JAWABAN FINAL TEST (TAKE HOME)
NAMA :
ABDURRAHMAN
NIM :
1502521585
MATA KULIAH : MODEL
PEMBELAJARAN PAI
PRODI :
S2 PAI PASCASARJANA IAIN ANTASARI
DOSEN PENGASUH :Dr. Hj. SALAMAH, M.Pd
PERTANYAAN
1)
Pernyataan di
atas adalah bahwa betapa pentingnya sebua
kajian model pembelajaran PAI itu, yaitu memberikan visi, cara dan inovasi
lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran juga berfungsi sebagai :
a. Pedoman, model pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman yang
dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh guru. Dengan demikian, maka
pembelajaran menjadi suatu yang ilmiah, terencana dan merupakan kegitan-kegitan
yang mempunyai tujuan sesuai dengan pendidikan nasional.
b. Pengembangan kurikulum, model pembelajaran dapat membantu dalam
mengembangkan kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan
c. Menetapkan bahan-bahan pengajaran, model pembelajaran menetapkan
secra rinci bentuk-bentuk bahan pengajar yang berbeda yang akan digunakan oleh
guru dalam membantu prubahan yang baik dari kepribadian peserta didik.
d. Membantu perbaikan dalam pembelajaran PAI, model pembelajaran dapat
membantu proses belajar-mengajar dan meningkatkan kefektifan pembelajaran.[1]
2)
Kemukakan dan
jelaskan secara komprehensif rumpun model pembelajaran menurut para ahli!
a.
Rumpun Model Interaksi Sosial
|
No
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
1
|
Penentuan kelompok
|
Herbart Talen & John Dewey
|
Perkembangan
keterampilan untuk partisipasi dalam proses sosial demokrasi melalui
penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan antara pribadi
(kelompok) dan keterampilan-keterampilan penentuan akademik. Aspek
perkembangan pribadi merupakan hal yang penting dalam model ini.
|
|
2
|
Inkuiri Sosial
|
Byron Massialas & Benjamin cox
|
Pemecahan masalah sosial, terutama
melalui penemuan sosial dan penalaran logis
|
|
3
|
Metode Laboratori
|
Bethel Maine (National Teaching Library)
|
Perkembangan keterampilan antarpribadi dan kelompok melalui
kesadaran dan keluwesan pribadi.
|
|
4
|
Jurisprudensial
|
Donald Oliver & James P. Shaver
|
Dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan
yurisprudensial sebagai cara berpikir dan penyelesaian isu-isu soal.
|
|
5
|
Bermain Peran
|
Fainnie Shatel & George Fhatel
|
Dirancang untuk mempengaruhi siswa agar menemukan nilai -
nilainya diharapkan anak menjadi sumber bagi penemuan berikutnya.
|
|
6
|
Simulasi Sosial
|
Sarene Bookock & Harold Guetzkov
|
Diarancang membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan
kenyataan sosial, dan untuk menguji reaksi mereka serta untuk memproleh
konsep keterampilan pembuatan keputusan.
|
b.
Rumpun Model Pemrosesan Informasi
|
No
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
1
|
Model Berpikir Induktif
|
Hilda Taba
|
Dirancang
untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik/pembentukan
teori
|
|
2
|
Metode Latihan Inkuiri
|
Richard Suchman
|
Pemecahan masalah sosial, terutama
melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
|
|
3
|
Inkuiri Ilmiah
|
Joseph. J. Schwab
|
Dirancang untuk mengajar system penelitian dari suatu disiplin,
tetapi juga diharapkan untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain
(metode_metode sosial mungkin diajarkan dalam upaya meningkatkan pemahaman
sosial dan pemecahan masalah.
|
|
4
|
Penemuan konsep
|
Jerome Bruner
|
Dirancang terutama untuk mengembangkan penalaran induktif, juga
untuk perkembangan dan analisis konsep.
|
|
5
|
Bermain Peran
|
Jean Piaget Irving Sigel Edmund Sulllvan Lawrence Kohlberg
|
Dirancang untuk memengaruhi siswa agar menemukan nilai-nilai
pribadi dan sosial. Prilaku dan nilai-nilainya di harapkan anak menjadi
sumber bagi penemuan berikutnya.
|
|
6
|
Model Penata Lanjutan
|
David Ausubel
|
Diarancang untuk meningkatkan efiseinsi kemampuan pemrosesan
informasi untuk menyerap dan mengaitkan bidang-bidang pengetahuan.
|
|
7
|
Memori
|
Harry Lorayne Jerry Lucas
|
Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengingat.
|
c.
Model Personal (Personal Models)
Model ini
bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan
diri individu.
|
No
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
1
|
Pengajaran non-Direktif
|
Carl Rogers
|
Penekanan
pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran
diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
|
|
2
|
Latihan kesadaran
|
Fritz Perls Wilian Schultz
|
Meningkatkan kemampuan seseorang
untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri dan kesadaran diri. Banyak
menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemehaman antarpribadi.
|
|
3
|
Sinektik
|
Wiliam Gordon
|
Perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecajan masalah
kreatif.
|
|
4
|
System-sitem konseptual
|
David Hunt
|
Dirancang untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
|
|
5
|
Pertemuan Kelas
|
Wiliam Glasser
|
Perkembangan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri
sendiri dan kelompok sosial.
|
d.
Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
Model ini
bertitik tolak dari teori belajar behavioristic, yaitu bertujuan mengembangkan
system yang efesien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah
laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement).
|
No
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
1
|
Manajemen kontingensi
|
B.F. Skinner
|
Fakta-fakta,
konsep, keterampilan
|
|
2
|
Control Diri
|
B.F. Skinner
|
Prilaku/keterampilan sosial
|
|
3
|
Relaksasi (santai)
|
Rimm & Masters Wolpe
|
.Tujuan-Tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan)
|
|
4
|
Pengurangan ketegangan
|
Rimm & Masters Wolpe
|
Mengalihkan kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.
|
|
5
|
Latihan Asertif Desensitasi
|
Wolpe,Lazarus, Salter
|
Ekspresi perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi
sosial.
|
|
6
|
Latihan Langsung
|
Gagne, Smith & Smith
|
Pola-pola prilaku, keterampilan[2]
|
3)
Landasan
filosofis, psikologis dan sosiologis yang memikliki implikasi terhadap
pengembangan teori pendidikan, belajar dan model pembelajaran:
a.
Maksudnya
secara filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir yaitu dapat mengetahui,
memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi. Selain itu,
manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan, mengolah berbagai informasi
dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu mampu melahirkan gagasan dan
pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan dan pemikirannya itu melalui
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[3]
Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan model pembelajaran yang
baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para
siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran,
bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan
sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin
maju.
b.
Secara
psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini memungkinkan manusia untuk
didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya potensi psikologis ini,
mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia seutuhnya. Yaitu,
manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina, melainkan juga afektif
dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang dimilikinya. Contohnya: harus
ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah kejuruan dan sebagainya. Dari
keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan yang holistik. Serta pemilihan
model pembelajaran yang relevan dengan kondisi jiwa si anak didik.
c.
Secara
sosiologis, masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah perlakuan dan pelayanan
dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang makin adil, demokratis,
transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu, secara sosiologis
manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan
manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berimplikasi
terhadap pengembangan teori belajar dan mode pembelajaran. Contohnya: dalam
proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan dari kalangan mampu saja,
melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan kurang mampu pun juga
bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama.[4]
4)
Menurut saya
dari beberapa model yang selama ini dikaji, yang tepat dalam mengembangkan
pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia adalah Model Pembelajaran Contextual
teaching and learning (CTL) dimana pada pembelajaran itu membantu guru
mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi
siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga, warga Negara dan tenaga kerja.
Contextual
Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu
guru menghubungkan kegiatan dan bahan ajar mata pelajarannya dengan situasi
nyata dan memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya
dengan kehidupan sehari-hari siswa sebagai anggota keluarga dan bahkan sebagai
anggota masyarakat di mana dia hidup.
Pentingnya
pendekatan pembelajaran CTL bagi mapel PAI didasarkan atas beberapa hal:
1. PAI merupakan
mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam
agama Islam. Karena itu PAI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran
Islam.
- Dari segi muatan pendidikannya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang memiliki tujuan pembentukan moral kepribadian peserta didik yang baik. Oleh sebab itu semua mata pelajaran yang memiliki tujuan relevan dengan PAI harus seiring dan sejalan dalam pendekatan pembelajarannya.
- Tujuan diberikannya mata pelajaran PAI adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam terutama sumber-sumber ajaran dan sendi-sendi lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.
- Mata pelajaran PAI tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik agar menguasai ilmu keislaman tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian.
5)
Perbedaan dan
persamaan model koopertaif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri…
a.
Perbadaan Model pembelajaran
kooperatif
o
Adanya saling ketergantungan
positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi
promotif.
o
Adanya akuntabilitas individual yang
mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok di
beri umpan balik tentang hasil belajar para angggotanya sehinggga dapat saling
mengetahui siapa yang memerlukan bantuan
dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
o
Kelompok belajar heterogen, baik
dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga
dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan
bantuan.
o
Pimpinan kelompok dipilih secara
demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para
angggota kelompok.[5]
b.
Perbadaan Model pembelajaran
integrated
o
Holistik,
suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji
dari beberapa bidang studi/pokok bahasan sekaligus untuk memahami fenomena dari
segala sisi.
o
Bermakna,
keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang
dipelajari dan diharapkan siswa mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk
memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupannya.
o
Aktif,
pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa
terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, yang tidak secara langsung
dapat memotivasi siswa untuk belajar.
c.
Perbadaan Model pembelajaran berbasis
masalah
o
Belajar dimulai dengan satu masalah
Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa.
o
Mengorganisasikan pelajaran seputar
masalah, bukan seputar disiplin ilmu Memberikan tanggung jawab yang besar
kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar
mereka sendiri
o
Menggunakan kelompok kecil, Menuntut
siswa untuk mendemontrasikan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk
atau kinerja.[6]
d.
Perbadaan Model pembelajaran inquiry
o
Menekankan pada aktivitas siswa
secara maksimal untuk mencari dan menemukan , artinya model inkuiri menempatkan
siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal,
tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi itu sendiri.
o
Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahakan untuk mencari dan menemukan jawaban dari sesuatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief). Dengan demikian, sterategi
pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetap
sebagai fasilitator dan motivasi dalam belajar siswa
o
Mengembangkan kemampuan berpikir
secara sistematis, logi, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai
bagian dari proses mental.
o
Dengan demikian, dalam model
pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi
pembelajaran, tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang
dimilikinya.
e.
Persamaan dari model pembelajaran kooperati,
integrated, berbasis masalah dan inquiry adalah guru sebagai fasilitator dan
mengarahkan siswa agar lebih aktif dan siswa yang menjadi inti dari model
tersebut.
6)
Menurut Saya
Model desain pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah adalah
model PPSI karena model ini lebih mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan
program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai
pedoman bagi pendidik dalam melaksankan proses belajar mengajar.
Dengan
langkah-langkah sebagi berikut :
a.
Merumuskan Tujuan Pembelajaran
(menggunakan istilah yang operasional, bentuk hasil belajar, berbentuk tingkah
laku dan hanya ada satu kemampuan/tujuan). Dimana rumusan yang jelas dan
operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah mengikuti program
pembelajaran tersebut.
b.
Pengembangan Alat Evaluasi
(menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal untuk setiap
tujuan). Jadi gunanya tes disini untuk menilai sejauh mana pemahaman siswa
setelah menguasi kemampuan atau kompetensi yang telah dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran tersebut.
c.
Menentukan Kegiatan
Belajar-Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh). Jadi
setelah tujuan dan alat evaluasi selanjutnya adalah menetapkan kegitan belajar
mengajar yang dimana merumuskan semua kemungkinan kegitan belajar yang perlu
ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi sehingga tercapai tujuan.
d.
Merencanakan Program Kegiatan
Belajar Mengajar, (merumuskan alat dan sumber yang digunakan dan menyusun
program kegiatan/jadwal). Jadi setelah langkah satu sampai tiga telah
ditetapkan, selanjutnya perlu dimantapkan dalam satu program pembelajaran.
Yaitu harus ada disusun strategi proses pembelajran dengan cara sistematis
sesuai dengan situasi dikelas juga menggunakan pendekatan maupun metode
pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai dengan tujuan dan karakteristek
materi yang akan disampaikan.
e.
Pelaksanaan, (mengadakan Pretest,
menyampaikan materi pelajaran, mengadakan posttest dan revisi).
Dimna dalam pelaksanannya mempunyai 3 langkah lagi yaitu mengadakan tes awal
untuk memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa, sebelum mereka
mengikuti program pembelajaran yang telah disiapkan apabila menguasai, maka
tidak perlu lagi. Langkah kedua yaitu guru sebelum menyampaikan materi
pelajaran, hendaknya guru menjelaskan dulu kepada siswa tujuan/kompetensi yang
akan dicapai, sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan
setelah selesai pembelajaran. Langkah ketiga post test diberikan setelah
selesai mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identic dengan tes
awal, jadi bedanya hanya pada waktu dan fungsinya.[7]
7)
Menurut saya, kreteria penetapan isi
pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:
A.
Kreteria
Penetapan Isi (Materi Pembelajaran)
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar
yang penting mendapat perhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu,
penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak dicapai,
misalnya berita pengetahuan, penampilan, sikap dan pengalaman
lainnya. Nana Sujana (2000) menjelaskan ada beberapa hal yang harus
di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :
a.
Materi
pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
b.
Menetapkan
materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan
c.
Materi
pelajaran disusun dari hal yang sederhana menuju yang komplek
d.
Sifat materi pelajaran, ada yang factual dan
ada yang konseptual
Dalam
merancang kegiatan belajar, kegiatan harus dirumuskan secara jelas dan rinci.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kegiatan belajar mengajar
dapat dicermati sebagai berikut:
a.
Kegitan
harus berorientasi pada tujuan.
b.
Kemampuan
yang harus dicapai anak adalah melalui praktik langsung.
c.
Kegiatan
pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan.
d.
Kegiatan
pembelajaran harus berorientasi pada kegiatan yang berpusat pada tema.
e.
Kegiatan
pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pendidikan
f.
Kegiatan
pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta
didik.
g.
Kegiatan
pembelajaran harus menggambarkan kegiatan yang menyenangkan.
h.
Walaupun
penetapan kegiatan berorientasi pada siswa, kegiatan harus memungkinkan
bagaimana guru dapat membantu siswa belajar.
B. Prinsip-Prinsip Penentuan Materi
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam
menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
a)
Relevansi
artinya kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan
pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan
yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi
pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip
ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik adalah ” Mengidentifikasi
sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya maka pemilihan
materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang sifat-sifat
dab bagian dari kubus,balok,prisma dan limas” (materi konsep), bukan menentukan
volume dari kubus,balok,prisma dan limas. (materi prosedur).
b)
Konsistensi
artinya keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus
meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta
didik adalah tentang Tauhid (Keesaan Allah) yang meliputi sifat wajib Allah,
mustahil Allah dan lainnya, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi
wajib Allah, mustahil Allah dan lainnya.
c)
Adequacy
artinya kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi
tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu
sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan
dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran
guru harus mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan
hal-hal di bawah ini:
1.
Potensi
peserta didik;
2.
Relevansi
dengan karakteristik daerah;
3.
Tingkat
perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
4.
Kebermanfaatan
bagi peserta didik;
5.
Struktur
keilmuan;
6.
Aktualitas,
kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7.
Relevansi
dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
8.
Alokasi
waktu.[8]
8)
Menurut saya
desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan untuk sekolah berdasarkan
teori-teori pendidikan dan pembelajaran serta pandangan islam.
Teori-Teori
Pembelajaran Dalam Desain Pembelajaran
Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran
yang bermedia teknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka
terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga
dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan
membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan
kata lain, penggunaan media menggunakan audio visual atau komputer media dapat
membantu siswa itu memperoleh pelajaran bermanfaat. Guru sebagai pengembang
media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam
belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi
pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi
proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat
belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar
kontekstual, Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi dalam pembelajaran
PAI yaitu teori behaviorisme, humanistik, kognitifisme dan konstruktivisme.
1.
Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai ‘kotak
hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobsevasi secara kuantitatif,
sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini
memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur sebagai indikator
belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran
adalah sebagai berikut:
- Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai outcome dari pembelajaran online atau tidak.
- Pembelajar harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat pencapaian pembelajar dan untuk memberi umpan balik yang tepat.
- Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan dapat dimulai dari bentuk yang sederhana ke yang kompleks, dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
- Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.
2.
Teori Kognitif Piaget
Kognitivisme
membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu:
- Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan temantemannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu.
- Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan.
- Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis.
- Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan informasi.[9]
3.
Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah
situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas
belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus
digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus
diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar
multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat
menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari
pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan. Implementasi pada
online learning adalah sebagai berikut:
- Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga pembelajar tetap aktif melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkanproses tingkat tinggi, yang memfasilitasi penciptaan makna personal.
- Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan pembelajar lain dan dengan instruktur, dan karena itu agenda belajar dikontrol oleh pembelajar sendiri.
- Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan keterampilan metakognitif mereka.
- Pembelajar harus diberi control proses belajar.
- Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
- Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harus memasukan contoh-contoh yang berhubungan dengan pembelajar sehingga mereka dapat menerima informasi yang diberikan.
- Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Pembelajar menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.[10]
4.
Humanistik
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk ,memanusiakan manusia. Oleh
karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain si pembelajar
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai
aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik adalah
membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang
lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapah psikolog humanistik melihat bahwa manusia
mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan
belajar. Secara singkat pendekatan humanistik dalam pendidikan
menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi
manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan
mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal
sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya
diri,menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau
kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam
pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Dalam teori
humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri.
Dari beberapa uraian di atas tentang
teori-teori belajar dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI), penulis mengemukakan bahwa semua teori yang para ahli
kemukakan dapat diterapkan sebagai bahan referensi dalam proses pembelajaran.
Namun dalam jawaban ini hanya memaparkan empat teori saja, karena semua teori ini
cukup luas dan padat untuk dijadikan teori belajar dalam pembelajaran khususnya
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Terutama dan paling utama yang
penulis gunakan dalam pembelajaran adalah teori humanistik. Teori ini cukup
layak digunakan dalam proses pembelajaran, karena Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk
,memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil
apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan
kata lain si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun
ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.[11]
9.
Ada beberapa
model pembelajaran yang mendukung terhadap pembelajaran dari berbagai materi
PAI, seperti Akidah, Akhlak, Fikih, sejarah dan Al-qur’an serta Hadits.
1. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
ini juga berhubungan teori konstruktisveme karena pada dasarnya mendorong siswa
agar bisa mengkontruksikan (menghubungkan) pengetahuannya melalui proses pengamatan
dan pengalaman.[12]
Contoh ketika mengajarkan aqidah dengan tema iman kepada kitab-kitab Allah,
peserta didik diajak langsung melihat bukti adanya kitab-kitab Allah tersebut,
misalnya al-Quran yang merupakan salah satu kitab Allah dan menjadi kitab suci
umat Islam. Peserta didik kemudian diajak untuk melihat al-Quran lalu diajak
berdiskusi tentang al-Quran dan peserta didik dimotivasi agar bisa membaca,
memahami, dan mengamalkan isi kandungan al-Quran sedikit demi sedikit. Contoh
lain misalnya ketika mengajarkan fikih tentang thaharah (bersuci) peserta didik
diajak langsung praktik tentang bagaimana membersihkan kotoran (najis) dan juga
praktik wudlu dan mandi untuk menghilangkan hadas. Selanjutnya anak diajak
untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih dengan menjelaskan manfaat dan
hikmah kebersihan dan kesehatan serta menyebutkan contoh-contoh akibat baik
dari berpola sehat dan bersih dan akibat buruk mengabaikan pola sehat dan
bersih. Dengan model pembelajaran ini cukup mudah bagi guru memotivasi peserta
didik untuk bersikap dan berperilaku yang menunjukkan nilai-nilai karakter
sesuai dengan tema atau materi yang dikaji.
2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Sebagai contoh juga, untuk
mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw. peserta didik melakukan diskusi kelompok
dengan tema-tema diskusi yang sudah ditentukan, sehingga dalam waktu yang
singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif tentang sejarah Nabi
Muhammad saw. Melalui model ini guru bisa mengamati bagaimana peserta didik berdiskusi
sambil memberikan penilaian proses terutama dalam penerapan nilai-nilai
karakter, misalnya kecerdasan, keingintahuan, kesantunan, kedemokratisan, dan
lain sebagainya. Peserta didik juga diminta untuk meneladani karakter-karakter
mulia yang ada pada diri Nabi Muhammad saw. seperti kejujuran, kecerdasan,
kesabaran, kesantunan, kepedulian, dan ketangguhan.
3. Pembelajaran Model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan)
Sebagai contoh, ketika membelajarkan
al-Quran hadits, peserta didik dikondisikan untuk belajar langsung melafalkan
ayat-ayat al-Quran dan hadits dibantu dengan media yang mendukung. Guru terus
memantau peserta didik dalam proses pembelajaran agar efektif.[13]
DAFTAR PUSTAKA
Hamdayama,
Jumanta, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter, Bogor :
Ghalia Indonesia, 2014
Hidayat, Model
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa,
Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.
Hidayat, Ujang
S. 2011. Model-model Pembelajaran berbasis PAIKEM, Sukabumi : Cv
Siliwangi & co
Jurnal Tarbiya
Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model
Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris,
dan Efektif, Juni 2014.
Rusman, MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2014.
Rorty, Amelie
Oksenberg, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives,
London and New York: Routledge, 1988.
Trianto, Model-model Pembelajaran
Inovatif berorientasi Konstruktivistik, Jakarta : Prestasi Pustaka
Publisher, 2007
[1]
Ujang S, Hidayat, Model-model Pembelajaran Berbasis PAIKEM, (SukaBumi :
CV. Siliwangi dan co), 2011. hal, 10
[2]
Rusman, Model-model pembelajaran:( Mengembangkan Profesionalime Guru). Jakarta:
Rajawali Pers, 2014. Cet ke-5,
hal.136-144
[3]Amelie
Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical
Perspectives, (London and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[4]Jurnal
Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain
Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis,
Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.
[5]
Opcit, hal 206-208
[6]
Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2014), hal 1-2
[7]Ibid,
hal 147
[9]
Trianto, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF BERORIENTASI KONTRUKTIVISTIK, (Jakarta,
Prestasi Putaka Publisher, 2007), hal. 13
[10]
Ibid, hal 14
[11]
Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah
Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.
[12] Opcit,
Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2014), 56
[13]Opcit,
Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi
Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN
Malang, 2013.