Model - Rahmi Hidayat






PERNYATAAN
Pembelajaran PAI adalah jantungnya pendidikan di indonesia dan amat penting dalam mengembangkan kualitas manusia mendatang. Melalui pembelajaran PAI anak didik memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya dan menjadi warga negara yang beriman,
bertakwa,  berakhlak mulia, produktif, serta kreatif. Sayangnya pembelajaran PAI masa kini masih belum mampu mengembangkan kualitas manusia Indonesia yang diharapkan berdasarkan tujuan pendidikan nasional. Banyak faktor penghambat yang diidentifikasi para ahli, seperti kompetensi guru, karakteristik kurikulum, sarana dan fasilitas, serta kebijakan lainnya yang tidak mendukung. Kajian model pembelajaran PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses proses pembelajaran PAI, berdasarkan pandangan teoritis yang terdapat dalam banyak literature model dan desain pembelajaran pendidikan Islam. Inilah salah satu manfaat dari kajian model pembelajaran PAI.

1.      Yang dimaksud dalam pernyataan di atas adalah :
Karena sangat pentingnya pembelajaran PAI untuk membentuk insan yang kamil sehingga dikatakan pembelajaran PAI adalah jantungnya pendidikan. Karena jantung itu merupakan organ yang sangat berperan penting didalam tubuh. Jika dikaitkan dengan pendidikan, pembelajaran PAI itu lah ujung tombak daripada pembelajaran lainnya untuk membangun anak didik yang mampu membangun peradaban , tidak hanya berkualitas tapi juga bertaqwa.  
Namun dewasa ini, pembelajaran PAI belum mampu mengambil peran besar dalam dunia pendidikan karena banyak faktor yang teridentifikasi telah menghambat prosesnya. Namun para ahli terus berusaha bagaimana caranya meminimalisir faktor – faktor yang menghambat tersebut melalui model – model pembelajaran PAI, misalnya tentang cara, inovasi dalam mengajar, mengembangkan proses pembelaaran dan hal – hal yang di anggap perlu dalam mengembangkan atau mewujudkan pembelajaran PAI itu mengambil peran yang sesungguhnya. 

2.      Rumpun pembelajaran menurut para ahli, misalnya seperti
Rumpun Model Pembelajaran Joyce dan Weil (1980,1992) kita bisa temukan referensi dalam bukunya "Models of Teaching"
dalam buku tersebut menggolongkan model-model pembelajaran ke dalam empat rumpun.

Keempat rumpun model pembelajaran tersebut adalah:
(1) rumpun model pembelajaran Pemrosesan Informasi,
(2) rumpun model pembelajaran Personal,
(3) rumpun model pembelajaran Sosial, dan
(4) rumpun model pembelajaran Perilaku.

Akan kita uraikan lagi satu persatu :
1)      Rumpun model-model Pemrosesan Informasi

          Model-model pembelajaran dalam rumpun Pemrosesan Informasi bertitik tolak dari Prinsip prinsip pengolahan informasi, yaitu yang merujuk pada cara-cara bagaimana manusia menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, mengenali masalah, menyusun konsep, memecahkan masalah, dan menggunakan simbol-simbol. Beberapa model pembelajaran dalam rumpun ini berhubungan dengan kemampuan pebelajar (peserta didik) untuk memecahkan masalah, dengan demikian peserta didik dalam belajar menekankan pada berpikir produktif. Sedangkan beberapa model pembelajaran lainnya berhubungan dengan kemampuan intelektual secara umum, dan sebagian lagi menekankan pada konsep dan informasi yang berasal dari disiplin ilmu secara akademis.

2)      Rumpun model- model Pribadi/individual
          Model-model pembelajaran yang termasuk rumpun model-model Personal/individual menekankan pada pengembangan pribadi. Model-model pembelajaran ini menekankan pada proses dalam “membangun/mengkonstruksi” dan mengorganisasi realita, yang memandang manusia sebagai pembuat makna. Model-model pembelajaran rumpun ini memberikan banyak perhatian pada kehidupan emosional. Fokus pembelajaran ditekankan untuk membantu individu dalam mengembangkan hubungan individu dengan lingkungannya dan untuk melihat dirinya sendiri.


3)      Rumpun model-model Interaksi Sosial

          Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun Sosial ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model ini memfokuskan pada proses di mana realitas adalah negosiasi sosial. Model-model pembelajaran dalam kelompok ini memberikan prioritas pada peningkatan kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain untuk meningkatkan proses demokratis dan untuk belajar dalam masyarakat secara produktif. Tokoh-tokoh teori sosial juga peduli dengan pengembangan pikiran (mind) diri sebagai pribadi dan materi keakademisan.

4)      Rumpun Model-model Modifikasi Perilaku

Semua model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku, teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki.

3.      Karena tiga landasan tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam teori pendidikan.
Misalnya landasan filosifis pendidikan,
Impikasinya terhadap Pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Sebab itu, sekolah hendaknya menekankan aktifitas-aktifitas intelektual, pertimbangan-pertimbangan moral, pertimbangan-pertimbangan estetis, realisasi diri, kebebasan, tanggungjawab, dan pengendalian diri demi mencapai perkembangan pikiran dan diri pribadi (Callahan and Clark, 1983). Dengan kata lain pendidikan bertujuan untuk membantu pengembangan karakter serta mengembangkan bakat manusia dan kebajikan social” (Edward J.Power, 1982).

Kemudian Landasan Psikologis Pendidikan
Keberhasilan pendidik dalam berbagai peranannya antara lain akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik, serta kemampuan mengaplikasikannya dalam praktek pendidikan. Pernyataan ini mengacu kepada asumsi bahwa :
1) Peranan pendidik adalah membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya.
2) Tahap perkembangan peserta didik mengimplikasikan kemampuan dan kesiapan belajarnya.
3) Keberhasilan peserta didik menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada tahapnya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugas-tugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya.
4) Pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negative bagi perkembangan peserta didik selanjutnya.


Dan yang terakhir yaitu Landasan Sosiologis
Dasar sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
1.  Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2.  Hubungan kemanusiaan.
3.  Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4.  Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara
sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

4.      Menurut saya model pembelajaran scientifik (scientific approach), karena model ini diharapkan peserta didik menjadi lebih kreatif dan inovatif.
Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam model ini peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur: 1998), dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep dan nilai – nilai baru yang diperlukan ( dalam bukunya  Zamroni, 2000; & Semiawan, 1998).

5.      Perbedaan pembelajaran koopertaif, Integrated, berbasih masalah dan inquiri :
Untuk Pembelajaran kooperatif pembelajarannya dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. 
Sedangkan Pembelajaran Integratif atau terpadu pengajarannya dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :

1. Integratif Internal yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.
2. Integratif Eksternal yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.

Untuk Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) fokusnya adalah pada kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

            Kemudian untuk pembelajaran Inquiri siswa   berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.

6.      Model desain yang cocok diterapkan disekolah menurut saya adalah model Assure. Karena Model ASSURE merupakan langkah merancanakan pelaksanaan pembelajaran di ruang kelas secara sistematis dengan memadukan penggunaan terknologi dan media. Model ASSURE menggunakan tahap demi tahap untuk membuat perancangan pembelajaran.
7.      Beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan dalam menetapkan pembelajaran, yaitu :
a)      Karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk mengembangkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika.
b)      Karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya.
c)      Karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak
Semua kriteria ini memberikan implikasi bagi guru untuk memilih model pembelajaran yang paling tepat digunakan pada anak usia dini.

8.      Model Classroom Meeting.
Karena Karakteristik PAI salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kepribadian yang hangat, tegas dan santun. Model pertemuan tatap muka adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman diri sendiri, dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Strategi mengajar model ini mendorong siswa belajar secara aktif. Kelemahan model ini terletak pada kedalaman dan keluasan pembahasan materi, karena lebih berorientasi pada proses, sedangkan PAI di samping menekankan pada proses tetapi juga menekankan pada penguasan materi, sehingga materi perlu dikaji secara mendalam agar dapat dipahami dan dihayati serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
9.       

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »