Model - Hj. Khairun Nisa


   

PERNYATAAN

Pembelajaran PAI adalah jantungnya pendidikan di Indonesia dan amat penting dalam mengembangkan kualitas manusia mendatang. Melalui pembelajaran PAI anak didik memahami dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan menjadi warga negara yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, produktif serta kreatif. Sayangnya, pembelajaran masa kini masih belum mampu mengembangkan kualitas manusia Indonesia yang diharapkan berdasarkan tujuan pendidikan nasional. Banyak faktor penghambat yang diidentifikasi para ahli, seperti kompetensi guru, karakteristik kurikulum, saran adan fasilitas, serta kebijakan lainnya yang tak mendukung.

Kajian Model Pembeajaran PAI dapat memberikan visi, cara, dan inovasi lainnya dalam mengembangkan proses pembelajaran PAI, berdasarkan pandangan teoritis yang terdapat banyak literature model dan desain pembelajaran pendidikan Islam. Inilah salah satu manfaat dari kajian model pembelajaran PAI.

PERTANYAAN

1. Jelaskan arti pernyataaan di atas !

            Jawaban :

            Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang sangat urgent atau penting. Hal itu disebabkan karena PAI tidak hanya belajar dan fokus dengan teori-teori saja, tetapi ditekankan pada praktek di kehidupan sehari-hari siswanya. Lebih jauh lagi dengan belajar PAI para siswa diharapkan memiliki rasa agama (religiusity) yang kuat sehingga menjadikan siswa-siswanya sebagai generasi penerus bangsa yang amanah dan berakhlakul karimah.

Disini diharapkan dengan adanya kajian model pembelajaran PAI mampu melaksanakan pendidikan agama Islam yang deselenggerakan di sekolah dengan baik dan dapat mengembangkan proses pembelajarannya sehingga apa yang dicapai berdasarkan tujuan pendidikan nasional yaitu mampu mengembangkan kualitas manusia Indonesia.









2. Model pembelajaran dilandasi oleh pandangan filosofi yang berbeda dalam memandang tentang anak, cara belajar, tujuan pendidikan, guru, serta lingkungan, kemukakan dan jelaskan secara komprehensip rumpun model pembelajaran menurut para ahli !

            Jawaban :

Joyce dan Weil (1996) dalam bukunya Model of Teaching telah menggolongkan model-model pembelajaran menjadai empat rumpun model pembelajaran.  Rumpun model pembelajaran tersebut antara lain adalah Rumpun Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi, Rumpun Model-model Pembelajaran Individual,

1. Rumpun Model-model Pembelajaran Pengolahan Informasi

Model-model pembelajaran dalam rumpun ini bertitik tolak dari prinsip-prinsip pengolahan informasi yaitu cara-cara manusia menanggapi rangsangan dari lingkungan, mengorganisasikan data, mengenali masalah dan mencoba mencari solusinya, serta mengmebangkan konsep-konsep dan bahasa untuk menangani masalah tersebut. Model dalam rumpun ini berhubungan dengan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan intelektual secara umum, dan penekanan konsep serta informasi yang berasal dar disiplin ilmu secara akademis.Berikut adalah jenis-mode-model pembelajaran yang termasuk rumpun pengolahan informasi:

Model – model Pembelajaran Pengolahan Informasi

No.
Jenis Model
Tujuan/ manfaat
1.
Berfikir Induktif
Model ini ditujukan untuk pembentukan kemampuan berfikir induktif yang banyak diperlukan dalam kegiatan akademik, dan diperlukan dalam kehidupan secara umum
2.
Latihan Inkuiri
Model ini dirancang untuk melibatkan siswa dalam berfikir sebab-akibat dan melatih mengajukan pertanyaan secara opic dan tepat
3.
Concept attainment
Dirancang untuk mengajarkan (pembentukan) konsep dan untuk membantu siswa menjadi lebih efektif dalam belajar konsep (kemampuan berfikir induktif)
4.
Mnemonic (strategi mengingat dan menerima informasi)
Model ini dirancang untuk membantu guru dalam menyajikan bahan pelajaran dan cara-cara membantu siswa baik secara individual maupun secara kooperatif dalam mempelajari informasi atau konsep
5.
Perkembangan kognitif
Model ini bertujuan untuk membantu guru dalam pembentukan kemampuan berfikir/ pengembangn intelektual  pada umumnya, khususnya berfikir logis. Kemampuan ini dapat diterapkan pada kehidupan sosial dan pengembangan moral
6.
Advance Organizer
Model ini dirancang untuk meningkatkan kemamapuan mengolah informasi dalam kapasitas untuk membentuk dan menghubungkan dengan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang telah ada
7.
Synectics
Dirancang untuk membantu siswa  break set dalam kegiatan pemecahan masalah dan menulis untuk memperoleh pandangan baru terhadap suatu opic berdasarkan banyak hal dari lapangan



2. Rumpun Model-model Pembelajaran Individual

Model-model pembelajaran pada rumpun individual ini memfokuskan pada pengembangan pribadi. Model ini menekankan pada proses mengkonstruk dan mengorganisasi realita yang memandang manusia sebagai pembuat makna.

Beberapa model yang termasuk rumpun pembelajaran individual ini antara lain:

No.
Jenis Model
Tujuan/ Manfaat
1.
Pengajaran non Direktif
Model ini menekankan pada kemitraan Guru-siswa. Guru berusaha membantu siswa memahami perannya dalam pendidikan mereka sendiri. Model ini juga menekankan pada pembentukan kemampuan belajar sendiri untuk mencapai pemahaman dan penemuan diri sendiri sehingga terbentuk konsep diri
2.
Latihan kesadaran
Model ini berguna untuk meningkatkan kemampuan/kapasitas seseorang dalam mengsplorasi dan menyadari pemahaman diri sendiri
3.
Sistem Konseptual
Model ini dirancang untuk meningkatkan kompleksitas pribadi dan feksibilitas
4.
Pertemuan Kelas
Model ini ditujukan untuk pengembangan pemahamn dan tanggungjawab pad diri sendiri dan kelompok sosialnya.

3.  Rumpun Model-Model Pembelajaran Sosial

Model-model pembelajaran rumpun sosial menggabungkan antara belaajr dan masyarakat. Kedudukan belajar di sini adalah bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan pemberi semangat sosial, tetapi juga intelektual. Sebaliknya tugas-tugas yang sering dilakukan dalam kehidupan sosial dapat dirancang untuk meningkatkan belajar/keakademisan.

Jenis model pembelajaran rumpun sosial antara lain:

No
Jenis Model
Tujuan/Manfaat
1.
Partner in learning / kerja kelompok
Model ini dirancang untuk memberikan bimbingan kepada siswa untuk mendefinisikan/ menemukan masalah, menggali berbagai pandangan terhadap masalah, dan belajar bersama untuk menguasai informasi, ide, dan keterampilan yang secara simultan mengembangkan kompetensi sosial.
2.
Jurisprudential
Model ini dirancang untuk melatih kemampuan mengolah informasi dan menyelesaikan isu kemasyarakatan dengan kerangka acuan atau cara berfikir jurisprudential (ilmu tentang hukum-hukum manusia)
3.
Role Playing (bermain peran)
Model ini dirancang untuk mengajak siswa dalam menyelidiki nilai-nilai pribadi dan sosial melalui tingkahlaku mereka sendiri dan nilai-nilai yang menjadi sumber dari penyelidikan itu. Bermain peran juga membantu siswa mengumpulkan dan menata informasi mengenai isu-isu sosial, mengembangkan rasa empati kepada teman, dan mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial siswa.



4. Rumpun Model-Model Pembelajaran Perilaku

Model-model pembelajaran pada rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan yang mengacu pada teori perilaku seperti teori belajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku atau perilaku terapi. Model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan perilaku secara efektif sehingga terbentuk pola perilaku yang dikehendaki.

Beberapa model pembelajaran pada rumpun ini antara lain :

No.
Jenis Model
Karakteristik Model
1.
Mastery learning, Direct Instruction, dan Social learning Theory
Bahan-bahan yang akan dipelajari siswa dipecah e dalam unit-unit yang sederhana hingga yang kompleks. Bahan yang dipelajari siswa umumnya dipelajari secara individual melalui berbagai media
2.
Self Control
Model pembelajaran ini mengandalkan pada bagaimana siswa harus berprilaku dan siswa belajar dari dampak perilaku tersebut, serta mengendalikan lingkungannya sehingga perilaku tersebut dapat produktif.
3.
Learning from simulation
Dalam situasi tertentu, individu akan memodifikasi perilakunya sesuai  dengan masukan yang diterima dari lingkungan. Mereka akan menata lingkunagnnya dan pola-pola responnya dengan masukan-masukan dari lingkungan
4.
The condition of learning
Model ini menekankan pada hasil belajar : apa yang diharapkan dari tugas/fungsi instruksional guru.

3. Landasan filosofis, psikologis dan sosiologis memiliki implikasi terhadap pengembangan teori pendidikan dan selanjutnya juga berimplikasi pada pengembangan teori belajar dan model pembelajaran, jelaskan maksudnya, kemukakan contohnya!

Jawaban :

Pendidikan selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera tampak.  Diperlukan satu generasi untuk melihat suatu akhir dari pendidikan itu. Oleh karena itu apabila terjadi suatu kekeliruan yang berakibat kegagalan, pada umumnya sudah terlambat untuk memperbaikinya. Kenyataan ini menuntut agar pendidikan itu dirancang dan dilaksanakan secermat mungkin dengan memperhatikan sejumlah landasan dan asas pendidikan.

Contohnya:

·         Landasan Filosofis

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.





·         Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi.

·         Landasan Sosiologis

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.



4. Berdasarkan kajian terhadap model-model pembelajaran, menurut anda model apa yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah di Indonesia!

Jawaban :

            Menurut saya model yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran PAI pada madrasah Indonesia adalah Integrated Learning (Pembelajaran Terpadu), karena pada prinsipnya pembelajaran terpadu ini terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuan siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Pemebelajaran terpadu melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu, artinya siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pelajari. Jadi, memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.



5. Coba anda kemukakan perbedaan dan persamaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri!

Jawaban :

Perbedaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri adalah hanya model integrated yang dapat memadukan beberapa pokok bahasan yang lain hanya fokus pada satu pokok bahasan saja, pembeljaran kooperatif selalu dilaksanakan secara berkelompok sedangkan 3 pembelajaran lainnya hanya kadang-kadang.

Persamaan model kooperatif, integrated, berbasis masalah dan inquiri adalah model-model ini sama-sama melibatkan peran peseta didik dalam pembelajaran secara aktif, sistem pembelajarannya dapat dilaksanakan secara berkelompok, menetapkan masalah sebagai pokok bahasan dan mendorong demokrasi dalam belajar.







6. Berdasarkan telaaah terhadap model desain pembelajaran, model desain pembelajaran yang bagaimana yang tepat untuk mata pelajaran PAI di sekolah!

            Jawaban :

Menurut saya Model Gerlach dan Ely tepat dalam kegiatan pembelajaran PAI. Model pembelajaran yang satu ini memiliki ciri utama sebagai suatu sistem yang mengembangkan perencanaan pembelajaran. Di antaranya beberapa hal yang diperhatikan dalam desain pembelajaran ini adalah tujuan instruksional, materi pembelajaran, kemampuan awal yang dimiliki oleh para peserta didik, serta teknik dan strategi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Model pengembangan intruksional yang di kembangan Gerlach dan Ely ini maksudkan untuk pedoman perencanaan mengajar. Menurutnya langkah-langkah dalam pengembangan intruksional terdiri dari:

1) Merumuskan tujuan intruksional

2) Menentukan isi materi pelajaran

3) Menetukan kemampuan awal peserta didik

4) Menentukan teknik dan strategi

Strategi merupakan pendekatan yang dipakai guru dalam menyampaikan  informasi, memilih sumber-sumber, dan menentukan tugas/ peran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi tahap ini guru harus menetkan untuk dapat mencapai tujuan intruksional secara baik.

5) Pengelompokan belajar

Pada tahap ini guru harus menentukan bagaimana kelompok belajar akan di atur.

6) Menentukan pembagian waktu

Dalam langkah ini guru harus menentukan alokasi waktu penyajian sesuatu strategi dan teknik yang digunakan.

7) Menentukan ruang

Dalam menentukan ruang perlu memperhatikan jumlah peserta didik dan strategi yang di gunakan.



8) Memilih media intruksional yang sesuai

Pemilihan media ini harus menunjang pencapaian tujuan intruksional dan sesuai dengan strategi dan teknik yang digunakan

9) Mengevaluasi hasil belajar

Untuk menilai sejauh mana tujuan intruksioanal tercapai, maka evaluasi di kembangkan berdasarkan tujuan intruksional

10) Menganalisis umpan balik

Yang dilakukan dalam rangka untuk menyempurnakan/ perbaikan instruksional.



7. Uraikan kriteria penetapan isi pembelajaran, dan prinsip apa saja menurut anda dalam pemilihan model pembelajaran PAI yang seharusnya dikembangkan!

Jawaban :

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :

§  Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan instruksional.

§  Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau perkembangan siswa pada umumnya.

§  Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
 Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas).

§  Materi pelajaran di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari yang mudak menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa akan mudah memahaminya.

§  Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual maupun konseptual.

Sementara itu dalam menentukan isi/materi kurikulum, Sudjana mengajukan beberapa kriteria, antara lain:

·         Isi/materi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.

·         Isi/materi kurikulum harus mencerminkan kejadian dan fakta sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata dalam masyarakat.

·         Isi/materi kurikulum harus mengandun`g pengetahuan ilmiah yang komprehensif.

·         Isi/materi kurikulum harus mengandung aspek ilmiah yang tahan uji.

·         Isi/materi kurikulum harus mengandung bahan yang jelas, teori, prinsip, konsep, dan fakta yang terdapat di dalamnya bukan sekedar informasi intelektual.

·         Isi/materi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan

Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).

a)      Relevansi artinya kesesuaian.

Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ” Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma dan limas serta bagian-bagiannya maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang sifat-sifat dab bagian dari kubus,balok,prisma dan limas” (materi konsep), bukan menentukan volume dari kubus,balok,prisma dan limas. (materi prosedur).

b)      Konsistensi artinya keajegan.

Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.

c)      Adequacy artinya kecukupan.

Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).



8. Menurut anda bagaimana desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah ? analisislah berdasarkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran, dan pandangan Islam.

Jawaban :

            Menurut saya desain pembelajaran PAI yang bagus untuk madrasah dan sekolah adalah desainnya yang lengkap, maka desain pembelajaran pendidikan agma Islam yang bagus adalah:

1. Menentukan tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi pengajaran tertentu .

2) Menentukan materi pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan, syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

3). Menentukan pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar, di dalam pendidikan agama Islam metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi.

4) Media pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta ajar/murid untuk menerima pelajaran. Dalam hal ini bisa menngunakan media bacaaan, tip recorde

5) Evaluasi keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah di berikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.



9. Materi PAI terdiri dari beberapa aspek kajian seperti Akidah, Akhlak, Fikih, Sejarah, dan Alqur’an serta Hadits. Masing-masing memiliki karakteristik tujuan yang berbeda, tentu kalau berdasarkan kajian model pembelajaran memiliki desain dan model yang berbeda. Kemukakan pendapat anda, dengan dukungan teori pembelajaran.  

Jawaban :

Manusia diciptakan Allah swt, dalam struktur yang paling baik di antara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia terdiri atas unsur jasmaniah (fisikologis) dan rohaniah (psikologis). Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviourisme disebut prepotence reflexes (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang).

Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan sampai kepada proses pembelajaran. Dalam perkembanganya merupakan suatu konsep-konsep atau teori-teori dalam aktivitas kegiatan belajar-mengajar. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, ditemukan ada beberapa teori yang telah dikenal secara umum, diantaranya :

 a. Teori fitrah. Teori ini berpendapat, bahwa kemampuan dasar perkembangan manusia merupakan anugrah dari Allah swt, yang dilengkapi dengan berbagai potensi pada dirinya.

b. Teori koneksionisme. Teori ini berpendapat, bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons.

c. Teori psikologi daya. Teori ini berpendapat, bahwa setiap individu atau peserta didik memiliki sejumlah daya atau kekuatan dalam dirinya yang dapat dikembangkan dalam kegiatan proses pembelajaran baik dari dari daya fisik, motorik maupun dari daya mentalnya dapat dikembangkan dengan melalui latihan terus menerus.

d. Teori gestalt. Teori ini berpendapat, belajar bukan saja mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight (pengertian yang mendalam).

Oleh karena ada banyak teori dalam pembelajaran agama Islam maka setiap aspek kajian tentu memiliki desain dan model yang berbeda, semua ini tergantung karakteristik materi yang akan disampaikan serta karakteristik tuntutan peserta belajar yang menjadi subjek pembelajaran.

Daftar Pustaka

Bruce Joyce., Marsha Weil. Model of Teaching. Boston : Allyn and

Bacon, 2000

Harjanto. Perecanaan pengajaran, Jakarta: PT. Rineka Cpta, 1997

Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan

Agama Islam di Sekolah, Bandung: Rosda Karya, 2001

Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek.

Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya, 1997

Zaini, Muhammad. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: Teras, 2009

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »