TUGAS FINAL TEST (TAKE HOME)
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini fungsi
Nya sangat fundamental dalam memajukan kehidupan bangsa karna pembelajaran ini
merupakan fondasi yang mesti dimiliki oleh masing-masing individu muslim, akan
ntetapi banyak faktor yang menghambat sehingga pembelajaran pendidikan agama
islam sampai sekarang belum bisa mengembangkan kualitas manusia yang sesuai
dengan tujuan pendidikan, diantaranya seperti kompotensi guru yang masih
dibawah standar atau ada guru yang mengajar selain bidangnya, karakteristik
kurikulum yang belum jelas missal nya kalau mentri pendidikannya ganti otomatis
kurikulumnya diganti juga, sarana dan prasarana sekolah yang belum memadai
untuk menunjang pembelajaran, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertentangan
dengan pendidkan seperti kasus yang akhir-akhir ini mencuat kontra versi antara
pendidikan dan HAM, padahal jikalau kita kaji bersama pendidikan dan HAM ini
sudah mempunyai hak nya asing-masing yang tidak bisa di kaitkan, yang apabila
dikaitkan akan menimbulkan pertentangan.
Nah disinilah
salah satu manfaat model pembelajaran PAI yang dapat memberikan visi, cara dan
inovasi dalam mengembangkan proses pembelajaran pendidikan agama islam, agar dapat mengembangkan kualitas manusia yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam.
2. Rumpun model
A.
Interaksi sosial:
a.
Penentuan Kelompok (Herbert Telen
& John Dewey): perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses
social demokratis melalui penekanan yang dikombinasikan pada
keterampilan-keterampilan antar pribadi (kelompok) dan
keterampilan-keterampilan penentuan akademik.
b.
Inkuiri sosial (Byron Massialas
& Benjamin Cox): pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial
dan penalaran logis.
c.
Metode laboratori (Bethel Maine):
perkembangan keterampilan antar pribadi dan kelompok melalui kesadaran dan
keluwesan pribadi.
d.
Jurisprudensial (Donald Oliver &
James P. Shaver): dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan
yurisprudensial sebagai cara berpikir dan penyelesaian isu-isu sosial.
B.
Pemrosesan Informasi
a.
Model Berpikir Induktif (Hilda
Taba): dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran
akademik/pembentukan teori.
b.
Model Latihan Inkuiri (Richard
Suchman): pemecahan masalah social, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran
logis.
c.
Inkuiri Ilmiah (Joseph. J. Cshwab):
dirancang untuk mengajar system penelitian dari suatu disiplin, tetapi juga
diharapkan untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain.
d.
Penemuan Konsep (Jerome Bruner):
dirancang terutama untuk mengembangkan penalaran induktif, juga untuk
perkembangan dan analisis konsep.
C.
Personal
a.
Pengajaran Non-Direktif (Carl
Rogers): penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam
arti kesadaran diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
b.
Latihan Kesadaran (Firtz Perls
Willian Schultz): meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan
kesadaran diri.
c.
Sinektik (William Gordon):
perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
d.
Sistem-sistem Konseptual (David Hunt):
dirancang untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
D.
Modifikasi Tingkah Laku
a.
Manajemen kontingensi (B.F.
Skinner): fakta-fakta, konsep, keterampilan.
b.
Kontrol Diri (B.F. Skinner):
perilaku/keterampilan sosial.
c.
Relaksasi (santai) (Rimm & Masters
Wolpe): tujuan-tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan).
d.
Penguranagn Ketegangan (Rimm &
Masters Wolpe): Mengalihkan kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.[1]
3.
Landasan
filosofis, psikologis dan sosiologis:
Maksudnya secara filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir
yaitu dapat mengetahui, memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan
mengevaluasi. Selain itu, manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan,
mengolah berbagai informasi dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu
mampu melahirkan gagasan dan pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan
dan pemikirannya itu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[2]
Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan mode pembelajaran yang
baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para
siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran,
bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan
sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin
maju.
Secara psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini
memungkinkan manusia untuk didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya
potensi psikologis ini, mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia
seutuhnya. Yaitu, manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina,
melainkan juga afektif dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang
dimilikinya. Contohnya: harus ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah
kejuruan dan sebagainya. Dari keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan
yang holistik. Serta pemilihan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi
jiwa si anak didik.
Secara sosiologis, masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah
perlakuan dan pelayanan dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang
makin adil, demokratis, transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu,
secara sosiologis manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan
sosialisasi dengan manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sehingga berimplikasi terhadap pengembangan teori belajar dan mode
pembelajaran. Contohnya: dalam proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan
dari kalangan mampu saja, melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan
kurang mampu pun juga bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama.[3]
4.
Menurut Mawardi
model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI di Madrasah adalah Model
Pembelajaran Nilai.[4]
Model pembelajaran nilai didasarkan pada pengembangan afektif dan nilai-nilai
komprehensif. Afektif atau sikap merupakan refleksi dari nilai (value)
yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari
dalam. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk,
indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain
sebagainya.[5]
Model pembelajaran berbasis nilai dianggaptepat karena merupakan suatu model
penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan dapat berperilaku sesuai
dengan pandangan agama islam.
5.
Perbedaan model
kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri:
a.
Model kooperatif adalah pembelajaran
yang lebih menekankan kerjasama di antara peserta didik di kelas.
b.
Model integrated adalah system
pembelajaran yang berpusat pada anak, proses pembelajaran mengutamakan
pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi yang tidak
terlihat jelas.
c.
Model berbasis masalah adalah
pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang melibatkan
peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat pada
peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan
belajar mandiri .
d.
Model Inquiry adalah satu model
pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mampu menemukan
pengetahuan atau konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran tertentu secara
mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari.
B. Persamaaan model kooperatif,
integrated, berbasis masalah, dan inquiri. Adalah sama-sama berpusat pada siswa
(student-centered approaches).
6.
Model desain
pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah di antaranya adalah
Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), Model pembelajaran Kooperatif, Model
Pembelajaran Inquiri, Model Pembelajaran PAKEMI, Pemodelan, Model Pembelajaran
Afektif.[6]
7.
Kriteria
penetapan isi pembelajaran di antaranya meliputi:
a.
Memiliki pendekatan pembelajaran.
b.
Memiliki strategi pembelajaran.
c.
Memiliki metode pembelajaran.
d.
Memiliki teknik pembelajaran.
e.
Memiliki taktik pembelajaran.
f.
Memiliki model pembelajaran.
Prinsip pemilihan model pembelajaran
PAI yang harus dikembangkan di antaranya:
Pertama, PAI
harus mampu mengembangkan aqidah sebagai landasan keberagamaan siswa dalam
meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia.
Kedua, PAI
harus mengembangkan konsep keterpaduan antara ketercapaian kemampuan yang
bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik. PAI bukan hanya bersifat
hafalan, melainkan juga praktik dan amalan.
Ketiga, PAI
harus mampu mengajarkan agama sebagai landasan dasar dan inspirasi siswa untuk
mengembangkan bidang keilmuan dari semua matapelajaran dan bahkan kajian yang
diajarkan sekolah.
Keempat, PAI
harus dapat menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari
siswa.
8.
Desain
pembelajaran yang bagus untuk PAI di madrasah dan di sekolah adalah desain
pembelajaran berbasis karakter. Karena di dalam desain pembelajaran PAI
dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran. Membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran
dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksankan proses
pembelajaran, dan evaluasi.
Sebagai contoh RPP berkarakter
seperti yang di kemukakan Hunts. Model ROPES (Review, Overview, Presentation,
Exercise dan Summary).
FORMAT RPP MODEL “ROPES”[7]
Identitas Rencana Pembelajaran
Mata Pelajaran:
Materi Pokok:
Kelas/Semester:
Pertemuan:
Waktu:
Standar Kompetensi:
Kompetensi Dasar:
Indikator:
1.
2.
3.
4.
Prosedur Pembelajaran
a.
Review:
b.
Overview:
c.
Presentation
|
No
|
Kegiatan Pembelajaran
|
Alokasi Waktu
|
Aspek Karakter yang dikembangkan
|
|
1.
|
Telling/Moral Knowing
|
|
Religious, amanah, disiplin, dll
|
|
2.
|
Showing/Moral Loving
|
|
Amanah, disiplin, dll
|
|
3.
|
Doing/Moral Doing
|
|
Kreatif, Peduli, disiplin, dll
|
d.
Exercise:
e.
Summary:
Media Pembelajaran:
Evaluasi Belajar:
Banjarmasin, 2016
Mengetahui
Kepala Madrasah/Sekolah Guru Mata Pelajaran,
(Nama jelas kepala dan gelar) (Nama jelas guru dan gelar)
NIP. NIP.
Berdasarkan
teori pendidikan karakter menurut Thomas Lickona (1991) adalah pendidikan untuk
membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya
terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur,
bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.[8]
Hakikat
pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan itu sendiri.
Pengertian pendidikan seperti yang tersirat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 adalah
“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyaraka,t bangsa dan negara.
Proses
pendidikan tidak bisa lepas dari tujuan-tujuan pembentukan karakter peserta
didik sebagaimana tersurat dalam konsep-konsep tujuan pendidikan nasional,
yakni: memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
dan akhlak mulia.[9]
Dalam perpektif
agama islam, lingkup pendidikan karakter dilakukan dengan melibatkan tiga
potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu’aqal, qalbu, dan nafs. Serta
ada beberapa ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pendidikan akhlak; Ar-Rum:
30, An-Nahl: 125-126.
9.
Pembelajaran Aqidah biasanya model desain pembelajaran yang dipakai adalah
CTL, contohnya materi pelajaran berupa Iman kepada kitab-kitab Allah, yang mana
para peserta didik diajak berdiskusi tentang Al-Qur’an dan dimotivasi agar bisa
membaca, memebaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an sedikit
demi sedikit. Inquiri contoh materi iman kepada
hari kiamat, yang mana para siswa di didik agar mampu menemukan konsep-konsep
yang ada secara mandiri melalui berbagai fenomena yang dipelajari seperti
terjadinya kiamat kecil.
Pembelajaran
akhlak biasanya model desain pemodelan, yang mana guru bisa menunjukan beberapa
model dar tokoh-tokoh berkarakter yang berhasil dalam hidupnya, seperti meneladani
sifat Nabi Muhammad SAW.
Pembelajaran
fiqih ketika membahas tentang taharah, maka menggunakan model desain
pembelajaran CTL, yang mengajarkan tentang praktek wudhu dan mandi. Selanjutnya
para murid diajak untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih. Serta
menjelaskan manfaat dan hikmah menjaga kebersihan dan kesehatan.
Pembelajaran
sejarah biasanya yang sering digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif.
Sebagai contoh untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW. Peserta didik
melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang telah ditentukan,
sehingga dalam waktu singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif
tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Sehingga mengajarkan kepada murid tentang
karakter-karakter mulia yang ada pada diri Rasul seperti kejujuran, kesabaran,
kepedulian, dan ketangguhan.
Pembelajaran
Al-Qur’an dan Hadits menggunakan pembelajaran model PAKEM. Sebagai contoh
ketika membelajarkan Al-Qur’an, peserta didik dikondisikan untuk belajar
langsung melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibantu dengan media yang
mendukung seperti media computer, LCD, Caption, dll. Yang utamanya pembelajaran
tersebut harus menyenangkan peserta didik dan harus efektif
Pada dasarnya
dari materi PAI yang mencakup aspek kajian Aqidah Akhlak, Fiqih, Qur’an Hadits,
dan Sejarah Islam. Itu bisa menyesuaikan dengan desain model pembelajaran yang
ada dan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.[10]
[1]Rusman,
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2011), h. 138-144, cet. 4.
[2]Amelie
Oksenberg Rorty, (ed.), Philosopehers on Education New Historical
Perspectives, (London and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[3]Jurnal
Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain
Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis,
Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.
[4]Imam
Mawardi, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills
Peserta Didik, (Bandung: Disertasi UPI, 2012).
[5]Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., (Jakarta: Kencana, 2009), h. 274,
cet. 6.
[6]Kementrian
Pendidikan Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa:
Pedoman Sekolah, (Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010), h. 24-28.
[7]Heri
Gunawan, PENDIDIKAN KARAKTER Konsep dan Implementasi, (Bandung:
Alfabeta, 2014), h. 309-311, cet. 3.
[8]
Ibid, h. 23.
[9]Sukadi,
“Pendidikan Karakter Bangsa
Berideologi Pancasila”, dalam Budimansyah, D dan Kokom Komalasari (ed). Pendidikan
Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Membina Kepribadian Bangsa. (Bandung:
Wijaya Aksara, 2011), h. 97.
[10]Hidayat,
Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter
Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.