EVALUASI PROGRAM KHATAMAN
AL-QUR’AN
DI SMP NEGERI 3
BANAJARMASIN
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
Program Sekolah merupakan suatu pedoman, petunjuk, arah dan
penggerak yang menentukan aktivitas yang ada disekolah. Bermutu atau tidaknya
suatu kegiatan sekolah sangat bergantung
pada program yang dibuat. Apabila program sekolahnya baik maka kegiatan
– kegiatan sekolahnya pun akan baik, dan begitu pula sebaliknya apabila program
sekolahnya tidak bermutu maka sudah
tentu kegiatan – kegiatan sekolahnya tidak akan bermutu. Semua kegiatan yang
dilakukan disekolah harus bermuara pada satu titik yaitu tercapainya tujuan
pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas tampak jelas bahwa program sekolah
sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itulah, mengingat pentingnya
program sekolah, maka untuk menjaga mutu dan pengembangannya ke arah yang lebih
baik, program sekolah ini harus selalu dievaluasi secara berkelanjutan. Dari
hasil evaluasi inilah dapat dilakukan perbaikan – perbaikan, pengembangan, dan
peningkatan program sekolah sehingga akan semakin sempurna sesuai tuntutan dan
harapan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Sesuai dengan uraian – uraian diatas pada kesempatan ini akan dilakukan
evaluasi terhadap salah satu program sekolah yang telah dibuat oleh sekolah
SMPN 3 Banjarmasin yaitu Program Khataman Al-Qur’an. Khataman Al-Qur’an
merupakan program sekolah yang dilaksanakan setiap tahunnya. Sebelum
melaksanakan khataman tahunan tentunya sekolah SMPN 3 Banjarmasin sudah menjadwalkan
kegiatan membaca Al-Qur’an kepada seluruh siswanya. Dari hasil observasi di
SMPN 3 Banjarmasin kegiatan membaca Al-Qur’an dilaksanakan di halaman sekolah
dan pelaksanaannya dimulai dari jam 07.15 sampai 08.00 WITA setiap tiga kali
dalam seminggu.
Namun dari kegiatan tersebut belum ada tindak lanjut evaluasi yang
mengarah pada program tersebut. Untuk itu penulis mencoba membahas evaluasi
program yang cocok dalam program khataman Al-Qur’an ini yakni dengan
menggunakan model evaluasi CIPP.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Model Evaluasi
Menurut
pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily, 1983:220).
Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana
untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan
hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Anne Anastasi
mengartikan evaluasi sebagai “A systematic process of determining the extent to
which instructional objectives are achieved by pupils” (Anne Anastasi, 1978:6).
Evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental,
melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana,
sistematik, dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.
Farida Yusuf
Tayibnafis (2008: 13) mengatakan model evaluasi adalah model desain evaluasi
yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya sama
dinamakan dengan nama pembuatnya atau tahap pembuatannya.
B.
Pendekatan
Evaluasi Program
Dalam
melakukan evaluasi, perlu dipertimbangkan model evaluasi yang akan dibuat.
Model evaluasi merupakan suatu desain yang dibuat oleh para ahli atau pakar
evaluasi. Biasanya model evaluasi ini dibuat berdasarkan kepentingan seseorang,
lembaga atau instansi yang ingin mengetahui apakah program yang telah
dilaksanakan dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Adapun
model yang akan digunakan dalam evaluasi khataman Al-Qur’an di SMPN 3 Banjarmasin adalah model evaluasi
CIPP (Contect, Input, Proces, Product). Menurut Eko Putro Widoyoko (2009) model
evaluasi CIPP lebih komprehensif diantara model evaluasi lainnya, karena objek
evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan,
proses dan hasil. Model evaluasi CIPP ini terbagi dari 4 hurup yang diuraikan
sebagai berikut:
1.
Contect/Konteks
Stufflebeam ( 1983: 128) dalam Hamid
Hasan menyebutkan tujuan evaluasi konteks yang utama adalah untuk mengetahui
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki evaluasi.
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin
(2009) menjelaskan bahwa Dalam evaluasi konteks terdapat upaya menggambarkan
dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang
dilayani dan tujuan proyek. Dalam hal ini saya melakukan penelitian evaluasi
program khataman Al qur’an di SMPN 3 Banjarmasin.
Setiap sekolah memiliki kebijakan
dan tata tertib tersendiri. Tata tertib sekolah merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku di
sekolah agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.
Berikut beberapa tata tertib yang berlaku untuk mengikuti kegiatan
pengajian bagi seluruh siswa SMPN 3 Banjarmasin:
Ø Siswa harus hadir ke sekolah jam 07.00, paling lambat jam 07.15
sudah ada di sekolah.
Ø Apabila ada siswa yang terlambat akan diberi poin dan dihukum
membersihkan halaman.
Dalam program khataman Al-Qur’an tahunan ternyata ada beberapa
kebutuhan siswa yang belum terpenuhi diantaranya masih adanya siswa yang belum
bisa membaca Al-Qur’an, dan masih ada siswa yang belum pernah khatam Al-Qur’an.
Masalah seperti menjadi hambatan untuk mencapai tujuan dari program khataman
Al-Qur’an yaitu peningkatan minat dan prestasi siswa dalam membaca Al Qur’an.
2.
Input
Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input atau evaluasi
masukan. Salah satu komponennya adalah sumber daya manusia (SDM).
Ada pun jumalah siswa yang ada di SMPN 3 Banjarmasin berjumlah 705
orang, 5 orang diantaranya yang non muslim. Untuk pembagian kelas terbagi
kepada: kelas 7 ada tujuh lokal, kelas 8 ada delapan lokal dan kelas 9 ada enam
lokal.
Dari 700 siswa yang beragama Islam, masih ada anak yang belum bisa
membaca Al-Qur’an:
|
KELAS
|
IQRA/JILID
|
JUZ/AL-QUR’AN
|
KHATAM AL-QURAN
|
JUMLAH
|
|
7.
|
6 orang
|
154 orang
|
75 orang
|
235 orang
|
|
8.
|
4 orang
|
179 orang
|
78 orang
|
261 orang
|
|
9.
|
1 orang
|
140 orang
|
63 orang
|
204 orang
|
|
Jumlah
|
11 orang
|
473 orang
|
216 orang
|
700 orang
|
3.
Proces/Proses
Pengajian Al-Qur’an ini sudah berjalan cukup lama, biasanya
dilaksanakan dari jam 07.15 - 07.45 WITA setelah itu langsung masuk kelas, jam
pelajaran pertama pukul 07.45. Tapi di awal tahun ajaran 2015/2016 ini jam
pengajian ditambah menjadi 07.15 – 08.00 WITA setelah itu langsung masuk kelas,
jam pelajaran pertama pada pukul 08.00 WITA. Tahun-tahun sebelumnya belum ada
program untuk kegiatan khataman Al-Qur’an, karena masih masuk kegiatan
pengajian biasa, tanpa ada sesuatu yang harus dicapai, jadi pengajiannya cukup
hanya membaca beberapa ayat Al-Qur’an saja setiap kali pertemuannya, dan
pengajian ini dilaksanakan setiap hari selasa, rabu dan kamis, terjadwal tiga
kali seminggu. Dari sekian tahun akhirnya pada pertengahan tahun 2015 bisa
mengjkhatamkan Al-Qur’an untuk pertama kalinya di SMP Negeri 3 Banjarmasin.
Ternyata hal itu disambut baik dari berbagai pihak mulai siswa, orangtua,
guru-guru, kepala sekolah dan juga seluruh stap-stap tata usaha. Akhirnya
kepala sekolah mulai berfikir untuk mengadakan program khataman Al-Qur’an
setiap tahunya.
Pada awal ajaran baru tahun 2015/2016 mulai menjalankan program
khataman Al-Qur’an dengan harapan dalam jangka 1 tahun bisa mengkhatamkan
Al-Qur’an. Adapun proses pelaksanaannya dilaksanakan setiap hari selasa, rabu
dan kamis terjadwal tiga kali seminggu, dari jam 07.15 – 08.00 WITA. Susunan
kegiatan di awali membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan membaca Asma’ul Husna,
setelah itu baru mulai membaca Al-Qur’an dan di akhiri dengan membaca do’a
senandung Al-Qur’an. Dalam pelaksanaan pengajian Al-Qur’an tersebut, ada
pembagian tugas yang sudah disusun, yaitu:
a.
Tugas guru:
Ø Guru agama sebagai penyaji/ pemimpin dalam kegiatan
Ø Wali-wali kelas wajib ada untuk mengatur dan mengawasi anak
didiknya
Ø Guru piket menyiapakan sound system untuk kegiatan
Ø Guru BK mencatat anak-anak yang datang terlambat
Ø Kepala Sekolah sebagai pembina yang mengontrol setip kegiatan
b.
Tugas siswa:
Ø Menyusun terpal untuk alas duduk masing-masing kelas
Ø 3 orang siswa sebagai petugas perwakilan kelas untuk memimpin
pembacaan Asmaul Husna dan pengajian
Ø Menyiapakan meja dan kursi untuk penyaji/pemimpin pengajian.
Jadi pelaksanaan pengajian ini dipimpin langsung guru Agama dan 3
orang siswa sebagai pendamping, guru membca terlebih dahulu, setelah itu baru
siswa bersama-sama mengulang apa yang dibaca tadi. Itulah gambaran kegiatan
pengajian di SMP Negeri 3 Banjarmasin.
Adapun yang menjadi kendala dalam program kegiatan khataman
Al-Qur’an ini adalah kesulitan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, karena selama
satu bulan kegiatan pengajian hanya bisa menyelesaikan 1 juz dari Al-Qur’an,
jadi kalau satu tahun paling banyak bisa menyelesaikan 12 juz. Hal ini menjadi
kendala terbesar dalam menjalankan program, untuk mengatasi masalah tersebut
guru agama memberikan solusi dengan cara membagi sisa juz tadi ke tiap-tiap
kelas, tetapi masih dalam pengawasan yang dibantu langsung oleh wali-wali kelas
masing-masing. Sehingga di akhir tahun ajaran bisa melaksanakan acara khataman
Al-Qur’an bersama-sama.
4.
Product/Hasil
Evaluasi proses diharapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru
untuk membantu keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir, maupun
modifikasi program. Sementara menurut Farida Yusuf Tayibnapis (2000: 14) dalam
EkoPutro Widoyoko menerangkan, evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan
selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan
setelah program itu berjalan.
Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan tujuan dari program
khataman Al-Qur’an belum tercapai sepenuhnya karena masih ada siswa yang belum
bisa membaca Al-Qur’an, dan siswa yang belum pernah khatam Al-Qur’an. Dalam
jangka panjang program khataman
Al-Qur’an akan memberikan dampak positif bagi siswa diantaranya membuat siswa
terbiasa dengan kegiatan membaca Al-Qur’an dan siswa akan termotivasi untuk
lebih rajin membaca Al-Qur’an.
Program ini pun mendapatkan dukungan langsung dari Ketua Komite
sekolah, orangtua siswa, Kepala Sekolah, guru dan semua stap-stap sekolah,
bahkan siswa-siswinya pun antusias untuk menyelenggerakan kegiatan ini, hal ini
terbukti ketika akhir tahun mereka berlomba-lomba supaya terpilih menjadi
Imamah untuk memimpin khataman Al-Qur’an tersebut.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Hasil valuasi
dalam program khataman Al-Qur’an ini belum tercapai sepenuhnya karena masih ada
siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an, dan siswa yang belum pernah khatam
Al-Qur’an. Dalam jangka panjang program
khataman Al-Qur’an akan memberikan dampak positif bagi siswa diantaranya
membuat siswa terbiasa dengan kegiatan membaca Al-Qur’an dan siswa akan
termotivasi untuk lebih rajin membaca Al-Qur’an
Yang menjadikan
kendala dalam pelaksanaan program ini adalah terlalu sedikitnya waktu membaca
Al-Qur’an, sehingga memerlukan waktu tambahan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.
Adapaun rencana
kedepannya untuk mempermudah kegiatan khataman Al-Qur’an ini adalah memberikan
waktu tambahan 1 jam pelajaran khusus untuk membaca tadrus Al-Qur’an tiap
kelasnya. Jadi mata pelajaran BTQ yang seharusnya 1 jam pelajaran di tambah
lagi satu jam pelajaran untuk tadarus Al-Qur’an. Hal ini akan sangat membantu
untuk menjalankan program khataman tiap tahunnya, selain itu juga guru BTQ lebih
bisa menyeleksi siapa yang lancar dan siapa yang kurang lancar dalam membaca
Al-Qur’an, karena tadarus dilakukan peroranagan/satu persatu.
Program ini
bisa terus berlanjut tiap tahunnya dengan inovasi dan semangat kerjasama dari
berbagai pihak yang selalu mendukung program ini. insya Allah akan terus
berkembang untuk menjadi lebih baik dalam pelaksanaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Eko Putro Widoyoko, Evaluasi
Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik,
Yoguakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Arikunto, Suharsimi dan Cepi
Safrudin, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis Bagi
Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, Cet. Ketiga, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,
Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Farida Yusuf
Tayibnafis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Jakarta: Rineka
Cipta, 2008.