Evaluasi-Ahmad Rasidi



BAB 1

. PENDAHULUAN



Evaluasi, dari awal kemunculannya sampai dengan saat ini terus mengalami perkembangan. Evaluasi merupakan istilah baru dalam kajian keilmuan yang telah berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri. Walaupun demikian, bidang kajian evaluasi ternyata telah banyak memberikan manfaat dan kontribusinya didalam memberikan informasi maupun data, khususnya mengenai pelaksanan suatu program tertentu yang pada gilirannya akan menghasilkan rekomendasi dan digunakan oleh pelaksana program tersebut untuk menentukan keputusan, apakah program tersebut dihentikan, dilanjutkan, atau ditingkatkan lebih baik lagi. Dan saat ini, evaluasi telah berkembang menjadi tren baru sebagai disiplin ilmu baru dan sering digunakan oleh hampir  semua bidang dalam suatu program tertentu seperti,evaluasi program training pada sebuah perusahaan, evaluasi program pembelajaran dalam pendidikan, maupun evalausi kinerja para pegawai negeri sipil pada sebuah instansi tertentu.

Dalam implementasinya ternyata evaluasi dapat berbeda satu sama lain, hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dari evaluasi tersebut dilaksanakan. Seperti evaluasi program pembelajaran tidak akan sama dengan evaluasi kinerja pegawai. Evaluasi program pembelajaran dilakukan dengan dituan untuk melihat sejauh mana hasil belajar telah tercapai dengan optimal sesuai dengan target dan tujuan pembelajaran itu sediri. Sedangkan evaluasi kinerja pegawai dilakukan dengan tujuan untuk melihat kualitas, loyalitas, atau motivasi kerja pegawai, sehingga akan menentukan hasil produksi. Dengan adanya perbedaan tersebut lahirlah beberapa model evaluasi yang dapat menjadi pertimbangan evaluator dalam melakukan evaluasi. Dari beberapa model evaluasi yang ada, penulis hanya akan membahas model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam.

Model evaluasi CIPP dalam pelaksanaannya lebih banyak digunakan oleh para evaluator, hal ini dikarenakan model evaluasi ini lebih komprehensif jika dibandingkan dengan model evaluasi lainnya. Model evaluasi ini dikembangkan oleh Daniel Stuffleabem, dkk (1967) di Ohio State University. Model evaluasi ini pada awalnya digunakan untuk mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). CIPP merupakan singkatan dari, context evaluation : evaluasi terhadap konteks, input evaluation : evaluasi terhadap masukan, process evaluation : evaluasi terhadap proses, dan product evaluation : evaluasi terhadap hasil. Keempat singkatan dari CIPP tersebut itulah yang menjadi komponen evaluasi.

Model CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a decision oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator (kepala sekolah dan guru) didalam membuat keputusan. Menurut Stufflebeam, (1993 : 118) dalam Eko Putro Widoyoko mengungkapkan bahwa, “ the CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but improve.” Konsep tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan, tetapi untuk memperbaiki.

Berikut ini akan di bahas komponen atau dimensi model CIPP yang meliputi, context, input, process, product.

1. Context Evaluation (Evaluasi Konteks)

Stufflebeam (1983 : 128) dalam Hamid Hasan menyebutkan, tujuan evaluasi konteks yang utama adalah untuk mengetahui kekutan dan kelemahan yang dimilki evaluan. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan ini, evaluator akan dapat memberikan arah perbaikan yang diperlukan. Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin menjelaskan bahwa, evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani, dan tujuan proyek.

2. Input Evaluation (Evaluasi Masukan)

Tahap kedu dari model CIPP adalah evaluasi input, atau evaluasi masukan. Menurut Eko Putro Widoyoko, evaluasi masukan membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternative apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi : 1) Sumber daya manusia, 2) Sarana dan peralatan pendukung, 3) Dana atau anggaran, dan 4) Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.

Menurut Stufflebeam sebagaimana yang dikutip Suharsimi Arikunto, mengungkapkan bahwa pertanyaan yang berkenaan dengan masukan mengarah pada pemecahan masalah yang mendorong diselenggarakannya program yang bersangkutan.

3. Process Evaluation (Evaluasi Proses)

Worthen & Sanders (1981 : 137) dalam Eko Putro Widoyoko menjelaskan bahwa, evaluasi proses menekankan pada tiga tujuan : “ 1) do detect or predict in procedural design or its implementation during implementation stage, 2) to provide information for programmed decision, and 3) to maintain a record of the procedure as it occurs “. Evaluasi proses digunakan untuk menditeksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, evaluasi proses dalam model CIPP menunjuk pada “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program, “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana

4. Product Evaluation (Evaluasi Produk/Hasil)

Sax (1980 : 598) dalam Eko Putro Widoyoko memberikan pengertian evaluasi produk/hasil adalah “ to allow to project director (or techer) to make decision of program “. Dari evaluasi proses diharapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir, maupun modifikasi program. Sementara menurut Farida Yusuf Tayibnapis (2000 : 14) dalam Eko Putro Widoyoko menerangkan, evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.

Dari pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpuan bahwa, evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat ketercapaian/ keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap evaluasi inilah seorang evaluator dapat menentukan atau memberikan rekomendasi kepada evaluan apakah suatu program dapat dilanjutkan, dikembangkan/modifikasi, atau bahkan dihentikan.



Kelebihan dan Kekurangan Model Evaluasi CIPP

Menurut Eko Putro Widoyoko model evaluasi CIPP lebih komprehensif diantara model evaluasi lainnya, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan, proses, dan hasil. Selain kelebihan tersebut, di satu sisi model evaluasi ini juga memiliki keterbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran dikelas mempunyai tingkat keterlaksanaan yang kurang tinggi jika tidak adanya modifikasi.





















BAB II

MODEL EVALUASI



        Didalam Evaluasi ini menggambarkan implementasi ekstrakurikuler keagamaan yang ada di MAN 2 Marabahan, yang di tinjau dari komponen evaluasi konteks, input, proses, dan product.

a.       Evaluasi konteks

Sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kepala sekolah MAN 2 Marabahan, ketika peneliti sedang melakukan wawancara  dengan kepala sekolah, bahwasanya disekolah  ini memiliki Visi visi : unggul dalam iman, ilmu dan budaya islami yang berwawasan lingkungan. Misi : 1. Menumbuhkan dan mengintensifkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. 2. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, kreatif dan bermakna. 3. Melaksanakan kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Menurut kepala sekolah bahwasanya kegiatan ekstrakurikuler sangat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan, sehingga apa yang tidak didapat siswa ketika belajar di dalam jam pelajaran ,maka siswa senantiasa  mendapatkan ilmu dan wawasan yang lebih dengan adanya ekstrakurikuler keagamaan tersebut. Penyusunan program ekstrakurikuler ini melibatkan kepala sekolah dan guru yang bersangkutan dengan ekstrakurikuler tersebut. Penyusunan program ekstrakurikuler keagamaan ini mengacu kepada kegiatan lomba-lomba antar sekolah, dan juga dapat diaplikasikan ketika adanya kegiatan peringatan hari besar islam, misalkan peringatan tahun baru islam, peringatan kelahiran nabi Muhammad saw, dan peringatan isra mi’raj nabi Muhammad saw. Ekstrakurikuler yang ada di MAN 2 Marabahan antara lain pramuka, seni tari, maulid habsyi, tilawah Al’Quran, dan Syarhil Qur’an. Dalam hal ini masyarakat juga berpartisipasi dalam program ekstrakurikuler keagamaan ini yang mana masyarakat telah  memberikan dukungan dan pertimbangan kepada penyelenggara pendidikan serta mengawasi pelaksanaan program. Namun masyarakat sendiri sering tidak memahami apa itu program ekstrakurikuler yang dilaksanakan sekolah. Mereka hanya memahami bahwa anaknya diberikan pembekalan yang nantinya akan berguna bagi kehidupannya kelak.







b.      Evaluasi Input

Di dalam evaluasi imput ini , yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini adalah siswa laki-laki dan perempuan yang memang menyukai dan menginginkan untuk ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini. Yang mana bertujuan  untuk menjadikan sumber daya manusia yang berbudi pekerti yang baik dan  bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dalam hal memilih pembina ekstrakurikuler keagamaan ini, sekolah menyuruh beberapa guru yang mampu untuk menghandal atau membina kegiatan tersebut, akan tetepi juga mengambil pelatih dari luar untuk menambah kekurangan-kekurangan yang dimiliki guru di sekolah. Dalam kegiatan ini banyak siswa yang mengikuti kegiatan tersebut, ini menunjukan bahwa siswa sangat ingin memiliki ilmu yang ingin didapatnya dari ekstrakurikuler keagamaan tersebut. Dan mereka berpendapat bahwa kegiatan ekstrakurikuler ini sangat penting untuk didikuti, karena melalui kegiatan ini siswa dapat menambah ilmu dan wawasan yang belum mereka dapatkan ketika di jam sekolah, dan dapat menjadikan siswa menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, dan dengan mengikuti program ekstrakurikuler ini siswa mampu mengaktualisasikan bakat mereka sehingga dapat menjadi ketrampilan individu siswa. Tempat kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini biasanya dilakukan di Mushala yang ada disekolah. Yang mana mushala disekolah sangat mendukung untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Namun siswa masih banyak merasa gerah dan panas ketika mengikuti kegiatan tersebut, dikarenakan masih sempitnya ruangan mushala , dan belum adanya pendingin udara didalam mushala tersebut. Sehingga siswa masih ada yang menggunakan kipas manual. Yang mana  akan menimbulkan suasana yang kurang kondusip dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan tersebut.



c.       Evaluasi Proses

Kegiatan ekstrakurikuler di MAN 2 Marabahan dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai, biasanya dilakukan setiap hari kamis, pada pukul 16.00 - 17.30, dan dilaksanakan satu kali dalam semimggu. hal ini dilakukan supaya tidak menganggu proses belajar siswa di sekolah. Pelaksanaan program ekstrakurikuler ditangani oleh guru agama dan pembina yang mengusai tentang bahan ajar yang ingin diajarkan. Di dalam penilaian ekstarakurikuler ini kepala sekolah dan guru pembina selalu hadir dalam melakukan proses penilaian ini.





d.      Evaluasi produk

          Berdasarkan observasi dan wawancara dari kepala sekolah MAN 2 Marabahan, kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sudah bagus dari segi siswa sangat banyak peminatnya dan banyak yang menyukai dan mengikuti kegiatan tersebut. Dikerenakan dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan pengetahuan dan wawasan siswa dapat bertambah luas. Dan apa yang didapat melalui kegiatan tersebut siswa mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

























































BAB III

. SIMPULAN/PENUTUP

Berdasarkan uraian dalam penelitian evaluasi ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler keagamaan sangat penting dalam mengembangkan watak dan kepribadian siswa dan akan menambah pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara sekolah dan masyarakat dalam merancang kegiatan ekstrakurikuler keagamaan agar lebih baik. sehingga  setelah dewasa nanti siswa  dapat merasakan sendiri manfaat dari kegiatan ini. Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan ini bukan saja memiliki aspek pengetahuan yang baik, tetapi juga perilaku yang  baik, artinya kegiatan ekstrakurikuler keagamaan adalah suatu perangkat pengajaran yang membawahi berbagai aspek yang menyangkut meningkatkan prilaku dan moral yang berakhlak mulia, pengendalian emosi, pengembangan diri dalam beribadah, pendidikan moral dan etika, serta pendidikan keterampilan hidup.

    

a.       Saran

             Untuk kepala sekolah dan guru:

1.      disarankan untuk menambahkan alat pendingin atau kipas di dalam mushala yang di pakai untuk pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan agar terciptanya suasana yang kondusif dan tertib dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan.

2.      Upayakan agar ekstrakurikuler keagamaan ini selalu diadakan disekolah, jangan sampai terputus oleh sebab ataupun masalah.

3.      Kepala sekolah dan guru agar dapat lebih bekerjasama dengan masyarakat setempat yang berada dilingkungan sekolah , agar kegiatan ekstrakurukuler ini dapat dipahami oleh masyarakat dan  tambah lebih maju.



















DAFTAR PUSTAKA

Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran : Panduan Praktis Bagi Pendidik dan

           Calon Pendidik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009)

Hamid Hasan, Evaluasi Kurikulum, cetakan kedua, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009)

Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin, Evaluasi Program Pendidikan : Pedoman Teoritis

           Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, cetakan ketiga, (Jakarta : Bumi

           Aksara, 2009)



Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran : Prinsip, Teknik, dan Prosedur, (Bandung : Remaja

            Rosdakarya, 2009)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »