EVALUASI PROGRAM HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI SYARAT LULUS UJIAN
PRAKTEK MATA PELAJARAN QUR’AN HADIST
BAB
I
PENDAHULUAN
Tulisan ini membahas tentang evaluasi program hafalan Juz ‘amma
sebagai syarat lulus mata pelajaran qur’an hadist.
Evaluasi ini dimaksudkan untuk menjawab
permasalahan: (1) Bagaimana pelaksanaan program hafalan juz amma ebagai syarat
untuk lulus mata pelajaran qur’an hadist? (2)
Bagaimana hasil (output) yang dicapai dari program hafalan juz amma? (3)
Apa saja faktor pendukung dan penghambat program hafalan juz amma?
Adapun Hasil Penelitian adalah: (1) Pelaksanaan program
tersebut dilaksanakan sesudah UAS di sekolah. (2) Tingkat ketercapaian target hafalan juz amma yang telah ditetapkan belum mencapai 100%. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya siswa dan siswi.
Berdasarkan hasil evaluasi ini diharapkan nantinya akan
menjadi bahan informasi dan masukan bagi para mahasiswa, guru, tenaga pengajar,
para peneliti, dan semua pihak.
BAB
II
MODEL
EVALUASI YANG DIPAKAI
Dalam ilmu evaluasi program pendidikan, ada banyak model
yang bisa digunakan untuk mengevaluasi suatu program[1].Meskipun
antara satu dengan lainnya berbeda, namun maksudnya sama yaitu melakukan
kegiatan pengumpulan data atau informasi yang berkenaan dengan objek yang
dievaluasi.
Evaluator dalam mengevaluasi program hafalan juz amma ini menggunakan model CIPP. Model
evaluasi ini merupakan model yang paling banyak dikenal dan diterapkan oleh
para evaluator.
Model evaluasi ini mulai dikembangkan oleh Daniel Leroy
Stufflebeam pada tahun 1966. Model yang dikembangkan oleh Stufflebeam ini
merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata, yaitu: context
evaluation (evaluasi terhadap konteks), input evaluation (evaluasi terhadap
masukan), process evaluation (evaluasi terhadap proses), dan product evaluation
(evaluasi terhadap hasil).
Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP merupakan
sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program
kegiatan. Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang memandang
program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem.
Seorang ahli evaluasi dari University of Washington bernama
Gilbert Sax (1980) memberikan arahan kepada evaluator tentang bagaimana
mempelajari tiap-tiap komponen yang ada dalam setiap program yang dievaluasi
dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Model ini sekarang disempurnakan dengan
satu komponen O, singkatan dari outcome(s) sehingga menjadi model CIPPO. Model
CIPP hanya berhenti pada mengukur output sedangkan CIPPO sampai pada
implementasi dari produk.
- Evaluasi Konteks
Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan
merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang
dilayani, dan tujuan proyek.[2]
Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang
akan dicapai oleh program, dan merumuskan tujuan program.[3]Evaluasi
konteks menurut Suharsimi dilakukan untuk menjawab pertanyaan: a) Kebutuhan apa
yang belum dipenuhi oleh kegiatan program, b) Tujuan pengembangan manakah yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan, c) Tujuan manakah yang paling mudah
dicapai.[4]
Menghafal merupakan proses yang rumit yang membutuhkan konsentrasi
yang mendalam, sehingga hafalan Al- Qur‟an berbeda dengan hafalan materi
pelajaran yang dapat
dihafalkan
dalam jangka waktu yang relatif pendek.
Adapun yang mendasari hafalan juz amma ini adalah untuk dapat lulus mata pelajaran qur’an
hadist.
- Evaluasi Masukan
Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi masukan. Maksud
dari evaluasi masukan adalah kemampuan siswa dan siswi dalam menunjang program hafalan juz amma[5]. Evaluasi ini membantu mengatur
keputusan, menentukan sumber- sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa
rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja untuk
mencapainya[6]. Adapun
komponen evaluasi masukan meliputi: a) Sumber daya manusia, b) Sarana dan
peralatan pendukung, c) Dana atau anggaran, dan Berbagai prosedur dan aturan
yang diperlukan[7].
- Evaluasi Proses
Evaluasi proses dalam model CIPP menunjuk pada “apa” (what)
kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk
sebagai penanggung jawab program, “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam
model CIPP, evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang
dilaksanakan di dalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana[8].
Evaluasi proses ini untuk membantu mengimplementasikan keputusan. Sampai sejauh
mana rencana telah diterapkan? Apa yang harus direvisi? Begitu pertanyaan tersebut terjawab, prosedur dapat
dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki.
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi
rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi,menyediakan
informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang
telah terjadi. Evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan
dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses
untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa
yang perlu diperbaiki.[9]
Evaluasi proses hapalan juz amma
sebagai syarat untuk lulus mata pelajaran qur’an hadist dilaksanakan sesudah UAS di
sekolah.
Menurut penulis hal itu terjadi karena kurangnya keseriusan dari
siswa dan siswi
untuk menghapal. Dan ke depan lebih bagus mahasiswa yang belum mampu menghapal
di karantina di suatu tempat dan di focus kan untuk menghapal saja agar mereka
bisa menyelesaikan hapalanya sesuai dengan targer pengelola.
- Evaluasi Produk atau Hasil
Dari hasil evaluasi
proses diharapkan dapat
membantu
pimpinan proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan
kelanjutan, akhir
maupun
modifikasi program. Sementara menurut Farida Yusuf Tayib napis, evaluasi produk untuk
membantu membuat keputusan
selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang
dilakukan setelah
program
itu berjalan.
Berdasarkan pendapat di
atas dapat diketahui
bahwa
evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan
dalam pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan. Data yang
dihasilkan
akan sangat menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan.[10]
Adapun kelebihan dan
kekurangan evaluasi model
CIPP
dibandingkan dengan model-model evaluasi yang lain, model CIPP memiliki
beberapa kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi tidak
hanya pada hasil
semata
tetapi juga mencakup konteks, masukan, proses, maupun hasil. Selain memiliki kelebihan
model CIPP juga
memiliki
keterbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang pembelajaran di
kelas mempunyai tingkat
keterlaksanaan
yang kurang tinggi jika tanpa adanya modifikasi. Hal ini dapat terjadi karena
untuk mengukur konteks,
masukan maupun hasil dalam arti yang luas akan melibatkan banyak pihak yang membutuhkan
waktu dan biaya
yang
lebih.[11]
BAB
III
SIMPULAN/PENUTUP
Berdasarkan uraian
dan pembahasan di atas program Hapalan
juz amma dapat
disimpulkan bahwa:
- Program Hapalan juz amma dilaksanakan di awal masuk kelas 9 sampai berakhir UAS.
- Hasil program Hapalan juz amma mengalami peningkatan yang pasang surut karena ada sebagian dari mahasiswa yang masih belum bisa menyelesaikan hapalanya.
- Program Hapalan juz amma sangat baik untuk diteruskan karena memliki dampak yang baik bagi siswa dan siswi dan hanya perlu diperlukan sedikit perubahan dari cara menghapal agar bisa mengahapal sesuai dengan target.
Daftar
Pustaka
Suharsimi
Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, Jakarta:
Bumi Aksara, 2008.
Tayib
napis, Farida Yusuf, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program
Pendidikan dan Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Widoyoko,
Eko Putro, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan
Calon Pendidik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
[1] Suharsimi Arikunto dan Cepi
Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis
Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, hlm. 41.
[2] Suharsimi Arikunto dan Cepi
Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis
Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, hlm. 46.
[3] Farida Yusuf Tayib napis, Evaluasi
Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian,
hlm. 14.
[4] Eko Putro Widoyoko, Evaluasi
Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 182.
[5] Suharsimi
Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan:
Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, hlm. 46.
[6] Farida Yusuf
Tayib napis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program
Pendidikan dan Penelitian, hlm. 14
[7] Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program
Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 182
[8]
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program
Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan,
hlm. 47.
[9]
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi
Pendidik dan Calon Pendidik, hlm. 182-183.
[10] Eko
Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik
dan Calon Pendidik, hlm. 183.
[11]
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi
Pendidik dan Calon Pendidik, hlm. 184.