PERNYATAAN
Pembelajaran
PAI adalah jantungnya pendidikan di Indonesia dan amat penting dalam
mengembangkan kualitas manusia mendatang. Melalui pembelajaran PAI anak didik
memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan menjadi warga negara yang
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, produktif serta kreatif. Sayangnya,
pembelajaran masa kini masih belum mampu mengembangkan kualitas manusia
Indonesia yang diharapkan berdasarkan tujuan pendidikan nasional. Banyak faktor
penghambat yang diidentifikasi para ahli, seperti kompetensi guru,
karakteristik kurikulum, saran adan fasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak
mendukung.
Kajian Model Pembeajaran
PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses
pembelajaran PAI, berdasarkan pandangan teoritis yang terdapat banyak literature
model dan desain pembelajaran pendidikan Islam. Inilah salah satu manfaat dari
kajian model pembelajaran PAI.
PERTANYAAN
1. Jelaskan
arti pernyataaan di atas !
Jawaban :
Pendidikan
Agama Islam merupakan mata pelajaran yang sangat urgent atau penting. Hal itu
disebabkan karena PAI tidak hanya belajar dan fokus dengan teori-teori saja,
tetapi ditekankan pada praktek di kehidupan sehari-hari siswanya. Lebih jauh
lagi dengan belajar PAI para siswa diharapkan memiliki rasa agama (religiusity)
yang kuat sehingga menjadikan siswa-siswanya sebagai generasi penerus bangsa
yang amanah dan berakhlakul karimah.
Disini
diharapkan dengan adanya kajian model pembelajaran PAI mampu melaksanakan
pendidikan agama Islam yang deselenggerakan di sekolah dengan baik dan dapat
mengembangkan proses pembelajarannya sehingga apa yang dicapai berdasarkan
tujuan pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas manusia
Indonesia.
2. Model
pembelajaran dilandasi oleh pandangan filosofi yang berbeda dalam memandang
tentang anak, cara belajar, tujuan pendidikan, guru, serta lingkungan,
kemukakan dan jelaskan secara komprehensip rumpun model pembelajaran menurut
para ahli !
Jawaban
:
Joyce dan Weil
(1996) dalam bukunya Model of Teaching telah menggolongkan model-model
pembelajaran menjadai empat rumpun model pembelajaran. Rumpun model
pembelajaran tersebut antara lain adalah Rumpun Model-model Pembelajaran
Pengolahan Informasi, Rumpun Model-model Pembelajaran Individual,
1. Rumpun Model-model Pembelajaran
Pengolahan Informasi
Model-model
pembelajaran dalam rumpun ini bertitik tolak dari prinsip-prinsip pengolahan
informasi yaitu cara-cara manusia menanggapi rangsangan dari lingkungan, mengorganisasikan
data, mengenali masalah dan mencoba mencari solusinya, serta mengmebangkan
konsep-konsep dan bahasa untuk menangani masalah tersebut. Model dalam rumpun
ini berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan intelektual
secara umum, dan penekanan konsep serta informasi yang berasal dar disiplin
ilmu secara akademis.Berikut adalah jenis-mode-model pembelajaran yang termasuk
rumpun pengolahan informasi:
Model – model Pembelajaran
Pengolahan Informasi
|
No.
|
Jenis Model
|
Tujuan/ manfaat
|
|
1.
|
Berfikir Induktif
|
Model ini ditujukan untuk
pembentukan kemampuan berfikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan
akademik, dan diperlukan dalam kehidupan secara umum
|
|
2.
|
Latihan Inkuiri
|
Model ini dirancang untuk
melibatkan siswa dalam berfikir sebab-akibat dan melatih mengajukan
pertanyaan secara opic dan tepat
|
|
3.
|
Concept
attainment
|
Dirancang untuk mengajarkan
(pembentukan) konsep dan untuk membantu siswa menjadi lebih efektif dalam
belajar konsep (kemampuan berfikir induktif)
|
|
4.
|
Mnemonic (strategi
mengingat dan menerima informasi)
|
Model ini dirancang untuk
membantu guru dalam menyajikan bahan pelajaran dan cara-cara membantu siswa
baik secara individual maupun secara kooperatif dalam mempelajari informasi
atau konsep
|
|
5.
|
Perkembangan kognitif
|
Model ini bertujuan untuk
membantu guru dalam pembentukan kemampuan berfikir/ pengembangn
intelektual pada umumnya, khususnya berfikir logis. Kemampuan ini dapat
diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral
|
|
6.
|
Advance
Organizer
|
Model ini dirancang untuk
meningkatkan kemamapuan mengolah informasi dalam kapasitas untuk membentuk
dan menghubungkan dengan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang telah
ada
|
|
7.
|
Synectics
|
Dirancang untuk membantu
siswa break set dalam kegiatan pemecahan masalah dan menulis
untuk memperoleh pandangan baru terhadap suatu opic berdasarkan banyak hal
dari lapangan
|
2. Rumpun Model-model Pembelajaran
Individual
Model-model
pembelajaran pada rumpun individual ini memfokuskan pada pengembangan pribadi.
Model ini menekankan pada proses mengkonstruk dan mengorganisasi realita yang
memandang manusia sebagai pembuat makna.
Beberapa model yang termasuk rumpun
pembelajaran individual ini antara lain:
|
No.
|
Jenis Model
|
Tujuan/
Manfaat
|
|
1.
|
Pengajaran non Direktif
|
Model ini menekankan pada
kemitraan Guru-siswa. Guru berusaha membantu siswa memahami perannya dalam
pendidikan mereka sendiri. Model ini juga menekankan pada pembentukan
kemampuan belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan penemuan diri sendiri
sehingga terbentuk konsep diri
|
|
2.
|
Latihan kesadaran
|
Model ini berguna untuk
meningkatkan kemampuan/kapasitas seseorang dalam mengsplorasi dan menyadari
pemahaman diri sendiri
|
|
3.
|
Sistem Konseptual
|
Model ini dirancang untuk
meningkatkan kompleksitas pribadi dan feksibilitas
|
|
4.
|
Pertemuan Kelas
|
Model ini ditujukan untuk
pengembangan pemahamn dan tanggungjawab pad diri sendiri dan kelompok
sosialnya.
|
3. Rumpun Model-Model
Pembelajaran Sosial
Model-model pembelajaran rumpun
sosial menggabungkan antara belaajr dan masyarakat. Kedudukan belajar di sini
adalah bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan pemberi semangat sosial,
tetapi juga intelektual. Sebaliknya tugas-tugas yang sering dilakukan dalam
kehidupan sosial dapat dirancang untuk meningkatkan belajar/keakademisan.
Jenis model pembelajaran rumpun
sosial antara lain:
|
No
|
Jenis Model
|
Tujuan/Manfaat
|
|
1.
|
Partner in learning / kerja
kelompok
|
Model ini dirancang untuk
memberikan bimbingan kepada siswa untuk mendefinisikan/ menemukan masalah,
menggali berbagai pandangan terhadap masalah, dan belajar bersama untuk
menguasai informasi, ide, dan keterampilan yang secara simultan mengembangkan
kompetensi sosial.
|
|
2.
|
Jurisprudential
|
Model ini dirancang untuk melatih
kemampuan mengolah informasi dan menyelesaikan isu kemasyarakatan dengan
kerangka acuan atau cara berfikir jurisprudential (ilmu tentang hukum-hukum
manusia)
|
|
3.
|
Role Playing (bermain peran)
|
Model ini dirancang untuk
mengajak siswa dalam menyelidiki nilai-nilai pribadi dan sosial melalui
tingkahlaku mereka sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber dari
penyelidikan itu. Bermain peran juga membantu siswa mengumpulkan dan menata
informasi mengenai isu-isu sosial, mengembangkan rasa empati kepada teman,
dan mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial siswa.
|
4. Rumpun Model-Model Pembelajaran
Perilaku
Model-model pembelajaran pada
rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku
seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku atau perilaku
terapi. Model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan
belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga
terbentuk pola perilaku yang dikehendaki.
Beberapa model pembelajaran pada
rumpun ini antara lain :
|
No.
|
Jenis Model
|
Karakteristik
Model
|
|
1.
|
Mastery learning, Direct
Instruction, dan Social learning Theory
|
Bahan-bahan yang akan dipelajari
siswa dipecah e dalam unit-unit yang sederhana hingga yang kompleks. Bahan
yang dipelajari siswa umumnya dipelajari secara individual melalui berbagai
media
|
|
2.
|
Self Control
|
Model pembelajaran ini
mengandalkan pada bagaimana siswa harus berprilaku dan siswa belajar dari
dampak perilaku tersebut, serta mengendalikan lingkungannya sehingga perilaku
tersebut dapat produktif.
|
|
3.
|
Learning from simulation
|
Dalam situasi tertentu, individu
akan memodifikasi perilakunya sesuai dengan masukan yang diterima dari
lingkungan. Mereka akan menata lingkunagnnya dan pola-pola responnya dengan
masukan-masukan dari lingkungan
|
|
4.
|
The condition of learning
|
Model ini menekankan pada hasil
belajar : apa yang diharapkan dari tugas/fungsi instruksional guru.
|
3. Landasan
filosofis, psikologis dan sosiologis memiliki implikasi terhadap pengembangan
teori pendidikan dan selanjutnya juga berimplikasi pada pengembangan teori
belajar dan model pembelajaran, jelaskan maksudnya, kemukakan contohnya!
Jawaban :
Pendidikan
selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera tampak. Diperlukan satu generasi untuk melihat suatu
akhir dari pendidikan itu. Oleh karena itu apabila terjadi suatu kekeliruan
yang berakibat kegagalan, pada umumnya sudah terlambat untuk memperbaikinya.
Kenyataan ini menuntut agar pendidikan itu dirancang dan dilaksanakan secermat
mungkin dengan memperhatikan sejumlah landasan dan asas pendidikan.
Contohnya:
·
Landasan Filosofis
Filsafat
memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam
Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti :
perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan
rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada
aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan
implementasi kurikulum yang dikembangkan.
Aliran
Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran
filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis.
Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model
Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak
diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing
aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena
itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung
dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat
ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi
pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih
menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
·
Landasan Psikologis
Nana Syaodih
Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang
mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2)
psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari
tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi
perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan,
aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal
lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi
belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks
belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori
belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan
kurikulum.
Masih
berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori
psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip
pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa
kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan
hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang
terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi.
·
Landasan Sosiologis
Peserta didik
berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal
dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula.
Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya
menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan
pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi
terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan
diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh
karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan
kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di
masyakarakat.
4. Berdasarkan
kajian terhadap model-model pembelajaran, menurut anda model apa yang tepat
dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia!
Jawaban :
Menurut saya
model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah Indonesia
adalah Integrated Learning (Pembelajaran Terpadu), karena pada prinsipnya
pembelajaran terpadu ini terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuan
siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses
pembelajaran. Pemebelajaran terpadu melibatkan beberapa mata pelajaran untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada
pembelajaran terpadu, artinya siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka
pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang
lain yang sudah mereka pelajari. Jadi, memungkinkan siswa baik individu maupun
kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan
secara holistik, bermakna dan otentik.
5. Coba anda
kemukakan perbedaan dan persamaan model kooperatif, integrated, berbasis
masalah dan inquiri!
Jawaban :
Perbedaan
model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri adalah hanya model
integrated yang dapat memadukan beberapa pokok bahasan yang lain hanya fokus
pada satu pokok bahasan saja, pembeljaran kooperatif selalu dilaksanakan secara
berkelompok sedangkan 3 pembelajaran lainnya hanya kadang-kadang.
Persamaan
model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri adalah model-model
ini sama-sama melibatkan peran peseta didik dalam pembelajaran secara aktif,
sistem pembelajarannya dapat dilaksanakan secara berkelompok, menetapkan
masalah sebagai pokok bahasan dan mendorong demokrasi dalam belajar.
6. Berdasarkan
telaaah terhadap model desain pembelajaran, model desain pembelajaran yang
bagaimana yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah!
Jawaban :
Menurut saya Model
Gerlach dan Ely tepat dalam kegiatan pembelajaran PAI. Model pembelajaran yang
satu ini memiliki ciri utama sebagai suatu sistem yang mengembangkan
perencanaan pembelajaran. Di antaranya beberapa hal yang diperhatikan dalam
desain pembelajaran ini adalah tujuan instruksional, materi pembelajaran,
kemampuan awal yang dimiliki oleh para peserta didik, serta teknik dan strategi
yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Model pengembangan
intruksional yang di kembangan Gerlach dan Ely ini maksudkan untuk pedoman
perencanaan mengajar. Menurutnya langkah-langkah dalam pengembangan
intruksional terdiri dari:
1) Merumuskan
tujuan intruksional
2) Menentukan
isi materi pelajaran
3) Menetukan
kemampuan awal peserta didik
4) Menentukan
teknik dan strategi
Strategi
merupakan pendekatan yang dipakai guru dalam menyampaikan informasi, memilih sumber-sumber, dan
menentukan tugas/ peran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi
tahap ini guru harus menetkan untuk dapat mencapai tujuan intruksional secara
baik.
5)
Pengelompokan belajar
Pada tahap ini
guru harus menentukan bagaimana kelompok belajar akan di atur.
6) Menentukan
pembagian waktu
Dalam langkah
ini guru harus menentukan alokasi waktu penyajian sesuatu strategi dan teknik
yang digunakan.
7) Menentukan
ruang
Dalam
menentukan ruang perlu memperhatikan jumlah peserta didik dan strategi yang di
gunakan.
8) Memilih
media intruksional yang sesuai
Pemilihan
media ini harus menunjang pencapaian tujuan intruksional dan sesuai dengan
strategi dan teknik yang digunakan
9)
Mengevaluasi hasil belajar
Untuk menilai
sejauh mana tujuan intruksioanal tercapai, maka evaluasi di kembangkan
berdasarkan tujuan intruksional
10)
Menganalisis umpan balik
Yang dilakukan
dalam rangka untuk menyempurnakan/ perbaikan instruksional.
7. Uraikan
kriteria penetapan isi pembelajaran, dan prinsip apa saja menurut anda dalam
pemilihan model pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan!
Jawaban :
Ada beberapa
hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :
§ Materi
pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan instruksional.
§ Materi
pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau perkembangan siswa
pada umumnya.
§ Menetapkan
materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).
Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).
§ Materi pelajaran
di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari yang mudak menuju
yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa akan
mudah memahaminya.
§ Materi
pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual maupun konseptual.
Sementara itu dalam menentukan isi/materi kurikulum, Sudjana mengajukan
beberapa kriteria, antara lain:
·
Isi/materi kurikulum harus sesuai, tepat
dan bermakna bagi perkembangan siswa.
·
Isi/materi kurikulum harus mencerminkan
kejadian dan fakta sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata dalam
masyarakat.
·
Isi/materi kurikulum harus mengandun`g pengetahuan ilmiah yang komprehensif.
·
Isi/materi kurikulum harus mengandung aspek
ilmiah yang tahan uji.
·
Isi/materi kurikulum harus mengandung bahan
yang jelas, teori, prinsip, konsep, dan fakta yang terdapat di dalamnya bukan
sekedar informasi intelektual.
·
Isi/materi kurikulum harus dapat menunjang
tercapainya tujuan pendidikan
Prinsip-prinsip
yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian
(relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
a)
Relevansi artinya kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya
relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar.
Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta,
maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau
prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus
dikuasai peserta didik adalah ” Mengidentifikasi
sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya maka pemilihan
materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang sifat-sifat
dab bagian dari kubus,balok,prisma dan limas” (materi konsep), bukan menentukan
volume dari kubus,balok,prisma dan limas. (materi prosedur).
b)
Konsistensi artinya keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus
dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga
harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X
semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka
materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan,
perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
c)
Adequacy artinya kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya
cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang
diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak.
Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan
keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan
KD).
8. Menurut
anda bagaimana desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah ?
analisislah berdasarkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran, dan pandangan
Islam.
Jawaban :
Menurut saya
desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah adalah desainnya
yang lengkap, maka desain pembelajaran pendidikan agma Islam yang bagus adalah:
1. Menentukan tujuan pengajaran
pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama Islam adalah
bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan
peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman
dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai tujuan tersebut juga
perlu adanya suatu materi pengajaran tertentu .
2) Menentukan materi pengajaran/
bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam pendidikan agama Islam
adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan, syarai’ah, Ibadah,
muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih menekankan pada
perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3). Menentukan pendekatan dan
metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa menyesuaikan dengan
keadaan peserta ajar, di dalam pendidikan agama Islam metode yang banyak
digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi.
4) Media pengajaran dan pengalaman
belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta ajar/murid untuk menerima
pelajaran. Dalam hal ini bisa menngunakan media bacaaan, tip recorde
5) Evaluasi keberhasilan, hal ini
di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah
di berikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
9. Materi PAI
terdiri dari beberapa aspek kajian seperti Akidah, Akhlak, Fikih, Sejarah, dan
Alqur’an serta Hadits. Masing-masing memiliki karakteristik tujuan yang
berbeda, tentu kalau berdasarkan kajian model pembelajaran memiliki desain dan
model yang berbeda. Kemukakan pendapat anda, dengan dukungan teori pembelajaran.
Jawaban :
Manusia
diciptakan Allah swt, dalam struktur yang paling baik di antara makhluk Allah
yang lain. Struktur manusia terdiri atas unsur jasmaniah (fisikologis) dan
rohaniah (psikologis). Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu, Allah
memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang,
dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran
psikologi behaviourisme disebut prepotence reflexes (kemampuan dasar yang
secara otomatis dapat berkembang).
Dengan
demikian, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan sampai kepada proses
pembelajaran. Dalam perkembanganya merupakan suatu konsep-konsep atau
teori-teori dalam aktivitas kegiatan belajar-mengajar. Dalam kaitannya dengan
proses pembelajaran, ditemukan ada beberapa teori yang telah dikenal secara
umum, diantaranya :
a. Teori fitrah. Teori ini berpendapat, bahwa
kemampuan dasar perkembangan manusia merupakan anugrah dari Allah swt, yang
dilengkapi dengan berbagai potensi pada dirinya.
b. Teori
koneksionisme. Teori ini berpendapat, bahwa belajar merupakan hubungan antara
stimulus dan respons.
c. Teori psikologi
daya. Teori ini berpendapat, bahwa setiap individu atau peserta didik memiliki
sejumlah daya atau kekuatan dalam dirinya yang dapat dikembangkan dalam kegiatan
proses pembelajaran baik dari dari daya fisik, motorik maupun dari daya
mentalnya dapat dikembangkan dengan melalui latihan terus menerus.
d. Teori
gestalt. Teori ini berpendapat, belajar bukan saja mengulangi hal-hal yang
harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight (pengertian yang
mendalam).
Oleh karena
ada banyak teori dalam pembelajaran agama Islam maka setiap aspek kajian tentu
memiliki desain dan model yang berbeda, semua ini tergantung karakteristik
materi yang akan disampaikan serta karakteristik tuntutan peserta belajar yang
menjadi subjek pembelajaran.
Daftar Pustaka
Bruce Joyce., Marsha Weil. Model of Teaching. Boston : Allyn
and
Bacon, 2000
Harjanto. Perecanaan pengajaran, Jakarta: PT. Rineka Cpta, 1997
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Bandung:
Rosda Karya, 2001
Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikum; Teori dan
Praktek.
Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya,
1997
Zaini, Muhammad. Pengembangan
Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: Teras, 2009