Model - Arif Rakhman Hakim



1.     Jawaban Soal Nomor 1
Pada hakikatnya pembelajaran PAI itu menghendaki terjadinya perkembangan dan kemajuan manusia pada umumnya, yang mampu menjadikan para peserta didik menjadi warga yang cerdas, jujur, kompeten, berakhlak mulia dan memiliki iman dan takwa.
Dengan dukungan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengatasi masalah kualitas manusia Indonesia yang belum tercapai sepenuhnya sesuai dengan tujuan nasional. Sehingga dituntut dalam pengembangan model pembelajaran PAI yang sesuai dapat memberikan visi, cara, dan inovasi yang tepat. Akan tetapi model pembelajaran PAI ini mungkin hanya bisa di terapkan untuk peserta didik yang muslim saja, dan tidak bisa untuk peserta didik yang non muslim.

2.     Jawaban Soal Nomor 2
Joyce dan Weil (1980,1992) dalam bukunya Models of Teaching menggolongkan model-model pembelajaran ke dalam empat rumpun. Keempat rumpun model pembelajaran tersebut adalah:
a.       Rumpun model pembelajaran Pemrosesan Informasi
Ø Model Berpikir Induktif (Hilda Taba): dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik/pembentukan teori.
Ø Model Latihan Inkuiri (Richard Suchman): pemecahan masalah social, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
b.      Rumpun model pembelajaran Personal
Ø Penentuan Kelompok (Herbert Telen & John Dewey): perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses social demokratis melalui penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan antar pribadi (kelompok) dan keterampilan-keterampilan penentuan akademik.
Ø Inkuiri sosial (Byron Massialas & Benjamin Cox): pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
c.       Rumpun model pembelajaran Sosial
Ø Pengajaran Non-Direktif (Carl Rogers): penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
Ø Latihan Kesadaran (Firtz Perls Willian Schultz): meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri.
d.      Rumpun model pembelajaran Perilaku.
Ø Manajemen kontingensi (B.F. Skinner): fakta-fakta, konsep, keterampilan
Ø Kontrol Diri (B.F. Skinner): perilaku/keterampilan sosial.[1]

3.     Jawaban Soal Nomor 3
Maksudnya secara filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir yaitu dapat mengetahui, memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi. Selain itu, manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan, mengolah berbagai informasi dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu mampu melahirkan gagasan dan pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan dan pemikirannya itu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[2] Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan mode pembelajaran yang baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran, bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin maju.
Secara psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini memungkinkan manusia untuk didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya potensi psikologis ini, mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia seutuhnya. Yaitu, manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina, melainkan juga afektif dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang dimilikinya. Contohnya: harus ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah kejuruan dan sebagainya. Dari keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan yang holistik. Serta pemilihan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi jiwa si anak didik.
Secara sosiologis, masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah perlakuan dan pelayanan dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang makin adil, demokratis, transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu, secara sosiologis manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berimplikasi terhadap pengembangan teori belajar dan mode pembelajaran. Contohnya: dalam proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan dari kalangan mampu saja, melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan kurang mampu pun juga bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama[3].

4.     Jawaban Soal Nomor 4
Menurut Mawardi model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI di Madrasah adalah Model Pembelajaran Nilai.[4] Model pembelajaran nilai didasarkan pada pengembangan afektif dan nilai-nilai komprehensif. Afektif atau sikap merupakan refleksi dari nilai (value) yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebagainya.[5] Model pembelajaran berbasis nilai dianggaptepat karena merupakan suatu model penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan dapat berperilaku sesuai dengan pandangan agama islam.

5.     Jawaban Soal Nomor 5
Adapun Perbedaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri:     
a.       Model kooperatif adalah pembelajaran yang lebih menekankan kerjasama di antara peserta didik di kelas.
b.      Model integrated adalah system pembelajaran yang berpusat pada anak, proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi yang tidak terlihat jelas.
c.       Model berbasis masalah adalah pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat pada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri .
d.      Model Inquiry adalah satu model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mampu menemukan pengetahuan atau konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran tertentu secara mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari.
Adapun Persamaaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri. Adalah sama-sama berpusat pada siswa (student-centered approaches).



6.     Jawaban Soal Nomor 6
Model desain pembelajaran yang tepat  untuk mata pelajaran PAI adalah Model Briggs. Karena model ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional. Model pengembangan intruksional briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara tujuan yang akan di capai, strategi untuk mencapainya dan evaluasi keberhasilannya. Secara keseluruhan model pengembangan itruksional dari Briggs, terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Identifikasi kebutuhan/ penentuan tujuan.
b.      Penyusunan garis besar kurikulum/ rincian tujuan kebutuhan intruksional yang telah di tuangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus di rinci, disusun dan di organisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
c.       Perumusan tujuan
d.      Penyimpanan evaluasi hasil belajar
e.        Menentukan jenjang belajar
f.        Menentukan kegiatan belajar
g.      Pemantauan bersama
h.      Evaluasi formatif
i.       Evaluasi sumatif

7.     Jawaban Soal Nomor 7
Adapun kriteria penetapan isi pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.       Isi pembelajaran harus valid (sahih) dan signifikan (terpercaya)
b.      Isi pembelajaran harus berpegang kepada kenyataan-kenyataan social
c.        Kedalaman dan keluasan isi pembelajaran harus seimbang
d.      Isi pembelajaran menjangkau tujuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap
e.       Isi pembelajaran harus dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa
f.        Isi pembelajaran harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat siswa
Adapun Prinsip pemilihan model pembelajaran PAI yang harus dikembangkan di antaranya:
a.       Harus mampu mengembangkan aqidah sebagai landasan keberagamaan siswa dalam meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia.
b.      Harus mengembangkan konsep keterpaduan antara ketercapaian kemampuan yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik. PAI bukan hanya bersifat hafalan, melainkan juga praktik dan amalan.
c.       Harus mampu mengajarkan agama sebagai landasan dasar dan inspirasi siswa untuk mengembangkan bidang keilmuan dari semua matapelajaran dan bahkan kajian yang diajarkan sekolah.
d.      Harus dapat menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari siswa.

8.     Jawaban Soal Nomor 8
Desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan  sekolah adalah sebuah desain yang mempunyai sistem pembelajaran yang memiliki tujuan untuk menyelaraskan komponen pembelajaran yang terdapat di dalamnya seperti tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran agama Islam, strategi yang digunakan oleh tenaga pendidik dalam memberikan materi pembelajaran pendidikan agama Islam serta upaya melakukan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran PAI yang telah dilaksanakan.

9.     Jawaban Soal Nomor 9
a.       Pembelajaran Aqidah biasanya model desain pembelajaran yang dipakai adalah CTL, contohnya materi pelajaran berupa Iman kepada kitab-kitab Allah, yang mana para peserta didik diajak berdiskusi tentang Al-Qur’an dan dimotivasi agar bisa membaca, memebaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an sedikit demi sedikit. Inquiri contoh materi iman kepada hari kiamat, yang mana para siswa di didik agar mampu menemukan konsep-konsep yang ada secara mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari seperti terjadinya kiamat kecil.
b.      Pembelajaran akhlak biasanya model desain pemodelan, yang mana guru bisa menunjukan beberapa model dar tokoh-tokoh berkarakter yang berhasil dalam hidupnya, seperti meneladani sifat Nabi Muhammad SAW.
c.       Pembelajaran fiqih ketika membahas tentang taharah, maka menggunakan model desain pembelajaran CTL, yang mengajarkan tentang praktek wudhu dan mandi. Selanjutnya para murid diajak untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih. Serta menjelaskan manfaat dan hikmah menjaga kebersihan dan kesehatan.
d.      Pembelajaran sejarah biasanya yang sering digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif. Sebagai contoh untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW. Peserta didik melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang telah ditentukan, sehingga dalam waktu singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Sehingga mengajarkan kepada murid tentang karakter-karakter mulia yang ada pada diri Rasul seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian, dan ketangguhan.
e.       Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits menggunakan pembelajaran model PAKEM. Sebagai contoh ketika membelajarkan Al-Qur’an, peserta didik dikondisikan untuk belajar langsung melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibantu dengan media yang mendukung seperti media computer, LCD, Caption, dll. Yang utamanya pembelajaran tersebut harus menyenangkan peserta didik dan harus efektif
Pada dasarnya dari materi PAI yang mencakup aspek kajian Aqidah Akhlak, Fiqih, Qur’an Hadits, dan Sejarah Islam. Itu bisa menyesuaikan dengan desain model pembelajaran yang ada dan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.


Daftar Pustaka
Amelie Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, London and New York: Routledge, 1988.
Imam Mawardi, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, Bandung: Disertasi UPI, 2012.
Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011.
Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 201.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., Jakarta: Kencana, 2009.



[1] Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), h. 138-144, cet. 4.
[2]Amelie Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, (London and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[3] Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.
[4]Imam Mawardi, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, (Bandung: Disertasi UPI, 2012).
[5]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., (Jakarta: Kencana, 2009), h. 274, cet. 6.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »