Model - Abdurrahman



JAWABAN FINAL TEST (TAKE HOME)
NAMA                        : ABDURRAHMAN
NIM                            : 1502521585
MATA KULIAH        : MODEL PEMBELAJARAN PAI
PRODI                        : S2 PAI PASCASARJANA IAIN ANTASARI
DOSEN PENGASUH :Dr. Hj. SALAMAH, M.Pd


PERTANYAAN
1)        Pernyataan di atas adalah bahwa betapa pentingnya sebua kajian model pembelajaran PAI itu, yaitu memberikan visi, cara dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran juga berfungsi sebagai :
a.       Pedoman, model pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman yang dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh guru. Dengan demikian, maka pembelajaran menjadi suatu yang ilmiah, terencana dan merupakan kegitan-kegitan yang mempunyai tujuan sesuai dengan pendidikan nasional.
b.      Pengembangan kurikulum, model pembelajaran dapat membantu dalam mengembangkan kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan
c.       Menetapkan bahan-bahan pengajaran, model pembelajaran menetapkan secra rinci bentuk-bentuk bahan pengajar yang berbeda yang akan digunakan oleh guru dalam membantu prubahan yang baik dari kepribadian peserta didik.
d.      Membantu perbaikan dalam pembelajaran PAI, model pembelajaran dapat membantu proses belajar-mengajar dan meningkatkan kefektifan pembelajaran.[1]
2)      Kemukakan dan jelaskan secara komprehensif rumpun model pembelajaran menurut para ahli!
a.       Rumpun Model Interaksi Sosial
No
Model
Tokoh
Tujuan
1
Penentuan kelompok
Herbart Talen & John Dewey
Perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses sosial demokrasi melalui penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan antara pribadi (kelompok) dan keterampilan-keterampilan penentuan akademik. Aspek perkembangan pribadi merupakan hal yang penting dalam model ini.
2
Inkuiri Sosial
Byron Massialas & Benjamin cox
Pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis
3
Metode Laboratori
Bethel Maine (National Teaching Library)
Perkembangan keterampilan antarpribadi dan kelompok melalui kesadaran dan keluwesan pribadi.
4
Jurisprudensial
Donald Oliver & James P. Shaver
Dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan yurisprudensial sebagai cara berpikir dan penyelesaian isu-isu soal.
5
Bermain Peran
Fainnie Shatel & George Fhatel
Dirancang untuk mempengaruhi siswa agar menemukan nilai - nilainya diharapkan anak menjadi sumber bagi penemuan berikutnya.
6
Simulasi Sosial
Sarene Bookock & Harold Guetzkov
Diarancang membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial, dan untuk menguji reaksi mereka serta untuk memproleh konsep keterampilan pembuatan keputusan.

b.      Rumpun Model Pemrosesan Informasi
No
Model
Tokoh
Tujuan
1
Model Berpikir Induktif
Hilda Taba
Dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik/pembentukan teori
2
Metode Latihan Inkuiri
Richard Suchman
Pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
3
Inkuiri Ilmiah
Joseph. J. Schwab
Dirancang untuk mengajar system penelitian dari suatu disiplin, tetapi juga diharapkan untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain (metode_metode sosial mungkin diajarkan dalam upaya meningkatkan pemahaman sosial dan pemecahan masalah.
4
Penemuan konsep
Jerome Bruner
Dirancang terutama untuk mengembangkan penalaran induktif, juga untuk perkembangan dan analisis konsep.
5
Bermain Peran
Jean Piaget Irving Sigel Edmund Sulllvan Lawrence Kohlberg
Dirancang untuk memengaruhi siswa agar menemukan nilai-nilai pribadi dan sosial. Prilaku dan nilai-nilainya di harapkan anak menjadi sumber bagi penemuan berikutnya.
6
Model Penata Lanjutan
David Ausubel
Diarancang untuk meningkatkan efiseinsi kemampuan pemrosesan informasi untuk menyerap dan mengaitkan bidang-bidang pengetahuan.
7
Memori
Harry Lorayne Jerry Lucas
Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengingat.

c.       Model Personal (Personal Models)
Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu.
No
Model
Tokoh
Tujuan
1
Pengajaran non-Direktif
Carl Rogers
Penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
2
Latihan kesadaran
Fritz Perls Wilian Schultz
Meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri dan kesadaran diri. Banyak menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemehaman antarpribadi.
3
Sinektik
Wiliam Gordon
Perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecajan masalah kreatif.
4
System-sitem konseptual
David Hunt
Dirancang untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
5
Pertemuan Kelas
Wiliam Glasser
Perkembangan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kelompok sosial.

d.      Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristic, yaitu bertujuan mengembangkan system yang efesien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement).
No
Model
Tokoh
Tujuan
1
Manajemen kontingensi
B.F. Skinner
Fakta-fakta, konsep, keterampilan
2
Control Diri
B.F. Skinner
Prilaku/keterampilan sosial
3
Relaksasi (santai)
Rimm & Masters Wolpe
.Tujuan-Tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan)
4
Pengurangan ketegangan
Rimm & Masters Wolpe
Mengalihkan kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.
5
Latihan Asertif Desensitasi
Wolpe,Lazarus, Salter
Ekspresi perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi sosial.
6
Latihan Langsung
Gagne, Smith & Smith
Pola-pola prilaku, keterampilan[2]

3)      Landasan filosofis, psikologis dan sosiologis yang memikliki implikasi terhadap pengembangan teori pendidikan, belajar dan model pembelajaran:
a.      Maksudnya secara filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir yaitu dapat mengetahui, memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi. Selain itu, manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan, mengolah berbagai informasi dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu mampu melahirkan gagasan dan pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan dan pemikirannya itu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[3] Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan model pembelajaran yang baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran, bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin maju.
b.      Secara psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini memungkinkan manusia untuk didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya potensi psikologis ini, mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia seutuhnya. Yaitu, manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina, melainkan juga afektif dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang dimilikinya. Contohnya: harus ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah kejuruan dan sebagainya. Dari keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan yang holistik. Serta pemilihan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi jiwa si anak didik.
c.       Secara sosiologis, masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah perlakuan dan pelayanan dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang makin adil, demokratis, transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu, secara sosiologis manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berimplikasi terhadap pengembangan teori belajar dan mode pembelajaran. Contohnya: dalam proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan dari kalangan mampu saja, melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan kurang mampu pun juga bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama.[4]

4)        Menurut saya dari beberapa model yang selama ini dikaji, yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia adalah Model Pembelajaran Contextual teaching and learning (CTL) dimana pada pembelajaran itu membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga Negara dan tenaga kerja.
Contextual Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru menghubungkan kegiatan dan bahan ajar mata pelajarannya dengan situasi nyata dan memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggota keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat di mana dia hidup.
Pentingnya pendekatan pembelajaran CTL bagi mapel PAI didasarkan atas beberapa hal:
1.      PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itu PAI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.
  1. Dari segi muatan pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang memiliki tujuan pembentukan moral kepribadian peserta didik yang baik. Oleh sebab itu semua mata pelajaran yang memiliki tujuan relevan dengan PAI harus seiring dan sejalan dalam pendekatan pembelajarannya.
  2. Tujuan diberikannya mata pelajaran PAI adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam terutama sumber-sumber ajaran dan sendi-sendi lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.
  3. Mata pelajaran PAI tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik agar menguasai ilmu keislaman tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian.
5)        Perbedaan dan persamaan model koopertaif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri…
a.       Perbadaan Model pembelajaran kooperatif
o   Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
o   Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok di beri umpan balik tentang hasil belajar para angggotanya sehinggga dapat saling mengetahui  siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
o   Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.
o   Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para angggota kelompok.[5]
b.      Perbadaan Model pembelajaran integrated
o   Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi/pokok bahasan sekaligus untuk memahami fenomena dari segala sisi.
o   Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupannya.
o   Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang tidak secara langsung dapat memotivasi siswa untuk belajar.
c.       Perbadaan Model pembelajaran berbasis masalah
o   Belajar dimulai dengan satu masalah Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa.
o   Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
o   Menggunakan kelompok kecil, Menuntut siswa untuk mendemontrasikan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.[6]
d.      Perbadaan Model pembelajaran inquiry
o   Menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan , artinya model inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi itu sendiri.
o   Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahakan untuk mencari dan menemukan jawaban dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).  Dengan demikian, sterategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetap sebagai fasilitator dan motivasi dalam belajar siswa
o   Mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logi, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
o   Dengan demikian, dalam model pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pembelajaran, tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
e.       Persamaan dari model pembelajaran kooperati, integrated, berbasis masalah dan inquiry adalah guru sebagai fasilitator dan mengarahkan siswa agar lebih aktif dan siswa yang menjadi inti dari model tersebut.

6)        Menurut Saya Model desain pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah adalah model PPSI karena model ini lebih mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksankan proses belajar mengajar.
Dengan langkah-langkah sebagi berikut :
a.       Merumuskan Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang operasional, bentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku dan hanya ada satu kemampuan/tujuan). Dimana rumusan yang jelas dan operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dapat  dimiliki siswa setelah mengikuti program pembelajaran tersebut.
b.      Pengembangan Alat Evaluasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal untuk setiap tujuan). Jadi gunanya tes disini untuk menilai sejauh mana pemahaman siswa setelah menguasi kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran tersebut.
c.       Menentukan Kegiatan Belajar-Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh). Jadi setelah tujuan dan alat evaluasi selanjutnya adalah menetapkan kegitan belajar mengajar yang dimana merumuskan semua kemungkinan kegitan belajar yang perlu ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi sehingga tercapai tujuan.
d.      Merencanakan Program Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/jadwal). Jadi setelah langkah satu sampai tiga telah ditetapkan, selanjutnya perlu dimantapkan dalam satu program pembelajaran. Yaitu harus ada disusun strategi proses pembelajran dengan cara sistematis sesuai dengan situasi dikelas juga menggunakan pendekatan maupun metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristek materi yang akan disampaikan.
e.       Pelaksanaan, (mengadakan Pretest, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan posttest dan revisi). Dimna dalam pelaksanannya mempunyai 3 langkah lagi yaitu mengadakan tes awal untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa, sebelum mereka mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan apabila menguasai, maka tidak perlu lagi. Langkah kedua yaitu guru sebelum menyampaikan materi pelajaran, hendaknya guru menjelaskan dulu kepada siswa tujuan/kompetensi yang akan dicapai, sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pembelajaran. Langkah ketiga post test diberikan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identic dengan tes awal, jadi bedanya hanya pada waktu dan fungsinya.[7]

7)         Menurut saya, kreteria penetapan isi pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:
A.      Kreteria Penetapan Isi (Materi Pembelajaran)       
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang penting mendapat perhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, misalnya berita pengetahuan, penampilan, sikap dan pengalaman lainnya.   Nana Sujana (2000) menjelaskan ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya : 
a.       Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
b.      Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan
c.       Materi pelajaran disusun dari hal yang sederhana menuju yang komplek
d.       Sifat materi pelajaran, ada yang factual dan ada yang konseptual
Dalam merancang kegiatan belajar, kegiatan harus dirumuskan secara jelas dan rinci. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kegiatan belajar mengajar dapat dicermati sebagai berikut:
a.       Kegitan harus berorientasi pada tujuan. 
b.      Kemampuan yang harus dicapai anak adalah melalui praktik langsung.  
c.       Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan.   
d.      Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada kegiatan yang berpusat pada tema.
e.       Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pendidikan
f.        Kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta didik.
g.      Kegiatan pembelajaran harus menggambarkan kegiatan yang menyenangkan.
h.      Walaupun penetapan kegiatan berorientasi pada siswa, kegiatan harus memungkinkan bagaimana guru dapat membantu siswa belajar.
B.       Prinsip-Prinsip Penentuan Materi
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
a)      Relevansi artinya kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ” Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang sifat-sifat dab bagian dari kubus,balok,prisma dan limas” (materi konsep), bukan menentukan volume dari kubus,balok,prisma dan limas. (materi prosedur).
b)      Konsistensi artinya keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah tentang Tauhid (Keesaan Allah) yang meliputi sifat wajib Allah, mustahil Allah dan lainnya, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi wajib Allah, mustahil Allah dan lainnya.
c)      Adequacy artinya kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
1.      Potensi peserta didik;
2.      Relevansi dengan karakteristik daerah;
3.      Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4.      Kebermanfaatan bagi peserta didik;
5.      Struktur keilmuan;
6.      Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7.      Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8.      Alokasi waktu.[8]

8)        Menurut saya desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan untuk sekolah berdasarkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran serta pandangan islam.
Teori-Teori Pembelajaran Dalam Desain Pembelajaran
Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu memperoleh pelajaran bermanfaat. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual, Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi dalam pembelajaran PAI yaitu teori behaviorisme, humanistik, kognitifisme dan konstruktivisme.
1. Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai ‘kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur sebagai indikator belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai outcome dari pembelajaran online atau tidak.
  2. Pembelajar harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat pencapaian pembelajar dan untuk memberi umpan balik yang tepat.
  3. Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan dapat dimulai dari bentuk yang sederhana ke yang kompleks, dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
  4. Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.
2. Teori Kognitif Piaget
Kognitivisme membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu:
  1. Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan temantemannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu.
  2. Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan.
  3. Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis.
  4. Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan informasi.[9]
3. Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan. Implementasi pada online learning adalah sebagai berikut:
  1. Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga pembelajar tetap aktif melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkanproses tingkat tinggi, yang memfasilitasi penciptaan makna personal.
  2. Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan pembelajar lain dan dengan instruktur, dan karena itu agenda belajar dikontrol oleh pembelajar sendiri.
  3. Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan keterampilan metakognitif mereka.
  4. Pembelajar harus diberi control proses belajar.
  5. Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
  6. Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harus memasukan contoh-contoh yang berhubungan dengan pembelajar sehingga mereka dapat menerima informasi yang diberikan.
  7. Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Pembelajar menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.[10]
4.        Humanistik
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk ,memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapah psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan belajar. Secara singkat pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri,menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Dari beberapa uraian di atas tentang teori-teori belajar dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), penulis mengemukakan bahwa semua teori yang para ahli kemukakan dapat diterapkan sebagai bahan referensi dalam proses pembelajaran. Namun dalam jawaban ini hanya memaparkan empat teori saja, karena semua teori ini cukup luas dan padat untuk dijadikan teori belajar dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Terutama dan paling utama yang penulis gunakan dalam pembelajaran adalah teori humanistik. Teori ini cukup layak digunakan dalam proses pembelajaran, karena Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk ,memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.[11]

9.      Ada beberapa model pembelajaran yang mendukung terhadap pembelajaran dari berbagai materi PAI, seperti Akidah, Akhlak, Fikih, sejarah dan Al-qur’an serta Hadits.
1.      Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) ini juga berhubungan teori konstruktisveme karena pada dasarnya mendorong siswa agar bisa mengkontruksikan (menghubungkan) pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman.[12] Contoh ketika mengajarkan aqidah dengan tema iman kepada kitab-kitab Allah, peserta didik diajak langsung melihat bukti adanya kitab-kitab Allah tersebut, misalnya al-Quran yang merupakan salah satu kitab Allah dan menjadi kitab suci umat Islam. Peserta didik kemudian diajak untuk melihat al-Quran lalu diajak berdiskusi tentang al-Quran dan peserta didik dimotivasi agar bisa membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan al-Quran sedikit demi sedikit. Contoh lain misalnya ketika mengajarkan fikih tentang thaharah (bersuci) peserta didik diajak langsung praktik tentang bagaimana membersihkan kotoran (najis) dan juga praktik wudlu dan mandi untuk menghilangkan hadas. Selanjutnya anak diajak untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih dengan menjelaskan manfaat dan hikmah kebersihan dan kesehatan serta menyebutkan contoh-contoh akibat baik dari berpola sehat dan bersih dan akibat buruk mengabaikan pola sehat dan bersih. Dengan model pembelajaran ini cukup mudah bagi guru memotivasi peserta didik untuk bersikap dan berperilaku yang menunjukkan nilai-nilai karakter sesuai dengan tema atau materi yang dikaji.

2.      Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Sebagai contoh juga, untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw. peserta didik melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang sudah ditentukan, sehingga dalam waktu yang singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif tentang sejarah Nabi Muhammad saw. Melalui model ini guru bisa mengamati bagaimana peserta didik berdiskusi sambil memberikan penilaian proses terutama dalam penerapan nilai-nilai karakter, misalnya kecerdasan, keingintahuan, kesantunan, kedemokratisan, dan lain sebagainya. Peserta didik juga diminta untuk meneladani karakter-karakter mulia yang ada pada diri Nabi Muhammad saw. seperti kejujuran, kecerdasan, kesabaran, kesantunan, kepedulian, dan ketangguhan.
3.      Pembelajaran Model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
Sebagai contoh, ketika membelajarkan al-Quran hadits, peserta didik dikondisikan untuk belajar langsung melafalkan ayat-ayat al-Quran dan hadits dibantu dengan media yang mendukung. Guru terus memantau peserta didik dalam proses pembelajaran agar efektif.[13]













DAFTAR PUSTAKA
     


Hamdayama, Jumanta, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter, Bogor : Ghalia Indonesia, 2014                                               
Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.
Hidayat, Ujang S. 2011. Model-model Pembelajaran berbasis PAIKEM, Sukabumi : Cv Siliwangi & co
Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.
Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014.
Rorty, Amelie Oksenberg, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, London and New York: Routledge, 1988.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivistik, Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2007




[1] Ujang S, Hidayat, Model-model Pembelajaran Berbasis PAIKEM, (SukaBumi : CV. Siliwangi dan co), 2011. hal, 10
[2] Rusman, Model-model pembelajaran:( Mengembangkan Profesionalime Guru). Jakarta: Rajawali Pers, 2014.  Cet ke-5, hal.136-144
[3]Amelie Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, (London and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[4]Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.

[5] Opcit, hal 206-208
[6] Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), hal 1-2
[7]Ibid, hal 147
[9] Trianto, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF BERORIENTASI KONTRUKTIVISTIK, (Jakarta, Prestasi Putaka Publisher, 2007), hal. 13
[10] Ibid, hal 14
[11] Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.
[12] Opcit, Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014),  56
[13]Opcit, Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »