1.
Maksud dari pernyataan tersebut
adalah tentng pentingnya
pembelajaran PAI bagi peserta didik, terlebih khusus kepada anak kecil, karena
dari kecil sudah harus dibina dalam agama, maka pembelajaran pai sangat penting
dan sangatlah diharapkan dapat bertahan karena melihat situasi zaman sekarang,
dapat mempengaruhi baik dari lingkungan keluarga,
masyarakat dan di sekolah.
sehingga diharapkan generasi muda dari usia dini bisa menjadi warga negara yang beriman, bertaqwa,
berakhlak mulia, produktif serta kretatif.
tetapi dilain pihak adanya kesulitan
bagi pendidik, seperti kemampuan guru, karakteristik kurikulum, sarana dan
fasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak mendukung.
maka dari itu fungsi dari model
pembelajaran PAI dapat setidaknya memberikan visi, cara , dan inovasi lainnya
dalam proses pembelajaran PAI.
selain itu Pada
hakikatnya pembelajaran PAI itu menghendaki terjadinya perkembangan dan
kemajuan manusia pada umumnya, yang mampu menjadikan para peserta didik menjadi
warga yang cerdas, jujur, kompeten, berakhlak mulia dan memiliki iman dan
takwa. Dengan dukungan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu mengatasi
masalah kualitas manusia Indonesia yang belum tercapai sepenuhnya sesuai dengan
tujuan nasional. Sehingga dituntut dalam pengembangan model pembelajaran PAI
yang sesuai dapat memberikan visi, cara, dan inovasi yang tepat. Akan tetapi
model pembelajaran PAI ini mungkin hanya bisa di terapkan untuk peserta didik
yang muslim saja, dan tidak bisa untuk peserta didik yang non muslim.
2.
Ada dua macam model menurut para ahli
a. model
desain bentuknya seperti rpp, silabus dll, PPSI (kurikulum yang berorintasi
pada materi) (pengembangan dan pelayanan sistem intruksional) model pemprosesan
informasi, misalnya oalah kognitif dan termasuk kuntruktifis,
b. model
proses , adalah kegiatan pembelajaran dll, interaksi sosial(tatap muka, teori
respondesi sosial, kooperatif(kerjasama dengan individu yg lainnya)
Rumpun model
·
Interaksi sosial:
a.
Penentuan Kelompok (Herbert Telen & John
Dewey): perkembangan keterampilan untuk partisipasi dalam proses social
demokratis melalui penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan
antar pribadi (kelompok) dan keterampilan-keterampilan penentuan akademik.
b.
Inkuiri sosial (Byron Massialas & Benjamin
Cox): pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran
logis.
c.
Metode laboratori (Bethel Maine): perkembangan
keterampilan antar pribadi dan kelompok melalui kesadaran dan keluwesan
pribadi.
d.
Jurisprudensial (Donald Oliver & James P.
Shaver): dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan yurisprudensial
sebagai cara berpikir dan penyelesaian isu-isu sosial.
·
Pemrosesan Informasi
a.
Model Berpikir Induktif (Hilda Taba): dirancang
untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik/pembentukan
teori.
b.
Model Latihan Inkuiri (Richard Suchman):
pemecahan masalah social, terutama melalui penemuan sosial dan penalaran logis.
c.
Inkuiri Ilmiah (Joseph. J. Cshwab): dirancang
untuk mengajar system penelitian dari suatu disiplin, tetapi juga diharapkan
untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain.
d.
Penemuan Konsep (Jerome Bruner): dirancang
terutama untuk mengembangkan penalaran induktif, juga untuk perkembangan dan
analisis konsep.
·
Personal
a.
Pengajaran Non-Direktif (Carl Rogers): penekanan
pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran
diri, pemahaman diri, kemandirian, dan konsep diri.
b.
Latihan Kesadaran (Firtz Perls Willian Schultz):
meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri.
c.
Sinektik (William Gordon): perkembangan pribadi
dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
d.
Sistem-sistem Konseptual (David Hunt): dirancang
untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
·
Modifikasi Tingkah Laku
a.
Manajemen kontingensi (B.F. Skinner):
fakta-fakta, konsep, keterampilan.
b.
Kontrol Diri (B.F. Skinner):
perilaku/keterampilan sosial.
c.
Relaksasi (santai) (Rimm & Masters Wolpe):
tujuan-tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan).
d.
Penguranagn Ketegangan (Rimm & Masters
Wolpe): Mengalihkan kesantaian kepada kecemasan dalam situasi sosial.[1]
3. Landasan filosofis, psikologis dan
sosiologis:
Maksudnya secara
filosofis, bahwa manusia adalah makhluk berpikir yaitu dapat mengetahui,
memahami, menggunakan, menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi. Selain itu,
manusia juga makhluk yang dapat menerima menyimpan, mengolah berbagai informasi
dan memproduksinya kembali. Bahkan manusia itu mampu melahirkan gagasan dan
pemikiran yang baru dengan cara memancing gagasan dan pemikirannya itu melalui
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.[2]
Contohnya: munculnya teori-teori belajar yang baru dan mode pembelajaran yang
baru. Seperti model pembelajaran yang berpusat pada siswa, Itu menandakan para
siswa tidak hanya selalu bergantung pada peran guru dalam proses pembelajaran,
bahkan para siswa juga bisa belajar dari buku, jurnal ilmiah, internet dan
sebagainya. Sehingga menandakan perkembangan pola pikir manusia yang semakin
maju.
Secara
psikologis, adanya berbagai potensi psikologis ini memungkinkan manusia untuk
didorong belajar secara mandiri. Selain itu, adanya potensi psikologis ini,
mengharuskan adanya pendidikan yang dapat membina manusia seutuhnya. Yaitu,
manusia yang bukan hanya kognitifnya saja yang dibina, melainkan juga afektif
dan psikomotoriknya, atau seluruh kecakapan yang dimilikinya. Contohnya: harus
ada diselenggarakan atau dibangun sekolah-sekolah kejuruan dan sebagainya. Dari
keadaan tersebut mengharuskan adanya pendidikan yang holistik. Serta pemilihan
model pembelajaran yang relevan dengan kondisi jiwa si anak didik.
Secara sosiologis,
masyarakat saat ini semakin menuntut sebuah perlakuan dan pelayanan dalam
segala bidang, termasuk bidang pendidikan yang makin adil, demokratis,
transparan, cepat, tepat, dan menyenangkan. Selain itu, secara sosiologis
manusia adalah makhluk yang membutuhkan interaksi dan sosialisasi dengan
manusia lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga berimplikasi
terhadap pengembangan teori belajar dan mode pembelajaran. Contohnya: dalam
proses belajar tersebut tidak hanya didapatkan dari kalangan mampu saja,
melainkan dalam proses belajar tersebut dari kalangan kurang mampu pun juga
bisa. Dalam artian pendidikan dan cara belajar yang sama.[3]
4.
Menurut
Mawardi model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI di Madrasah adalah Model Pembelajaran Nilai.[4]
Model pembelajaran nilai didasarkan pada pengembangan afektif dan nilai-nilai
komprehensif. Afektif atau sikap merupakan refleksi dari nilai (value)
yang sulit diukur, karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari
dalam. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk,
indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain
sebagainya.[5] Model pembelajaran
berbasis nilai dianggaptepat karena merupakan suatu model penanaman nilai
kepada peserta didik yang diharapkan dapat berperilaku sesuai dengan pandangan
agama islam.
5.
Perbedaan
model kooperatif, integrated, berbasis masalah, dan inquiri:
a.
Model kooperatif adalah pembelajaran yang lebih
menekankan kerjasama di antara peserta didik di kelas.
b.
Model integrated adalah system pembelajaran yang
berpusat pada anak, proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman
langsung, serta pemisahan antar bidang studi yang tidak terlihat jelas.
c.
Model berbasis masalah adalah pembelajaran yang
menekankan pada proses penyelesaian masalah yang melibatkan peserta didik dalam
proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat pada peserta didik, yang
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri .
d.
Model Inquiry adalah satu model pembelajaran
yang dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mampu menemukan pengetahuan atau
konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran tertentu secara mandiri melalui
berbagai fenomena yang dipelajari.
Sedangkan Persamaaan model kooperatif,
integrated, berbasis masalah, dan inquiri. Adalah sama-sama berpusat pada siswa
(student-centered approaches).
6.
Model
desain pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah di
antaranya adalah Model Pembelajaran Kontekstual (CTL), Model pembelajaran
Kooperatif, Model Pembelajaran Inquiri, Model Pembelajaran PAKEMI, Pemodelan,
Model Pembelajaran Afektif.[6]
7.
Kriteria penetapan isi pembelajaran di antaranya
meliputi:
a.
Memiliki pendekatan pembelajaran.
b.
Memiliki strategi pembelajaran.
c.
Memiliki metode pembelajaran.
d.
Memiliki teknik pembelajaran.
e.
Memiliki taktik pembelajaran.
f.
Memiliki model pembelajaran.
Prinsip pemilihan
model pembelajaran PAI yang harus dikembangkan di antaranya:
Pertama, PAI harus
mampu mengembangkan aqidah sebagai landasan keberagamaan siswa dalam
meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia.
Kedua, PAI harus
mengembangkan konsep keterpaduan antara ketercapaian kemampuan yang bersifat
kognitif, afektif, maupun psikomotorik. PAI bukan hanya bersifat hafalan,
melainkan juga praktik dan amalan.
Ketiga, PAI harus
mampu mengajarkan agama sebagai landasan dasar dan inspirasi siswa untuk
mengembangkan bidang keilmuan dari semua matapelajaran dan bahkan kajian yang
diajarkan sekolah.
Keempat, PAI harus
dapat menjadi landasan moral dan etika sosial dalam kehidupan sehari-hari
siswa.
8.
Desain
pembelajaran yang bagus untuk PAI di madrasah dan di sekolah adalah desain
pembelajaran berbasis karakter. Karena di dalam desain pembelajaran PAI
dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran. Membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran
dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksankan proses
pembelajaran, dan evaluasi.
Sebagai contoh RPP berkarakter seperti yang di kemukakan
Hunts. Model ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise dan Summary).
FORMAT RPP MODEL
“ROPES”[7]
Identitas Rencana
Pembelajaran
Mata Pelajaran:
Materi Pokok:
Kelas/Semester:
Pertemuan:
Waktu:
Standar Kompetensi:
Kompetensi Dasar:
Indikator:
1.
2.
3.
4.
Prosedur Pembelajaran
a.
Review:
b.
Overview:
c.
Presentation
|
No
|
Kegiatan
Pembelajaran
|
Alokasi Waktu
|
Aspek Karakter yang
dikembangkan
|
|
1.
|
Telling/Moral Knowing
|
|
Religious, amanah,
disiplin, dll
|
|
2.
|
Showing/Moral Loving
|
|
Amanah, disiplin, dll
|
|
3.
|
Doing/Moral Doing
|
|
Kreatif, Peduli,
disiplin, dll
|
d.
Exercise:
e.
Summary:
Media Pembelajaran:
Evaluasi Belajar:
Banjarmasin, 2016
Mengetahui
Kepala Madrasah/Sekolah Guru Mata Pelajaran,
(Nama jelas kepala dan gelar) (Nama jelas guru dan gelar)
NIP. NIP.
Berdasarkan teori
pendidikan karakter menurut Thomas Lickona (1991) adalah pendidikan untuk
membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya
terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur,
bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.[8]
Hakikat
pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan itu sendiri.
Pengertian pendidikan seperti yang tersirat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 adalah
“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyaraka,t bangsa
dan negara.
Proses pendidikan
tidak bisa lepas dari tujuan-tujuan pembentukan karakter peserta didik
sebagaimana tersurat dalam konsep-konsep tujuan pendidikan nasional, yakni: memiliki
kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak
mulia.[9]
Dalam perpektif
agama islam, lingkup pendidikan karakter dilakukan dengan melibatkan tiga
potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu’aqal, qalbu, dan nafs. Serta
ada beberapa ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pendidikan akhlak; Ar-Rum:
30, An-Nahl: 125-126.
9.
Pembelajaran
Aqidah biasanya model desain pembelajaran yang dipakai adalah CTL,
contohnya materi pelajaran berupa Iman kepada kitab-kitab Allah, yang mana para
peserta didik diajak berdiskusi tentang Al-Qur’an dan dimotivasi agar bisa
membaca, memebaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an sedikit
demi sedikit. Inquiri contoh materi iman kepada hari kiamat, yang mana para
siswa di didik agar mampu menemukan konsep-konsep yang ada secara mandiri
melalui berbagai fenomena yang dipelajari seperti terjadinya kiamat kecil.
Pembelajaran
akhlak biasanya model desain pemodelan, yang mana guru bisa menunjukan beberapa
model dar tokoh-tokoh berkarakter yang berhasil dalam hidupnya, seperti
meneladani sifat Nabi Muhammad SAW.
Pembelajaran
fiqih ketika membahas tentang taharah, maka menggunakan model desain
pembelajaran CTL, yang mengajarkan tentang praktek wudhu dan mandi. Selanjutnya
para murid diajak untuk selalu berpola hidup sehat dan bersih. Serta
menjelaskan manfaat dan hikmah menjaga kebersihan dan kesehatan.
Pembelajaran
sejarah biasanya yang sering digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif.
Sebagai contoh untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW. Peserta didik
melakukan diskusi kelompok dengan tema-tema diskusi yang telah ditentukan,
sehingga dalam waktu singkat bisa diperoleh informasi yang lebih komprehensif
tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Sehingga mengajarkan kepada murid tentang
karakter-karakter mulia yang ada pada diri Rasul seperti kejujuran, kesabaran,
kepedulian, dan ketangguhan.
Pembelajaran
Al-Qur’an dan Hadits menggunakan pembelajaran model PAIKEM. Sebagai contoh ketika membelajarkan
Al-Qur’an, peserta didik dikondisikan untuk belajar langsung melafalkan
ayat-ayat Al-Qur’an yang dibantu dengan media yang mendukung seperti media
computer, LCD, Caption, dll. Yang utamanya pembelajaran tersebut harus
menyenangkan peserta didik dan harus efektif
Pada dasarnya
dari materi PAI yang mencakup aspek kajian Aqidah Akhlak, Fiqih, Qur’an Hadits,
dan Sejarah Islam. Itu bisa menyesuaikan dengan desain model pembelajaran yang
ada dan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.[10]
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Heri, PENDIDIKAN KARAKTER Konsep dan
Implementasi, Bandung: Alfabeta, 2014.
Hidayat, Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa, Jurnal el-Hikmah Fakultas
Tarbiyah UIN Malang, 2013.
Jurnal Tarbiya Vol. 1, No. 1, Abuddin Nata & Ahmad
Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran PAI Berbasis Karakter Mulia
Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif, Juni 2014.
Kementrian Pendidikan Nasional, Pengembangan
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah, Jakarta: Puskur
Balitbang Kemendiknas, 2010.
Mawardi, Imam, Pengembangan Model Pembelajaran
Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, Bandung: Disertasi UPI, 2012.
Rorty, Amelie Oksenberg, (ed.), Philosopehers on
Education New Historical Perspectives, London and New York: Routledge, 1988.
Rusman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan
Profesionalisme Guru, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011.
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Ed. I., Jakarta: Kencana, 2009.
Sukadi, “Pendidikan Karakter Bangsa Berideologi
Pancasila”, dalam Budimansyah, D dan Kokom Komalasari (ed). Pendidikan
Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Membina Kepribadian Bangsa. Bandung: Wijaya
Aksara, 2011.
[1]Rusman, MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2011), h. 138-144, cet. 4.
[2]Amelie Oksenberg Rorty,
(ed.), Philosopehers on Education New Historical Perspectives, (London
and New York: Routledge, 1988), p. 10.
[3]Jurnal Tarbiya Vol. 1, No.
1, Abuddin Nata & Ahmad Sofyan, Pengembangan Desain Model Pembelajaran
PAI Berbasis Karakter Mulia Yang Holistik, Humanis, Emansipatoris, dan Efektif,
Juni 2014.
[4]Imam Mawardi, Pengembangan
Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life Skills Peserta Didik, (Bandung: Disertasi
UPI, 2012).
[5]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan, Ed. I.,
(Jakarta: Kencana, 2009), h. 274, cet. 6.
[6]Kementrian Pendidikan
Nasional, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman
Sekolah, (Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010), h. 24-28.
[7]Heri Gunawan, PENDIDIKAN
KARAKTER Konsep dan Implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 309-311, cet.
3.
[8] Ibid, h. 23.
[9]Sukadi, “Pendidikan Karakter Bangsa Berideologi
Pancasila”, dalam Budimansyah, D dan Kokom Komalasari (ed). Pendidikan
Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Membina Kepribadian Bangsa. (Bandung:
Wijaya Aksara, 2011), h. 97.
[10]Hidayat, Model
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berorientasi Pengembangan Karakter Bangsa,
Jurnal el-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2013.