BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan sangat penting dalam
kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dalam
kehidupan seseorang, keluarga, maupun bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu
bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bagsa itu. Mengingat
sangat pentingnya pendidikan bagi kehiduapan maka pendidikan harus dilaksanakan
sebaik-baiknya, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.
Pendidikan Islam adalah pengembangan
pikiran manusia dan penataan tingkah laku serta emosinya berdasarkan agama
Islam dengan maksud merealisasikan tujuan Islam di dalam kehidupan individu dan
masyarakat, yakni dalam seluruh lapangan kehidupan.
Pendidikan Islam bertolak dari pola
pikir tentang padunya aspek teoritis (prisip-prinsip) dengan aspek praktis
(metode). Prinsip (akar katanya: principia) diartikan sebagai permulaan, yang
dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain yang keberadaaannya
tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip
pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh
prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya.
Ajaran Islam yang sarat dengan
konsep atau prinsip tertentu yang mendasari prilaku yang diharapkan. Pandangan
bahwa manusia merupakan makhluk Allah, yang mempunyai implikasi bahwa kehidupan
manusia, dasar dan tujuan hidupnya, upaya dan prilakunya tidak lepas dari
hubungannya dengan Allah. Demikian pula tingkah laku yang ditujukan kepada
manusia cara dan prosesnya harus dihubungkan dengan prinsip dasar bahwa manusia
adalah makhluk Allah.[1]
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-Prinsip Pendidikan Teoritis Filosofis
Al-Qur’an memberikan pandangan yang
mengacu pada kehidupan di dunia ini sehingga dasar-dasarnya harus memberi
petunjuk kepada pendidikan Islam. Seseorang tidak mungkin dapat berbicara
tentang pendidikan Islam tanpa mengambil Al-Qur’an sebagai satu-satunya
rujukan.
Teori pendidikan Islam utamanya
hendaknya berasal dari Al-Qur’an, sehingga teorinya mempunyai ketepatan. Karena
ayat al-Qur’an bukanlah untuk waktu yang terbatas melainkan untuk jangka waktu
yang panjang dan tanpa batas.
Secara fundamental teori Pendidikan
Islam berdasarkan konsep-konsep Al-Qur’an. Oleh karenanya teori ini terbuka
pintu bagi konsep-konsep lain yang berbeda yang memberi dukungan perspektif
al-Qur’an secara tepat. Semua asas-asas yang tidak dapat didamaikan dengan
asas-asas dasar Islam harus ditinggalkan.
Dalam teori pendidikan Islam
dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan
lainnya, seperti sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang
islami, dan sebagainya. Prinsip-prinsip teori pendidikan Islam merupakan teori
yang terintegratif yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Qur’ani. Jadi teori
pendidikan Islam tidak akan mungkin bertentangan dengan hasil-hasil sains,
tetapi bisa menerima dan memanfaatkan bagian-bagian dari sains sebagai pelaksanaan
operasioanal pendidikan.
Ada beberapa prinsip yang menjadi
dasar dalam pendidikan yang dikembangkan secara filosofis, yaitu : pertama
prinsip filsafat yang berhubungan dengan watak (natue) alam jagat, watak
manusia, watak masyarakat, watak pengetahuan manusia, dan watak akhlak, kedua
prinsip-prinsip pendidikan berhubungan dengan konsep pendidikan dan fungsinya
dalam masyarakat, tujuan-tujuan, kurikulum, program, metode-metode, pelayanan,
administrasi dan penyiapan guru-gurunya, prinsip-prinsip tersebut adalah:
Pendidikan berusaha mengadakan
pengembangan dan penumbuhan seluruh aspek pribadi individu dan mempersiapkannya
untuk khidupan yang mulia dan berhasil dalam suatu masyarakat. Pendidikan juga
berusaha memajukan, mengembangkan, dan merubah masyarakat kearah yang lebih
baik dalam segala bidang kehidupan: budaya, sosial, ekonomi dan politik.[2]
Pendidikan dalam pengertian yang
luas dan menyeluruh, yang meliputi pendidikan yang disengaja yang berlaku di
bawah pengawasan dan bimbingan lembaga pendidikan yang diciptakan. Juga
meliputi pendidikan yang tidak disengaja yang berlaku melalui lembaga yang
tidak didirikan sengaja untuk pendidikan, seperti lembaga penerangan. Juga
meliputi pendidikan tiba-tiba dan tidak disengaja. Karena itu pendidikan adalah
salah satu proses tingkah laku maka ia memerlukan dinamika dan kesinambungan
dari buaian hingga keliang lahat. Konsep ini tidak akan terlaksana sepenuhya kecuali
timbul dari perubahan tingkah laku individu atau pada kehidupan masyarakat.
Perubahan ini dalam rangka nilai-nilai masyarakat dan meliputi semua aspek
prilaku individu dan aspek kehidupan masyarakat.
Pendidikan dalam pengertiannya yang
luas dan menyeluruh bertemu dan berjalin dengan konsep-konsep dan
pengertian-pengertian banyak proses-proses lain yang bertujuan merubah tingkah
laku individu dan kehidupan masyarakat seperti proses belajar, proses
pertumbuhan, proses interaksi dan perolehan pengalaman, proses penyesuaian
psikologis, sosial, dan jasmani, proses sosialisasi, proses perbaikan sosial,
perubahan sosial dan pengembangan ekonomi dan sosial. Pendidikan tidak dianggap
berhasil kecuali jika ia memberi sumbangan pada semua proses ini.[3]
Pandangan Islam terhadap pendidikan
tidaklah berbeda dari pandangan mutakhir. Di mana ia memandang pendidikan
muslim dengan pandangan menyeluruh, mengajak kearah keutuhan (takamul)
pengalaman yang menghendaki segala sesuatu di sekolah, di berbagai lingkungan
pelajar berinteraksi dengan pendidik. Dengan demikian pendidikan itu bukan
hanya sekedar pendidikan agama atau nasehat agama. Islam juga menekankan banyak
pengertian yang bernilai pendidikan sangat penting, seperti menganggap
pendidikan sebagai proses perbaikan individu, proses pemulihan manusia, proses
penyampaian si anak didik kepada kesempurnaan secara perlahan-lahan. Ibadat
sebagai jalan terbaik untuk pembentukan dan pemurnian manusia lahir dan bathin
dan mengajarnya bagaimana ia melatih diri dalam mengendalikan nafsu syahwat.
Melatih dirinya menyerahkan diri secara mutlak kepada Tuhannya dan tidak
memperbudak dirinya kecuali kepada Tuhan pencipta sebagai sumber kehidupannya.
Islam menganggap pendidikan sebagai suatu proses spritual, akhlak, intelektual
dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai,
prinsip-prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan.
Dalam pendidikan konsep tentang
manusia (hakikat dan tujuan hidup) dan alam yang kemudian lahir daripadanya
konsep dasar tentang kuriulum, proses belajar mengajar dan evaluasi. Dalam
kaitan dengan hakikat dan tujuan hidup manusia, doktrin Islam menyatakan bahwa
kehidupan manusia tidak hanya di dunia ini saja tetapi juga di alam lain
sebelum dan sesudah alam dunia.[4]
B. Hubungan Prinsip Pendidikan Dengan Faktor-faktor Pendidikan
Pada bagian terdahulu dijelaskan
tentang prinsip-prinsip pendidikan secara teoritis filosofis yang kemudian bisa
ditarik bahwa prinsip-prinsip pendidikan itu sebagaimana dikemukakan Abudin
Nata dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam:
1. Prinsip integrasi (tauhid)
Suatu prinsip yang seharusnya dianut
adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu
mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dihindari agar
masa kehidupan ini benar-benar bermanfaat untuk bekal diakhirat. Perilaku yang
terididik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan
untuk mencapai kelayakan-kelayakan itu terutama dengan mematuhi keinginan
Tuhan. Pada surat Al-Qashash:77 Allah SWT berfirman:”Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah
kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi...”(QS.Al-Qashash:77),
ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk
mencapai keseimbangan dunia dan akhirat.
2. Prinsip Keseimbangan
Prinsip keseimbangan merupakan
kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada
kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan ini diartikan sebagai keseimbangan
antara berbagai aspek kehidupan. Keseimbangan antara material dan spritual,
unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an Allah menyebutkan iman dan
amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan
iman dan amal secara bersamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan. Diantaranya adalah QS.Al-‘Ashr:1-3”Demi masa
sesungguhnya manausia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal
shaleh”
3. Prinsip kesetaraan
Prinsip ini menekankan agar di dalam
pendidikan Islam tidak terdapat ketidakadilan perlakuan, atau diskriminasi.
Tanpa membedakan suku, ras, jenis kelamin, status sosial, latar belakang, dsb.
Karena manusia diciptakan oleh tuhan yang sama yaitu Allah SWT.
4. Prinsip Pembaharuan
Prinsip pembaharuan merupakan perubahan
baru dan kualitatif yang berbeda dari hal sebelumnya. Serta diupayakan untuk
meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu pendidikan. Menurut
H.M,Arifin dalam proses pembaharuan umat Islam harus mampu menciptakan
model-model pendidikan yang dapat menyentuh beberapa aspek, yaitu yang mampu
mengembangkan agent of technology and culture.
5. Prinsip Demokrasi
Berasal dari kata demos; rakyat,
cratein: pemerintah, prinsip ini mengidealkan adanya partisipasi dan inisiatif
yang penuh dari masyarakat. Segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pendidikan
seperti sarana prasarana, infrastruktur, administrasi, penggunaan sarjana dan
sumber daya manusia lainnya hanya akan diperoleh dari masyarakat. Prinsip
pendidikan yang berbasis masyarakat ini sejalan dengan undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab
pemerintah, orang tua dan masyarakat.
6. Prinsip kesinambungan
Prinsip yang saling menghubungkan antara berbagai tingkat dan
program pendidikan
7. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education)
Prinsip ini bersumber dari pandangan
mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbataan manusia di mana
manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan
yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri kejurang kehinaan. Dalam hal ini
dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali
kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, di samping selalu memperbaiki kualitas
dirinya, sebagaimana firman Allah:”Maka siapa yang bertaubat sesudah kezhaliman
dan memperbaiki dirinya maka Allah menerima tubatnya...(QS.Al-Maidah:39).[5]
Dari prinsip-prinsip tersebut bisa
ditambahkan lagi dengan prinsip persamaan yang berakar dari konsep dasar
tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat,
baik anatar jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa maupun suku, ras, atau
warna kulit. dan prinsip keutamaan ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya
proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh di mana segala
kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan.
Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai-nilai moral yang paling tinggi
adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah
syirik. Sehingga dengan prinsip ini pendidik bukan hanya bertugas menyediakan
kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk
kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik
tersebut.
Kalau kita hubungkan dengan
faktor-faktor pendidikan, maka antara prinsip-prinsip pendidikan dengan
faktor-faktor pendidikan itu sangat berkaitan erat. Dalam kaidah-kaidah yang
menunjukkan bahwa dalam proses pendidikan itu ada pendidik yang berfungsi
sebagai pelatih, pengembang, pemberi atau pewaris. Kemudian terdapat bahan yang
dilatihkan, dikembangkan, diberikan dan diwariskan yakni pengetahuan,
keterampilan, berpikir, karakter yang berupa bahan ajar, serta ada murid yang
menerima latihan, pengembangan, pemberian dan pewarisan pengetahuan,
keterampilan, pikiran dan karakter.
Dalam kehidupan dunia ini faktor
utama dalam pendidikan hanya dua yakni alam dan manusia. Permasalahannya adalah
bagaimana hakikat alam dan manusia itu menurut pembuatnya yakni Allah SWT.
Konsep tentang alam dan manusia yang
diambil Al-Qur’an dan Hadis Nabi mempunyai posisi yang sangat penting karena
dengan demikian berarti ummat mendapat rujukan kebenaran yang langsung dari
sumbernya.
Alam dan manusia sebagai faktor
utama dari pendidikan, kemudian faktor lain yang juga perlu ada pada pendidikan
dan hubungannya dengan prinsip-prinsip pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh
Khoiron Rosyadi tentang faktor-faktor pendidikan Islam, yang terdiri dari :
1. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan merupakan standar usaha yang
dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik
pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu tujuan dapat
membatasi ruang gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang
dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau
evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.
Menurut Muhammad Athiyah al-abrasyi,
yang dikutif oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, menyatakan tujuan pendidikan
Islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW
sewaktu hidupnya, yaitu pembentukan moral yang tinggi, karena pendidikan moral
merupakan jiwa pendidikan Islam, sekalipun tanpa mengabaikan pendidikan
jasmani, akal dan ilmu praktis.
Menurut Abdurrahman an-Nahlawi
tujuan pendidikan Islam adalah mendidik seluruh kecendrungan, dorongan dan
fitrah, kemudian mengarahkan semuanya kepada tujuan yang tertnggi, menuju
ibadah kepada Allah yang menciptakan manusia.[6]
Tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan dimana tujuan
mempunyai fungsi sebagai:
a. Sebagai arah pendidikan
Tanpa adanya semacam antisipasi
(pandangan ke depan) kepada tujuan, kegiatan tidak akan bisa efisien, dalam hal
ini tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan
jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi akan datang.
b. Tujuan sebagai titik akhir
Suatu usaha tentu saja mengalami
permulaan serta mengalami pula akhirnya, mugkin saja ada usaha yang terhenti
dikarenakan suatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa
dikatakan telah berakhir. Pada umumnya suatu usaha baru berakhir jika tujuan
akhirnya telah tercapai.
c. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain
Apabila tujuan merupakan titik akhir
dari suatu usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa
dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan suatu usaha.
Dengan demikian antara dasar-dasar dan tujuan terbentanglah garis yang
menunjukkan arah bergeraknya usaha tersebut.
d. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan
Dalam konteks usaha-usaha yang
dilakukan kadang-kadang didapati tujuannya yang lebih luhur dan lebih mulia
dibandingkan yang lainya, semua itu terlihat apabila berdasarkan nilai-nilai
tertentu.
2. Pendidik Dalam Pendidikan Islam
Sebagaimana teori Barat, pendidik
dalam islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan
peserta didiknya, dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik,
baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).[7]
Pendidik adalah subjek yang memberi
pelayanan pengembangan potensi terdidik. Sebagai pemberi pelayanan,
pertama-tama pendidik haruslah
Orang yang mengenal dan menguasai
konsep dasar tentang manusia dan alam. Dalam hal pendidikan Islam, maka konsep
dasar tersebut diturunkan dari pernyataan-pernyataan yang dikemukakan Al-Qur’an
dan Hadis Nabi.
Sikap guru untuk tidak memutlakan
pendapatnya manusia (guru, gurunya guru atau murid), sebab sifat mutlak itu
hanya milik Allah. Implikasinya adalah bahwa manusia guru dan murid pastilah
mempunyai sifat berlebih dan berkurang antara satu dengan yang lainnya. Namun
antara guru dan murid tetap menuju upaya mengerahkan kepada kesempurnaan,
karena itu pergaulan pergaulan manusia difungsikan untuk saling melengkapi.
Terus menerus melalui
penelitian-penelitian atau bersama-sama melalui halaqah-halaqah, mendorong
minat dan memperkuat motivasi terdidik untuk belajar dan terus belajar.
Teladan, khususnya dalam bidang
pengembangan ilmu pengetahuan, karena dengan terus belajar, pendidikpun akan
lebih menguasai bahan ajar secara lebih baik yang lama maupun yang baru dan
akan lebih menumbuhkan kepercayaan terdidik akan penguasaan bahan ajar
pendidik. Disadari atau tidak pendidik yang terus belajar akan menyadari
berbagai kekurangan dirinya.
Cara dan tehnik komunikasi yang
lebih human, sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di tempat pendidik
tesebut dilaksanakan.
Tidak terpaut secara terus menerus
kepada harta kekayaan kekuasaan dan popularitas, semuanya dikerjakan hanya
megharap balasan bimbingan dan penilaian dari Allah SWT, tentu saja tidak harus
diartikan bahwa si pendidik tidak boleh kaya, berkuasa dan populer, namun yang
penting tidak diperbudak oleh kekayaan, kekuasaan dan popularitas pada saat pendidik
tersebut kaya, berkuasa dan popular.[8]
Zuhud yakni tidak sedih dan berduka
karena sesuatu yang terlepas dan luput darinya, serta tidak gembira berlebihan
karena mendapatkan atau menguasai sesuatu.
Fungsi dan Tugas Pendidik
Fungsi dan tugas seorang pendidik
meliputi pertama Sebagai pengajar (instruksional), yang bertugas merencanakan
program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri
dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan. Kedua Sebagai pendidik
(educator), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan
berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya. Ketiga
sebagai pemimpin (managerial), yang memimpin, mengendalikan kepada diri
sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait terhadap berbagai masalah
yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan
dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.
Pendidik dalam kaitannya dengan
pendidikan terhadap orang lain, pada garis besarnya dapat dikategorikan kedalam
orang tua, guru dan masyarakat.
3. Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam
Dengan berpijak pada paradigma
“belajar sepanjang masa” maka istilah yang tepat untuk menyebut individu yang
menuntut ilmu adalah peserta didik bukan anak didik. Peserta didik cakupannya
lebih luas yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga pada orang-orang
dewasa. Sementara anak didik hanya dikhususkan bagi individu yang berusia
kanak-kanak.
Senada dengan teori Barat, peserta
didik dalam pendidikan Islam adalah individu sedang tumbuh dan berkembang,baik
secara fisik, psikologis, sosial dan religius dalam mengarungi kehidupan di
akhirat kelak.
4. Sarana Pendidikan Islam
Pendidikan mempuyai berbagai sarana material atau manusiawi yang
mempunyai dampak maknawi, seperti masjid, pendidik, keluarga dan sekolah.
Sarana ini disebut “alat pendidikan”. Adapula sarana-sarana maknawi dan psikis
seperti mendidik melalui cerita, dialog, berdebat dengan cara terbaik, membuat
perumpamaan dengan benda-benda atau melalui pemberian teladan, sarana maknawi
ini disebut dengan “metoda pendidikan”
Alat pendidikan adalah yang tidak hanya membuat kondisi-kondisi
yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik , tetapi juga mewujudkan
diri sebagai perbuatan dan situasi yang membantu tercapainya tujuan. Abu Ahmadi
membedakan alat pendidikan kedalam beberapa kategori, yaitu:
a. Alat pendidikan positif dan negatif
Alat pendidikan yang positif dimaksudkan agar anak mengerjakan
sesuatu yang baik, misalnya pujian. Alat pendidikan negatif dimaksudkan agar
anak tidak mengerjakan sesuatu yang buruk, misalnya larangan atau hukuman agar
anak tidak mengulang perbuatan yang tidak baik.
b. Alat pendidikan preventif dan korektif
Alat pendidikan preventif merupakan alat pendidikan untuk mencegah
anak mengerjakan sesuatu yang tidak baik, misalnya peringatan atau larangan.
Alat pendidikan korektif adalah alat untuk memperbaiki kesalahan atau
kekeliruannya yang telah dilakukan peserta didik, misalnya hukuman.
c. Alat pendidikan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
Alat pendidikan yang menyenangkan merupakan alat pendidikan yang
digunakan agar peserta didik menjadi senang, misalnya dengan hadiah atau
ganjaran. Alat pendidikan yang tidak menyenangkan dimaksudkan agar membuat
peserta didik tidak senang, misalnya dengan hukuman atau celaan.
5. Kurikulum Pendidikan Islam
Setiap kegiatan ilmiah memerlukan suatu perencanaan dan organisasi
yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian pula dengan
pendidikan diperlukan adanya program yang terencana dan dapat menghantar proses
pendidikan sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses pelaksanaan sampai
penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah “kurikulum pendidikan”.
6. Lingkungan
Lingkungan adalah sangat besar pengaruhnya terhaap perkembangan
anak didik. Islam yang mengakui bahwa fitrah (potensi) manusia itu merupakan
dua hal yang saling bertentangansatu sama lain yaitu fitrah untuk berbuat baik
(Islam) dan fitrah untuk berbuat jahat (kafir). Dalam kondisi demikian
lingkungan merupakan sarana untuk mengembangkan fitrah tersebut.
C. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Islam
a. Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan umum
Pendidikan dilaksanakan secara
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi
hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
Pendidikan diselenggarkana sebagai
satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna, terbuka:
flksibelitas pilihan dan waktu penyeleaian program lintas satuan dan jalur
pendidikan, multimakna: proses pendidikan yang diselenggarakan dengan
berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian,
serta berbagai kecakapan hidup.
Pendidikan diselenggarakan sebagai
suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung
sepanjang hayat.
Pendidikan diselenggarakan dengan
memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta
didik dalam proses pembelajaran.
Pendidikan diselenggarakan dengan
mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga
masyarakat.
Pendidikan diselenggarakan dengan
memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam
penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan masyarakat.
b. Prinsip penyelenggaraan Pendidikan Islam
Prinsip pembebasan manusia dari
ancaman kesesatan yang menjerumuskan manusia pada api neraka. (QS.at-Tahrim: 6)
Prinsip pembinaan ummat manusia
menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup
bahagia dunia dan akhirat, sebagai realisasi cita-cita bagi orang yang beriman
dan bertakwa, yang senantiasa memanjatkan do’a sehari-harinya.(QS.al-Baqarah:
21 ; al-Qashash:77)
Prinsip pembentukan pribadi manusia
yang memancarkan sinar keimanan yang kaya dengan ilmu pengetahuan, yang satu
sama lain saling mengembangkan hidupnya untuk menghambakan diri pada khaliknya.
Keyakinan dan keimanannya sebagai penyuluh terhadap akal budi yang sekaligus
mendasari ilmu pengetahuannya, bukan sebaliknya, keimanan dikendalikan oleh
akal budi.(QS.al-Mujadalah: 11)
Prinsip ‘amar ma’ruf nahi munkar dan
membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kenistaan(QS.Ali-Imran: 104, 110)[9]
Prinsip pengembangan daya pikir,
daya nalar, daya rasa sehingga dapat menciptakan anak didik yang kreatif dan
dapat memfungsikan daya cipta, rasa dan karsanya.
Lembaga pendidikan sebagai lembaga
yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan, Ki Hajar Dewantara
memfokuskan penyelenggaraan lembaga pendidikan dengan Tricentra yang merupakan
tempat pergaulan anak didik dan sebagai pusat pendidikan yang amat penting
baginya. Tricentra itu adalah:
Alam keluarga yang membentuk lembaga pendidikan keluarga
Alam perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah
Alam pemuda yang membentuk lembaga pendidikan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurrahman Saleh, Landasan Dan Tujuan Pendidikan
Menurut Al-Qur’an Serta Implementasinya, (Bandung: CV.Diponegoro, 1991)
Abdullah, Abdurrahman Saleh, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan
Al-Qur’an, ( (Jakarta: Rineka Cipta, 1990)
Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta:Prenada Media, 2006)
Al-Syaibani, Omar Mohammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam,
(Jakarta:Bulan Bintang, Cet 1, 1979)
An-Nahawi Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan
Islam (Bandung: CV.Diponegoro, 1989)
Hitami, Muznir, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam,
(Yogyakarta:Infhite Pess, 2004)
Kamrani Buseri, Burhanuddin Abdullah, eds, Substansi Pendidikan
Islam, Kajian Teoritis dan Antisipati Abad XXI, (IAIN Antasari Banjarmasin,
1987)
Langgulung, Hasan, Asaa-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta:
Pustaka Al-Husna, 2003)
Marimba, Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,
(Bandung:PT.Al- Ma’arif, cet 8, 1989)
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997)
[1]
Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Prenada
Media, 2006). h. 23
[3] Hasan Langgulung, Asaa-Asas Pendidikan
Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 2003).h. 13
[4] Omar
Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani , Falsafah Pendidikan Islam,
(Jakarta:Bulan Bintang, Cet 1, 1979).h. 26
[5] Abdullah, Abdurrahman Saleh, Landasan Dan Tujuan Pendidikan
Menurut Al-Qur’an Serta Implementasinya, (Bandung: CV.Diponegoro,
1991).h. 56
[7] Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan
Islam, (Bandung:PT.Al- Ma’arif, cet 8, 1989).h.38
[8] Kamrani Buseri, Burhanuddin Abdullah, eds, Substansi Pendidikan
Islam, Kajian Teoritis dan Antisipati Abad XXI, (IAIN Antasari Banjarmasin,
1987).h.34
[9]
Abdullah, Abdurrahman Saleh, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (
(Jakarta: Rineka Cipta, 1990).h.57-58