Model - Pauziah


JAWABAN  FINAL  TES  MODEL  PEMBELAJARAN  PAI
1.         Model pembelajaran PAI sangat urgen dalam mengembangkan proses pembelajaran PAI. Namun pada masa kini pendidikan belum mampu mengembangkan kualitas manusia di Indonesia secara umum. Hal ini dikarenakan banyak faktor penghambat seperti kompetensi guru, karakteristik kurikulum, sarana dan fasilitas, serta kebijakan lainnya.  Model pembelajaran PAI datang membawa angin segar untuk memberikan alternatif dalam meningkatkan sumber manusia di Indonesia karena pembelajaran PAI merupakan jantungnya pendidikan yang berperan mengembangkan kualitas manusia di masa mendatang. Perlu adanya variasi model pembelajaran PAI dalam proses belajar mengajar di sekolah formal dan informal.
Untuk dapat mewujudkan keterampilan sosial, guru hendaknya tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal materi-materi secara konseptual saja, tetapi lebih jauh siswa mampu mengaplikasikan secara cerdas dan bertanggung jawab. Guru juga harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan multi media, model dan teknik pembelajaran yang kompleks, sehingga pembelajaran tidak monoton dan dapat menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan bagi siswa. Oleh karena itu, dalam mencapai tujuan pembelajaran PAI membentuk waga negara yang baik dan berakhlak, guru dapat menerapkan beberapa model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah cooperative learning (pembelajaran kooperatif).
Pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif karena siswa berbagi tanggung jawab dengan siswa lainnya termasuk dengan guru untuk menciptakan keadaan belajar dan berusaha bersama memenuhi tugas pengembangan keterampilan serta penguasaan kompetensi yang sedang dipelajari. Siswa akan belajar lebih banyak melalui proses pembentukan dan penciptaan, melalui kerja dengan tim dan melalui berbagi pengetahuan sesama siswa. Namun tanggung jawab individual merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.

2.         Rumpun model pembelajaran menurut para ahli diantaranya: Joyce Weil dalam   Abimanyu (2008: 3: 11) mengemukakan ada empat rumpun  model pembelajaran yakni; rumpun model interaksi sosial, yang lebih berorientasi pada kemampuan  memecahkan berbagai persoalan sosial ke masyarakat, Model pemrosesan informasi, yakni rumpun pembelajaran yang lebih berorientasi pada pengusaan  disiplin ilmu, Model pengembangan  pribadi, rumpun  model ini  lebih  berorientasi  pada pengembangan kepribadian   peserta didik, Model behaviorism yakni model yang berorientasi pada perubahan perilaku.
3.         Landasan filosofis pendidikan merupakan asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam dalam pendidikan. Landasan psikologis yakni asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan,misalnya setiap individu mengalami perkembangan secara berthap dan pada setiap perkembangannya, setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannnya. Implikasinya pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap, tujuan dari isi pendidikan harus disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan peserta didik. Landasan sosiologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh di dalam masyarakat yang menganut staratifikasi social terbuka terdapat peluang untuk terjadinya mobilitas social. Adapun fakta yang memungkinkan terjadinya mobilitas social itu antara lain bakat dan pendidikan. Implikasinya para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya. Pendidikan yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh, maka prakteknya akan jelas dan tepat tujuannya, tepat pilihan isi kurikulum, efisien dan efektif cara-cara pendidikan yang dipilihnya termasuk model pembelajaran yang digunakan oleh seorang pendidik. Dengan demikian landasan yang kokoh setidaknya kesalahan-kesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindari sehingga praktek pendidikan diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat dipertanggungjawabkan.
4.         Sebelum penulis memilih model pembelajaran yang cocok untuk Madrasah, ada baiknya penulis menguraikan beberapa krtiteria untuk memilih model tersebut, Menurut Sugiyanto (2007:3)  ada  beberapa   hal   yang   perlu   dipertimbangkan dalam   memilih model atau strategi   pembelajaran,   yaitu:  tujuan   pembelajaran yang ingin   dicapai, materi   ajar,  kondisi   siswa,  ketersediaan    sarana prasarana  belajar.  Baik tidaknya sebuah  model pembelajaran/ketepatan pemilihan sebuah model pembelajaran akan sangat tergantung pada tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan materi yang hendak disampaikan, perkembangan peserta didik, dan kemapuan guru dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada.  
5.         Perbedaan dan persamaan model pembelajaran yakni Pembelajarn Kooperatif merupakan proses belajar mengajar yang melibatkan penggunaan kelompok-kelompok kecil yang memungkinkan siswa untuk belajar secara bersama-sama didalamnya guna memaksimalkan pembelajaran mereka sendiri dan pembelajaran satu sama lain. Idenya sederhana. Setelah mereka pelajaran dari guru, anggota kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Kemudian merek mengerjakan tugas yang diberikan sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dengan baik materi tersebut dan menyelesaikan tugasnya. Usaha yang kooperatif seperti ini akan membuat siswa berusaha untuk saling memberikan manfaat terhadap kelompoknya. (David Johnson: 2010: 5).
Hakikat model pembelajaran terpadu (Integrated Learning) merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik   secara   individu maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di dalam kegiatan belajar sekaligus proses dan isi berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran/pokok bahasan  secara serempak dibahas. Rancangan pembelajaran terpadu secara eksplisit merumuskan tujuan pembelajaran. Dampak dari tujuan pengajaran dan pengiringnya  secara langsung dapat terlihat dalam rumusan tujuan tersebut.
Problem Based Learning adalah Suatu proses pembelajaran yang diawali dari masalah-masalah yang ditemukan dalam suatu lingkungan pekerjaan. Problem Based Learning (PBL) adalah lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Yaitu, sebelum pebelajar mempelajari suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para pebelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut.
Menurut Sofa (2008) bahwa Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar dimana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri. Sedangkan Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, men-jelaskan, dan mengambil kesimpulan. Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.
Secara sederhana, metode penemuan/Imkuiry dapat diartikan sebagai cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Selain itu menurut Tabrani (1992 dalam Turisina, 2006), bahwa syarat utama metode penemuan ada pada potensi yang dimiliki oleh siswa itu sendiri. Potensi itu meliputi: kemandirian siswa dalam data, keaktifan dalam memecahkan masalah, kepercayaan pada diri sendiri. Kelebihan metode penemuan, yaitu: siswa dapat mengerti konsep dasar lebih baik, membantu dalam menggunakan ingatan, pengetahuan mudah ditransfer pada situasi proses belajar yang baru, mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, memberi kepuasan instrinsik, serta pembelajaran lebih baik.
 Dari pemaparan dari keempat model pembelajaran (Kooperatif, integrated,  berbasis masalah dan inquiry bahwa persamaan keempat model tersebut terletak pada model pembelajaran kelompok dan dalam proses belajar mengajar peserta didik dituntut aktif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri, berbagi kepemimpinandan keterampilan untuk bekerjasama, autentik dan bermakna karena siswa dapat mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat.
Sedangkan perbedaan yang mencolok dari keempat model pembelajaran ini adalah fase atau tahap pembelajaran/langkah-langkah pada masing-masing model pembelajaran tersebut. Menurut Hadi Subroto dalam merancang pembelajaran terpadu sedikitnya empat hal yang perlu di perhatikan sebagai berikut: menentukan Tujuan, menentukan materi/media, menyusun skenario KBM, menentukan evaluasi. Menurut John Dewey, langkah-langkah PBL di antaranya: merumuskan masalah, menganalisa masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, pengujian hipotesis, dan merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Sedangkan Model Kooperatif langkah-langkah pembelajaran, di antaranya:  menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok, membimbing kelompok, evaluasi dan memberikan penghargaan. Model Inquiry dengan langkah-langkah dengan pendekatan mengajar dimana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.
6.         Model pembelajaran PAI sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan guru dalam menjelaskan materi yang ingin disampaikan sehingga peserta didik dapat memahami materi pembelajaran tersebut. Selain itu materi yang disampaikan diharapkan akan memberikan pengalaman yang berkesan di dalam kehidupan peserta didik. Oleh karena itu Model pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah adalah model pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Misalnya Melalui pembelajaran kontekstual mata pelajaran fiqh dapat diberikan  kepada   peserta   didik   untuk   menerapkan kaidah-kaidah   fiqh   ke   dalam   dunia  nyata,   sehingga diharapkan tingkat pemahaman siswa dapat meningkat dan bisa   mengaplikasikan  pengetahuan  yang   diperoleh dalam kehidupan  untuk  jangka panjang. Tidak seperti pembelajaran konvensional  yang hanya membantu siswa dalam mengingat mata pelajaran secara jangka pendek.
Pendekatan kontekstual (contextual    teaching     and   learning /CTL)  merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa peserta didik   mampu   menyerap   pelajaran   apabila   mereka   menangkap   makna   dalam materi akademis yang mereka terima dan mampu mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Dengan  konsep  itu,  hasil pembelajaran  diharapkan  lebih bermakna bagi siswa. Pendekatan   ini   cocok   diterapkan dalam   Fiqih  sebagai   mata pelajaran yang aplikatif dan dapat mendorong siswa untuk menghayati sekaligus untuk mengamalkan kaidah-kaidah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana telah digambarkan bahwa al-Qur’an menuntun peserta didiknya untuk menemukan kebenaran melalui usaha peserta didik sendiri, menuntut agar materi yang disajikan diyakini kebenarannya melalui argumentasi-argumentasi logika, dan kisah-kisah yang dipaparkannya mengantarkan   mereka   kepada   tujuan   pendidikan dalam  berbagai   aspeknya, dan nasihatnya diikuti dengan panutan.
7.         Kriteria Penetapan Isi pembelajaran dan prinsip pemilihan model pembelajaran PAI yang harus dikembangkan!
Komponen pembelajaran meliputi suatu komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, peserta didik, guru, metode, situasi, alat, evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerja sama.
Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pebelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran. Paling tidak, ada tiga klasifikasi penting variabel strategi pengelolaan, yaitu penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa, dan motivasi.
Dalam silabus telah dirumuskan indikator hasil belajar atau hasil yang diperoleh siswa setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Terdapat empat komponen pokok dalam merumuskan indikator hasil belajar yaitu:
a.       Penentuan subyek belajar untuk menunjukkan sasaran relajar.
b.      Kemampuan atau kompetensi yang dapat diukur atau yang dapat ditampilkan melalui peformance siswa.
c.        Keadaan dan situasi dimana siswa dapat mendemonstrasikan performancenya
d.      Standar kualitas dan kuantitas hasil belajar.
Prinsip mengajar atau dasar mengajar merupakan usaha guru dalam menciptakan dan mengkondisikan situasi belajar mengajar agar siswa melakukan kegiatan belajar secara optimal. Usaha tersebut dilakukan guru pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Prinsip yang dimaksud adalah individualitas, motivasi, aktivitas, minat dan perhatian, keperagaan, pengulangan, keteladanan, dan pembiasaan. Prinsip-prinsip tersebut tidak dapat berdiri sendiri melainkan saling berhubungan satu sama lainnya. Dari prinsip-prinsip yang ada tadi penulis menyimpulkan bahwa prinsip yang harus dikembangkan dalam pemilihan model pembelajaran PAI adalah motivasi, minat dan perhatian, keperagaan, keteladanan dan pembiasaan. Hal ini dikarenakan model pembelajaran PAI harus mendorong motivasi, minat dan perhatian siswa dalam kegiatan belajar mengajar sehingga suasana pembelajaran menjadi hidup dan tidak monoton. Selain itu model pembelajaran dapat menambah wawasan (kognitif), afektif dan psikomotorik sehingga ketiga domain ini dapat berjalan bersama. Dalam kegiatan belajar mengajar seorang pendidik tidak hanya menyampaikan materi saja tetapi juga harus bisa membuat para siswa faham apa maksud atau isi materi yang disampaikan.

8.         Desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah menurut penulis, ketepatan dalam memilih metode, strategi dan pendekatan dalam mendesain model pembelajaran yang berguna dalam menciptakan iklim PAKEM harus senantiasa diupayakan oleh seorang guru. Satu hal yang penting untuk disadari, bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling baik lebih baik, atau sebuah model pembelajaran lebih baik dari model pembelajaran yang lain. Baik tidaknya sebuah  model pembelajaran/ketepatan pemilihan sebuah model pembelajaran akan sangat tergantung pada tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan materi yang hendak disampaikan, perkembangan peserta didik, dan kemapuan guru dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada. Namun penulis mencoba memilih model pembelajaran yang bagus diterapkan di Madrasah dengan memberikan contoh mata pelajaran misalnya Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah yang merupakan salah satu mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-asma' al-husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan al-akhlakul karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan Qadar.
Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan sejak dini oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negatif era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.
Pembelajaran Aqidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a.    Menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
b.    Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai aqidah Islam.
Dari uraian singkat di atas, penulis memberikan saran model pembelajaran yang bagus diterapkan pada mata pelajaran Aqidah akhlak adalah model Pembelajaran tematik, yang dikemas dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik. Pendekatan tematik ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, kemahiran dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.
Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama peserta didik dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema dalam pembelajaran tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan. Tema tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
a.  Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
b. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama
c.   Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
d.  Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik
e. Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas
f.  Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain
g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Dari pemaparan di atas, dapat dianalisis bahwa pendekatan pembelajaran tematik itu sesuai diterapkan untuk pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah karena dapat memberikan pemahaman peserta didik secara menyeluruh.

9.         Materi PAI yang ada di sekolah memiliki beberapa aspek bahasan, seperti Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah dan al-Quran Hadis. Masing-masing mata pelajaran memiliki karakteristik tujuan yang berbeda pula. Hal ini mengakibatkan pemilihan model pembelajaran berbeda pula. Misalnya pembelajaran Fiqih di sekolah yang salah satu tujuan pembelajarannya agar siswa mampu mempraktekkan cara berwudhu yang benar, hal ini tentu model yang dipakai berbeda dengan model pembelajaran yang menekankan aspek kognitif. Contoh lain yakni pembelajaran Aqidah Akhlak yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan bidang studi lain. Aspek aqidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna pada pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah. Aspek akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran Aqidah Akhlak di MI seyogyanya bertumpu pada empat strategi dasar, yakni :
a.       Menentukan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar Aqidah Akhlak yang dilakukan.
b.      Memilih cara pendekatan belajar mengajar Aqidah Akhlak yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran.
c.       Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar Aqidah Akhlak yang dianggap paling tepat dan efektif.
d.      Menetapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan pembelajaran Aqidah Akhlak sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya.
Dengan demikian selain model pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, maka kesesuaian dengan materi yang hendak disampaikan, perkembangan peserta didik, dan kemapuan guru dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada juga harus menjadi titik perhatian agar model pembelajaran yang digunakan menjadi efektif. Menurut hemat penulis semua model pembelajaran dapat digunakan di sekolah dan di madrasah. Hal ini tentu memperhatikan aspek kajian pembelajaran PAI dan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang pendidik.







                                                                                           


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI, Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, Jakarta : Depag RI, 2008.
Elanine B.  Johnson, Contextual Teaching And Learning,   Terj.  Ibnu  Setiawan Bandung: MLC, 2007.
E. Mulyasa, Kurikulum Yang Disempurnakan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Julianto. Kajian Teori dan Implementasi Model Pembelajaran Terpadu dalam Pembelajaran di kelas. Surabaya: Unesa University Press. 2010.
Nurhadi, dkk, Pembelajaran Konetekstual  dan Penerapan Dalam KBK, Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang, 2003.
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1994.
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007.
Sofa. 2008. Pendekatan Discovery, Inquiry, dan STS dalam Pembelajaran Fisika. http://pkab.wordpress.com/2008/06/21/discovery-inquiry-sts-fisika/ (diakses 18 Juni 2016)


  




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
Anonim
5 April 2022 pukul 00.17 delete

Where to Bet on Sports To Bet On Sports In Illinois
The best sports bet 메이저 토토 사이트 types and bonuses available sol.edu.kg in Illinois. The most common sports 바카라 betting options available. Bet $20, worrione Win $150, Win goyangfc.com $100 or

Reply
avatar