BAB 1
.
PENDAHULUAN
Evaluasi,
dari awal kemunculannya sampai dengan saat ini terus mengalami perkembangan.
Evaluasi merupakan istilah baru dalam kajian keilmuan yang telah berkembang
menjadi disiplin ilmu sendiri. Walaupun demikian, bidang kajian evaluasi
ternyata telah banyak memberikan manfaat dan kontribusinya didalam memberikan
informasi maupun data, khususnya mengenai pelaksanan suatu program tertentu
yang pada gilirannya akan menghasilkan rekomendasi dan digunakan oleh pelaksana
program tersebut untuk menentukan keputusan, apakah program tersebut
dihentikan, dilanjutkan, atau ditingkatkan lebih baik lagi. Dan saat ini,
evaluasi telah berkembang menjadi tren baru sebagai disiplin ilmu baru dan
sering digunakan oleh hampir semua bidang dalam suatu program tertentu seperti,evaluasi
program training pada sebuah perusahaan, evaluasi program pembelajaran dalam
pendidikan, maupun evalausi kinerja para pegawai negeri sipil pada sebuah
instansi tertentu.
Dalam
implementasinya ternyata evaluasi dapat berbeda satu sama lain, hal ini
tergantung dari maksud dan tujuan dari evaluasi tersebut dilaksanakan. Seperti
evaluasi program pembelajaran tidak akan sama dengan evaluasi kinerja pegawai.
Evaluasi program pembelajaran dilakukan dengan dituan untuk melihat sejauh mana
hasil belajar telah tercapai dengan optimal sesuai dengan target dan tujuan
pembelajaran itu sediri. Sedangkan evaluasi kinerja pegawai dilakukan dengan
tujuan untuk melihat kualitas, loyalitas, atau motivasi kerja pegawai, sehingga
akan menentukan hasil produksi. Dengan adanya perbedaan tersebut lahirlah
beberapa model evaluasi yang dapat menjadi pertimbangan evaluator dalam
melakukan evaluasi. Dari beberapa model evaluasi yang ada, penulis hanya akan
membahas model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) yang
dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam.
Model
evaluasi CIPP dalam pelaksanaannya lebih banyak digunakan oleh para evaluator,
hal ini dikarenakan model evaluasi ini lebih komprehensif jika dibandingkan
dengan model evaluasi lainnya. Model evaluasi ini dikembangkan oleh Daniel
Stuffleabem, dkk (1967) di Ohio State University. Model evaluasi ini pada
awalnya digunakan untuk mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary
Education Act). CIPP merupakan singkatan dari, context evaluation
: evaluasi terhadap konteks, input evaluation : evaluasi terhadap
masukan, process evaluation : evaluasi terhadap proses, dan product
evaluation : evaluasi terhadap hasil. Keempat singkatan dari CIPP tersebut
itulah yang menjadi komponen evaluasi.
Model
CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a decision oriented evaluation
approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator
(kepala sekolah dan guru) didalam membuat keputusan. Menurut Stufflebeam, (1993
: 118) dalam Eko Putro Widoyoko mengungkapkan bahwa, “ the CIPP approach is
based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove
but improve.” Konsep tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan
bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan, tetapi untuk
memperbaiki.
Berikut
ini akan di bahas komponen atau dimensi model CIPP yang meliputi, context,
input, process, product.
1. Context Evaluation (Evaluasi
Konteks)
Stufflebeam (1983 : 128) dalam Hamid Hasan menyebutkan, tujuan evaluasi
konteks yang utama adalah untuk mengetahui kekutan dan kelemahan yang dimilki
evaluan. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan ini, evaluator akan dapat
memberikan arah perbaikan yang diperlukan. Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin
menjelaskan bahwa, evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan
merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang
dilayani, dan tujuan proyek.
2. Input Evaluation (Evaluasi Masukan)
Tahap kedu dari model CIPP adalah evaluasi input, atau
evaluasi masukan. Menurut Eko Putro Widoyoko, evaluasi masukan membantu
mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternative apa yang
diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur
kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi : 1) Sumber daya
manusia, 2) Sarana dan peralatan pendukung, 3) Dana atau anggaran, dan 4)
Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.
Menurut Stufflebeam sebagaimana yang
dikutip Suharsimi Arikunto, mengungkapkan bahwa pertanyaan yang berkenaan
dengan masukan mengarah pada pemecahan masalah yang mendorong
diselenggarakannya program yang bersangkutan.
3. Process Evaluation (Evaluasi Proses)
Worthen & Sanders (1981 : 137) dalam Eko Putro Widoyoko menjelaskan
bahwa, evaluasi proses menekankan pada tiga tujuan : “ 1) do detect or
predict in procedural design or its implementation during implementation stage,
2) to provide information for programmed decision, and 3) to maintain a record
of the procedure as it occurs “. Evaluasi proses digunakan untuk
menditeksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi
selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan
sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Evaluasi proses
meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam
praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui
sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu
diperbaiki. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, evaluasi proses dalam model CIPP
menunjuk pada “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program,
“siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program,
“kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi
proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program
sudah terlaksana sesuai dengan rencana
4. Product Evaluation (Evaluasi
Produk/Hasil)
Sax (1980 : 598) dalam Eko Putro Widoyoko memberikan pengertian
evaluasi produk/hasil adalah “ to allow to project director (or techer) to
make decision of program “. Dari evaluasi proses diharapkan dapat membantu
pimpinan proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan
kelanjutan, akhir, maupun modifikasi program. Sementara menurut Farida Yusuf
Tayibnapis (2000 : 14) dalam Eko Putro Widoyoko menerangkan, evaluasi produk
untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah
dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.
Dari pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpuan bahwa, evaluasi
produk merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat ketercapaian/
keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya. Pada tahap evaluasi inilah seorang evaluator dapat menentukan atau
memberikan rekomendasi kepada evaluan apakah suatu program dapat dilanjutkan,
dikembangkan/modifikasi, atau bahkan dihentikan.
Kelebihan dan Kekurangan Model Evaluasi CIPP
Menurut
Eko Putro Widoyoko model evaluasi CIPP lebih komprehensif diantara model
evaluasi lainnya, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi
juga mencakup konteks, masukan, proses, dan hasil. Selain kelebihan tersebut,
di satu sisi model evaluasi ini juga memiliki keterbatasan, antara lain
penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran dikelas mempunyai tingkat
keterlaksanaan yang kurang tinggi jika tidak adanya modifikasi.
BAB II
MODEL EVALUASI
Didalam Evaluasi ini menggambarkan
implementasi ekstrakurikuler keagamaan yang ada di MAN 2 Marabahan, yang di
tinjau dari komponen evaluasi konteks, input, proses, dan product.
a.
Evaluasi
konteks
Sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kepala sekolah MAN 2
Marabahan, ketika peneliti sedang melakukan wawancara dengan kepala sekolah, bahwasanya disekolah ini memiliki Visi visi : unggul dalam iman,
ilmu dan budaya islami yang berwawasan lingkungan. Misi : 1. Menumbuhkan dan
mengintensifkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan
sehari-hari. 2. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, kreatif
dan bermakna. 3. Melaksanakan kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan
intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Menurut kepala sekolah bahwasanya
kegiatan ekstrakurikuler sangat membantu siswa dalam mengembangkan
keterampilan, sehingga apa yang tidak didapat siswa ketika belajar di dalam jam
pelajaran ,maka siswa senantiasa
mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih dengan adanya ekstrakurikuler
keagamaan tersebut. Penyusunan program ekstrakurikuler ini melibatkan kepala
sekolah dan guru yang bersangkutan dengan ekstrakurikuler tersebut. Penyusunan
program ekstrakurikuler keagamaan ini mengacu kepada kegiatan lomba-lomba antar
sekolah, dan juga dapat diaplikasikan ketika adanya kegiatan peringatan hari
besar islam, misalkan peringatan tahun baru islam, peringatan kelahiran nabi
Muhammad saw, dan peringatan isra mi’raj nabi Muhammad saw. Ekstrakurikuler
yang ada di MAN 2 Marabahan antara lain pramuka, seni tari, maulid habsyi,
tilawah Al’Quran, dan Syarhil Qur’an. Dalam hal ini masyarakat juga
berpartisipasi dalam program ekstrakurikuler keagamaan ini yang mana masyarakat
telah memberikan dukungan dan
pertimbangan kepada penyelenggara pendidikan serta mengawasi pelaksanaan
program. Namun masyarakat sendiri sering tidak memahami apa itu program
ekstrakurikuler yang dilaksanakan sekolah. Mereka hanya memahami bahwa anaknya
diberikan pembekalan yang nantinya akan berguna bagi kehidupannya kelak.
b.
Evaluasi Input
Di dalam evaluasi imput ini , yang mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler keagamaan ini adalah siswa laki-laki dan perempuan yang memang
menyukai dan menginginkan untuk ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan
ini. Yang mana bertujuan untuk
menjadikan sumber daya manusia yang berbudi pekerti yang baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dalam hal
memilih pembina ekstrakurikuler keagamaan ini, sekolah menyuruh beberapa guru
yang mampu untuk menghandal atau membina kegiatan tersebut, akan tetepi juga
mengambil pelatih dari luar untuk menambah kekurangan-kekurangan yang dimiliki
guru di sekolah. Dalam kegiatan ini banyak siswa yang mengikuti kegiatan
tersebut, ini menunjukan bahwa siswa sangat ingin memiliki ilmu yang ingin
didapatnya dari ekstrakurikuler keagamaan tersebut. Dan mereka berpendapat
bahwa kegiatan ekstrakurikuler ini sangat penting untuk didikuti, karena
melalui kegiatan ini siswa dapat menambah ilmu dan wawasan yang belum mereka
dapatkan ketika di jam sekolah, dan dapat menjadikan siswa menjadi pribadi yang
berakhlakul karimah, dan dengan mengikuti program ekstrakurikuler ini siswa
mampu mengaktualisasikan bakat mereka sehingga dapat menjadi ketrampilan
individu siswa. Tempat kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini biasanya
dilakukan di Mushala yang ada disekolah. Yang mana mushala disekolah sangat
mendukung untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Namun siswa masih banyak merasa
gerah dan panas ketika mengikuti kegiatan tersebut, dikarenakan masih sempitnya
ruangan mushala , dan belum adanya pendingin udara didalam mushala tersebut.
Sehingga siswa masih ada yang menggunakan kipas manual. Yang mana akan menimbulkan suasana yang kurang kondusip
dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan tersebut.
c.
Evaluasi Proses
Kegiatan ekstrakurikuler di MAN 2 Marabahan dilaksanakan setelah
jam pelajaran selesai, biasanya dilakukan setiap hari kamis, pada pukul 16.00 -
17.30, dan dilaksanakan satu kali dalam semimggu. hal ini dilakukan supaya
tidak menganggu proses belajar siswa di sekolah. Pelaksanaan program
ekstrakurikuler ditangani oleh guru agama dan pembina yang mengusai tentang
bahan ajar yang ingin diajarkan. Di dalam penilaian ekstarakurikuler ini kepala
sekolah dan guru pembina selalu hadir dalam melakukan proses penilaian ini.
d.
Evaluasi produk
Berdasarkan
observasi dan wawancara dari kepala sekolah MAN 2 Marabahan, kegiatan
ekstrakurikuler keagamaan sudah bagus dari segi siswa sangat banyak peminatnya
dan banyak yang menyukai dan mengikuti kegiatan tersebut. Dikerenakan dengan
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan pengetahuan dan wawasan siswa
dapat bertambah luas. Dan apa yang didapat melalui kegiatan tersebut siswa
mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III
. SIMPULAN/PENUTUP
Berdasarkan uraian dalam penelitian evaluasi ini,
dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sangat penting dalam
mengembangkan watak dan kepribadian siswa dan akan menambah pengetahuan dan
ilmu yang bermanfaat. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara sekolah dan
masyarakat dalam merancang kegiatan ekstrakurikuler keagamaan agar lebih baik.
sehingga setelah dewasa nanti siswa dapat merasakan sendiri manfaat
dari kegiatan ini. Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini bukan saja memiliki
aspek pengetahuan yang baik, tetapi juga perilaku yang baik, artinya
kegiatan ekstrakurikuler keagamaan adalah suatu perangkat pengajaran yang
membawahi berbagai aspek yang menyangkut meningkatkan prilaku dan moral yang
berakhlak mulia, pengendalian emosi, pengembangan diri dalam beribadah,
pendidikan moral dan etika, serta pendidikan keterampilan hidup.
a.
Saran
Untuk kepala sekolah dan guru:
1. disarankan
untuk menambahkan alat pendingin atau kipas di dalam mushala yang di pakai
untuk pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan agar terciptanya suasana
yang kondusif dan tertib dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.
2.
Upayakan agar ekstrakurikuler keagamaan
ini selalu diadakan disekolah, jangan sampai terputus oleh sebab ataupun
masalah.
3. Kepala
sekolah dan guru agar dapat lebih bekerjasama dengan masyarakat setempat yang
berada dilingkungan sekolah , agar kegiatan ekstrakurukuler ini dapat dipahami
oleh masyarakat dan tambah lebih maju.
DAFTAR PUSTAKA
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran :
Panduan Praktis Bagi Pendidik dan
Calon
Pendidik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)
Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum,
cetakan kedua, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009)
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin, Evaluasi
Program Pendidikan : Pedoman Teoritis
Praktis
Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, cetakan
ketiga, (Jakarta : Bumi
Aksara,
2009)
Zaenal
Arifin, Evaluasi Pembelajaran : Prinsip, Teknik, dan Prosedur,
(Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2009)