Model - A. Muinuddin Rizani



Nama: Ahmad Muinuddin Rizani
NIM: 1502521521
Dosen: Dr. Hj. Salamah, M.Pd
MK: Model Pembelajaran


1.      Pada hakikatnya pembelajaran PAI itu menghendaki terjadinya perkembangan dan kemajuan manusia pada umumnya, yang mampu menjadikan para peserta didik menjadi warga yang cerdas, jujur, kompeten, berakhlak mulia dan memiliki iman dan takwa. Dengan dukungan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengatasi masalah kualitas manusia Indonesia yang belum tercapai sepenuhnya sesuai dengan tujuan nasional. Sehingga dituntut dalam pengembangan model pembelajaran PAI yang sesuai dapat memberikan visi, cara, dan inovasi yang tepat. Akan tetapi model pembelajaran PAI ini mungkin hanya bisa di terapkan untuk peserta didik yang muslim saja, dan tidak bisa untuk peserta didik yang non muslim.

2.      Rumpun model

A.    Interaksi sosial:

a.       Penentuan Kelompok (Herbert Telen & John Dewey): perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses social demokratis melalui penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan antar pribadi (kelompok) dan keterampilan-keterampilan penentuan akademik.
b.      Inkuiri sosial (Byron Massialas & Benjamin Cox): pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
c.       Metode laboratori (Bethel Maine): perkembangan keterampilan antar pribadi dan kelompok melalui kesadaran dan keluwesan pribadi.
d.      Jurisprudensial (Donald Oliver & James P. Shaver): dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan yurisprudensial sebagai cara berpikir dan penyelesaian isu-isu sosial.

B.     Pemrosesan Informasi

a.       Model Berpikir Induktif (Hilda Taba): dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik/pembentukan teori.
b.      Model Latihan Inkuiri (Richard Suchman): pemecahan masalah social, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
c.       Inkuiri Ilmiah (Joseph. J. Cshwab): dirancang untuk mengajar system penelitian dari suatu disiplin, tetapi juga diharapkan untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain.
d.      Penemuan Konsep (Jerome Bruner): dirancang terutama untuk mengembangkan penalaran induktif, juga untuk perkembangan dan analisis konsep.

C.     Personal

a.       Pengajaran Non-Direktif (Carl Rogers): penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
b.      Latihan Kesadaran (Firtz Perls Willian Schultz): meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri.
c.       Sinektik (William Gordon): perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
d.      Sistem-sistem Konseptual (David Hunt): dirancang untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.

D.    Modifikasi Tingkah Laku

a.       Manajemen kontingensi (B.F. Skinner): fakta-fakta, konsep, keterampilan.
b.      Kontrol Diri (B.F. Skinner): perilaku/keterampilan sosial.
c.       Relaksasi (santai) (Rimm & Masters Wolpe): tujuan-tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan).
d.      Penguranagn Ketegangan (Rimm & Masters Wolpe): Mengalihkan kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.[1]

3.      Landasan filosofis, psikologis dan sosiologis:
Maksudnya secara filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir yaitu dapat mengetahui, memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi. Selain itu, manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan, mengolah berbagai informasi dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu mampu melahirkan gagasan dan pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan dan pemikirannya itu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[2] Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan mode pembelajaran yang baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran, bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin maju.

Secara psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini memungkinkan manusia untuk didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya potensi psikologis ini, mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia seutuhnya. Yaitu, manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina, melainkan juga afektif dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang dimilikinya. Contohnya: harus ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah kejuruan dan sebagainya. Dari keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan yang holistik. Serta pemilihan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi jiwa si anak didik.

Secara sosiologis, masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah perlakuan dan pelayanan dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang makin adil, demokratis, transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu, secara sosiologis manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berimplikasi terhadap pengembangan teori belajar dan mode pembelajaran. Contohnya: dalam proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan dari kalangan mampu saja, melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan kurang mampu pun juga bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama.[3]

4.      Menurut Mawardi model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI di Madrasah adalah Model Pembelajaran Nilai.[4] Model pembelajaran nilai didasarkan pada pengembangan afektif dan nilai-nilai komprehensif. Afektif atau sikap merupakan refleksi dari nilai (value) yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebagainya.[5] Model pembelajaran berbasis nilai dianggaptepat karena merupakan suatu model penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan dapat berperilaku sesuai dengan pandangan agama islam.


5.      A. Perbedaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri:
        
a.       Model kooperatif adalah pembelajaran yang lebih menekankan kerjasama di antara peserta didik di kelas.
b.      Model integrated adalah system pembelajaran yang berpusat pada anak, proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi yang tidak terlihat jelas.
c.       Model berbasis masalah adalah pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat pada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri .
d.      Model Inquiry adalah satu model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mampu menemukan pengetahuan atau konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran tertentu secara mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari.

B. Persamaaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri. Adalah sama-sama berpusat pada siswa (student-centered approaches).

6.      Model desain pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah di antaranya adalah Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), Model pembelajaran Kooperatif, Model Pembelajaran Inquiri, Model Pembelajaran PAKEMI, Pemodelan, Model Pembelajaran Afektif.[6]

7.      Kriteria penetapan isi pembelajaran di antaranya meliputi:

a.       Memiliki pendekatan pembelajaran.
b.      Memiliki strategi pembelajaran.
c.       Memiliki metode pembelajaran.
d.      Memiliki teknik pembelajaran.
e.       Memiliki taktik pembelajaran.
f.        Memiliki model pembelajaran.

Prinsip pemilihan model pembelajaran PAI yang harus dikembangkan di antaranya:

Pertama, PAI harus mampu mengembangkan aqidah sebagai landasan keberagamaan siswa dalam meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia.
Kedua, PAI harus mengembangkan konsep keterpaduan antara ketercapaian kemampuan yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik. PAI bukan hanya bersifat hafalan, melainkan juga praktik dan amalan.
Ketiga, PAI harus mampu mengajarkan agama sebagai landasan dasar dan inspirasi siswa untuk mengembangkan bidang keilmuan dari semua matapelajaran dan bahkan kajian yang diajarkan sekolah.
Keempat, PAI harus dapat menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari siswa.

8.      Desain pembelajaran yang bagus untuk PAI di madrasah dan di sekolah adalah desain pembelajaran berbasis karakter. Karena di dalam desain pembelajaran PAI dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksankan proses pembelajaran, dan evaluasi.

Sebagai contoh RPP berkarakter seperti yang di kemukakan Hunts. Model ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise dan Summary).


FORMAT RPP MODEL “ROPES”[7]

Identitas Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran:
Materi Pokok:
Kelas/Semester:
Pertemuan:
Waktu:

Standar Kompetensi:



Kompetensi Dasar:



Indikator:
1.
2.
3.
4.

Prosedur Pembelajaran
a.         Review:

b.        Overview:

c.         Presentation
No
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu
Aspek Karakter yang dikembangkan
1.
Telling/Moral Knowing

Religious, amanah, disiplin, dll
2.
Showing/Moral Loving

Amanah, disiplin, dll
3.
Doing/Moral Doing

Kreatif, Peduli, disiplin, dll
d.        Exercise:

e.         Summary:

Media Pembelajaran:


Evaluasi Belajar:


Banjarmasin,                2016

Mengetahui
Kepala Madrasah/Sekolah                                                  Guru Mata Pelajaran,


(Nama jelas kepala dan gelar)                                             (Nama jelas guru dan gelar)
NIP.                                                                                    NIP.
Berdasarkan teori pendidikan karakter menurut Thomas Lickona (1991) adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.[8]
Hakikat pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan itu sendiri. Pengertian pendidikan seperti yang tersirat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 adalah “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyaraka,t bangsa dan negara.
Proses pendidikan tidak bisa lepas dari tujuan-tujuan pembentukan karakter peserta didik sebagaimana tersurat dalam konsep-konsep tujuan pendidikan nasional, yakni: memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia.[9]
Dalam perpektif agama islam, lingkup pendidikan karakter dilakukan dengan melibatkan tiga potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu’aqal, qalbu, dan nafs. Serta ada beberapa ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pendidikan akhlak; Ar-Rum: 30, An-Nahl: 125-126.

9.      Pembelajaran Aqidah biasanya model desain pembelajaran yang dipakai adalah CTL, contohnya materi pelajaran berupa Iman kepada kitab-kitab Allah, yang mana para peserta didik diajak berdiskusi tentang Al-Qur’an dan dimotivasi agar bisa membaca, memebaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an sedikit demi sedikit. Inquiri contoh materi iman kepada hari kiamat, yang mana para siswa di didik agar mampu menemukan konsep-konsep yang ada secara mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari seperti terjadinya kiamat kecil.
Pembelajaran akhlak biasanya model desain pemodelan, yang mana guru bisa menunjukan beberapa model dar tokoh-tokoh berkarakter yang berhasil dalam hidupnya, seperti meneladani sifat Nabi Muhammad SAW.
Pembelajaran fiqih ketika membahas tentang taharah, maka menggunakan model desain pembelajaran CTL, yang mengajarkan tentang praktek wudhu dan mandi. Selanjutnya para murid diajak untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih. Serta menjelaskan manfaat dan hikmah menjaga kebersihan dan kesehatan.
Pembelajaran sejarah biasanya yang sering digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif. Sebagai contoh untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW. Peserta didik melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang telah ditentukan, sehingga dalam waktu singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Sehingga mengajarkan kepada murid tentang karakter-karakter mulia yang ada pada diri Rasul seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian, dan ketangguhan.
Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits menggunakan pembelajaran model PAKEM. Sebagai contoh ketika membelajarkan Al-Qur’an, peserta didik dikondisikan untuk belajar langsung melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibantu dengan media yang mendukung seperti media computer, LCD, Caption, dll. Yang utamanya pembelajaran tersebut harus menyenangkan peserta didik dan harus efektif
Pada dasarnya dari materi PAI yang mencakup aspek kajian Aqidah Akhlak, Fiqih, Qur’an Hadits, dan Sejarah Islam. Itu bisa menyesuaikan dengan desain model pembelajaran yang ada dan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.[10]























DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Heri, PENDIDIKAN KARAKTER Konsep dan Implementasi, Bandung: Alfabeta, 2014.

Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.

Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.

Kementrian Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah, Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010.

Mawardi, Imam, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, Bandung: Disertasi UPI, 2012.

Rorty, Amelie Oksenberg, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, London and New York: Routledge, 1988.

Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011.

Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., Jakarta: Kencana, 2009.

Sukadi, “Pendidikan Karakter Bangsa Berideologi Pancasila”, dalam Budimansyah, D dan Kokom Komalasari (ed). Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Membina Kepribadian Bangsa. Bandung: Wijaya Aksara, 2011.


[1]Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), h. 138-144, cet. 4.

[2]Amelie Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, (London and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[3]Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.

[4]Imam Mawardi, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, (Bandung: Disertasi UPI, 2012).

[5]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., (Jakarta: Kencana, 2009), h. 274, cet. 6.
[6]Kementrian Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah, (Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010), h. 24-28.
[7]Heri Gunawan, PENDIDIKAN KARAKTER Konsep dan Implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 309-311, cet. 3.
[8] Ibid, h. 23.

[9]Sukadi,  “Pendidikan Karakter Bangsa Berideologi Pancasila”, dalam Budimansyah, D dan Kokom Komalasari (ed). Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Membina Kepribadian Bangsa. (Bandung: Wijaya Aksara, 2011), h. 97.
[10]Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »