Model - Juriana Elida Septiawati



Final Test Model Pembelajaran

Nama
:
Juriana Elida Septiawati
NIM
:
1502521492
Dosen Pengampu
:
Dr. Hj. Salamah, M. Pd

1.     
T
:
Penjelasan dari pernyataan:


J
:
Berangkat dari pendidikan Islam, yang dimaksud dengan PAI di sekolah dapat dipahami sebagai suatu program pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Islam melalui proses pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran dan diberi nama PAI. Dalam kurikulum nasional, mata pelajaran PAI merupakan mata pelajaran wajib di sekolah umum sejak TK sampai PT. kurikulum PAI dirancang secara khusus sesuai dengan situasi, kondisi, dan perjenjangan pendidikan siswa dan mahasiswa.
Misi utama PAI adalah membina kepribadian siswa dan mahasiswa secara utuh dengan harapan kelak mereka akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia. Profil di atas merupakan tolak ukur sosok manusia Indonesia yang utuh dan diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dalam perkembangan global.
Melihat keberadaannya di sekolah, secara institusional pelaksanaan PAI terikat oleh system persekolahan yang cenderung menganut system pendidikan sekuler. Di satu sisi PAI merupakan sub system dari system pendidikan nasional, namun di sisi lain PAI sebagai sub system dari system pendidikan Islam yang dituntut mengembangkan system materi dan pengelolaan tersendiri sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam. Oleh karena itu, persoalan yang dihadapi PAI di sekolah sangat berbeda dengan persoalan pendidikan Islam secara keseluruhan.
Dalam system pendidikan persekolahan terdapat dua istilah, yaitu pendidikan dan pengajaran. Terhadap kedua istilah di atas para praktisi pendidikan lebih cenderung ke arah pengajaran bukan pendidikan. Berkaitan dengan makna visi dan misi mata pelajaran PAI di sekolah, untuk membentuk kepribadian murid sebagai pribadi yang utuh diperlukan pendidikan agama bukan pengajaran agama. Namun, yang terjadi di lapangan pada umumnya, baik di tingkat SD, SLTP, dan SLTA maupun PT adalah pengajaran agama bukan pendidikan agama. Mungkin hal seperti ini merupakan salah satu penyebab kemerosotan akhlak, khususnya di kalangan para siswa dan mahasiswa serta generasi muda secara keseluruhan.
Pendidikan bukan sekedar transfer informasi tentang ilmu pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan suatu proses pembentukan karakter. Ada tiga misi utama pendidikan, yaitu pewarisan pengetahuan (transfer of knowledge), pewarisan budaya (transfer of culture) dan pewarisan nilai (transfer of value). Sebab itu, pendidikan bias dipahami sebagai suatu proses transformasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Sedangkan pengajaran lebih berorientasi pada pengalihan pengetahuan dan keterampilan untuk memperoleh keahlian khusus “tukang” atau spesialisasi yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit tetapi sangat mendalam.
Model pembelajaran dalam perkembangannya berkembang menjadi banyak. Terdapat model pembelajaran yang kurang baik dipakai dan diterapkan, namun ada model pembelajaran yang baik untuk diterapkan. Ciri-ciri model pembelajaran yang baik adalah sbb:
1.      Adanya keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.
2.      Adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan model pembelajaran.
3.      Guru bertindak sebagai fasilitator, coordinator, mediator dan motivator kegiatan belajar peserta didik.
4.      Penggunaan berbagai metode, alat dan media pembelajaran.  
2.
T
:
Rumpun model pembelajaran menurut para ahli:

J
:
Model:
1.      Model interaksi social: model ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field theory). Model Interaksi social menitikberatkan hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). Teori pembelajaran Gestalt dirintis oleh Max Wertheimer (1912) bersama dengan Kurt Koffka dan W. Kohler. Mereka mengadakan eksperimen mengenai pengamatan visual dengan fenomena fisik. Percobaannya yang dilakukan memproyeksikan titik-titik cahaya (keseluruhan lebih penting dari pada bagian).
2.      Model pemrosesan informasi: teori ini dipelopori oleh Robert Gagne. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran.
3.      Model personal: model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri.
4.      Model perilaku: model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan system yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan.
3.
T
:
Pengembangan teori belajar:

J
:
Manusia merupakan makhluk yang bergelut secara intens dengan pendidikan. Itulah sebabnya manusia dijuluki sebagai animal educandum dan animal educandus secara sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang dididik dan makhluk yang mendidik. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang senantiasa terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri.
Pendidikan sebagai upaya manusia merupakan aspek dan hasil budaya terbaik yang mampu disediakan setiap generasi manusia untuk kepentingan generasi muda agar melanjutkan kehidupan dan cara hidup mereka dalam komteks sosio-budaya.
4.
T
:
Model yang tepat dalam pengembangan pembelajaran PAI:

J
:
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam perencanaan pembelajaran bagi para pendidik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Ada beberapa metode pendidikan dalam PAI  yang bias dikembangkan yaitu: metode Qur’ani, amtsal, ibrah, targib-tarhib, tajribi, uswatun hasanah, dan hiwar.
5.
T
:
Perbedaan dan persamaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri:

J
:
Perbedaan:
1.      Kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Model ini mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pola pikir pembelajaran kooperatif dalam pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh (saling mencerdaskan).
2.      Integrated merupakan pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam semua bidang pengembangan, meliputi aspek kognitif, social-emosional, bahasa, moral, dan nilai-nilai agama, fisik motorik, dan seni. Semua bidang pengembangan tersebut dijabarkan ke dalam kegiatan pembelajaran yang dipusatkan pada satu tema sehingga pembelajaran menjadi terpadu.
3.      Berbasis masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (otentik) yang tidak terstruktur dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru.
4.      Inquiri bertujuan untuk memberikan cara bagi peserta didik untuk membangun kecakapan intelektual yang terkait dengan proses berpikir reflektif.

Persamaan:
Semuanya sama-sama berpusat pada siswa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa berdasarkan pengalaman.
6.
T
:
Model desain pembelajaran yang tepat untuk PAI di sekolah:

J
:
Dunia Islam sebenarnya memiliki sejumlah metode pendidikan yang sudah teruji keampuhannya. Guru-guru kita tampaknya jangankan menerapkan teori-teori yang dimaksud, malah mengetahuinya saja jangan-jangan belum. Seperti kita ketahui, guru-guru di sekolah masih sangat dominan menggunakan metode kuliah (ceramah). Tentu saja kita tidak bermaksud menyalahkan metode konvensional ini. Hanya saja, metode-metode pendidikan unggulan, dalam hal ini metode-metode Qur’ani, kiranya perlu diketahui dan digunakan.
Untuk menjadikan guru sebagai suri tauladan memang bukan hal sangat mudah, karena akan menyangkut system yang lebih luas mulai dari seleksi mahasiswa keguruan, pendidikan keguruan, seleksi guru, hingga pendidikan yang bersifat in-service bagi para guru. Tapi ada teori pendidikan lain yang justru dapat dilakukan oleh semua guru, yaitu bahwa pendidikan itu perlu dilakukan dengan menggunakan metode-metode pendidikan yang tepat dan metode pendidikan Qur’ani merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk pembelajaran agama Islam di sekolah umum.
7.
T
:
Criteria penetapan isi pembelajaran dan prinsip dalam pemilihan model pembelajaran PAI:

J
:
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam perencanaan pembelajaran bagi para pendidik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Model-model pembelajaran memiliki beberapa atribut yang tidak dimiliki berbagai strategi dan metode spesifik. Atribut-atribut sebuah model adalah adanya basis teoritis yang koheren atau sebuah sudut pandang tentang apa yang seharusnya dipelajari dan bagaimana mereka belajar. Penggunaan model pembelajaran haruslah sesuai dengan mata pelajaran supaya dapat menciptakan lingkungan belajar yang menjadikan peserta didik belajar. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran tertentu.
Nieveen, sebagaimana dikutip Trianto, mengemukakan bahwa model pembelajaran dikatakan baik apabila memenuhi criteria:
1.      Sahih (valid), yaitu apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoritis yang kuat dan apakah terdapat konsistensi internal.
2.      Praktis, hal ini diuji oleh para ahli dan praktisi yang menyatakan bahwa model yang dikembangkan dapat diterapkan.
3.      Efektif, yaitu para ahli pengembang model berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa model tersebut efektif.
8.
T
:
Pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah umum:

J
:
Sejak kedatangannya di Indonesia, Islam telah menggunakan dakwah dan pendidikan sebagai sarana untuk mensosialisasikannya ke tengah-tengah masyarakat. Dalam proses sosialisasi Islam melalui pendidikan tersebut, selain dilakukan oleh masyarakat sendiri, juga dilakukan oleh pemerintah, atau sekurang-kurangnya mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pada pendidikan yang mendapatkan bantuan dari pemerintah ini pada akhirnya terjadi proses saling mempengaruhi.
Pandangan yang sama dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak, dalam Trianto, bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk melakukan pembelajaran.

Model dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya walaupun model itu sendiri bukanlah realitas dari dunia yang sebenarnya.
9.
T
:
Masing-masing materi PAI memiliki karakteristik tujuan yang berbeda:

J
:
Model dapat dipahami juga sebagai:
1.      Suatu tipe atau desain.
2.      Suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati.
3.      Suatu system asumsi-asumsi, data-data dan inferensi-inferensi yang digunakan menggambarkan secara sistematis suatu objek atau peristiwa.
4.      Suatu desain yang disederhanakan dari suatu system kerja, suatu terjemahan realitas yang disederhanakan.
5.      Suatu deskripsi dari suatu system yang mungkin atau imajiner.
6.      Penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya.









DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. 2010. Manajemen Pendidikan (Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia). Jakarta: Kencana.

Muhammad Fathurrohman. 2015. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jogjakarta: ar-Ruzz Media.

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sukardjo dan Ukim Komarudin. 2009. Landasan Pendidikan (Konsep dan Aplikasinya). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syahidin. 2009. Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an. Bandung: Alfabeta.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »