Model - Muhammad Rafi'e



Nama  : Muhammad Rafi’e, S.Pd.I
NIM    : 1502521483
1.      Jelaskan arti pertanyaan di atas!
Jadi Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Di luar istilah tersebut dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika model pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Herbert Simon mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah yang memiliki tujuan untuk mencapai solusi terbaik dalam dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan seumlah informasi yang tersedia.
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne dalam proses belajar seorang siswa dapat dipengaruhi oleh dua hal yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sedangkan desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal yaitu pengeturan lingkungan dan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar.
Shambaugh menjelaskan tentang desain pembelajaran yakni sebagai “ an intellectual process to help teachers systematically analyze learner needs and construct structures possibilities to responsively address those needs.” Dengan demikian dapat diartikan bahwa suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.
Pendapat yang lebih spesifik dikemukakan oleh Gentry yang berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan tekhnik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk pencapaian efektivitas pencapaian tujuan. Selanjutnya ia menguraikan bahwa penerapan suatu desain pembelajaran memerlukan dukungan dari lembaga yang akan menerapkan, pengelolaan kegiatan, serta pelaksanaan yang intensif berdasarkan analisis kebutuhan.
Dari beberapa pengertian diatas maka desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, tekhnik dan media yang dapat dimanfaatkan seta tekhnik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Sedangkan Para ahli dalam bidang perencanaan merumuskan desain dengan definisi bahwa desain adalah salah satu aspek dari proses pengembangan yang terdiri dari enam fase. Untuk mengembangkan berbagai bentuk atau aktifitas baru yang dianalisis sebagai proses yang terdiri dari enam karakteristik yang saling berhubungan yaitu :
1. Riset (analisis)
2. Desain (sintesisi)
3. Produksi (formasi)
4. Distribusi(penyebaran)
5. Utilisasi (kinerja)
6. Eliminasi (penghentian)
Dalam mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan (need assasment), sebab berkenaan dengan upaya untuk memecahkan persoalan yang berkaitan dengan proses pembelajaran siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pelajaran.[1]
2.      Model pembelajaran dilandasi oleh pandangan filosofi yang berbeda dalam memandang tentang anak, cara belajar, tujuan pendidikan, guru, serta lingkungan, kemukakan dan jelaskan secara komprehensif rumpun model pembelajaran menurut para ahli!
Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai model pembelajaran yang secara khusus telah dikembangkan dan di tes oleh para pakar dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, Joyce dan Weil mengintrodusir sejumlah model pembelajaran. Setiap model pembelajaran tersebut masing-masing memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari model pembelajaran yang lain. Berdasarkan karakteristik dari setiap model pembelajaran tersebut, Joyce dan Weil mengklasifikasi model-model pembelajaran kedalam empat rumpun model, yaitu :
1. Rumpun Model Pengolahan Informasi (The Information Processing Models).
Model-model pembelajaran yang termasuk dalam rumpun ini bertolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi oleh manusia dengan memperkuat dorongandorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan keluarnya serta pengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya. Kelompok model ini menekankan pada peserta didik agar memilih kemampuan untuk memproses informasi sehingga peserta didik yang berhasil dalam belajar adalah yang memiliki kemampuan dalam memproses informasi.
Dalam rumpun model pembelajaran ini terdapat 7 model pembelajaran, yaitu :
a. Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
b. Berpikir induktif (InductiveThinking)
c. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
d. Pemandu Awal (Advance Organizer)
e. Memorisasi (Memorization)
f. Pengembangan Intelek (Developing Intelect)
g. Penelitian Ilmiah (Scientic Inquiry)
2. Rumpun Model Personal (Personal Models)
Rumpun model personal bertolak dari pandangan kedirian atau “selfhood” dari individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan yang memungkinkan seseorang dapat memahami diri sendiri dengan baik , sanggup memikul tanggung jawab untuk pendidikan dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Penggunaan model-model pembelajaran dalam rumpun personal ini lebih memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya.
Dalam rumpun model personal ini terdapat 4 model pembelajaran, yaitu :
a. Pengajaran Tanpa Arahan (Non Directive Teaching)
b. Model Sinektik (Synectics Model)
c. Latihan Kesadaran (Awareness Training)
d. Pertemuan Kelas (Classroom Meeting)
3. Rumpun Model Interaksi Sosial (Social Models)
 Penggunaan rumpun model interaksi sosial ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan kerjasama dari para siswa.
Model pembelajaran rumpun interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu
(a) masalah-masalah sosial diidentifikasi dan dipecahkan atas dasar dan melalui kesepakatanm-kesepakatan yang diperoleh di dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial, dan
(b) proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara build-in dan terus menerus.
Dalam rumpun model interaksi sosial ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
b. Bermain Peran (Role Playing)
c. Penelitian Yurisprudensial (Jurisprudential UInquiry)
d. Latihan Laboratoris (Laboratory Training)
e. Penelitian Ilmu Sosial
4. Rumpun Model Sistem Perilaku (Behavioral Systems)
Rumpun model system perilaku mementingkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan penciptaan sistem lingkungan belajar yang memungkinkan manipulalsi penguatan tingkah laku (reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki. Model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang terobservasi dan metode dan tugas yang diberikan dalam rangka mengkomunikaksikan keberhasilan.
Dalam rumpun model sistem perilaku ini terdapat 5 model pembelajaran, yaitu :
a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)
b. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
c. Belajar Kontrol Diri (Learning Self Control)
d. Latihan Pengembangan Keterampilan dan Konsep (Training for Skill and Concept Development)
e. Latihan Assertif (Assertive Training.
3.      Landasan filosofis, psikologis dan sisiolgis memiliki imlikasi terhadap perkembangan teori pendidikan dan selanjutnya juga berimlikasi pada perkembangan teori belajar dan model pembelajaran, jelaskan maksudnya, kemukakan contohnya!

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Aspek yang penting dalam keberhasilan pembelajaran adalah penguasaan model pembelajaran.
Model-model pembelajaran berdasarkan teori, terdiri dari:
1.    Model Interaksi Sosial
2.    Model Pemrosesan Informasi
3.    Model Personal
4.    Model Modifikasi Tingkah Laku
5.    Model Pembelajaran Kontekstual
Contohnya : Jigsaw, Gallery Walk, Debat, Diskusi, Mind Mapping, dan sebagainya.
Pendekatan pembelajaran adalah suatu upaya menghampiri makna pembelajaran melalui suatu cara pandang dan pandangan tertentu; atau, aplikasi suatu cara pandang dan pandangan tertentu dalam memahami makna pembelajaran. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pendekatan pembelajaran, terdiri atas dua pendekatan, yaitu:
1.    Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa,
2.    Pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru.
Adapun pendekatan dalam rangka memahami makna belajar, antara lain:
(1)     Pendekatan filsafati terhadap pembelajaran. Mencakup idealisme, realisme, pragmatisme, konstruktivisme, eksistensialisme, pancasila.
(2)     Pendekatan psikologi terhadap pembelajaran. Mencakup behaviorisme, kognitif, dan humanisme.
(3)     Pendekatan sistem terhadap pembelajaran.
Contohnya : Pembelajaran matematika dengan pendekatan humanisme.
Strategi pembelajaran adalah pola umum rencana interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi :
1.    Exposition-discovery Learning
2.    Group-individual Learning
Berbagai jenis strategi pembelajaran dapat dipilah berdasarkan karakteristiknya sebagai berikut :
ü  Berdasarkan rasio guru dan siswa yang terlibat dalam pembelajaran
ü  Berdasarkan pola hubungan guru dan siswa dalam pembelajaran
ü  Berdasarkan peranan guru dan siswa dalam pengelolaan pembelajaran
ü  Berdasarkan peranan guru dan siswa dalam mengolah ‘pesan’ atau materi pembelajaran
ü  Berdasarkan proses berfikir dalam mengolah ‘pesan’ atau materi pembelajaran
Contohnya : strategi ekspositori klasikal, strategi heuristik.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran.
Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.
Contohnya : ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium.
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran.
Contohnya : diskusi dengan peserta yang aktif akan berbeda dengan diskusi dengan peserta yang pasif. Meskipun metodenya sama, yakni diskusi -misal-, tetapi tekniknya berbeda. Hal ini disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan.
Taktik pembelajaran adalah gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Contohnya : bila menggunakan metode ceramah, masing-masing individu (penceramah) punya cara yang berbeda dalam gaya atau karakteristiknya. Seperti A dan B, dimana A berceramah dengan gaya humor dan komunikatif-interaktif, sedangkan B cenderung ceramah dengan serius dan minim komunikasi dengan audiens.
Pelaksanaan dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran.
Sebagai ilustrasi, saat ini banyak remaja menggunakan model Celana Gunung yang terinspirasi dari film/Media. Sebagai sebuah model, Celana Gunung berbeda dengan celana model lain meskipun dibuat berdasarkan pendekatan, metode, dan teknik yang sama. Perbedaan tersebut terletak pada sajian, bentuk, warna, dan desainnya. Kembali ke pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru di sekolah lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.[2]
4.      Berdasarkan kajian terhadap model-model pembelajaran, menurut anda model apa yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia!

Model Hilda Taba
Model ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
a)  Menentukan tujuan pendidikan dengan langkah-langkah:
Ø  Merumuskan tujuan umum
Ø  Mengklasifikasi tujuan-tujuan
Ø  Merinci tujuan-tujuan beberapa pengetahuan (fakta,ide,konsep), berpikir,nilai-nilai dan sikap,emosi dan perasaan, dan ketrampilan.
Ø  Merumuskan tujuan yang spesifik.
b)      Mengidentifikasi dan menseleksi pengalaman belajar, dengan langkah-langkah:
Ø  Mengidentifikasi minat dan kebutuhan siswa.
Ø  Mengidentifikasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan social.
Ø  Menentukan keluasan dan kedalaman pembelajaran.
Ø  Mengoganisasikan keseimbangan antara ruang lingkup dan kedalaman.
c)      Mengorganisasikan bahan kurikulum dan kegiatan belajar.
Ø  Menentukan organisasi kurikulum.
Ø  Menentukan urutan atau sequence materi kurikulum.
Ø  Melakukan pengintegrasian kurikulum
Ø  Menentukan focus pelajaran
d)     Mengevaluasi hasil pelaksanaan kurikulum.
Ø  Menentukan kriteria penilaian
Ø  Menyusun program evaluasi yang komprehensif.
Ø  Teknik mengumpulkan data.
Ø  Interprestasi dan evaluasi
Ø  Menerjemahkan evaluasi ke dalam kurikulum.
Bagaimanpun juga, pembaharuan-pembaharuan yang kan dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Islam  (madrasah) harus tetap mempertimbngkan aspek realitas structural dan kultural yang terjadi. Menurut A. Malik Fajar. Kebijakan-kebijakan mengembangkan madrasah perlu mengakomodasikan tiga kepentingan, yaitu pertama: kebijakan itu harus memberi ruang tumbuh dan wajar bagi aspirasi utama ummat islam. Kedua, kebijakan itu memperjelas dan memperkukuh madrasah sebagai ajang membina warga Negara yang cerdas, berpengatahuan, berkepribadian , serta produktif sederajat dengan system sekolah. Ketiga, kebijakan  itu harus bisa menjadikan madrasah mampu merespon tuntutan-tuntutan masa depan.
Oleh karena itu madrasah juga harus mulai berbenah diri untuk memperbaiki manajemen melalui berbagai upaya alternatif untuk mengatasi berbagai problematika baik secara internal maupun eksternal, sehingga mampu meningkatkan kualitas dan daya saing di era globalisasi.
Atas dasar itulah maka untuk memajukan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan madrasah sangat bergantung pada kemampuan dan kesadaran masyarakat setempat. Kalau tingkat ekonomi masyarakat kurang mendukung, madrasah cenderung sulit berkembang dan terkesan asal jalan. Sebaliknya, bila kemampuan ekonomi masyarakat yang mendukung madrasah sangat kuat, maka kualitas madrasah dapat sejajar dengan sekolah-sekolah umum atau sekolah-sekolah negeri lainnya.
Di sinilah diperlukan kepandaian penyelenggara madrasah untuk menjalin kerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat di sekitarnya. Bagaimana agar masyarakat dapat turut merasa memiliki, sehingga dengan sukarela ikut berpartisipasi membesarkan madrasah. Untuk itu, madrasah hendaknya dikelola secara baik dan profesional sehingga dapat bersaing dengan sekolah lainnya. Sudah bukan masanya lagi penyelenggara madrasah bekerja hanya berorientasi ibadah semata-mata tanpa memperhatikan profesionalisme dan manajemen yang baik. Dewasa ini persaingan antarsekolah cukup ketat, sehingga sekolah atau madrasah yang tidak dikelola dengan baik akan kehilangan kepercayaan masyarakat.[3]
5.      Coba anda kemukakan perbedaan dan persamaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri!

Perbedaannya
kooperatif.
a) Guru membentuk  siswa kemampuan tinggi, sedang, rendah.
b) Siswa dalam kelompok sehidup semati.
c) Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama.
d) Membagi tugas dan tangung jawab sama.
e) Akan dievaluasi untuk semua.
f) Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama-sama.
g) Diminta mempertanggungjawabkan undividual materi yang ditangani.
Integrated
Langkah guru merancang program rencana pembelajaran dengan mengadakan penjajakan tema dengan cara curah pendapat (brain stroming).



Pembelajaran berbasis masalah
Guru menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
Pembelajaran inkuiri
1. Guru Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan social
2. Guru Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
3. Guru Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
Persamaaanya model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri
1.      Sama-sama memberikan dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran.
2.      Belajar melalui proses pengalaman langsung
3.      Pembelajaran terpusat pada anak didik
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen. Sedangkan menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran.  Selanjutnya Stahl dalam Isjoni (2009:15) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap saling tolong-menolong dalam perilaku sosial. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto, 2010: 37). Anita Lie mengungkapkan bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok.[4]
Ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
a) Kelompok dibentuk dengan siswa kemampuan tinggi, sedang, rendah.
b) Siswa dalam kelompok sehidup semati.
c) Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama.
d) Membagi tugas dan tangung jawab sama.
e) Akan dievaluasi untuk semua.
f) Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama-sama.
g) Diminta mempertanggungjawabkan undividual materi yang ditangani.[5]
Pengertian Model Pembelajaran Integrated
Pembelajaran integrated (terpadu) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu, siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.
Pembelajaran model integrated (keterpaduan) adalah model pem­belajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991: 76).
Model integrated (terpadu) melihat kurikulum menggunakan kaleidoskop. Topik interdisiplin (antar mata pelajaran) ditata kembali diantara konsep yang sama/mirip dan munculnya pola dan rancangan. Melalui pendekatan antar matapelajaran, model integrated memadukan/mencampurkan empat mata pelajaran utama dengan menemukan persamaan ketrampilan, konsep, dan sikap pada keseluruhannya
Model pembelajaran integrated (terpadu) mempunyai ciri khusus yakni memadukan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda tetapi inti topiknya sama. Pada model ini tema yang berkaitan dan tumpang tindih merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program. Pertama kali guru menyeleksi konsep-konsep, keterampilan dan sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa bidang studi, selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara berbagai bidang studi.
Adapun langkah dan tahapan dalam pembelajaran terpadu model integrated, yaitu:
1. Langkah guru merancang program rencana pembelajaran dengan mengadakan penjajakan tema dengan cara curah pendapat (brain stroming).
2. Tahap pelaksanaan melakukan kegiatan:
a. Proses pengumpulan informasi
b. Pengelolaan informasi dengan cara analisis komparasi dan sintesis
c. Penyusunan laporan dapat dilakukan dengan cara verbal,gravisi, victorial, audio, gerak, dan model.
3. Tahap kulmunasi dilakukan dengan:
a. Penyajian laporan (tertulis, oral, unjuk kerja, produk)
b.Penilaian meliputi proses dan produk dengan menggunakan prosedur formal dan informal dengan tekanan pada penilaian produk. Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi, yaitu dengan cara menggabungakan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih didalam beberapa bidang studi.
Pada tahap awal guru hendaknya membentuk tim antar bidang studi untuk menyeleksi konsep-konsep, keterampilan-keterarnpilan, dan sikap-sikap yang akan dibelajarkan dalam satu semester tertentu untuk beberapa bidang studi, Langkah berikutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang mernpunyai keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara beberapa bidang studi. Bidang studi yang diintegrasikan misal matematika seni dan bahasa, dan pelajaran sosial.
Sebagai suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Pembelajaran terpusat pada anak
Pembelajaran terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada anak, karena pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa, baik secara individu maupun secara kelompok. Siswa dapat aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.
2.      Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antarskemata yang dimiliki oleh siswa, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa. Hasil yang nyata didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih bermakna. Hal ini diharapkan dapat berakibat pada kemampuan siswa untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3.      Belajar melalui proses pengalaman langsung
Pada pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan siswa belajar dengan melakukan kegiatan secara langsung, sehingga siswa akan memahami hasil belajarnya secara langsung dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi dari gurunya. Guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang membimbing ke arah tujuan yang ingin dicapai, sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.
 Pembelajaran Problem Based-learning                                                                     
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
Pembelajaran inquiry
Pembelajaran berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa   berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.
Seperti yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, Inquiry merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih mendalam,  inkuiry yang dalam bahasa InggrisInquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.
Gulo, (2005) menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Gulo (2005) menyatakan bahwa, inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan.
Secara umum proses pembelajaran SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut
1.Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b.Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
c. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Langkah – langkah menerapkan model pembelajaran inquiry didalam kelas :
1.Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan social
2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
3. Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
4. Merumuskan semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.
5. Menyelidiki validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposes
7. Menganalisis solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok
8. Menilai proses kelompok.
Kemudian pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya.[6]
6.      Berdasarkan telaah terhadap model desain pembelajaran yang bagaimana yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah!
Pengembangan intruksional model briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang akan bekerja sebagai perancang kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.
Model pengembangan intruksional briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara:
1. Tujuan yang akan di capai
2. strategi untuk mencapainya.
3. Evaluasi keberhasilannya, yang dalam bahasa sehari-hari dapat di nyatakan bentuk pertanyaan :
a) Mau kemana?
b) Dengan apa?
c) Bilamana sampai tujuan?
Dengan mengutup pendapat briggs (1977), berdasarkan 3 prinsip dasar pengembangan yang dipakai, urutan kegiatan pengembangan intruksional, menurut Briggs adalah sebagai berikut :
• Mau kemana? meliputi:
1. Identifikasi masalah/ tujuan
2. Rumusan tujuan dalam perilaku belajar
3. Penyusunan materi silabus
4. Analisis tujuan
• Dengan apa? Meliputi:
1. Analisis tujuan
2. Jenjang belajar dan strategi intruksional
3. Rancangan intruksional (guru)
4. Strategi intruksional (tim pengembangan intruksional)
• Bilmana sampai tujuan? Meliputi:
1. Penyusunan es
2. Evaluasi formatif
3. Evaluasai sumatif
Berdasarkan pendapat Briggs tersebut, secara keseluruhan model pengembangan itruksional dari Briggs, terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1) Identifikasi kebutuhan/ penetu tujuan
Dalam langkah ini Briggs menggunakan pendekatan bertahap 4 yaitu: mengidentifikasi tujuan kurikulum secara umum dan luas, menentukan prioritas tujuan, mengidentifikasi kebutuhan kurikulum baru, dan menentukan prioritas remedialnya.
2) Penyusunan garis besar kurikulum/ rincian tujuan kebutuhan intruksional yang telah di tuangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus di rinci, disusun dan di organisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
3) Perumusan tujuan
Sesudah tujuan kurikuler yang bersifat umum di tentukan dan diorganisasi menurut tujuan yang lebih khusus, tujuan sebaiknya dirumuskan dala tingkah laku belajar yang dapat di ukur.Analisis tugas/ tujuan
Dalam langkah ini perlu di adakan analisis terhadap tiga yaitu:
a) Proses informasi : untuk menetukan tata urutan pemikiran yang logis
b) Klasifikasi belajar untuk mengedidentifikasi kondisi belajar yang diperlukan
c) Tugas belajar untuk menentukan persyaratan belajar dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai.
• Penentuan tujuan menganalisis tujuan
• Rincian tujuan penyiapan evaluasi hasil belajar
• Rumusan tujuan sekuers dan jenjang belajar
Penentuan kegiatan belajar
5) Penyimpanan evaluasi hasil belajar
6) Menentukan jenjang belajar
7) Menentukan kegiatan belajar
Penentuan strategi intruksional ini di tinjau dari dua segi yaitu: dari segi guru sebagai perancang kegiatan intruksional dan menurut tim pengembangan intruksional. Dalam pengembangan strategi intruksional oleh guru ini, guru perlu menjabarkan strategi dalam teknik-teknik mengajar dalam fungsinya sebagai penyeleksi materi pelajaran. Kegiatan yang perlu dilakukan guru dalam pengembangan strategi intruksional ini meliputi: pemilihan media, perencanaan kegiatan belajar, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan evaluasi belajar.
Sedangkan dalam pengembangan strategi intruksional yang dilakukan oleh tim pengembangan terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:penentuan stimulus belajar yaitu stimulus apa yang paling sesuai untuk TIK tertentu,pemilihan media, penentu kondisi belajar, perumusan strategi pengembangan media, evaluasi formatif, dan penyusunan pedoman pemanfaatan.
8) Pemantauan bersama
Pada pemantauan bersama ini di lakukan oleh guru sebagai perancang kegiatan intruksional dan tim pengembangan intruksional.
9) Evaluasi formatif
Evaluasi ini untuk memperoleh data dalam rangka revisi dan perbaikan materi bahan belajar.
10) Evaluasi sumatif
evaluasi ini untuk menilai sistem penyampaian secara keseluruhan pada akhir kegiatan.[7]
7.      Uraikan kreteria penetapan isi pembelajaran, dan prinsip apa saja menurut anda dalam pemilihan model pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan!
Model pembelajaran yang dipilih oleh guru dalam mengembangkan pembelajaran PAI didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi, kondisi dan lingkungan yang akan dihadapinya.
Pemilihan model pembelajaran umumnya bertolak dari:
a.  Rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
b. Analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihasilkan,
c.  Jenis materi pelajaran yang akan dikomunikasikan.
Komponen Model pembelajaran
i.  Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan sebagai bagian dari suatu sistem pembelajaran secara keseluruhan memegang peranan penting.
 ii. Penyampaian Informasi
Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan paling penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran. Artinya tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini menjadi tidak berarti.
 iii. Partisipasi Peserta Didik
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat dari suatu kegiatan belajar. Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari’ SAL (Student Active Learning) yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan iebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
 iv.   Tes
Serangkaian tes umum yang digunakan oleh guru untuk mengetahui
(a) apakah tujan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum, dan
(b) apakah pengetahuan, sikap dan keterampilan telah benar-benar dimiliki oleh peserta didik atau belum.
 v.     Kegiatan Lanjutan
Kegiatan yang dikenal dengan istilah follow up dari suatu hasil kegiatan yang telah dilakukan seringkali tidak dilaksanakan dengan baik oleh guru. Dalam kenyataannya, setiap kali setelah tes dilakukan selalu saja terdapat peserta didik yang berhasil dengan bagus atau di atas rata-rata :
a. hanya menguasai sebagian atau cenderung di rata-rata tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai
b. Peserta didik seharusnya menerima tindak lanjut yang berbeda sebagai konsekuensi dari hasil belajar yang bervariasi tersebut.
Gerlach dan Ely (1990, him 173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi pembelajaran yang akan digambarkan melalui bagan berikut ini: pemilihan strategi pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivftas, dan keterlibatan peserta didik
1. Efisiensi
Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
2.  Efektivitas
Pada dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapajauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Perlu diingat bahwa strategi yang paling efisien sekalipun tidak otomatis menjadi strategi yang efektif.
3.      Keterlibatan Peserta Didik
Pada dasamya keteriibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran yang besifat inkuiri pada umumnya dapat memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.
8.      Menurut anda bagaimana desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan untuk sekolah? Analisislah berdasarkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran, dan pandangan Islam.
Menurut saya untuk memajukan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan madrasah sangat bergantung pada kemampuan dan kesadaran masyarakat setempat. Kalau tingkat ekonomi masyarakat kurang mendukung, madrasah cenderung sulit berkembang dan terkesan asal jalan. Sebaliknya, bila kemampuan ekonomi masyarakat yang mendukung madrasah sangat kuat, maka kualitas madrasah dapat sejajar dengan sekolah-sekolah umum atau sekolah-sekolah negeri lainnya.
Gagne, dkk. Mengembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa desain pembelajaran memantau proses belajar seseorang,dalam proses belajar itu sendiri memiliki tahapan jangka pendek (segera harusdilakukan) dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karenaadanya kondiri-kondisi belajar baik internal maupun eksternal. Kondisi internaladalah kemampuan dan kesiapan diri peserta didik, sedang kondisi eksternaladalah pengaturan lingkungan yang didesain, penyiapan kondisi eksternal belajar inilah yang disebut oleh mereka sebagai desain pembelajaran. Untuk itu, desain pembelajaran haruslah sistematis, dan menerapkan konsep pendekatan sistem agar  berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang, mereka percaya bahwa proses belajar yang terjadi secara internal, dapat ditumbuhkan, diperkaya jika faktor eksternal dapat didesain dengan efektif.Reiser, mengemukakan bahwa desain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk mengembangkan program pendidikan dan pelatihan dengan konsisten dan teruji. Desain pembelajaran juga sebagai prosesyang rumit tapi kreatif, aktif, dan berulang-ulang. Definisi ini bermakna sistem pelatihan yaitu pendidikan di organisasi, serta proses yang teruji dan dapat dikajiulang penerapannya.
Dick and Carey, pakar teknologi pendidikan menegaskan bahwa penggunaan konsep pendekatan sistem sebagai landasan pemikiran terhadap suatudesain pembelajaran pada umumnya, pendekatan sistem sendiri terdiri atasanalisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Desain pembelajaranmencakup seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem. Teori belajar, teori evaluasi dan teori pembelajaran, keberadaan teori tersebutmerupakan teori-teori yang melandasi adanya desain pembelajaran.Pendapat-pendapat di atas meskipun berbeda tapi memiliki prinsip dansemangat yang sama yakni, desain pembelajaran adalah suatu kegiatan untuk mengantisipasi keadaan yang akan datang dengan menghitung atau menganalisissecara cermat segala kemungkinan dan mengarahkan pada suatu tujuan yangdikehendaki. Oleh karena itu, dalam mendesain suatu objek, diperlukan pertimbangan secara komprehensif, sistematik, empirik, dan akurat. Dengandemikian dibutuhkandata yang akuratdan dapat dipercaya.
Desain Pembelajaran dalam Pendidikan Islam
Di dalam pendidikan Islam sangat banyak metode pendidikan Islam yangtelah dikemukakan oleh para ahli, seperti Abd Rahman An-Nahlawimengemukakan beberapa metode yaitu:
1.Metode hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi
2.Mendidik dengan kisah Qur’ani dan Nabawi
3.Mendidik dengan amtsal  Qur’ani dan Nabawi
4.Mendidik dengan memberi teladan
5.Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
6.Mendidik dengan membuat senang (targhib)
7.Mendidik dengan membuat takut (tarhib).[8]
Dalam metode pendidikan Islam diatas dinyatakan bahwa pembelajaranterhadap anak didik bisa dilakukan dengan beraneka ragam metode, bisa denganmelakukan percakapan, pemberian kisah dan conoh-contoh yang terdapat dalamQur’ani dan Nabawi, bisa juga dengan pemberian teladan dan pembiasaan diridari pengalaman. Pembelajaran ini memberikan penekanan pada pembentukanmoral anak didik, jadi proses desain pembelajaran anak didik bisa lebih diarahkan pada perngembangan moral dan pengembangan kecerdasan anak didik.
9.      Materi PAI terdiri dari beberapa aspek kajian seperti Akidah. Akhlak, Fiqih, Sejarah, dan Al-Qur’an serta Hadits. Masing-masing memiliki karakteristik tujuan yang berbeda, tentu kalau berdasarkan kajian model pembelajaran memiliki desain dan model yang berbeda. Kemukakan pendapat anda, dengan dukungan teori pembelajaran!
Menurut saya bahwa apapun modelnya, tujuan dari suatu model desain pembelajaran  yang berbeda adalah mengupayakan agar proses pembelajaran berjalan optimal (to bring people learn).
Keragaman desain pembelajaran memunculkan pendekatan yang berbeda dari setiap modelnya. Secara umum beberapa manfaat yang dapat disimpulkan dari berbagai ragam model yang ada ialah:
Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi pendidik dalam memilih desain pembelajaran sesuai dengan ilmu atau pengetahuan yang mereka bina.
Menimbulkan inspirasi di antara pakar teknologi pendidikan untuk menciptakan kembali model-model turunan lain dari desain pembelajaran.
Membuka peluang untuk penelitian dan pengembangan dalam bidang desain pembelajaran sehingga model desain pembelajaran dapat diujicobakan dan diperbaiki.
Setiap model desain pembelajaran memiliki komponen yang berbeda dengan model yang lainnya. Jadi, komponen merupakan hal yang penting dalam suatu model desain pembelajaran. Komponen yang ada menggambarkan aspek-aspek serta kegiatan yang harus dilaksanakan dalam mendesain suatu pembelajaran komponen-komponen dasar yang ada pada model desain pembelajaran adalah:
a. Pebelajar atau peserta didik
Pembelajar adalah pihak yang menjadi fokus suatu desain pembelajaran. Informasi yang paling diperlukan untuk dilacak adalah karakteristik mereka, kemampuan awal atau prasyarat
b Tujuan pembelajaran (umum dan khusus)
Rumusan tujuan pembelajaran merupakan penjabaran kompetetensi yang akan dikuasai oleh pebelajar jika mereka telah selesai dan berhasil menguasai materi ajar tertentu. Tujuan pembelajaran dalam lingkup besar dianggap sebagai tujuan umum, sedangkan tujuan yang dicapai untuk keahlian khusus yang dapat diamati disebut dengan tujuan khusus.
c. Analisis pembelajaran
Analisis pembelajaran adalah proses menganalisis topik atau materi yang alan dipelajari. Analisis topik dikaitkan dengan kemampuan awal, jika diperlukan. Sehingga, desainer dapat memperkirakan tahapan penguasaan materi dan kategori materi itu sendiri. Analisis pembelajaran dilakukan agar kendala belajar seperti tingkat kesulitan atau perilaku awal yang belum dikuasai dapat ditelusuri dan diantisipasi.
d. Strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh perancang dalam menentukan teknik penyampaian pesan, penentuan metode dan media, alur isi pelajaran, serta interaksi antara pengajar dan peserta didik. Strategi pembelajaran dapat dikembangkan secara makro ataupun mikro. Strategi pembelajaran makro adalah strategi yang diterapkan untuk kurun waktu satu tahun atau satu semester. Sedangkan strategi pembelajaran mikro dikembangkan untuk satu KBM. Strategi pembelajaran dilaksanakan dengan melalui: (1) pemanfaatan media, (2) pemilihan media, (3) alokasi waktu dan (4) alokasi narasumber.
e. Bahan ajar
Bahan ajar adalah format materi yang diberikan kepada pebelajar. Format tersebut dapat dikaitkan dengan media tertentu, handouts atau buku teks, permainan dan sebagainya.
f. Penilaian belajar
Penilaian belajar adalah tentang pengukuran kemampuan dan kompetensi yang sudah dikuasai atau belum. Penilaian tidak hanya berkaitan dengan angka tertentu sebagai hasil belajar yang menunjukan prestasi belajar, tetapi penilaian juga dapat menjadi masukan untuk desainer dan guru agar mereka tahu apa yang menyebabkan pebelajar berhasil atau gagal.







DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Badudu, J.S. 1996. Pintar Berbahasa Indonesia 1: Petunjuk Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Balai Pustaka.
Hastuti, Sri. 1996/1997. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III.
Hidayat, Kosadi, dkk. 2000. Seri Pengajaran Bahasa Indonesia I: Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Tanpa Kota: Putra Abardin.
Karli, Hilda dan Yuliariatiningsih, Margaretha Sri. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi: Model-model Pembelajaran.
Sapani, H. Suardi, dkk. 1997/1998. Teori Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III
Suparman, Atwi. 1993. Desain Intruksional. Jakarta: PAU untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Dirjen Dikti.
Syafi’i, Imam. 1994. Terampil Berbahasa Indonesia 1: Petunjuk Guru Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Umum Kelas 1. Jakarta: Balai Pustaka.
Syamsudin, Hifna. 1999. ”Teori Belajar dalam Buku Teks”,  Bahan Pelatihan Penulisan Buku Teks yang diselenggarakan atas Kerjasama SEAMEO-RECSAM-DEPDIKNAS di Universitas Negeri Semarang tanggal 22 Nopember – 24 Desember 1999.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.


[1] Drs. Harjanto, Perecanaan pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cpta, 1997).h. 51
[2] Trianto. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.(2007).h. 45.
[3] Ki Supriyoko, “Hakikat Politik Pendidikan Nasional” dalam Ali Muhdi Amnur (Ed), Konfigurasi Politi Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2007), hal 12.
[4] Anita Lie, Coopratif Leorning Mempraktikkan Coopratif Learning Di Ruang-Ruang Kelas, (Jakarta : Grasindo, Cet .6, 2008), h.29
[5]  Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai referensi bagi Guru/Pendidik dalam Implementasi  Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas,  (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, Cet.2, 2010), h. 266.
[6]  Zaenal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya ( 2009)
[7] Drs. Harjanto, Perecanaan pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cpta, 1997).h. 79-83.
[8] Abd. Rahman An-Nahlawi,Ushul al-Tarbiyat al-Islamiyah wa Asalibuha,diterjemahkan oleh Herry Nur Ali,Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islamdalam Keluarga, di Sekolah, dan di Masyarakat.Bandung: CV. Dipoengoro, 1992,h. 304

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »