JAWABAN-JAWABAN SOAL FINAL TEST
MODEL PEMBELAJARAN PAI
Oleh :
WAHYUDIN NOOR : 1502521482
1.
Tujuan pembelajaran PAI adalah agar anak didik
memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan menjadi warga Negara yang
beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, produktif serta kreatif.
Untuk mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran PAI tersebut, kajian tentang model dan desain pembelajaran PAI
adalah salah satu yang sangat penting untuk memberikan visi, cara, dan inovasi
dalam pengembangan proses pembelajaran PAI, karena dengan mengkaji model dan
desain pembelajaran PAI berarti juga meningkatkan kompetensi guru dalam
pengembangan proses pembelajaran, yang mana guru adalah merupakan ujung tombak
yang secara langsung berada dalam proses pembelajaran, jadi sukses atau
tidaknya sebuah proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran, oleh karena itu mempelajari model dan desain pembelajaran
adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi guru, dan ini sangat
menentukan tercapainya sebuah tujuan pembelajaran, selain juga faktor
karakteristik kurikulum, sarana dan fasilitas yang tersedia, serta
kebijakan-kebijakan yang mendukung terhadap perkembangan pembelajaran.
Dalam konteks meningkatkan pembelajaran,
menurut Sukmadinata (2004:209), bahwa model merupakan suatu desain yang menggambarkan suatu proses, rincian dan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik berinteraksi, sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri peserta
didik. Sedangkan Joyce & Weil (1980:1), menjelaskan bahwa model
pembelajaran adalah suatu rencana atau
pola yang
dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau yang
lain.
Model pembelajaran disusun
berdasarkan prinsip-prinsip
pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis
sistem, atau teori-teori
lain yang mendukung
untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model pembelajaran juga
mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk didalamnya tujuan-tujuan
pengajaran, tahap-tahap
dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas
(Arend, 1997:7).
Jadi dapat kita pahami
bahwa; Pemilihan model pembelajaran yang
tepat akan menentukan tingkat keberhasilan
belajar peserta didik, namun tidak setiap model
pembelajaran dapat diterapkan begitu
saja harus mempertimbangkan factor-faktor lainnya. Karena sebaik
apapun
sebuah model
pembelajaran tidak akan berjalan efektif apabila guru tidak mampu menguasai model tersebut. Oleh karena itu guru hendaknya menguasai
model pembelajaran yang akan digunakan, baik secara teoritis maupun terampil dalam melaksanakannya. Demikian
juga ketersediaan sumber
dan
sarana belajar,
buku-buku referensi, media pembelajaran yang tersedia, dan sarana belajar yang
lain, seperti ruang
kelas dan lain-lainnya harus
disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik,
sehingga model pembelajaran
dapat dilaksanakan dengan
baik.
2.
Rumpun model pembelajaran menurut para ahli ada
4 sebagai berikut;
Bruce Joyce, Marsha Weil, dan Emily Calhoun (2009: 31) dalam bukunya Models of Teaching mengklasifikasikan
Model-model pembelajaran menjadi empat kelompok besar, yakni: (1) social interaction, (2),
information
processing, (3) personal source,
(4). behavior.
a. Model interaksi sosial
Model ini menekankan pada usaha
mengembangkan kemampuan peserta didik agar memiliki kecakapan untuk berhubungan
dengan orang lain sebagai usaha membangun sikap peserta didik yang demokratis
dengan menghargai setiap perbedaan dalam realitas sosial. Model ini mempunyai
rumpun sebagai berikut:
Model-model pembelajaran
interaksi sosial
|
Model-model
|
Tokoh
|
Misi/tujuan
|
|
Kerja kelompok.
(investigation group)
|
Herbert Thelen
John Dewey
|
Mengembangkan keterampilan-keterampilan
untuk berperan dalam
kelompok yang
menekankan keterampilan komunikasi
inter- personal dan keterampilan inkuari ilmiah. Aspek-aspek pengembangan pribadi merupakan hal yang penting dari metode ini.
|
|
Inquiri social
|
Byron Massialas
Benjamin Cox
|
Pemecahan masalah
sosial, utamanya melalui
inkuari ilmiah dan
penalaran logis.
|
|
Jurisprudential
|
National Training
Laboratory Bethel, Maine Donald Oliver James P.Shaver
|
Pengembangan
keterampilan interpersonal
dan kerja kelompok
untuk mencapai, kesadaran dan fleksibilitas
pribadi. Didesain utama untuk melatih kemampuan
mengolah informasi dan
menyelesaikan isu kemasyarakatan dengan kerangka
acuan atau cara berpikir Jurisprudensial (ilmu tentang hukum-hukum manusia).
|
|
Role playing
(bermain peran)
|
Fannie Shaftel
George Shafted
|
Didisain untuk mengajak siswa dalam
menyelidiki
nilai-nilai pribadi
dan sosial melalui tingkah laku mereka sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber
dari penyelidikan itu.
|
|
Simulasi
sosial
|
Sarene Boocock,
Harold Guetzkow
|
Didisain untuk membantu pengalaman siswa
melalui proses
sosial dan realitas dan untuk menilai reaksi mereka terhadap
proses-proses sosial tersebut, juga
untuk memperoleh konsep-konsep & keterampilan-keterampilan pengambilan
keputusan.
|
(Bruce Joyce, Marsha Weil,
dan Emily Calhoun, 2009)
b. Model pemrosesan informasi
Model ini menjelaskan bagaimana cara
individu memberi respon yang datang dari lingkungannya dengan cara
mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana
pemecahan masalah serta penggunaan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model
ini mempunyai rumpun sebagai berikut:
Rumpun
Model pemrosesan Informasi
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
Model berpikir induktif
|
Hilda Taba
|
Didesain utama untuk mengembangkan proses mental dan alasan akademik atau
membangun teori, tetapi kapasitas ini bermanfaat untuk pribadi dan tujuan
sosial dengan baik.
|
|
Model latihan Inquiri
|
Ricard Suchman
|
Didesain utama untuk mengembangkan proses mental dan alasan akademik atau
membangun teori, tetapi kapasitas ini bermanfaat untuk pribadi dan tujuan
sosial dengan baik.
|
|
Inquiri ilmiah
|
Joseph J.Schwab
|
Didesain untuk mengajar penelitian sistem disiplin, tetapi juga
diharapkan dapat memperoleh dampak domain lainnya (seperti metode sosiologis
yang dapat menciptakan pemahaman sosial dan pemecahan masalah sosial).
|
|
Penemuan konsep
|
Jerome Bunner
|
Didesain terutama untuk mengembangkan alasan induktif, tetapi juga untuk
pengembangan konsep dan analisis.
|
|
Pertumbuhan kognitif
|
Jean Piaget Irving Sigel
|
Didesain untuk menciptakan pengembangan intelektual umum, khususnya
alasan logis, tetapi dapat diaplikasikan untuk pengembangan sosial dan moral
dengan baik.
|
|
Model penata lanjutan
|
David Ausubel
|
Didesain untuk menciptakan efisiensi kemampuan dalam informasi-pemrosesan
untuk mendapatkan dan menghubungkan “bodie of knowledge”
|
|
Memori
|
Harry LorayneJerry Lucas
|
Didesain untuk menciptakan kemampuan memori
|
c. Model Personal
Model ini merupakan rumpun model
pengajaran yang menekankan pada proses mengembangkan kepribadian individu
peserta didik dengan memperhatikan kehidupan emosional. Model ini banyak
memusatkan pada usaha individu dalam menciptakan hubungan yang baik dengan
lingkungannya. Model ini mempunyai rumpun sebagai berikut:
Rumpun
Model Personal
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
Pengerjaan non-direktif
|
Carl Rogers
|
Penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam
arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian dan konsep diri.
|
|
Latihan kesadaran
|
William Schutz Fritz Perls
|
Meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran
diri. Banyak menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemahaman antar
pribadi.
|
|
Sinektik
|
William Gordon
|
Perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
|
|
Sistem-sistem konseptual
|
David Hunt
|
Dirancang untuk meningkatkan kekomplekan dan keluwesan pribadi.
|
|
Pertemuan kelas
|
William Glasser
|
Perkembangan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan
kelompok sosial.
|
d. Model perilaku
Model ini dibangun dengan berdasar pada
teori perubahan perilaku. Melalui teori ini peserta didik dibimbing untuk dapat
memecahkan masalah belajar melalui penguraian perilaku ke dalam jumlah kecil
dan berurutan. Model ini mempunyai rumpun sebagai berikut: Rumpun Model
Perilaku
|
Model
|
Tokoh
|
Tujuan
|
|
Manajemen kontrol diri
|
B.F. Skinner
|
Fakta-fakta, konsep, ketrampilan dan perilaku/ketrampilan sosial.
|
|
Relaksasi santai dan pengurangan ketegangan
|
Rimm & Masters Wolpe
|
Tujuan-tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan). Mengalihkan
kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.
|
|
Latihan asertif desensitasi latihan langsung
|
Wolpe, Lazarus, Selter Wolpe
|
Ekspresi perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi sosial.
Pola-pola perilaku, ketrampilan.
|
3.
Landasan filosofis, psikologis dan
sosiologis berimplikasi terhadap pengembangan teori pendidikan yang selanjutnya
juga berimplikasi pada teori belajar dan model pembelajaran, berikut
penjelasannya;
a.
Landasan Filosofis
Landasan Filosofis yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik
tolak dalam pengembangan
teori pendidikan hususnya pengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut
berimplikasi pada permusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi
pendidikan, penentuan
strategi,
serta
pada peranan peserta
didik
dan
peranan pendidik.
Dalam bidang pendidikan, filsafat mengkaji persoalan yang berhubungan
dengan apa yang ingin diketahui, bagaimana cara mendapatkannya, dan apa manfaatnya
bagi manusia. Dengan demikian, filsafat
pendidikan merupakan pola pikir
filsafat dalam menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan perencanaan
dan implementasi pendidikan
(Abduhak, 2007)
Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan
dalam pendidikan, terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan.
Filsafat akan menentukan arah ke mana peserta didik akan dibawa. Untuk itu
harus ada kejelasan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan
eksistensinya. Filsafat
atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat
tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat mempengaruhi
tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Sedangkan tujuan pendidikan sendiri pada
dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif mengenai apa yang seharusnya
dicapai.
Tujuan pendidikan memuat pernyataan-pernyataan
mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik
selaras dengan sistem nilai dan falsafah yang dianutnya. Dengan demikian,
sistem nilai atau filsafat yang dianut oleh suatu komunitas akan memiliki keterkaitan yang sangat
erat dengan rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkannya. Dengan kata lain,
filsafat suatu negara
tidak bisa dipungkiri
akan mempengaruhi tujuan
pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu, tujuan pendidikan di
suatu negara akan
berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sebagai
implikasi dari adanya perbedaan filsafat yang dianutnya.
Landasan
filsafat tertentu beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika, epistemologi,
logika dan aksiologi berimplikasi terhadap
konsep-konsep pendidikan
yang meliputi rumusan tujuan
pendidikan,
isi pendidikan, metode pendidikan, peranan pendidik dan peserta didik. Konsep metafisika berimplikasi terhadap perumusan tujuan pendidikan terutama tujuan umum pendidikan
yang
rumusannya ideal dan umum; konsep hakikat manusia berimplikasi khususnya terhadap peranan pendidik dan
peserta didik; konsep tentang hakikat pengetahuan berimplikasi terhadap isi dan metode pendidikan; dan konsep aksiologi
berimplikasi terutama
terhadap perumusan tujuan umum pendidikan.
Menurut Redja Mudyahardjo (1989)
terdapat tiga sistem
pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam
pemikiran pendidikan pada
umumnya,
dan pendidikan
di
Indonesia pada khususnya, yaitu: Idealisme,
Realisme, dan Pragmatisme.
Contoh modelnya : Model
Pembelajaran Pemerosesan Informasi (information processing).
b.
Landasan Psikologis
Landasan psikologis adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam
mengembangkan
kurikulum. Ada dua jenis
psikologi yang harus menjadi acuan
yaitu psikologi perkembangan dan
psikologi belajar. Psikologi perkembangan mempelajari proses dan karaktersitik
perkembangan peserta
didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar
mempelajari
tingkah laku peserta
didik dalam situasi belajar.
Pendidikan senantiasa berkaitan
dengan perilaku manusia.
Dalam setiap
proses pendidikan
terjadi
interaksi antara
peserta
didik
dengan lingkungannya, baik lingkungan yang bersifat fisik
maupun lingkungan sosial.
Melalui pendidikan diharapkan
adanya perubahan perilaku peserta didik
menuju kedewasaan, baik dewasa dari segi fisik, mental, emosional, moral,
intelektual, maupun sosial. Harus diingat
bahwa walaupun pendidikan dan pembelajaran adalah upaya untuk
mengubah perilaku manusia, akan tetapi tidak
semua perubahan
perilaku manusia/peserta didik mutlak sebagai akibat dari intervensi program pendidikan.
Ross Vasta, dkk. (1992)
mengemukakan bahwa psikologi perkembangan
adalah "Cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan
kemampuan sepanjang proses perkembangan individu
dari mulai masa konsepsi sampai mati". Pemahaman tentang peserta
didik
sangat penting dalam
pengembangan kurikulum. Melalui kajian tentang perkembangan peserta
didik, diharapkan
upaya pendidikan
yang dilakukan sesuai dengan karakteristik peserta
didik,
baik penyesuaian dari segi kemampuan yang harus dicapai, materi atau bahan yang harus
disampaikan, proses penyampaian atau pembelajarannya, dan penyesuaian dari segi evaluasi
pembelajaran.
Contoh:
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang
dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus- responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu menggunakan metode
pelatihan atau pembiasaan semata.
Belajar merupakan
akibat adanya
interaksi antara
stimulus dan respons
(Slavin, 2000). Maka dari landasan psikologis diatas maka ada yang namanya Model
Pembelajaran Behavior.
c.
Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis adalah asumsi-asumsi yang bersumber
dari
sosial
budaya, yang dijadikan titik tolak
dalam
mengembangkan kurikulum. Karakterstik sosial budaya
di
mana peserta didik hidup berimplikasi pada program
pendidikan yang akan dikembangkan.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
paling mulia, manusia memiliki akal
pikiran atau rasio, sehingga
ia mampu mengembangkan dirinya
sebagai manusia yang
berbudaya. Kemampuan mengembangkan
dirinya itu
dilakukan melalui interaksi
dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial. Sebagai
makhluk sosial, manusia terikat oleh suatu sistem sosial dengan segala komponennya,
seperti
pranata sosial, tatanan hidup kemasyarakatan, dan
sebagainya.
Terkait dengan landasan sosiologis ini, garapan pendidikan secara
nyata merupakan proses
sosialisasi antarwarga melalui interaksi insani menuju masyarakat yang berbudaya. Dalam konteks inilah
peserta didik dihadapkan dengan budaya
manusia. Ia dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budaya yang dianutnya, serta
dipupuk dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan dirinya agar menjadi sosok
manusia yang berbudaya sesuai dengan acuan format budaya
bangsa yang dianutnya.
Program pendidikan
(pembelajaran) yang dirancang untuk
membina kompetensi peserta didik, tidak bisa
lepas dari aspek sosial
budaya masyarakatnya.
Peserta didik
tidak
hidup sendiri dalam ruangan yang terisolasi, tetapi mereka bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat luas di lingkungannya.
Contoh: Model Pembelajaran Interaksi Sosial, dan
model Pembelajaran Kooperatif.
4.
Model yang tepat dalam pembelajaran PAI pada
madrasah di Indonesia.
Pemerintah menjadikan pendidikan
karakter sebagai salah
satu program prioritas
pembangunan
nasional. Semangat
itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
17
Tahun 2007), di mana
pendidikan karakter ditempatkan sebagai misi pertama dari delapan misi guna
mewujudkan visi pembangunan nasional,
yaitu; terwujudnya
karakter bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak
mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang
dicirikan dengan
watak
dan
prilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam,
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotongroyong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks.
Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang dapat
membedaknnya dengan mata pelajaran lainnya, Karakteristik mata pelajaran PAI sebagaimana dijelaskan dalam buku pedoman khusus
PAI
(Depdiknas, 2002) adalah sebagai berikut: (1) PAI
merupakan mata pelajaran yang
dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok agama Islam, (2) PAI
Bertujuan membentuk peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada
Allah SWT, serta memiliki akhlak
mulia, (3)PAI mencakup tiga kerangka dasar, yaitu aqidah,
syari`ah, dan akhlak.
Pada jenjang pendidikan
dasar
dan menengah
(BSNP,
2006), dijelaskan bahwa tujuan
PAI adalah untuk:
(1) Menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan,
pembiasaan, serta
pengalaman peserta didik
tentang
agama Islam, sehingga menjadi
manusia
muslim yang terus berkembang
keimanan dan ketakwaanya kepada Allah SWT;
(2) Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu
manusia yang berpengetahuan, rajin
beribadah,
cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan
sosial
serta mengembangkan
budaya agama dalam komunitas
sekolah.
Dari keterangan 3
komponen diatas maka model yang tepat yang bisa ditawarkan dalam pembelajaran PAI
pada madrasah di Indonesia, seperti yang ditawarkan
oleh
Kemendiknas (2010: 24-28), yaitu:
a)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning)
Pembelajaran model ini dilakukan dengan menghubungkan tema atau materi yang
dikaji dengan konteks kehidupan
sehari-hari, terutama kehidupan peserta didik.
SK/KD yang dikaji hendaknya dikaitkan dengan
permasalahan yang
aktual yang benar-benar
terjadi dan
dialami peserta didik.
Dengan
cara
ini, peserta didik akan langsung mengalami apa yang dipelajari sehingga peserta didik memiliki motivasi
besar untuk memahaminya dan pada akhirnya terdorong
untuk mempraktikkannya. Sebagai contoh ketika mengajarkan aqidah dengan tema
iman kepada kitab-kitab Allah, peserta didik diajak langsung melihat
bukti adanya kitab-kitab Allah tersebut, misalnya al-Quran yang merupakan salah satu kitab Allah
dan
menjadi kitab suci umat Islam. Peserta
didik kemudian diajak
untuk melihat al-Quran
lalu
diajak berdiskusi tentang al-Quran dan peserta didik
dimotivasi agar
bisa membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan al- Quran
sedikit demi sedikit.
Contoh lain
misalnya
ketika
mengajarkan
fikih
tentang
thaharah (bersuci)
peserta didik diajak langsung praktik tentang
bagaimana membersihkan kotoran (najis) dan juga praktik wudlu dan mandi untuk menghilangkan hadas. Selanjutnya anak diajak untuk selalu berpola
hidup sehat dan bersih dengan menjelaskan manfaat dan hikmah kebersihan dan kesehatan serta menyebutkan
contoh-contoh akibat baik dari berpola
sehat dan bersih dan akibat buruk
mengabaikan pola sehat dan bersih. Dengan model pembelajaran ini cukup
mudah bagi guru
memotivasi peserta
didik untuk bersikap dan berperilaku yang
menunjukkan nilai-nilai
karakter sesuai dengan tema
atau materi yang dikaji.
b)
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
menekankan kerjasama di
antara peserta didik di kelas. Banyak model pembelajaran yang bisa dilakukan
dalam rangka
pembelajaran kooperatif,
misalnya model diskusi kelompok, diskusi kelas, Team Game
Tournament (TGT), model Jigsaw, Learning
Together (belajar bersama), dan lain sebagainya. Sebagai contoh,
untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw. peserta
didik melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang sudah ditentukan,
sehingga dalam waktu yang
singkat bisa diperoleh informasi yang lebih
komprehensif tentang
sejarah Nabi Muhammad
saw.
Melalui model
ini
guru
bisa mengamati
bagaimana
peserta
didik
berdiskusi sambil memberikan
penilaian proses
terutama dalam penerapan nilai-nilai karakter, misalnya kecerdasan, keingintahuan, kesantunan, kedemokratisan, dan lain sebagainya. Peserta didik juga diminta untuk meneladani karakter-karakter mulia yang
ada
pada diri Nabi
Muhammad saw. seperti
kejujuran, kecerdasan,
kesabaran,
kesantunan, kepedulian,
dan ketangguhan.
c)
Pembelajaran Inquiri (Inquiry Learning)
Pembelajaran Inquiri adalah satu model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mampu menemukan pengetahuan atau konsep-konsep
yang ada dalam mata pelajaran tertentu secara mandiri melalui berbagai fenomena yang
dipelajari. Melalui model ini peserta didik dikondisikan agar memiliki nilai-nilai kerja
keras, meningkat rasa keingintahuan dan kecerdasannya, serta
kecintaannya terhadap ilmu. Tidak semua SK/KD dalam mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam bisa
dicapai dengan model pembelajaran
ini. Di antara contoh kompetensi yang
bisa dicapai melalui
model ini adalah kompetensi yang terkait dengan aqidah, muamalah, dan sejarah peradaban Islam. Cukup banyak materi atau kompetensi dalam tiga bidang
itu yang bisa dikaji
melalui
model
pembelajaran ini.
d)
Pembelajaran Model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
Prinsip-prinsip yang
menonjol dalam pembelajaran
model PAKEM di antaranya adalah peserta didik harus aktif dalam pembelajaran ini dan pembelajaran harus menyenangkan peserta didik. Pembelajaran harus dikemas agar
peserta didik benar-benar
aktif
dan kreatif, misalnya dengan
menkondisikan
peserta didik aktif belajar dan melakukan sesuatu. Guru tidak lagi ceramah yang membuat
peserta
didik hanya
pasif
mendengarkan ceramahnya. Ceramah diperlukan bila perlu. Untuk
membuat peserta didik senang dalam belajar maka guru harus
memfasilitasi peserta didik dengan berbagai media atau alat yang mendukung
pembelajaran, misalnya dengan media
komputer (laptop), LCD, atau media lain yang
memungkinkan peserta didik untuk senang
dalam belajar. Yang
juga harus
diperhatikan bahwa pembelajaran harus tetap efektif, yakni mencapai tujuan yang
direncanakan. Sebagai
contoh, ketika membelajarkan al-Quran, peserta didik
dikondisikan untuk
belajar
langsung
melafalkan ayat-ayat al-Quran
dibantu dengan media yang
mendukung. Guru terus memantau peserta didik
dalam proses pembelajaran
agar efektif.
5.
Persamaan dan perbedaan model koopertaif,
integrated, berbasis masalah dan inquiri.
a)
Perbedaan Inquiri dan Berbasis Masalah
Perbedaan 1
Inquiri : Pada model ini materi
ditemukan sendiri oleh siswa. Guru atau pengajar tidak membawa atau memiliki
materi apapun sebagai pengacunya. Guru sudah menyediakan beberapa topik masalah
untuk diselesaikan, dan guru menuntun siswa dalam penyelesaian masalah tersebut.
Materi timbul saat studi lapangan.
Berbasis Masalah : Guru sudah
menyediakan materi untuk dibahas. Namun guru tidak secara langsung memberikan
materi tersebut. Guru memberi ruang bagi siswa untuk mencari masalah yang
berkaitan dengan pokok pembahasan, kemudian guru menuntun siswa agar mencari
penyelesaian masalah sesuai dengan bahan yang guru miliki.
Perbedaan 2
Inquiri : Mementingkan mencari
jawaban atas permasalahan sampai tingkat yakin. Dalam mencari jawaban, siswa
menganalisisnya dengan fakta-fakta yang ada. Titk tekannya lebih pada objek
hakikat yang di cari. Guru tidak memiliki bahan untuk dianalisis.
Berbasis Masalah : Berpikir
secara logis, tepat, tidak sampai pada hakikat dari objek yang dicari. Karena
lebih ditekankan pada penggunaanya. Tidak mencari hakikat. Mencari sebuah objek
hanya sebatas mencari masalah yang ada. Jika sudah menemukan jawabannya, maka
analisis sudah berhenti sampai disitu. Tidak mencari hakikat lain yang
berhubungan dengan objek masalah. Masalah yang ada sudah diarahkan oleh guru.
Perbedaan 3
Inquiri : Pemecahan masalah
sampai ke kualitas Objek. Tetapi belum tentu menyelesaikan masalah. Strategi
Inquiri lebih memakan waktu yang lama.
Berbasis Masalah : Masalah harus
terselesaikan sesuai dengan objek.
b)
Persamaan Inquiri dan Berbasis Masalah.
Kedua
model ini bertumpu pada penyelesaian masalah, dan siswa sebagai subjek belajar,
guru hanya sebagai pasilitator bukan sumber satu-satunya.
a.
Perbedaan model koopertaif dan integrated.
Kooperatif
: digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, dan membantu guru
mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. siswa bekerja bersama untuk
menyelesaikan tugas. hasil akhir kerja kelompok dipersentasikan.
Integrated : Menurut Cohen dan
Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga variasi; kurikulum terpadu
(integrated curriculum), adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi
mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang
bermakna. Hari terpadu (integrated day), berupa perancangan kegiatan siswa dari
sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai
kegiatan sesuai dengan minat mereka. dan pembelajaran terpadu (integrated
learning). menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih
terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu
sebagai titik pusatnya.
Menurut
Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu adalah suatu proses pembelajaran
dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi.
b.
Persamaan model koopertaif dan integrated
Kedua model ini Perpusat pada anak (student
centered), Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran ini.
Keterampilan sosial ini antara lain adalah : kerja sama, komunikasi, dan mau
mendengarkan pendapat orang lain.
6. Bagaimana
Model desain pembelajaran yang tepat untuk pelajaran PAI di sekolah ! berikut
keterangannya;
Desain pembelajaran yang baik menurut
gagne dan briggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang di sebut dengan
anchor point,[1]
1) Tujuan
pengajaran
2) Materi
pengajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan
pengalaman belajar
3) Evaluasi
keberhasilan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kenneth D
Moore; bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi beberapa komponen
di antaranya adalah sebagai berikut;
1) Topik
bahasan
2) Tujuan
pembelajaran (kompetensi dan indicator kompetensi )
3) Materi
pelajaran
4) Kegiatan
pembelajaran
5) Alat
atau media yang dibutuhkan
6) Evaluasi
hasil belajar
Dari beberapa pandangan tersebut diatas
maka desain pembelajaran PAI yang baik adalah:
1) Menentukan
tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama
Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlaq mulia dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara.[2]
Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi pengajaran
tertentu .
2) Menentukan
materi pengajaran/bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam
pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan, syarai’ah,
Ibadah, muamalah, akhlaq dan tarekh atau sejarah yang lebih menekankan pada
perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3) Menentukan
pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa
menyesuaikan dengan keadaan peserta didik, di dalam pendidikan agama Islam metode
yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan
diskusi.
4) Media
pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta
ajar/murid untuk menerima pelajaran. Dalam hal ini bisa mengunakan media
bacaaan, tip recorde, danlain-lain
5) Evaluasi
keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
menerima pelajaran yang telah di berikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
7.
Kriteria penetapan isi pembelajaran dan prinsip
dalam memilih model pembelajaran.
a.
Kriteria penetapan isi pembelajaran
Dalam hal
ini penulis menggunakan teori dari Depdiknas,
bahwa
standar
penilaian
buku
pelajaran,
dari
aspek isi atau materi harus memperhatikan empat aspek, yaitu relevansi, adequasi, keakuratan dan proporsionalitas.[3]
Pendapat yang sama
dikemukakan Maman Suryana, beliau menegaskan, dalam hal
isi atau materi pelajaran ada 4
hal yang perlu diperhatikan: kesesuian (relevansi),
ketercukupan (adequasi), ketepatan (akurasi) dan keberimbangan (proporsionalitas).
Hal ini
diperkuat oleh pendapat Mungin Eddy Wibowo,
Dalam aspek isi materi pelajaran
yang disajikan harus memperhatikan:
1) relevansi dalam
arti buku pelajaran harus relevan dengan kurikulum yang berlaku, kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan pada tingkat tertentu
dan relevan dengan tingkat perkembangan
dan karakteristik siswa.
2) kecukupan
mengandung arti bahwa muatan materi harus memadai dalam
rangka mencapai kompetensi.
3) keakuratan
dimaksudkan bahwa isi materi yang disajikan harus benar-benar secara keilmuan,
mutakhir, bermanfaat
bagi kahidupan, pengemasan sesuai dengan pengetahuan.
4) proporsionalitas dimaksudkan bahwa uraian materinya
memenuhi keseimbangan
kelengkapan, keseimbangan kedalaman, dan seimbang antara
materi pokok dengan materi pendukungnya.
b.
Prinsip dalam memilih model pembelajaran
1)
Prinsip
Umum
Prinsip Relevansi, Prinsip
fleksibilitas, Prinsip kontinuitas, Prinsip efisiensi, Prinsip efektifitas
2) Prinsip Khusus
Sukmadinata
(2004:151-154) dan
Miller & Seller
(1985:227) mengemukakan
empat faktor yang
harus diperhatikan guru dalam memilih model
pembelajaran, yaitu;
a)
Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menjadi faktor yang sangat penting, karena semua aspek pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran,
baik tujuan dalam
ranah kognitif, afektif, maupun
psikomotor.
b)
Karakteristik mata pelajaran
Karakteristik mata pelajaran dapat dilihat dari
jenis materi. Materi yag berupa fakta akan berbeda pembahasannya dengan materi yang
berupa konsep atau prinsip, demikian juga akan berbeda pula pada materi yang memerlukan
latihan keterampilan
tertentu.
c)
Kemampuan peserta didik
/ Karakteristik peserta didik
Karakteristik peserta didik
dapat dilihat
dari kemampuan peserta didik sesuai usia perkembangannya, kebutuhan,
motivasi, dan
keunikan gaya belajar
masing-masing
peserta
didik
d)
Kemampuan pendidik
/ Kemampuan guru
model harus
memperhatikan juga faktor
kemampuan guru, sebaik
apapun
sebuah model
pembelajaran tidak akan berjalan efektif apabila guru tidak mampu menguasai model tersebut.
e)
Ketersediaan sumber
belajar dan sarana belajar
ketersediaan sumber
dan
sarana belajar,
buku-buku referensi, media pembelajaran yang tersedia, dan sarana belajar yang
lain, seperti ruang
kelas dan lain-lainnya harus
disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik,
sehingga model pembelajaran
dapat dilaksanakan dengan
baik.
8.
Bagaiamana Desain pembelajaran yang bagus untuk
madrasah dan sekolah berdasarkan teori pendidikan dan pembelajaran dan
pandangan islam !, berikut penjelasannya;
1)
Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Pembelajaran
Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan
pembelajaran yang bermedia teknologi
dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap
mereka terhadap belajar, dan
evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk
meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar
yang berpusat pada pelajar (student oriented). Terdapat beberapa teori belajar
yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori
behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme.
a)
Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai
„kotak hitam” dalam merespon rangsangan
yang dapat diobsevasi
secara kuantitatif, sepenuhnya
mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini
memandang tingkah laku yang dapat
diobservasi dan diukur sebagai
indikator belajar.
b)
Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi
tipe-tipe pembelajar, yaitu:
1) Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai
contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan
teman-temannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu; 2) Pembelajar
tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan
tindakan; 3) Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan
sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan
teori dan melakukan analisis sistematis. 4) Pembelajar tipe eksperimentasi
aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok
diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman
untuk memperoleh umpan balik dan informasi.
c)
Teori Konstruktivisme
Penekanan
pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai
yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi
informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika
informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang
mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa
pembelajar pasti dapat menerapkan
informasi tersebut secara luas. Belajar
adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan
pengetahuan.
d)
Pandangan islam
Pendidikan Agama Islam (PAI)
pada
dasarnya memiliki tujuan yang selaras dengan tujuan hidup seorang muslim, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi sebagai
hamba Allah yang bertakwa dan dapat mencapai kehidupan yang
bahagia di dunia dan
akhirat. Sebagaimana
dijelaskan dalam al-Qur`an, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
kecuali untuk mengabdi
kepada-Ku” (QS.
AL-Dzariat:56).
Dalam konteks sosial-masyarakat, bangsa, dan negara- maka pribadi yang bertakwa ini menjadi
rahmatan
lil `alamin, baik dalam skala kecil maupun besar. Tujuan hidup manusia dalam Islam dapat
disebut juga sebagai tujuan akhir pendidikan Islam. Meskipun demikian disamping tujuan akhir
yang lebih
umum, terdapat
tujuan
khusus
yang sifatnya lebih praktis yang
berupa tahap-tahap penguasaan anak didik terhadap
bimbingan yang
diberikan dalam berbagai aspeknya; pikiran, perasaan,
kemauan,
intuisi, keterampilan (kognitif, afektif,
dan
psikomotor). Dari tahapan-tahapan ini
kemudian dapat
dicapai tujuan-tujuan yang lebih terperinci lengkap dengan materi, metode, dan sistem evaluasi. Inilah yang
kemudian dinamakan dengan kurikulum, yang
selanjutnya diperinci
lagi dalam bentuk silabus
dari berbagai
materi yang akan diberikan
(Azra, 1999:8-9).
Desain pembelajaran yang
baik menurut gagne dan briggs (1974) harus ada tiga komponen,[4]
1) Tujuan
pengajaran
2) Materi
pengajaran, pendekatan, metode, media pengajaran, dan pengalaman belajar
3) Evaluasi
keberhasilan.
Menurut Kenneth D Moore; meliputi
beberapa komponen di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Topik
bahasan
2) Tujuan
pembelajaran (kompetensi dan indicator kompetensi )
3) Materi
pelajran
4) Kegiatan
pembelajaran
5) Alat
atau media yang dibutuhkan
6) Evaluasi
hasil belajar
Dari beberapa pandangan tersebut diatas
maka desain pembelajaran PAI yang baik untuk madrasah dan sekolah adalah:
1) Menentukan
tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama
Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara.[5]
Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi pengajaran
tertentu .
2) Menentukan
materi pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam
pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan,
syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih
menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3) Menentukan
pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa
menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar., di dalam pendidikan agama Islam
metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya
jawab dan diskusi.
4) Media
pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta
ajar/murid untuk menerima pelajaran.
5) Evaluasi
keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
menerima pelajaran yang telah diberikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
9.
Karakteristik tujuan pembelajaran PAI pada aspek
akidah, akhlak, fiqih, dan sejarah masing-masing berebeda, tentu pertimbangan
model yang dipakaipun berebeda, berikut penjelasannya;
Para ahli dalam bidang
perencanaan merumuskan desain dengan definisi, Desain adalah salah satu aspek
dari proses pengembangan yang terdiri dari enam fase,[6] Yaitu
sebagai berikut: Riset (analisis), Desain (sintesisi), Produksi (formasi), Distribusi
(pemyebaran), Utilisasi (kinerja), Eliminasi (penghentian).
Teori pembelajaran :
a)
Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai
„kotak hitam” dalam merespon rangsangan
yang dapat diobsevasi
secara kuantitatif, sepenuhnya
mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini
memandang tingkah laku yang dapat
diobservasi dan diukur sebagai
indikator belajar.
b)
Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi
tipe-tipe pembelajar, yaitu:
1) Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai
contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan
teman-temannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu; 2) Pembelajar
tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan
tindakan; 3) Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan
sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan
teori dan melakukan analisis sistematis. 4) Pembelajar tipe eksperimentasi
aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok
diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman
untuk memperoleh umpan balik dan informasi.
c)
Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis
adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual.
Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi
harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus
diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar
multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti
dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh
dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan.
Desain pembelajaran yang
baik menurut gagne dan briggs (1974) harus ada tiga komponen,[7] Kenneth
D Moore menambahkan 2 lagi;
Dari beberapa pandangan tersebut maka
desain pembelajaran PAI yang baik untuk madrasah dan sekolah adalah:
1) Menentukan
tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama
Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt
serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan
berbangsa dan bernegara.[8]
Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi pengajaran
tertentu .
2) Menentukan
materi pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam
pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan,
syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih
menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3) Menentukan
pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa
menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar., di dalam pendidikan agama Islam
metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya
jawab dan diskusi.
4) Media
pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta ajar/murid
untuk menerima pelajaran.
5) Evaluasi
keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
menerima pelajaran yang telah diberikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
Contoh
model yang dipakai:
a)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning)
Sebagai contoh ketika
mengajarkan aqidah
dengan tema
iman kepada kitab-kitab Allah, peserta didik diajak langsung melihat
bukti adanya kitab-kitab Allah tersebut, misalnya al-Quran yang merupakan salah satu kitab Allah
dan
menjadi kitab suci umat Islam. Peserta
didik kemudian diajak
untuk melihat al-Quran
lalu
diajak berdiskusi tentang al-Quran dan peserta didik
dimotivasi agar
bisa membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan al- Quran
sedikit demi sedikit.
Contoh lain
misalnya
ketika
mengajarkan
fikih
tentang
thaharah (bersuci)
peserta didik diajak langsung praktik tentang
bagaimana membersihkan kotoran (najis) dan juga praktik wudlu dan mandi untuk menghilangkan hadas. Selanjutnya anak diajak untuk selalu berpola
hidup sehat dan bersih dengan menjelaskan manfaat dan hikmah kebersihan dan kesehatan serta menyebutkan
contoh-contoh akibat baik dari berpola
sehat dan bersih dan akibat buruk
mengabaikan pola sehat dan bersih. Dengan model pembelajaran ini cukup
mudah bagi guru
memotivasi peserta
didik untuk bersikap dan berperilaku yang
menunjukkan nilai-nilai
karakter sesuai dengan tema
atau materi yang dikaji.
b)
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Sebagai contoh,
untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw. peserta
didik melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang sudah ditentukan,
sehingga dalam waktu yang
singkat bisa diperoleh informasi yang lebih
komprehensif tentang
sejarah Nabi Muhammad
saw.
Melalui model
ini
guru
bisa mengamati
bagaimana
peserta
didik
berdiskusi sambil memberikan
penilaian proses
terutama dalam penerapan nilai-nilai karakter, misalnya kecerdasan, keingintahuan, kesantunan, kedemokratisan, dan lain sebagainya. Peserta didik juga diminta untuk meneladani karakter-karakter mulia yang
ada
pada diri Nabi
Muhammad saw. seperti
kejujuran, kecerdasan,
kesabaran,
kesantunan, kepedulian,
dan ketangguhan.
c)
Pembelajaran Inquiri (Inquiry Learning)
contoh kompetensi yang
bisa dicapai melalui
model ini adalah kompetensi yang terkait dengan aqidah, muamalah, dan sejarah peradaban Islam. Cukup banyak materi atau kompetensi dalam tiga bidang
itu yang bisa dikaji
melalui
model
pembelajaran ini.
d)
Pembelajaran Model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan)
Sebagai contoh, ketika membelajarkan al-Quran, peserta didik
dikondisikan untuk
belajar
langsung
melafalkan ayat-ayat al-Quran
dibantu dengan media yang
mendukung. Guru terus memantau peserta didik
dalam proses pembelajaran
agar efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung, PT Remaja Rosda Karya:
2007
Ahmad tafsir,
Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cet ke
delapan. Bandung,
Remaja Rosdakarya.
2004
Arend, R. Classroom Instructional Management.
New York: The Mc Graw – Hill
Bandung: PT
Remaja Rosdakarya. 2004
Company. 1997
Depdiknas, Standar
Penilaian Buku Pelajaran, Jakarta: Pusbuk, 2003
Dick, Walter, Lou Carey., &
James O. Carey. The Systematic Design Of Instruction.
2003.
Ed. I. Cet. 6. Jakarta: Kencana,
2009.
I Nyoman Sudana Degeng. Ilmu Pengajaran: Taksonomi Variabel. Jakarta: Departemen
Pendidikan
dan Kebudayaan,
Dirjen Dikti, P2LPTK, 1997.
Joyce, B.R. &
Weil, M. Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice–Hall Inc. 1980.
Kementrian
Pendidikan
Nasional. Pengembangan Pendidikan Budaya
dan
Karakter Bangsa: Pedoman
Sekolah. Jakarta:
Puskur Balitbang Kemendiknas. 2010.
Krischenbaum, H. 100 Ways To Enhance Values and Morality in School and
Youth Setting. Boston:
Allyn anf Bacon.
1995.
Muhaimin,
Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Bandung, Rosda Karya: 2001
Muhaimin. Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan,
Manajemen Kelembagaan, Kurikulum
hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada. 2009.
Robert
M. Gagne, Marcy
Parkins Driscoll. Essentials
of learning for
instructional. Florida: State University. 1989.
Rusman. Manajemen Kurikulum: Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Bandung: Mulia Mandiri
Press.
2008.
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan.
Sukmadinata,
Nana Syaodih.
Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi.
Syaiful Sagala.
Konsep dan Makna Pembelajaran.
Bandung : Al-fabeta,
2005.
Udin saefudin sa’ud dan abin syamsuddin makmun,
Perencanaan Pendidikan Suatu
Pendekatan Komprehensif, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2006
Wina Sanjaya.
Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta : Kencana,
2009.
[1] Abdul majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung,
PT Remaja Rosda Karya: 2007, h. 96
[2] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Bandung, Rosda Karya:
2001, h. 75
[4] Abdul majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung,
PT Remaja Rosda Karya: 2007, h. 96
[5] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Bandung, Rosda Karya:
2001, h. 75
[6] Udin saefudin sa’ud dan abin syansuddin makmun,Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan
Komprehensif, Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2006, h.121
[7] Abdul majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung,
PT Remaja Rosda Karya: 2007, h. 96
[8] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan
Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Bandung, Rosda Karya: 2001, h. 75