Evaluasi-Juriana Elida Septiawati


FINAL TEST (EVALUASI PROGRAM)

“Pembiasaan Shalat Dhuha di

SMK Geologi Pertambangan Kal-Tim”



Disusun Oleh:

Juriana Elida Septiawati

NIM. 1502521492





BAB I

PENDAHULUAN



Dalam konteks kehidupan sehari-hari kita telah melakukan apa yang disebut evaluasi. Seseorang membuat rencana dan dievaluasi hasilnya. Dari hasil evaluasi diketahui apakah tujuan yang ditetapkan tercapai atau tidak berdasarkan kriteria tertentu. Pada dasarnya tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang akurat dan objektif tentang pelaksanaan program. Informasi tersebut dapat mengenai dampak, atau hasil yang dicapai, proses, efisiensi atau pemanfaatan pendayagunaan sumber daya. Pemanfaatan hasil dapat tertuju kepada program itu sendiri untuk dilanjutkan.

Program merupakan acuan kegiatan yang disusun dan dilaksanakan oleh suatu lembaga. Oleh karena itu, lembaga yang diberikan kepercayaan melaksanakan program selalu berhati-hati dalam melaksanakannya, sehingga tidak terjadi ketimpangan.

Program pendidikan yang akan diangkat adalah pembiasaan shalat dhuha berjamaah yang dilakukan setiap pagi sebelum masuk jam pelajaran pertama yang dilakukan di SMK Geologi Pertambangan, dengan harapan dari pihak sekolah adanya penanaman intelektual, emosional, serta spiritual siswanya agar terhindar dari perbuatan tercela. Ada beberapa perbedaan mendasar dalam pemahaman agama antara siswa yang menempuh pendidikan di sekolah agama seperti Madrasah Aliyah (MA) dengan siswa yang menempuh pendidikan di sekolah umum seperti SMA/SMK. Perbedaan yang paling mendasar adalah siswa yang menempuh pendidikan di sekolah umum, siswa/i kurang mendapatkan materi-materi mendasar tentang agama, seperti tentang thaharah (bersuci), sholat, membaca al-Qur’an, dsb yang berkaitan dengan materi agama karena keterbatasan jam pelajaran dan juga banyaknya jurusan (konsentrasi) ilmu yang akan menjadi pilihan siswa sesuai kompetensi yang dimilikinya.

Penyelenggaraan program ini dilakukan setiap hari setiap pagi dan juga bukan hanya ditujukan kepada siswa saja tetapi guru-guru juga bisa memberikan contoh yang baik bagi siswanya dengan adanya shalat berjamaah sehingga terjalin hubungan agamis antara siswa dan guru. Akan tetapi, setiap proses dalam program yang dijalankan pasti ada hambatan atau kendala yang dihadapi.

Beberapa hambatan atau kendala yang ada di atas tadi ditemukan sebuah pemecahan masalah dengan cara membimbing siswa secara langsung. Hal ini perlu dilakukan secara rutin perminggu, agar siswa terbiasa dan tidak mudah lupa dengan apa yang sudah diajarkan. Berdiskusi secara terarah perlu juga diadakan untuk menambah wawasan siswa. Tujuannya agar siswa tidak hanya bisa melaksanakan ibadah yang baik dan benar serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan juga merreka memiliki wawasan yang luas tentang agama Islam.

Jadi, evaluasi program “Pembiasaan Shalat Dhuha Berjamaah di SMK Geologi Pertambangan Kal-Tim” dengan menggunakan model Countenance Stake, analisis proses evaluasi yang dikemukakannya membawa dampak yang cukup besar dalam bidang ini dan meletakkan dasar yang sederhana namun merupakan konsep yang cukup kuat untuk perkembangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi.























BAB II

MODEL EVALUASI



A.                Evaluasi Program

Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa pengertian tentang ”program” itu sendiri. Di dalam kamus tertulis:

a.       Program adalah rencana,

b.      Program adalah kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Dalam pembicaraan ini dimaksud adalah pengertian (b).

Melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan (Arikunto, 2015: 325). Di samping itu, hal ini dapat digunakan untuk kepentingan pertanggungjawaban administratif kepada penyandang dana atau untuk publikasi keberhasilan program, guna memperoleh simpati, perhatian dan pengakuan luas dari masyarakat serta tokoh-tokoh yang berpengaruh terhadap kelangsungan program.

Model evaluasi yang digunakan adalah model Countenance Stake. Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi yaitu description dan judgement. Dia mengatakan bahwa apabila kita menilai suatu program pendidikan, harus melakukan perbandingan yang relative antara satu program dengan yang lain atau perbandingan yang absolut (satu program dengan standard).

Penekanan yang umum atau hal yang penting dalam model ini ialah bahwa evaluator yang membuat penilaian tentang program yang dievaluasi. Dikatakan bahwa description di satu pihak berbeda dengan  judgement atau menilai. Dalam model ini, masukan, proses, dan hasil data dibandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan tujuan dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standard yang absolute, untuk menilai manfaat program (Eko, 2011: 187).

Berdasarkan pernyataan di atas bahwa setiap program yang dilaksanakan membawa manfaat bagi siswa serta guru juga tentunya sebagai panutan. Tujuannya adalah membentuk kehidupan agamis di lingkungan sekolah agar nantinya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Agar siswa beserta guru melakukan shalat berjamaah suapay terjalin ukhuwah Islamiah karena misi utama PAI adalah membina kepribadian siswa dan mahasiswa secara utuh dengan harapan kelak mereka akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia.

Melihat keberadaannya di sekolah, secara institusional pelaksanaan PAI terikat oleh sistem persekolahan yang cenderung menganut sistem pendidikan sekuler. Di satu sisi PAI merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional, namun di sisi lain PAI sebagai sub sistem dari sistem pendidikan Islam yang dituntut mengembangkan sistem materi dan pengelolaan tersendiri sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam. Oleh karena itu, persoalan yang dihadapi PAI di sekolah sangat berbeda dengan persoalan pendidikan Islam secara keseluruhan (Syahidin, 2009: 1-2).

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi tantangan internal pelaksanaan PAI di sekolah, yaitu:

1.      Adanya perbedaan pandangan masyarakat terhadap keberadaan PAI di sekolah. Menurut Rohmat Wahab (1999), ada dua pandangan masyarakat tentang keberadaan PAI di sekolah.

a.       Ada yang memandang PAI secara sempit hanya sebagai mata pelajaran seperti mata pelajaran lainnya.

b.      Ada yang memandang PAI memiliki jangkauan yang lebih luas tidak sekedar mata kuliah yang tertulis dalam dokumen kurikulum. PAI bertanggung jawab tidak hanya pada tataran pengajaran, melainkan lebih mementingkan pada tataran pendidikan, yaitu di samping membangun intelektualitas mahasiswa, juga membangun pribadinya sehingga menjadi ”insan kamil”.

2.      Kurang jelasnya landasan filosofis pelaksanaan PAI di sekolah.

3.      Perencanaan program pelaksanaan PAI kurang jelas. PAI merupakan suatu mata pelajaran wajib di sekolah. Dalam tataran perencanaan program maupun dalam pelaksanaannya masih dipertanyakan oleh banyak pihak apakah perencanaan program dan pelaksanaannya sudah optimal atau belum?

Sebagaimana yang terjadi banyak sekali hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program di SMK Geologi Pertambangan ini diantaranya pengadaan sarana prasarana tempat ibadah yang kurang memadai untuk menampung jumlah siswa yang banyak. Dalam mengerjakan ibadah ini para siswa kelihatannya masih setengah hati melaksanakannya, mereka melaksanakannya karena faktor absen. Yang dibutuhkan siswa saat ini adalah para pendidik merangkul serta mengajak mereka bersama-sama dalam beribadah, bukan memberikan hukuman bagi yang tidak melaksanakan shalat dhuha berjamaah.

Bagi siswa yang kurang disiplin dalam mengikuti pelajaran di dalam kelas guru bisa secara tegas menegur siswa serta memberikan contoh yang baik kepada siswa, baik dalam hal berbicara, berpakaian dan berperilaku. Agar siswa tidak jenuh dalam mengikuti pelajaran agama Islam, pelajaran dapat dilaksanakan di tempat terbuka ditambah dengan media-media yang sesuai materi yang akan diajarkan. Dengan hal ini yang diharapkan adalah siswa bisa mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam dengan efektif. Semoga dengan menambah kegiatan ekstrakurikuler untuk materi agama Islam, dapat menambah wawasan siswa tentang pendidikan agama Islam. Yang sangat diharapkan dari pihak sekolah dan juga para orang tua murid adalah terciptanya generasi yang memiliki kepribadian yang utuh (beriman dan bertakwa) dan memiliki kemampuan akademik propesional yang tinggi menuju masyarakat madani di era sekarang yang dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin maju yang juga mempengaruhi pola pikir serta akhlak peserta didik.

Penciptaan suasana religius di lingkungan sekolah, baik melalui kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler PAI seperti pesantern kilat, ceramah-ceramah keagamaan merupakan salah satu bagian dari learning proces dalam pembinaan dan pengembangan kepribadian siswa untuk mencapai kompetensi tertentu yaitu kemuliaan akhlak.



B.                 Keadaan Sekolah

Penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Geologi Pertambangan menganut sistem kurikulum pendidikan kejuruan terbaru yaitu sistem yang berbasis kompetensi yang terdiri dari teori 30% dan praktek 70% serta menerapkan sistem semester. Penerapan Sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang menitikberatkan pada keahlian dibidang geologi dan pertambangan dengan melakukan praktek di laboratorium maupun di lapangan (Learning by Doing) yang bekerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta (perusahaan) di Provinsi Kalimantan Timur.

Untuk mengembangkan kemampuan siswa selain menguasai ilmu pengetahuan, juga tersedia suatu wadah organisasi OSIS SMK Geologi Pertambangan yang mempunyai kegiatan:

a.       English Day Conversation (hari Sabtu)

b.      Field Study ke Perusahaan Pertambangan.

c.       KIR, Pramuka, UKS, Paskhas, Siswa pecinta topografi, Siswa pecinta mineplan

d.      Berbagai cabang Olahraga seperti Futsal, sepakbola, bulu tangkis, Bola volley, Bola Basket, Bela diri



Berdasarkan data di atas, tidak dimasukkannya kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan hanya difokuskan pada pengetahuan umum saja dikarenakan terlalu banyak konsentrasi ilmu yang akan dipilih siswa sehingga waktu untuk kegiatan agama tidak banyak padahal setiap hari dilakukan (shalat dhuha), jadi hal itu akan berdampak pada spiritual siswa karena siswa menganggap itu tidak terlalu penting.





BAB III

PENUTUP

Simpulan yang bisa diambil dari makalah ini adalah masing-masing individu, baik guru maupun murid memberikan sinyal, tanda, persepsi, sikap, dan tindakan tentang sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan hubungan mereka. Daya yang dimiliki setiap orang tidak sama derajatnya, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Perbedaan tersebut ada yang disebabkan berbedanya pendidikan dan ada pula yang disebabkan oleh berbedanya fitrah manusia yang tidak termasuk bidang usaha manusia. Berdasarkan apa yang diperoleh dapat dikatakan bahwa tujuan diadakannya program adalah baik hanya saja dalam pelaksanaannya atau prakteknya masih kurang baik sehingga diperlukan kerja sama dari semua pihak baik itu berupa kritik, saran atau masukan demi terselenggaranya program yang lebih baik lagi agar tujuan, visi, misi PAI terlaksana sehingga bias mencetak generasi “insan kamil”. Diharapkan untuk semua rekan-rekan guru, khususnya untuk guru agama Islam, baik itu guru tetap atau guru tidak tetap untuk biasa aktif dalam berkreasi, berinofasi, berimajinasi dan berkompetensi dalam menjalankan program pengajaran, khususnya Pendidikan Agama Islam.















DAFTAR PUSTAKA



Daryanto. 2010. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Eko Putro Widoyoko. 2011. Evaluasi Program Pembelajaran (Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharsimi Arikunto. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Syahidin. 2009. Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an. Bandung: Alfabeta.



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »