Evaluasi-Ahmad Indera Bayu




EVALUASI PROGRAM KHATAMAN AL-QUR’AN

DI SMP NEGERI 3 BANAJARMASIN

TAHUN 2016



BAB I

PENDAHULUAN



Program Sekolah merupakan suatu pedoman, petunjuk, arah dan penggerak yang menentukan aktivitas yang ada disekolah. Bermutu atau tidaknya suatu kegiatan sekolah sangat bergantung  pada program yang dibuat. Apabila program sekolahnya baik maka kegiatan – kegiatan sekolahnya pun akan baik, dan begitu pula sebaliknya apabila program sekolahnya tidak bermutu  maka sudah tentu kegiatan – kegiatan sekolahnya tidak akan bermutu. Semua kegiatan yang dilakukan disekolah harus bermuara pada satu titik yaitu tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas tampak jelas bahwa program sekolah sangat penting dalam dunia pendidikan. Oleh karena itulah, mengingat pentingnya program sekolah, maka untuk menjaga mutu dan pengembangannya ke arah yang lebih baik, program sekolah ini harus selalu dievaluasi secara berkelanjutan. Dari hasil evaluasi inilah dapat dilakukan perbaikan – perbaikan, pengembangan, dan peningkatan program sekolah sehingga akan semakin sempurna sesuai tuntutan dan harapan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Sesuai dengan uraian – uraian diatas pada kesempatan ini akan dilakukan evaluasi terhadap salah satu program sekolah yang telah dibuat oleh sekolah SMPN 3 Banjarmasin yaitu Program Khataman Al-Qur’an. Khataman Al-Qur’an merupakan program sekolah yang dilaksanakan setiap tahunnya. Sebelum melaksanakan khataman tahunan tentunya sekolah SMPN 3 Banjarmasin sudah menjadwalkan kegiatan membaca Al-Qur’an kepada seluruh siswanya. Dari hasil observasi di SMPN 3 Banjarmasin kegiatan membaca Al-Qur’an dilaksanakan di halaman sekolah dan pelaksanaannya dimulai dari jam 07.15 sampai 08.00 WITA setiap tiga kali dalam seminggu.

Namun dari kegiatan tersebut belum ada tindak lanjut evaluasi yang mengarah pada program tersebut. Untuk itu penulis mencoba membahas evaluasi program yang cocok dalam program khataman Al-Qur’an ini yakni dengan menggunakan model evaluasi CIPP.



BAB II

PEMBAHASAN



A.    Model Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily, 1983:220). Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.

Anne Anastasi mengartikan evaluasi sebagai “A systematic process of determining the extent to which instructional objectives are achieved by pupils” (Anne Anastasi, 1978:6). Evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.

Farida Yusuf Tayibnafis (2008: 13) mengatakan model evaluasi adalah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya sama dinamakan dengan nama pembuatnya atau tahap pembuatannya.



B.     Pendekatan Evaluasi Program

Dalam melakukan evaluasi, perlu dipertimbangkan model evaluasi yang akan dibuat. Model evaluasi merupakan suatu desain yang dibuat oleh para ahli atau pakar evaluasi. Biasanya model evaluasi ini dibuat berdasarkan kepentingan seseorang, lembaga atau instansi yang ingin mengetahui apakah program yang telah dilaksanakan dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Adapun model yang akan digunakan dalam evaluasi khataman Al-Qur’an  di SMPN 3 Banjarmasin adalah model evaluasi CIPP (Contect, Input, Proces, Product). Menurut Eko Putro Widoyoko (2009) model evaluasi CIPP lebih komprehensif diantara model evaluasi lainnya, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan, proses dan hasil. Model evaluasi CIPP ini terbagi dari 4 hurup yang diuraikan sebagai berikut:

1.      Contect/Konteks

Stufflebeam ( 1983: 128) dalam Hamid Hasan menyebutkan tujuan evaluasi konteks yang utama adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki evaluasi.

Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin (2009) menjelaskan bahwa Dalam evaluasi konteks terdapat upaya menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani dan tujuan proyek. Dalam hal ini saya melakukan penelitian evaluasi program khataman Al qur’an di SMPN 3 Banjarmasin.

Setiap sekolah memiliki kebijakan dan tata tertib tersendiri. Tata tertib sekolah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku di sekolah agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.

Berikut beberapa tata tertib yang berlaku untuk mengikuti kegiatan pengajian bagi seluruh siswa SMPN 3 Banjarmasin:

Ø  Siswa harus hadir ke sekolah jam 07.00, paling lambat jam 07.15 sudah ada di sekolah.

Ø  Apabila ada siswa yang terlambat akan diberi poin dan dihukum membersihkan halaman.

Dalam program khataman Al-Qur’an tahunan ternyata ada beberapa kebutuhan siswa yang belum terpenuhi diantaranya masih adanya siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an, dan masih ada siswa yang belum pernah khatam Al-Qur’an. Masalah seperti menjadi hambatan untuk mencapai tujuan dari program khataman Al-Qur’an yaitu peningkatan minat dan prestasi siswa dalam membaca Al Qur’an.

2.      Input

Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input atau evaluasi masukan. Salah satu komponennya adalah sumber daya manusia (SDM).

Ada pun jumalah siswa yang ada di SMPN 3 Banjarmasin berjumlah 705 orang, 5 orang diantaranya yang non muslim. Untuk pembagian kelas terbagi kepada: kelas 7 ada tujuh lokal, kelas 8 ada delapan lokal dan kelas 9 ada enam lokal.

Dari 700 siswa yang beragama Islam, masih ada anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an:

KELAS
IQRA/JILID
JUZ/AL-QUR’AN
KHATAM AL-QURAN
JUMLAH
7.
6 orang
154 orang
75 orang
235 orang
8.
4 orang
179 orang
78 orang
261 orang
9.
1 orang
140 orang
63 orang
204 orang
Jumlah
11 orang
473 orang
216 orang
700 orang



           

3.      Proces/Proses

Pengajian Al-Qur’an ini sudah berjalan cukup lama, biasanya dilaksanakan dari jam 07.15 - 07.45 WITA setelah itu langsung masuk kelas, jam pelajaran pertama pukul 07.45. Tapi di awal tahun ajaran 2015/2016 ini jam pengajian ditambah menjadi 07.15 – 08.00 WITA setelah itu langsung masuk kelas, jam pelajaran pertama pada pukul 08.00 WITA. Tahun-tahun sebelumnya belum ada program untuk kegiatan khataman Al-Qur’an, karena masih masuk kegiatan pengajian biasa, tanpa ada sesuatu yang harus dicapai, jadi pengajiannya cukup hanya membaca beberapa ayat Al-Qur’an saja setiap kali pertemuannya, dan pengajian ini dilaksanakan setiap hari selasa, rabu dan kamis, terjadwal tiga kali seminggu. Dari sekian tahun akhirnya pada pertengahan tahun 2015 bisa mengjkhatamkan Al-Qur’an untuk pertama kalinya di SMP Negeri 3 Banjarmasin. Ternyata hal itu disambut baik dari berbagai pihak mulai siswa, orangtua, guru-guru, kepala sekolah dan juga seluruh stap-stap tata usaha. Akhirnya kepala sekolah mulai berfikir untuk mengadakan program khataman Al-Qur’an setiap tahunya.

Pada awal ajaran baru tahun 2015/2016 mulai menjalankan program khataman Al-Qur’an dengan harapan dalam jangka 1 tahun bisa mengkhatamkan Al-Qur’an. Adapun proses pelaksanaannya dilaksanakan setiap hari selasa, rabu dan kamis terjadwal tiga kali seminggu, dari jam 07.15 – 08.00 WITA. Susunan kegiatan di awali membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan membaca Asma’ul Husna, setelah itu baru mulai membaca Al-Qur’an dan di akhiri dengan membaca do’a senandung Al-Qur’an. Dalam pelaksanaan pengajian Al-Qur’an tersebut, ada pembagian tugas yang sudah disusun, yaitu:

a.       Tugas guru:

Ø  Guru agama sebagai penyaji/ pemimpin dalam kegiatan

Ø  Wali-wali kelas wajib ada untuk mengatur dan mengawasi anak didiknya

Ø  Guru piket menyiapakan sound system untuk kegiatan

Ø  Guru BK mencatat anak-anak yang datang terlambat

Ø  Kepala Sekolah sebagai pembina yang mengontrol setip kegiatan

b.      Tugas siswa:

Ø  Menyusun terpal untuk alas duduk masing-masing kelas

Ø  3 orang siswa sebagai petugas perwakilan kelas untuk memimpin pembacaan Asmaul Husna dan pengajian

Ø  Menyiapakan meja dan kursi untuk penyaji/pemimpin pengajian.

Jadi pelaksanaan pengajian ini dipimpin langsung guru Agama dan 3 orang siswa sebagai pendamping, guru membca terlebih dahulu, setelah itu baru siswa bersama-sama mengulang apa yang dibaca tadi. Itulah gambaran kegiatan pengajian di SMP Negeri 3 Banjarmasin.

Adapun yang menjadi kendala dalam program kegiatan khataman Al-Qur’an ini adalah kesulitan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, karena selama satu bulan kegiatan pengajian hanya bisa menyelesaikan 1 juz dari Al-Qur’an, jadi kalau satu tahun paling banyak bisa menyelesaikan 12 juz. Hal ini menjadi kendala terbesar dalam menjalankan program, untuk mengatasi masalah tersebut guru agama memberikan solusi dengan cara membagi sisa juz tadi ke tiap-tiap kelas, tetapi masih dalam pengawasan yang dibantu langsung oleh wali-wali kelas masing-masing. Sehingga di akhir tahun ajaran bisa melaksanakan acara khataman Al-Qur’an bersama-sama.

4.      Product/Hasil

Evaluasi proses diharapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru untuk membantu keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir, maupun modifikasi program. Sementara menurut Farida Yusuf Tayibnapis (2000: 14) dalam EkoPutro Widoyoko menerangkan, evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.

Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan tujuan dari program khataman Al-Qur’an belum tercapai sepenuhnya karena masih ada siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an, dan siswa yang belum pernah khatam Al-Qur’an. Dalam jangka panjang  program khataman Al-Qur’an akan memberikan dampak positif bagi siswa diantaranya membuat siswa terbiasa dengan kegiatan membaca Al-Qur’an dan siswa akan termotivasi untuk lebih rajin membaca Al-Qur’an.

Program ini pun mendapatkan dukungan langsung dari Ketua Komite sekolah, orangtua siswa, Kepala Sekolah, guru dan semua stap-stap sekolah, bahkan siswa-siswinya pun antusias untuk menyelenggerakan kegiatan ini, hal ini terbukti ketika akhir tahun mereka berlomba-lomba supaya terpilih menjadi Imamah untuk memimpin khataman Al-Qur’an tersebut.

BAB III

PENUTUP



SIMPULAN



Hasil valuasi dalam program khataman Al-Qur’an ini belum tercapai sepenuhnya karena masih ada siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an, dan siswa yang belum pernah khatam Al-Qur’an. Dalam jangka panjang  program khataman Al-Qur’an akan memberikan dampak positif bagi siswa diantaranya membuat siswa terbiasa dengan kegiatan membaca Al-Qur’an dan siswa akan termotivasi untuk lebih rajin membaca Al-Qur’an

Yang menjadikan kendala dalam pelaksanaan program ini adalah terlalu sedikitnya waktu membaca Al-Qur’an, sehingga memerlukan waktu tambahan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.

Adapaun rencana kedepannya untuk mempermudah kegiatan khataman Al-Qur’an ini adalah memberikan waktu tambahan 1 jam pelajaran khusus untuk membaca tadrus Al-Qur’an tiap kelasnya. Jadi mata pelajaran BTQ yang seharusnya 1 jam pelajaran di tambah lagi satu jam pelajaran untuk tadarus Al-Qur’an. Hal ini akan sangat membantu untuk menjalankan program khataman tiap tahunnya, selain itu juga guru BTQ lebih bisa menyeleksi siapa yang lancar dan siapa yang kurang lancar dalam membaca Al-Qur’an, karena tadarus dilakukan peroranagan/satu persatu.

Program ini bisa terus berlanjut tiap tahunnya dengan inovasi dan semangat kerjasama dari berbagai pihak yang selalu mendukung program ini. insya Allah akan terus berkembang untuk menjadi lebih baik dalam pelaksanaannya.




DAFTAR PUSTAKA



Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik, Yoguakarta: Pustaka Pelajar, 2009.



Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safrudin, Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan, Cet. Ketiga, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.



Farida Yusuf Tayibnafis, Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »