disebut kesengsaraan dan pembunuhan adalah suatu kejahatan maka logisnya adalah hidup bagaimanapun lebih baik daripada kematian. Karena itu, menurut kaum positivisme tidak ada seorang pun yang tidak mempunyai makna dan tujuan hidup. Sebab setiap orang mempunyai tujuan berharga yang diperjuangkan untuk diwujudkan. Maka hidup ini cukup berharga, dan kenyataannya adalah bahwa hampir setiap orang berjuang untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf hidupnya, biar pun ia mungkin merasa sengsara hidup di dunia. Namun adanya harapan di hati menjadi penyangga kekuatan jiwanya untuk tetap hidup, kalau dapat selama mungkin, di dunia ini.[13]
Menurut Nurcholish Madjid, hidup ini adalah berharga secara instrinsik, artinya ia berharga karena dirinya sendiri. Karena itu sesungguhnya tidak relevan untuk menanyakan apakah hidup itu lebih berharga daripada mati, sebab pertanyaan itu mengisyaratkan komparasi antara kehidupan dan kematian sementara tak seorang pun yang pernah mengalami kematian secara sadar dapat membandingkan dengan kehidupannya sendiri. Hidup ini bukanlah suatu lingkaran tertutup yang tanpa ujung dan pangkal. Kehidupan berpangkal dari sesuatu dan berujung kepada sesuatu, yaitu berpangkal dari Tuhan dan berujung kepada Tuhan sebagai pencipta dan pemberi kehidupan. Karena itu tujuan hidup manusia adalah Tuhan. Arti dan makna hidup ditemukan dalam usaha kita “bertemu” dan “mencari wajah” Tuhan, dengan harapan memperoleh ridha Tuhan sedang tujuan hidup kosmis ia memperoleh kebahagiaan sejati dalam hidup sesudah mati. Kematian bukanlah akhir segala-galanya, khususnya bukan akhir dari pengalaman manusia tentang kebahagiaan dan kesengsaraan karena kematian adalah suatu peristiwa peralihan (transitory), yang mengawali pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan yang hakiki.[14]
2. Kehidupan dan Kematian Diciptakan Sebagai Periode Kompetisi Manusia Untuk Menjadi Yang Terbaik
Dalam pandangan Islam, terciptanya kehidupan dan kematian di dunia memiliki tujuan-tujuan tertentu. Kehidupan dan kematian diciptakan oleh Allah misalnya dapat ditemukan jawabannya pada pernyataan Allah dalam al-Mulk ayat 2:
Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# 
 Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan dan kematian adalah untuk melihat dan menguji siapa di antara manusia yang terbaik amalnya. Artinya kehidupan dan kematian diciptakan oleh Allah sebagai periode kompetisi manusia mencapai prestasi hidup untuk menjadi yang terbaik di antara manusia lainnya. Bahkan di tempat lain, pada QS. Hud ayat 7 , Allah menyatakan bahwa diciptakannya langit dan bumi bertujuan untuk menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya:
 uqèdur Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& šc%Ÿ2ur ¼çmä©ötã n?tã Ïä!$yJø9$# öNà2uqè=ö7uŠÏ9 öNä3ƒr& ß`|¡ômr& WxyJtã 3
Artinya: “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya”.
  Dari dua ayat ini menunjukkan dengan tegas bahwa hakikat kehidupan
ini adalah periode dan tempat ujian untuk berkompetisi menggapai prestasi (amal) kehidupan yang terbaik atau menggapai kualitas hidup yang terbaik. Karena itu, hidup ini adalah dinamis dan positif, tiada henti untuk berprestasi untuk menjadi yang terbaik sampai batas kehidupan berakhir pada kematian. Tiada kata malas, mundur, menyerah dan frustasi, dalam kondisi apapun manusia harus tetap menampilkan amal terbaiknya walaupun hanya pada gerak hatinya. sebab keputusan final prestasi kehidupan ini ada ditangan Allah yang akan diumumkan di akhirat. Karena itu semua aktivitas kehidupan manusia hanyalah diabdikan kepada Allah sebagaimana di antara doa yang sering dibaca dalam salat: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.
3. Sifat-Sifat Kehidupan Dunia
Setelah mengemukakan beberapa ayat Alquran An-Nahlawi menyimpulkan sifat-sifat kehidupan ini sebagai berikut:
  1. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara, tempat perlintasan dan instrumen untuk menuju kehidupan akhirat, karena itu tidak boleh dijadikan sebagai tujuan kehidupan. Menjadikan dunia sebagai puncak kehidupan dan tujuan akhir akan melalaikan dan membuat manusia lupa terhadap tujuan penciptaan dunia, yang sebenarnya hanyalah tempat ujian manusia. Tempat kehidupan yang sejati (dar al-baqa`) adalah akhirat, sedang dunia hanyalah wadah kehidupan yang akan lenyap (dar al-fana`)
  2. Kehidupan dunia penuh dengan hiasan indah (az-zinah) dan perhiasan (az-zukhruf), syahwat serta berbagai kelezatan (al-muladzdzat) yang pada hakikatnya menjadi bagian instrumen dunia yang menambah sempurnanya (dan beratnya) ujian dan cobaan kepada manusia (Hud: 15-16; Ali Imran: 14).
  3. Seorang muslim tidak saja boleh menikmati dunia bahkan memiliki hak penuh untuk menikmati kehidupan dunia asal sesuai dengan ketentuan syariah (al-Qashash: 77 dan al-A’raf: 32). Dalam hal ini Muslim dapat menikmati dunia sebagaimana orang-orang kafir dan mulhid, tetapi dengan syarat bahwa hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan kepada Allah. Yakni seorang muslim harus menggunakan dunia untuk kepentingan kehidupan akhirat dan menundukkan dunia untuk kepentingan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Seorang muslim boleh menikmati harta sembari digunakannya untuk membayar zakat, dapat menikmati memperoleh anak guna dididiknya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan syariat-Nya, demikianlah seterusnya seorang muslim boleh menikmati apa saja yang dibolehkan oleh syara’ dan dengan tujuan yang dibenarkan oleh syara pula.
  4. Dunia ini memiliki tatanan sosial dan tatanan kemanusiaan yang telah ditradisikan oleh Allah (sunnatullah) di antara berbagai bangsa dan umat. Siapapun yang berusaha di dunia maka hasil usahanya akan diperoleh secara penuh di dunia dan siapapun yang menundukkan dunia karena mencari ridha Allah maka ia akan beruntung di dunia dan akhirat.
  5. Masa kehidupan dunia ini sangat singkat, tidak dapat dibandingkan dengan masa kehidupan akhirat bahkan tidak sebanding dengan satu jam atau satu hari waktu akhirat (Thaha: 102-104).
  6. Kehidupan dunia ini adalah tempat berusaha dengan segala keletihan, kepayahan dan kesungguhannya (al-Insyiqaq: 6).
  7. Allah akan menolong orang-orang beriman baik pada kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Karena itu kehidupan dunia tidaklah semata-mata tempat penampakan kekafiran dan kerusakan tetapi juga tempat penampakan keimanan dan kebaikan dengan pertolongan Allah (Ghafir: 51).
  8. Kehidupan dunia adalah tempat permainan (la’ib), kelalaian (lahw), perhiasan (zinah), saling membanggakan (tafâkhur) dan perlombaan untuk menjadi yang “terbanyak” (takatsur) dari segi harta dan anak-anak (al-Hadid: 20 dan at-Takatsur: 1-2).[15]
Aspek pendidikan yang bisa dipetik dari sifat-sifat dunia itu, menurut an-Nahlawi, adalah: pertama, seorang muslim jangan sampai tertipu oleh kehidupan dunia atau lalai dengan tujuan kehidupan sesungguhnya untuk beramal di dalamnya. Karena kehidupan ini adalah ujian dan bersifat sementara maka seharusnya yang ada pada diri seorang muslim hanyalah kesungguhan, kewaspadaan dan kesabaran terhadap kesulitan hidup. Seorang muslim adalah seorang petualang pemberani yang ambisinya tidak terhenti pada batas tertentu, tetapi tujuan hidupnya jauh melampaui tujuan kehidupan dunia yang dekat ini yakni kehidupan akhirat. Kedua, seorang muslim jangan mengharamkan atas dirinya kekayaan dunia yang baik-baik, bahkan seorang muslim seharusnya menikmati harta benda duniawi dimana dengan harta benda itu pula ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Dibalik kenikmatan duniawi itu ia mengarahkan tujuan penggunaannya untuk mencari ridha Allah. Ketiga, bersabar terhadap cobaan dan kesempitan kehidupan dunia, karena seorang muslim telah terlebih mengenali bahwa kehidupan ini adalah tempat bekerja keras dan tempat cobaan. Karena itu ia tidak boleh putus asa, tetapi tetap bersabar dan menyiapkan dirinya untuk berjihad. Keempat, Setiap pribadi muslim dan masyarakat harus mengerahkan kemampuannya untuk memerangi setiap musuh-musuhnya yakni mengalahkan musuh-musuh kebajikan dan kebaikan baik dari golongan jin maupun manusia. Karena ia tahu bahwa Allah akan menolong orang-orang beriman, jika mereka mewujudkan iman mereka dalam perilaku mereka,  mengikuti Kitab-Nya dan Rasul-Nya, serta menjadikannya sebagai basis kekuatan, keperkasaan dan pertahanan sebagaimana yang telah diperintahkan Allah.[16]
Implikasi dari pandangan di atas adalah bahwa pendidikan Islam harus menanamkan sikap positif terhadap hidup yakni, memandang hidup punya makna dan tujuan, memandang hidup sebagai kesempatan menjadi yang terbaik dengan mengutamakan kualitas, memiliki tujuan hidup untuk mencari ridha Allah, memandang hidup sebagai perjalanan menuju Allah, memandang bahwa kehidupan dan masa depan sejati adalah akhirat; memandang bahwa kebahagiaan tidak hanya diraih akhirat tetapi juga harus diraih di dunia, memandang kenikmatan dunia dengan positif, bahwa sebagai muslim ia halal dan berhak untuk menikmati serta hidup bahagia dunia ini, bersikap mawas diri terhadap jerat dunia agar tidak terjebak dalam pesona dunia yang penuh permainan, kelalaian, perhiasan, kebanggaan dan perlombaan duniawi, memandang kebenaran sebagai pilihan hidup dan kejahatan adalah musuh kehidupan dan sebagainya.










BAB III
PENUTUP
Simpulan
Menurut perspektif Islam, alam adalah “kitab terbuka” yang berisi tanda-tanda (ayat) yang pada hakikatnya adalah “wahyu” Tuhan dalam bentuk lain yang diciptakan dalam bentuk yang sangat beragam. Alam tunduk kepada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah (sunnatullah) dan juga ditundukkan untuk kepentingan manusia yang diberi amanah untuk mengelolanya. Pandangan ini berimplikasi bahwa pendidikan Islam harus melahirkan output yang memiliki profesionalisme dalam mengelola alam dan memiliki kcerdasan dalam membaca fenomena alam (sunnatullah) sebagai ayat Allah yang terbentang luas tak terhingga di mana diri manusia juga menjadi bagiannya.
Dalam perspektif Islam, walaupun kehidupan duniawi bersifat sementara namun kehidupan ini memiliki makna dan tujuan positif. Kehidupan adalah ujian untuk menjadi yang terbaik, yaitu menjadi manusia yang paling baik mutu amalnya dalam berbagai bidang kehidupan dengan menggunakan dunia sebagai instrumennya. Selain itu, visi kehidupan tidak hanya terhenti pada kebahagiaan dunia, tetapi visi kehidupan merambah jauh ke depan yaitu meraih kebahagiaan yang sejati di akhirat tanpa mengabaikan kebahagiaan dunia walaupun nilainya jauh lebih kecil dibanding kebahagiaan akhirat. Agar tidak gagal dalam meraih visi kehidupan sejati itu, manusia harus waspada terhadap jerat-jerat kehidupan dunia berupa la’ib, lahw, zinah, tafakhur dan takatsur yang dapat melalaikan manusia dari tujuan hidup sebenarnya. Implikasinya bagi pendidikan Islam adalah bahwa pendidikan Islam harus dapat menanamkan sikap positif terhadap makna dan tujuan hidup, menanamkan visi kehidupan yang jauh ke depan, menanamkan sikap waspada terhadap jerat-jerat kehidupan dunia dan menanamkan sikap dan semangat berkompetisi secara positif untuk menjadi manusia yang terbaik dalam semua aspek kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000
An-Nahlawi, Abd ar-Rahman, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Asalîbuha fî al-Bayt, wa al-Madrasah wa al-Mujtama`, Beirut: Dar al-Fikr, 1979
Madjid, Nurcholish, Islam: Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1995
Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Omar, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta:  Bulan Bintang, 1979
Nizar, Al-Rasyidin dan Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005
Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syekh Muhammad Nuqaib Al-Attas, Diterjemahkan dari The Educational philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas oleh Hamid Fahmi et. al., Bandung: Mizan, 2003



[1]Abd urrahman an -Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Asalibuhâafi al-Bayt, wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), h. 37.
[2]Ibid, h. 37-38
[3]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Diterjemahkan dari The Educational philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas oleh Hamid Fahmi et. al., (Bandung: Mizan, 2003), h. 105
[4]Ibid, h. 108-109
[5]An-Nahlawi, Op. Cit., h. 38-39
[6]Ibid, h. 39-40
[7]Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2000), h. 3
[8]Op. cit, h. 42-43
[9]Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979, h. 75

[10]Op. cit, h. 43
[11]Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), h. 18-19
[12]Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 19-22
[13]Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 19-22
[14]Ibid, h. 26-29
[15]An-Nahlawi, Op. Cit, h. 47-49
[16]Ibid, h. 49

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
4 Mei 2017 pukul 23.23 delete

makasih banyak yang bikin ini posting bermanfaat banget

Reply
avatar