JAWABAN SOAL NO 1
1. Pada dasarnya Model
pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran
dan para
pengajar/tutor dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.[1]
Menurut Trianto manfaat
model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru
dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk memilih model ini sangat dipengaruhi
oleh sifat dari materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh tujuan
yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan peserta
didik. Di samping itu pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai
tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Antara
sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan.
Perbedaan-perbedaan ini, diantaranya pembukaan dan penutupan pembelajaran yang
berbeda antara satu dengan yang lain.[2]
Oleh karena itu, guru
perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai keterampilan mengajar, agar dapat
mencapai tujuan pembelajaran yang beraneka ragam dan lingkungan belajar yang
menjadi ciri sekolah pada dewasa ini.
Pada Akhirnya setiap
model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang
berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada
ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Sifat materi dari sistem syaraf
banyak konsep dan informasi-informasi dari teks buku bacaan, materi ajar siswa,
di samping itu banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. Tujuan yang akan
dicapai meliputi aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman
bacaan dan lembar kegiatan siswa.[3]
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran sangat
berpengaruh untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang efktif, namun perlu
juga diketahui tidak semua model pembelajaran sesuii diterapkan pada semua mata
pelajaran. Guru dituntut harus bijak dalam menentukan model yang akan digunakan
untuk suatu materi. Kelebihan
dan kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif sebagai strategi
mengajar guru, maka hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi guru dalam
penggunaannya. Namun, faktor profesionalisme guru menggunakan model tersebut
sangat menentukan dan kesadaran murid mengikuti pembelajaran melalui strategi
kelompok. Sasaran pembelajaran adalah meningkatkan kemampuan belajar siswa
sehingga penggunaan model ini akan memungkinkan siswa lebih aktif, kreatif dan
mandiri dalam belajar sesuai tuntutan materi pelajaran atau kurikulum sehingga
kegiatan belajar efektif.
JAWABAN SOAL NO 2
2. Joyce
dan Weil (1996) dalam
bukunya Models of Teaching menggolongkan model-model pembelajaran ke dalam
empat rumpun. Keempat rumpun model pembelajaran tersebut adalah: (1) rumpun
model pembelajaran Pemrosesan Informasi, (2) rumpun model pembelajaran
Personal, (3) rumpun model pembelajaran Sosial, dan (4) rumpun model
pembelajaran Perilaku. [4]
a. Rumpun
Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi
Model-model pembelajaran dalam rumpun ini
bertitik tolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi yaitu cara-cara
manusia menanggapi rangsangan dari lingkungan, mengorganisasikan data,
mengenali masalah dan mencoba mencari solusinya, serta mengmebangkan
konsep-konsep dan bahasa untuk menangani masalah tersebut. Model dalam rumpun
ini berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan intelektual
secara umum, dan penekanan konsep serta informasi yang berasal dar disiplin
ilmu secara akademis.
Karakteristik model ini yaitu:
·
Berprinsip pada pengolahan informasi oleh
manusia dengan memperkuat dorongan-dorongan internal / dari dalam dirinya untuk
memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan
adanya masalah dan mengupayakan jalan keluarnya serta pengembangkan bahasa
untuk mengungkapkannya.
·
Menekankan pada peserta didik agar memiliki
kemampuan untuk memproses informasi.
·
Dalam rumpun model pembelajaran pemrosesan
informasi terdapat 7 model pembelajaran, yaitu : Pencapaian Konsep (Concept
Attainment, Berpikir induktif (InductiveThinking), Latihan Penelitian (Inquiry
Training, Pemandu Awal (Advance Organizer), Memorisasi (Memorization),
Pengembangan Intelek (Developing Intelect),Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)
Berikut adalah jenis-mode-model pembelajaran
yang termasuk rumpun pengolahan informasi:
Tabel. 1
Model –
model Pembelajaran Pengolahan Informasi
|
No.
|
Jenis
Model
|
Tujuan/
manfaat
|
|
1.
|
Berfikir
Induktif
|
Model
ini ditujukan untuk pembentukan kemampuan berfikir induktif yang banyak
diperlukan dalam kegiatan akademik, dan diperlukan dalam kehidupan secara
umum
|
|
2.
|
Latihan
Inkuiri
|
Model
ini dirancang untuk melibatkan siswa dalam berfikir sebab-akibat dan melatih
mengajukan pertanyaan secara opic dan tepat
|
|
3.
|
Concept
attainment
|
Dirancang
untuk mengajarkan (pembentukan) konsep dan untuk membantu siswa menjadi lebih
efektif dalam belajar konsep (kemampuan berfikir induktif)
|
|
4.
|
Mnemonic
(strategi mengingat dan menerima informasi)
|
Model
ini dirancang untuk membantu guru dalam menyajikan bahan pelajaran dan
cara-cara membantu siswa baik secara individual maupun secara kooperatif
dalam mempelajari informasi atau konsep
|
|
5.
|
Perkembangan
kognitif
|
Model
ini bertujuan untuk membantu guru dalam pembentukan kemampuan berfikir/ pengembangn
intelektual pada umumnya, khususnya berfikir logis. Kemampuan ini dapat
diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral
|
|
6.
|
Advance
Organizer
|
Model
ini dirancang untuk meningkatkan kemamapuan mengolah informasi dalam
kapasitas untuk membentuk dan menghubungkan dengan pengetahuan baru pada
struktur kognitif yang telah ada
|
|
7.
|
Synectics
|
Dirancang
untuk membantu siswa break set dalam kegiatan pemecahan masalah
dan menulis untuk memperoleh pandangan baru terhadap suatu opic berdasarkan
banyak hal dari lapangan
|
b. Rumpun
Model-model Pembelajaran Individual
Model-model pembelajaran pada rumpun individual
ini memfokuskan pada pengembangan pribadi. Model ini menekankan pada proses
mengkonstruk dan mengorganisasi realita yang memandang manusia sebagai pembuat
makna.
Karakteristik model ini yaitu:
·
Proses pendidikan sengaja diusahakan yang
memungkinkan seseorang dapat memahami diri sendiri dengan baik , sanggup
memikul tanggung jawab untuk pendidikan dan lebih kreatif untuk mencapai
kualitas hidup yang lebih baik.
·
Memusatkan perhatian pada pandangan
perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif sehingga
manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya.
·
Dalam rumpun model personal ini terdapat 4
model pembelajaran, yaitu : Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching), Model
Sinektik (Synectics Model), Latihan Kesadaran (Awareness Training), Pertemuan
Kelas (Classroom Meeting)
Beberapa
model yang termasuk rumpun pembelajaran individual ini antara lain:
Tabel. 2
Model-model
Pembelajaran Individual
|
No.
|
Jenis
Model
|
Tujuan/
Manfaat
|
|
1.
|
Pengajaran
non Direktif
|
Model
ini menekankan pada kemitraan Guru-siswa. Guru berusaha membantu siswa
memahami perannya dalam pendidikan mereka sendiri. Model ini juga menekankan
pada pembentukan kemampuan belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan
penemuan diri sendiri sehingga terbentuk konsep diri
|
|
2.
|
Latihan
kesadaran
|
Model
ini berguna untuk meningkatkan kemampuan/kapasitas seseorang dalam
mengsplorasi dan menyadari pemahaman diri sendiri
|
|
3.
|
Sistem
Konseptual
|
Model
ini dirancang untuk meningkatkan kompleksitas pribadi dan feksibilitas
|
|
4.
|
Pertemuan
Kelas
|
Model
ini ditujukan untuk pengembangan pemahamn dan tanggungjawab pad diri sendiri
dan kelompok sosialnya.
|
c. Rumpun
Model-Model Pembelajaran Sosial
Model-model pembelajaran rumpun sosial
menggabungkan antara belaajr dan masyarakat. Kedudukan belajar di sini adalah
bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan pemberi semangat sosial, tetapi
juga intelektual. Sebaliknya tugas-tugas yang sering dilakukan dalam kehidupan
sosial dapat dirancang untuk meningkatkan belajar/keakademisan.
Karakteristik model ini antara lain:
·
Menitik beratkan pada pengembangan kemampuan
kerjasama dari para siswa.
·
Berdasarkan pada dua asumsi pokok, pertama :
masalah-masalah sosial diidentifikasi dan dipecahkan atas dasar dan melalui
kesepakatanm-kesepakatan dengan menggunakan proses-proses sosial, kedua :
proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan
masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus.
·
Dalam rumpun model interaksi sosial ini
terdapat 5 model pembelajaran, yaitu : Investigasi Kelompok (Group
Investigation), Bermain Peran (Role Playing), Penelitian Yurisprudensial
(Jurisprudential UInquiry), Latihan Laboratoris (Laboratory Training) dan
Penelitian Ilmu Sosial
Jenis model pembelajaran rumpun sosial antara
lain:
Tabel. 3
Model-Model
Pembelajaran Sosial
|
No
|
Jenis
Model
|
Tujuan/Manfaat
|
|
1.
|
Partner
in learning / kerja kelompok
|
Model
ini dirancang untuk memberikan bimbingan kepada siswa untuk mendefinisikan/
menemukan masalah, menggali berbagai pandangan terhadap masalah, dan belajar
bersama untuk menguasai informasi, ide, dan keterampilan yang secara simultan
mengembangkan kompetensi sosial.
|
|
2.
|
Jurisprudential
|
Model
ini dirancang untuk melatih kemampuan mengolah informasi dan menyelesaikan
isu kemasyarakatan dengan kerangka acuan atau cara berfikir jurisprudential
(ilmu tentang hukum-hukum manusia)
|
|
3.
|
Role
Playing (bermain peran)
|
Model
ini dirancang untuk mengajak siswa dalam menyelidiki nilai-nilai pribadi dan
sosial melalui tingkahlaku mereka sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber
dari penyelidikan itu. Bermain peran juga membantu siswa mengumpulkan dan
menata informasi mengenai isu-isu sosial, mengembangkan rasa empati kepada teman,
dan mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial siswa.
|
d. Rumpun
Model-Model Pembelajaran Perilaku
Model-model pembelajaran pada rumpun ini
didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku seperti
teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku atau perilaku terapi.
Model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang
memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk
pola perilaku yang dikehendaki.
Karakteristik umum model ini yaitu:
·
Mementingkan penciptaan sistem lingkungan
belajar yang memungkinkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang
memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif
sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki.
·
Memusatkan perhatian pada perilaku yang
terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka
mengkomunikaksikan keberhasilan.
·
Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat
5 model pembelajaran, yaitu : Belajar Tuntas (Mastery Learning), Pembelajaran
Langsung (Direct Instruction), Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control),
Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept
Development), Latihan Assertif (Assertive Training)
Beberapa model pembelajaran pada rumpun ini
antara lain :
Tabel.4
Model-Model
Pembelajaran Perilaku
|
No.
|
Jenis
Model
|
Karakteristik
Model
|
|
1.
|
Mastery
learning, Direct Instruction, dan Social learning Theory
|
Bahan-bahan
yang akan dipelajari siswa dipecah e dalam unit-unit yang sederhana hingga
yang kompleks. Bahan yang dipelajari siswa umumnya dipelajari secara
individual melalui berbagai media
|
|
2.
|
Self
Control
|
Model
pembelajaran ini mengandalkan pada bagaimana siswa harus berprilaku dan siswa
belajar dari dampak perilaku tersebut, serta mengendalikan lingkungannya
sehingga perilaku tersebut dapat produktif.
|
|
3.
|
Learning
from simulation
|
Dalam
situasi tertentu, individu akan memodifikasi perilakunya sesuai dengan
masukan yang diterima dari lingkungan. Mereka akan menata lingkunagnnya dan pola-pola
responnya dengan masukan-masukan dari lingkungan
|
|
4.
|
The
condition of learning
|
Model
ini menekankan pada hasil belajar : apa yang diharapkan dari tugas/fungsi
instruksional guru.
|
JAWABAN
SOAL NO 3
3. Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik
selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas
tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan
merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa
tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut yaitu sekurang-kurangnya adalah
landasan Filosofis, Sosiologis, dan Psikologis.[5]
a. Landasan
Filosofis
1) Pengertian
Landasan Filosofis
Landasan
filosofis bersumber dari pandangan-pandangan dalam filsafat pendidikan,
menyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai,
hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran
filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Idealisme, Realisme,
Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan Progresivisme dan Ekstensialisme
a) Esensialisme
Esensialisme
adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts)
atau bahan ajar esensial.
b) Perenialisme
Perenialisme
adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni
kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal.
c) Pragmatisme
dan Progresifme
Pragmatisme
adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan
praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang
pendidikan tradisional.
d) Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme
adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan
sebagai pelopor perubahan masyarakat.
2) Pancasila
sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 2
UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan
pancasila dan UUD 1945, sedangkan Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4
menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia,
kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar
negara Indonesia.
b. Landasan
Sosiologis
1) Pengertian
Landasan Sosiologis
Dasar
sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik
masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial
dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang
dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
a) Hubungan
sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
b) Hubungan
kemanusiaan.
c) Pengaruh
sekolah pada perilaku anggotanya.
d) Sekolah
dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok
sosial lain di dalam komunitasnya.
c. Landasan
Psikologis
1) Pengertian
Landasan Psikologis
Dasar
psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak.
Pemahaman terhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan
merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil
kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang
pendidikan.
Sebagai
implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta
didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu
berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan
garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang
digariskan.
2) Perkembangan
Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman
tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami
peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam
membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien.[6]
JAWABAN SOAL NO 4
4. Pada
dasarnya, peran serta keberadaan seorang guru dalam sebuah prose pembelajaran
sangatlah urgen karena guru merupakan salah satu penentu apakah sebuah proses
pembelajaran akan berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai atau tidak.
Mengingat peran penting guru tersebut, maka perlu kiranya disadari bahwa di
pundak seorang guru tertumpu sebuah tanggung jawab yang tidak dapat dianggap
ringan, yaitu memfasilitasi proses pembelajaran siswa di kelas menjadi sebuah
pembelajaran yang beriklim menyenangkan dan menggairahkan, sehingga siswa akan
termitivasi untuk belajar secara maksimal.
Hal yang
perlu perhatian adalah, agar bisa terjadi kegiatan belajar pada siswa, maka
siswa harus secara aktif melakukan interaksi dengan berbagai sumber belajar.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada
interaksi antara siswa dengan sumber sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya
diusahakan oleh setiap pengajar dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut, maka guru dapat mencoba menerapkan berbagai bentuk model pembelajaran yang ada, atau bila memungkinkan, guru dapat berinovasi mencipatakan sendiri model pembelajaran yang akan digunakan, karena bagaimanapun juga, guru adalah orang yang paling memahami karakteristik dan kebutuhan siswanya. Melalui berbagai variasi metode dan model pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang mereka miliki. Barang kali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang mengatakan : "Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa".
Untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut, maka guru dapat mencoba menerapkan berbagai bentuk model pembelajaran yang ada, atau bila memungkinkan, guru dapat berinovasi mencipatakan sendiri model pembelajaran yang akan digunakan, karena bagaimanapun juga, guru adalah orang yang paling memahami karakteristik dan kebutuhan siswanya. Melalui berbagai variasi metode dan model pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang mereka miliki. Barang kali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang mengatakan : "Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa".
Pemanfaatan
model pembelajaran ini sebenarnya dimaksudkan untuk membantu agar kegiatan
pembelajaran lebih efektif mencapai tujuan dan efisien. Sayangnya, masih ada
yang beranggapan bahwa penggunaan berbagai model pembelajaran hanya menambah
pekerjaan guru yang waktunya telah habis untuk mengejar target kurikulum. Anggapan
demikian sebenamya tak perlu terjadi.
Untuk meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia disarankan kepada para guru untuk melakukan pengajaran
dengan penuh kreatifitas dengan menerapakn model model pembelajaran secara
bervariasi karena ada banyak model model pembelajaran yang dapat meningkatkan
minat belajar siswa yang nantinya akan meningkatkan hasil belajar siswa juga
sehingga kegiatan belajar mengajar efektif, yang dapat meningkatkan kualiatas
sumber daya manusia bangsa indonesia untuk memajukan negara tercinta ini karena
majunya suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas pendidikan.
JAWABAN SOAL NO 5
5. Perbedaan
dan persamaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri dapat
kita lihat pada tabel-tabel tahapan dan sintaks masing-masing model berikut.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
|
Langkah
|
Indikator
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Langkah 1
|
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa.
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
|
|
Langkah 2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa
|
|
Langkah 3
|
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menginformasikan
pengelompokan siswa
|
|
Langkah 4
|
Membimbing kelompok
belajar
|
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam
kelompokkelompok belajar
|
|
Langkah 5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
pembelajaran yang telah dilaksanakan
|
|
Langkah 6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual
dan kelompok.
|
Tahapan model Integrated adalah sebagai
berikut.
|
Tahapan
|
Kegiatan
|
|
Tahap pelaksanaan
|
1.
Proses pengumpulan informasi
2.
Pengelolaan informasi dengan cara analisis
komparasi dan sintesis
3.
Penyusunan laporan dapat dilakukan dengan
cara verbal,gravisi, pictorial, audio, gerak, dan model
|
|
Tahap
Kulmunasi
|
1.
Penyajian laporan (tertulis, oral, unjuk
kerja, produk).
2.
Penilaian meliputi proses dan produk dengan
menggunakan prosedur formal dan informal dengan tekanan pada penilaian
produk.
|
Sintaks Pelaksanaan
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
|
Tahap
|
Kegiatan
Guru
|
Kegiatan
Siswa
|
||
|
Tahap I
Orientasi siswa kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan kebutuhan yang diperlukan dan memotivasi siswa terlibat pada
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
|
Siswa menginventarisasi dan mempersiapkan
kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Siswa berada dalam
kelompok yang telah ditetapkan
|
||
|
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
|
Siswa membatasi permasalahannya yang akan
dikaji
|
||
|
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual maupun
kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
Siswa melakukan inkuiri, investigasi, dan
bertanya untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang dihadapi
|
||
|
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
|
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan laporan serta membantu siswa untuk berbagai tugas dalam
kelompoknya
|
Siswa menyusun laporan dalam kelompok dan
menyajikannya dihadapan kelas dan berdiskusi dalam kelas
|
||
|
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan
|
Siswa mengikuti tes dan menyerahkan
tugas-tugas sebagai bahan evaluasi proses belajar
|
||
Adapun
tahapan pembelajaran inkuiri sebagai berikut:
|
Fase
|
Perilaku
Guru
|
|
1. Menyajikan
pertanyaan atau masalah
|
Guru membimbing siswa mengidentifikasi
masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
|
|
2. Membuat
hipotesis
|
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam
menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan
memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
|
|
3. Merancang
percobaan
|
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan .
Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan
|
|
4. Melakukan
percobaan untuk memperoleh informasi
|
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi
melalui percobaan
|
|
5. Megumpulkan
dan menganilisis data
|
Guru memberi kesempatan kepada setiap
kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
|
|
6. Membuat
kesimpulan
|
Guru membimbing siswa dalam membuat
kesimpulan.
|
JAWABAN
SOAL NO 6
Tantangan
yang dihadapi dalam Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah
bagaimana mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya
mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan
peserta didik agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia. Dengan
demikian materi pendidikan agama bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang
agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan
dan ketakwaan yang kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang
mulia dimanapun mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja.
Guru
merupakan ujung tombak dalam pembelajaran, oleh karena itu guru dituntut untuk
bisa mnciptakan iklim pembelajaran yang kondusif sehingga dapat tercapai tujuan
pembelajaran yang diinginkan. Metode merupakan salah satu komponen pendidikan
yang cukup penting untuk diperhatikan. Penyampaian materi dalam arti penanaman
nilai pendidikan sering gagal karena cara yang digunakannya kurang tepat.
Penguasaan guru terhapat materi pembelajaran saja belum cukup untuk dijadikan
titik tolak keberhasilan suatu proses belajar mengajar.
Maka,
saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh
para guru Pendidikan Agama Islam untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran
yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran
agamanya, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk
akhlak dan kepribadiannya.
Berikut beberapa
model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran PAI menurut
pendapat kami, antara lain:
A. Strategi
Pembelajaran PAI berbasis PAIKEM
Secara
psikologis, penerapan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan) dalam proses belajar mengajar diyakini dan telah
terbukti berdasarkan pengalaman memiliki dampak positif terhadap penguatan
hasil belajar, kesan yang mendalam dan daya tahan lama dalam memori peserta
didik sehingga tidak mudah lupa terhadap ilmu pengetahuan yang diperolehnya,
atau dalam bahasa psikologi dikenal dengan istilah long term memory.[7]
Beberapa
model pembelajaran PAI berbasis PAIKEM, antara lain:
1. Everyone
is a teacher here (setiap murid sebagai guru)
2. Information
search
3. Reading
Aloud (strategi membaca dengan keras), sesuai untuk materi sejarah
4. Role
Play (bermain peran), sesuai untuk materi akhlak
5. Index
Card Match (Mencari Jodoh kartu tanya jawab).
6. Small
Group Discussion (Diskusi Kelompok Kecil)
B. Strategi
Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis PAIKEM
Berikut
ini adalah beberapa contoh strategi PAIKEM yang dapat digunakan untuk rumpun
mata pelajaran Bahasa Arab;
1. Musykilatut
thullab
2. Tahlilul
Khotho’
3. Ta’biirus
shuroh
C. Metode
Pembelajaran dalam Alqur’an
1. Metode
Amtsal
2. Metode
Kisah Qur’ani[8]
Sajian
diatas merupakan contoh dari sekian banyak model dan metode pembelajaran yang
bias diterapkan dalam rumpun mata pelajaran PAI. Tidak ada satu metode pun yang
sempurna, masing- masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu,
penerapan multi methode (beberapa metode) dalam pembelajaran akan mencapai hasil
yang lebih baik.
JAWABAN
SOAL NO 7
A. Uraian Kriteria
Penetapan Isi (Materi) Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah bagian dari isi rumusan
Kompetensi Dasar (KD), merupakan objek dari pengalaman belajar yang diinteraksikan di antara
peserta didik dan lingkungannya untuk mencapai kemampuan dasar berupa
perubahan perilaku sebagai hasil belajar dari mata pelajaran. Materi pembelajaran sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan ataupun
ketercapaian siswa di dalam belajar.
Materi pembelajaran dikembangkan dari Indikator
Pencapaian Kompetensi (IPK) sesuai dengan tuntutan KD dari KI-3 (Pengetahuan)
dan KD dari KI-4 (Keterampilan), disesuaikan dengan silabus.Selain berdasarkan
IPK, pengembangan materi pembelajaran juga mempertimbangkan hal-hal berikut.
1.
Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan
lingkungan.
2.
Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional,
sosial dan spiritual peserta didik.
3.
Kebermanfaatan bagi peserta didik.
4.
Struktur keilmuan.
5.
Berbagai sumber belajar (referensi yang relevan dan termutakhir)
6.
Alokasi waktu.
Pengembangan materi
pembelajaran dapat berupa content knowledge (isi pengetahuan) dan paedagogical
knowledge (dimensi pengetahuan). Kegiatan pengembangan materi pembelajaran dilakukan untuk menghasilkan ruang
lingkup materi pembelajaran. Ruang lingkup materi mata pelajaran disusun dengan tujuan untuk memberi pengalaman
kongkret dan abstrak kepada peserta didik.[9]
B. Prinsip Pengembangan Model Pembelajaran
1. Pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik, antara peserta didik
dan pendidik, dan antara peserta dan sumber belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif, agar
peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan dan keterampilannya untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Proses pembelajaran merupakan suatu
proses yang mengandung serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan
hingga penilaian.
2. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk
mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip
reaksi dan sistem pendukung (Joice&Wells). Sedangkan menurut
“Arends dalam Trianto”, mengatakan “model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas”.
3. Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi: (1) peserta didik
difasilitasi untuk mencari tahu, (2) peserta didik belajar dari berbagai sumber
belajar, (3) proses pembelajaraan menggunakan pendekatan ilmiah, (4)
pembelajaran berbasis kompetensi, (5) pembelajaran terpadu, (6) pembelajaran
yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi,
(7) pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif, (8) peningkatan keseimbangan,
kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills
dan soft-skills, (9)pembelajaran yang
mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar
sepanjang hayat, (10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan
memberiketeladanan (ing ngarso sung
tulodo), membangun kemauan (ingmadyo
mangun karso), dan mengembangkan kreativitas pesertadidik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani),
(11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat,
(12) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran,
(13) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik, dan (14) suasana belajar menyenangkan dan menantang.
4. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam
kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
5. Tujuan penggunaan model pembelajaran sebagai strategi bagaimana
pembelajaran yang dilaksanakan dapat membantu peserta didik mengembangkan
dirinya baik berupa informasi, gagasan, keterampilan nilai dan cara-cara
berpikir dalam meningkatkan kapasitas berpikir secara jernih, bijaksana dan
membangun keterampilan sosial serta komitmen (Joice & Wells).
6. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu:
a.
Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau
pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang masuk akal.
Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan mempertimbangkan
teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif dalam
menciptakan dan mengembangankannya.
b.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan yang jelas
tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan bagaimana siswa
belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah pembelajaran.
c.
Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkah laku
mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar selama
ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya.
d.
Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif serta
nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek penunjang apa
yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran.
(Trianto, 2010).
7.
Memilih atau menentukan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh karakteristik Kompetensi Dasar (KD), tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran, sifat dari materi yang
akan diajarkan, dantingkat kemampuan peserta didik. Di samping itu, setiap
model pembelajaran mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan peserta didikdengan bimbingan guru.[10]
JAWABAN SOAL
NO 8
Desain
pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk
membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan
peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta
didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media
untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi
dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya
pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari
pembelajaran ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah
atau benar-benar tersembunyi dan hanya berupa asumsi.
Desain
Pembelajaran menurut Istilah dapat didefinisikan:
1. Menurut Reigeluth Desain pembelajaran adalah
Proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan
agar timbul perubahan pengetahuan dan ketrampilan pada diri pemelajar ke arah
yang dikehendaki.
2. Menurut Briggs Desain pembelajaran adalah
Rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan
penilaian untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan.
3. Menurut Seels dan Richey Desain pembelajaran
adalah Proses untuk merinci kondisi untuk belajar, dengan tujuan makro untuk
menciptakan strategi dan produk, dan tujuan mikro untuk menghasilkan program
pelajaran atau modul.
Beberapa
model desain pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil
pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), diantaranya adalah: model classroom
meeting, cooperative learning, integrated learning, constructive learning,
inquiry learning, dan quantum learning.
1.
Model Classroom
Meeting.
Karakteristik
PAI salah satunya adalah untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki
kepribadian yang hangat, tegas dan santun. Model pertemuan tatap muka adalah
pola belajar mengajar yang dirancang untuk mengembangkan pemahaman diri
sendiri, dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok. Strategi
mengajar model ini mendorong siswa belajar secara aktif. Kelemahan model ini
terletak pada kedalaman dan keluasan pembahasan materi, karena lebih
berorientasi pada proses, sedangkan PAI di samping menekankan pada proses
tetapi juga menekankan pada penguasan materi, sehingga materi perlu dikaji
secara mendalam agar dapat dipahami dan dihayati serta diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari
2.
Model Cooperative
Learning.
Untuk
mengembangkan kemampuan bekerja sama dan memecahkan masalah dapat menggunakan
model cooperative learning. Model ini dikembangakan salah satunya oleh Robert
E. Slavin (Johnson, 1990). Model ini membagi siswa dalam kelompok-kelompok
diskusi, di mana satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, masing-masing
kelompok bertugas menyelesaikan/memecahkan suatu permasalahan yang dipilih.
3.
Model Integrated
Learning.
Hakikat
model pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang
memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari,
menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna
dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa
otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar
sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan
secara serempak dibahas.
4.
Model Constructivist
Learning.
Model
konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang
menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan
terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui
pengetahuan diri (self-regulation). Dan akhirnya proses belajar, pengetahuan
akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi
dengan lingkungannya.
5.
Model Inquiry
Learning.
6.
Model Quantum
Learning.
Quantum
Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar.
Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang
mempengaruhi kesuksesan siswa.
7. Model
ROPES. ( Review, Overview, Presentation, Exsercise, Summary)
JAWABAN SOAL
NO 9
Adapun
karakteristik mata pelajaran PAI itu dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.
PAI merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan
dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itulah
PAI merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam. Ditinjau
dari segi isinya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi salah satu
komponen, dan tidak dapat dipisahkan dari rumpun mata pelajaran yang bertujuan,
mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik.
2.
Tujuan PAI adalah terbentuknya peserta didik
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur
(berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok Agama Islam dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta memiliki pengetahuan yang
luas dan mendalam tentang Islam, sehingga memadai baik untuk kehidupan
masyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi.
3.
Pendidikan Agama Islam, sebagai sebuah program
pembelajaran, diarahkan pada (a) menjaga aqidah dan ketakqwaan peserta didik,
(b) menjadi landasan untuk rajin mempelajari ilmu-ilmu lain yang diajarkan di
madrasah, (c) mendorong peserta didik untuk kritis, kretif dan inovatif, (d)
menjadi landasan perilaku dalm kehidupan sehri-hari di masyarakat. PAI bukan
hanya mengajarkan pengetahuan tentang Agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial).
4.
Pembelajaran PAI tidak hanya menekankan
penguasaan kompetensi kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya.
5.
Isi mata pelajaran PAI didasarkan dan
dikembangkan dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam dua sumber pokok ajaran
Islam, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (dalil naqli). Di samping
itu materi PAI juga diperkaya dengan hasil-hasil istinbath atau ijtihad (dalil
aqli) para ulama sehingga ajaran-ajaran pokok yang bersifat umum lebih rinci
dan mendetil.
6.
Materi PAI dikembangkan dari tiga kerangka
dasar ajaran Islam, yaitu aqidah,syari'ah dan akhlak. Aqidah merupakan
penjabaran konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran konsep ihsan. Dari
ketiga konsep dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk
kajhian-kajian yang terkait dengan ilmu, teknologi, seni dan budaya.
7.
Out put pembelajaran PAI di sekolah adalah
terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia (budi pekerti luhur) yang
merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. pendidikan akhlak
adalah (budi pekerti) adalah jiwa
pendidikan dalam Islam, sehingga pencapaian akhlak mulia (karimah) adalah
tujuan sebenarnya dari pendidikan. Dalam hubungan ini, perlu ditegaskan bahwa
pelajaran PAI tidak identik dengan menafikan pendidikan jasmani dan pendidikan
akal. Keberadaan program pembelajaran selain PAI juga menjadi kebutuhan bagi
peserta didik yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, pencapaian akhlak
mulia justru mengalami kesulitan jika hanya dianggap menjadi tanggung jawab
mata pelajaran PAI. Dengan demikian, pencapaian akhlak mulia harus menjadi
tanggung jawab semua pihak termasuk mata pelajaran non PAI dan guru-guru yang mengajarkannya.
Ini berarti meskipun akhlak itu tampaknya hanya menjadi muatan mata pelajaran
PAI, mata pelajaran lain juga perlu mengandung muatan akhlak. Lebih dari itu,
semua guru harus memperhatikan akhlak peserta didik dan berupaya menanamkannya
dalam proses pembelajaran. Jadi, pencapaian akhlak mulia tidak cukup hanya
melalui mata pelajaran PAI.[11]
DAFTAR
PUSTAKA
Catatan penulis ketika mengikuti Diklat
Kurikulum 2013 pada tanggal 16 – 20 Juni 2016 di LPMP Banjarbaru
Catatan perkuliahan pada mata kuliah
Model Pembelajaran PAI di Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin bersama Dr.
Hj. Salamah, M.Pd. Jum’at 26 Februari 2016
Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006
Ismail SM. Strategi Pembelajaran Agama
Islam Berbasis PAIKEM. Semarang: LSIS 2008
Nur
Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam . Bandung: Pustaka Setia. 1999
Pidarta Made. Landasan Kependidikan.
Jakarta: Rineka Cipta. 1997
Rusman. Model-Model
Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2011
Syahidin. Menelusuri Metode Pendidikan
dalam Al-Qur’an. Bandung: Alfabeta. 2009
Trianto. Mendesain Model
Pembelajaran Inovativ-Progresif. Jakarta: Kencana. 2010
[1]Catatan
perkuliahan pada mata kuliah Model Pembelajaran PAI di Pascasarjana IAIN
Antasari Banjarmasin bersama Dr. Hj. Salamah, M.Pd. Jum’at 26 Februari 2016.
[4]Rusman. Model-Model Pembelajaran. (Jakarta:
PT. RajaGrafindo Persada. 2011). h. 78-89
[5]Hasbullah.
Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006).
h.43
[6]Pidarta
Made. Landasan Kependidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 1997). h. 23
[7]Ismail
SM. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. (Semarang: LSIS
2008. h. 5
[8]Syahidin.
Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an. (Bandung: Alfabeta. 2009).
h. 35
[9]Merupakan
catatan penulis ketika mengikuti Diklat Kurikulum 2013 pada tanggal 16 – 20
Juni 2016 di LPMP Banjarbaru
[10]Merupakan
catatan penulis ketika mengikuti Diklat Kurikulum 2013 pada tanggal 16 – 20
Juni 2016 di LPMP Banjarbaru
[11]Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan Islam
. (Bandung: Pustaka Setia. 1999). h. 58-59.