Hakikat, Tujuan, Dan Kegunaan Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
Diskursus tentang pendidikan dan pendidikan Islam sampai sekarang masih berlangsung. Perdebatan panjang mengenai makna (hakikat) pendidikan itu sendiri masih sering terjadi. Berbagai pendapat dari sudut pandang yang berbeda membuat pendidikan mempunyai banyak arti. Pendidikan kadang dimaknai sebagai transfer of knowledge,
atau terkadang juga dimaknai sebagai proses bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada peserta didik untuk menjadi dewasa dan mampu melaksanakan tugas dalam hidupnya.
      Bahkan pendidikan juga sering dimaknai sebagai internalisasi nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. Pengertian-pengertian tentang pendidikan seperti di atas, kerap kali membingungkan kita. Alhasil berbagai pertanyaan tentang apa sebenarnya hakikat pendidikan masih sering terdengar di mana-mana.
            Oleh karena itu disini penulis mencoba membahas mengenai Dasar-Dasar Filosofis Pendidikan Islam (Pandangan-pandangan mengenai hakikat, tujuan, kegunaan pendidikan, pendidik, anak didik, lingkungan serta sarana atau metode pendidikan)








BAB II
PEMBAHASAN
A.    HAKIKAT PENDIDIKAN
1.      Pengertian Pendidikan
Sebelum membahas lebih jauh tentang hakikat pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas makna dari pendidikan itu sendiri. Secara etimologi (bahasa), pendidikan berasal dari bahasa Yunani yang berarti paedagogie, terdiri dari kata “pais” yang artinya anak, dan “Again” diterjemahkan dengan membimbing. Jadi paedagogie adalah bimbingan yang diberikan kepada anak.[1] Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masayarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.[2]
Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[3] Untuk memahami lebih jauh tentang pendidikan, maka di sini akan dipaparkan pendidikan menurut para ahli.
a.    John Dewey mengartikan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
b.    Carter V. Good mengartikan bahwa pendidikan adalah ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.[4]
c.    Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[5]
d.   Adapun dalam UU Sisdiknas 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[6]
              Dari beberapa pengertian di atas, walaupun memiliki perbedaan secara redaksional, akan tetapi secara esensial memiliki kesamaan, yaitu pendidikan merupakan proses bimbingan, tuntunan atau pemimpin yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, peserta didik dan tujuan.
Maka dapat kita pahami bahwa pendidikan ialah upaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan.[7] sebagai suatu usaha untuk menumbuhkan serta mengembangkan potensi ke arah yang positif. Pendidikan bukan semata-mata mengembangkan ranah kognitif  saja, tetapi harus pula mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik. Dalam arti konkret, pendidikan harus mengembangkan pengetahuan, kepribadian dan keterampilan.
2.      Hakikat Pendidikan
Menurut pandangan pakar Indonesia, hakikat pendidikan itu dapat dikategorisasikan dalam dua pendapat, yaitu pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologi atau metafisik. Atau dengan kata lain hakikat pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utama pendidikan adalah manusia, wawasan yang dianut dalam pendidikan dalam hal ini guru, tentang manusia akan mempengaruhi strategi atau metode yang digunakan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Di samping itu konsep pendidikan yang dianut saling berkaitan erat dengan hakikat pendidikan.
Beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan hakikat pendidikan dinyatakan oleh Joni dalam Uhbiyati:1998 yaitu, 1) Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidikan. 2) Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. 3) Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat. 4) Pendidkan berlangsung seumur hidup. 5) Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Orang-orang Yunani tempo dulu, yang mengatakan bahwa hakikat pendidikan itu ialah “pertolongan” kepada manusia agar ia menjadi manusia, atau dengan kata lain sering kita dengar istilah memanusiakan manusia. Jadi ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, pertama “manusia”, kedua “menolong”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan.[8]
Dengan demikian pada hakikatnya pendidikan merupakan proses bimbingan ataupun pertolongan yang diberikan pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar “peserta didik” dapat mengembangkan dirinya untuk dapat survive di masa datang. Dengan kata lain pendidikan merupakan proses pendewasaan bagi peserta didik.
B.     HAKIKAT PENDIDIKAN ISLAM
1.      Pengertian Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan Islam tidak terlepas dari tiga istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Meskipun sesungguhnya terdapat beberapa istilah lain yang memiliki makna serupa seperti kata tabyin, tadris dan riyadhah, akan tetapi ketiga istilah tersebut dianggap cukup representatif dan amat sering digunakan dalam rangka mempelajari makna dasar pendidikan Islam.[9] Dalam perjalanannya ketiga istilah tersebut masih mengundang perdebatan panjang dalam menentukan istilah yang tepat bagi pendidikan Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut, di sini akan dijelaskan ketiga Istilah tersebut.
a.    Tarbiyah
Istilah tarbiyah berakar dari tiga kata, yakni pertama dari kata rabba-yarbu yang berarti “bertambah dan tumbuh”, kedua rabiya, yarba yang berarti “tumbuh dan berkembang”, dan ketiga kata rabba, yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai dan memimpin menjaga dan memelihara. Kata al-rabb, juga berasal dari kata tarbiyah dan berarti “mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan” secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur”.[10]
Penggunaan istilah Tarbiyah untuk menunjukkan makna pendidikan Islam dapat difahami dengan merujuk firman Allah dalam QS. Al-Isra/17:24,
ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
tA$s% óOs9r& y7În/tçR $uZŠÏù #YÏ9ur |M÷WÎ6s9ur $uZŠÏù ô`ÏB x8̍çHéå tûüÏZÅ ÇÊÑÈ
Artinya: Fir’aun menjawab: “Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu. (QS. Asy Syu’ara/26:18)
Menurut Quraish Shihab, kata Rabbika disebut dalam al-Qur’an sebanyak 224 kali. Kata tersebut bisa diterjemahkan dengan tuhanmu. Kata yang bersumber dari akar kata ini memiliki arti yang berbeda-beda, namun pada akhirnya, arti-arti itu mengacu kepada arti pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan serta perbaikan.[11]
b.   Ta’lim
Adapun at-Ta’lim secara etimologis berasal dari kata kerja “allama” yang berarti “mengajar”. Jadi makna ta’lim dapat diartikan “pengajaran” seperti dalam bahasa arab dinyatakan tarbiyah wa ta’lim berarti “pendidikan dan pengajaran”, sedangkan pendidikan dalam bahasa arabnya “at-Tarbiyah al-islamiyah“. Kata Ta’lim dengan kata kerja “allama” juga sudah digunakan pada zaman nabi, baik di dalam al-Qur’an maupun Hadis serta pemakaian sehari-hari pada masa lalu lebih sering digunakan dari pada tarbiyah. Kata “allama” memberi pengertian sekedar memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, karena sedikit sekali ke arah pembentukan kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan.[12]
Rasyid Ridha mengartikan Ta’lim sebagai proses tranmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa ada batasan dan ketentuan tertentu.[13] Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada ayat ini:
!$yJx. $uZù=yör& öNà6Ïù Zwqßu öNà6ZÏiB (#qè=÷Gtƒ öNä3øn=tæ $oYÏG»tƒ#uä öNà6ŠÏj.tãƒur ãNà6ßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$#
spyJò6Ïtø:$#ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 (#qçRqä3s? tbqßJn=÷ès? ÇÊÎÊÈ
Artinya: Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (QS. al-Baqarah: 151)
Istilah Ta’lim yang juga digunakan dalam rangka menunjuk konsep pendidikan dalam Islam punya makna, pertama, ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati.
Kedua, proses ta’lim tidak saja berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognitif semata, melainkan juga terus menjangkau psikomotor dan afektif.
c.     Ta’dib
Salah satu konsep kunci utama lain yang merujuk kepada hakikat dari inti makna pendidikan adalah istilah ta’dib yang berasal dari kata adab. Istilah ini dianggap mewakili makna utama pendidikan Islam. Menurut Syaid M Naquib al-Attas, Istilah ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan pengertian pendidikan Islam, sementara tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mencakupi juga untuk pendidikan hewan.
Terlepas dari perdebatan panjang ketiga istilah tersebut, sebenarnya para ahli pendidikan telah merumuskan definisi pendidikan Islam, diantaranya:
a.    Marimba dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam” menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam.[14]  
b.    Chabib Thoha menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan didasarkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis nabi.[15]
Dari definisi pertama dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam diartikan sebagai proses, yaitu bimbingan yang diberikan pada peserta didik, yang bertujuan membentuk kepribadian menurut Islam. Sedangkan pengertian kedua lebih menitikberatkan pendidikan yang berdasarkan Islam. Pada intinya kedua pengertian sama-sama menjelaskan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-qur’an dan Hadits.
c.    Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan Islam dengan “proses mengubah tingkah laku individu bagi kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[16]
d.   Hasan Langgulung, Pendidikan Islam adalah suatu proses spritual, akhlak, intelektual dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan untuk mempersiapkan mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.
Dengan demikian pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia baik individu maupun sosial untuk mengarahkan potensi baik yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spritual berlandaskan nilai Islam untuk mencapai kehidupan di dunia dan akhirat.

2.      Hakikat Pendidikan Islam
Fitrah manusia sebagai makhluk beragama sudah diisyaratkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya dalam Al Quran surah al-A’raf ayat 172:
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ
artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).
Meskipun manusia sudah memiliki fitrah beragama, namun manusia tetap memerlukan pendidikan dari lingkungannya, baik lingkungan keluarga (orang tua), guru maupun masyarakat. Tanpa adanya pendidikan dikhawatirkan fitrah beragama sebagai sifat bawaan manusia akan berjalan liar atau tidak sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya dalam Al Quran surah Adz-Dzariyaat ayat 56: yang artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Surah yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw menekankan perlunya orang belajar baca tulis dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam surah al Alaq ayat 1-5 yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Islam selain menekankan kepada umatnya untuk belajar juga menyuruh untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Jadi Islam mewajibkan umatnya untuk belajar dan mengajar. Melakukan proses belajar dan mengajar adalah bersifat manusiawi, yakni sesuai dengan harkat kemanusiaannya dalam kontek manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.
Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba yang siap menjalankan risalah yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah dimuka bumi, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya yang artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah : 30)
Pendidikan diharapkan tidak hanya fokus pada masalah intelektual tetapi juga emosional dan spritual. Walaupun kecerdasan intelektual (IQ) memiliki kedudukan dan posisi yang sangat penting, akan tetapi tanpa kehadiran kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spritual (SQ) yang merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan perasaan yang bersumber pada hati, tidak akan optimal dan bermakna. Banyak orang berusaha untuk merubah dunia, tetapi sedikit sekali orang terlebih dahulu berusaha merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dan shaleh. Orang sukses sejati adalah orang yang terus menerus berusaha membersihkan hati
Mengingat banyaknya pengertian tentang pendidikan Islam. ada satu hal yang penulis garis bawahi dari beberapa pengertian tersebut, yaitu pendidikan diartikan sebagai proses pengembangan potensi dan pembentukan pribadi dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian dapat dikatakan pendidikan merupakan proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, dalam arti berusaha untuk menampakkan (aktualisasi) potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik.


C.    TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Secara Terminologis, Tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud. Atau tujuan  adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Atau menurut Zakiah Darajat, tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.[17] Karena itu tujuan pendidikan Islam adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[18]
Secara Epistemologis, Merumuskan tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam mendefiniskan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam, dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip-prinsip dasarnya. Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya, sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Munzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya.
Secara Ontologis : Dalam Islam, hakikat manusia adalah makhluq ciptaan Allah. Sedangkan menurut tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Sebagaimana dalam firman Allah SWT. Q.S. Adz-Dzariyat: 56 Artinya : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terciptanya insan kamil. Menurut Muhaimin bahwa insan kamil adalah manusia yang mempunyai wajah Qur’ani, tercapainya insan yang memiliki dimensi religious, budaya dan ilmiah. Mencari hakekat pendidikan adalah menelusuri manusia itu sendiri sebagai bagian pendidikan. Melihat pendidikan dan prosesnya kepada manusia, sebetulnya pendidikan itu sendiri adalah sebagai suatu proses kemanusiaan dan pemanusiaan.
Selain itu bahwa pendidikan itu juga untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Tugas pokok dan fungsi tersebut adalah sebagai mandataris Tuhan (Khalifatullah Fi Al-Ardhi). Imam Al-Gazali (w.1111 M) sebagaimana disimpulkan oleh Fathiyah Hasan Sulaiman, pada dasarnya mengemukakan dua tujuan pokok pendidikan Islam:
1.    Untuk mencapai kesempurnaan manusia dalam mendekatkan diri kepada Tuhan; dan
2.    Sekaligus untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Ghazali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.
Hal ini berarti Pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa, dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh, sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman.[19]
Tujuan pendidikan menurut Dra. Hj. Nur Uhbiyati dan Dr. Zakiyah Daradjat ada empat macam, yaitu:
1.      Tujuan Umum                          
Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan, seperti: sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada tingkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi, dengan kerangka yang sama. Bentuk Insan Kamil dengan polatakwa kepada Allah swt harus dapat tergambar dalam pribadi seseorang yang sudah terdidik, walaupun dalam ukuran kecil dan mutu yang rendah.
2.      Tujuan Akhir
Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan, dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai.
Tujuan pendidikan adalah pengembangan akal dan akhlak yang dalam akhirnya dipakai untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Manusia mempunyai aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29: “Maka Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka sujudlah kalian kepada-Nya”. Dan tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dari firman Allah SWT yang artinya : ”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim berserah diri kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 102). Jadi insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah merupakan tujuan  akhir dari pendidikan Islam.[20]
3.      Tujuan Sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Pada tujuan sementara bentuk Insan Kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik.
4.      Tujuan Operasional                                                                      
Tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian.
Oleh karena itu, tujuan akhir pendidikan Islam berada di dalam garis yang sama dengan misi tersebut, yaitu membentuk kemampuan dan bakat manusia agar mampu menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan yang penuh rahmat dan berkat Allah di seluruh penjuru alam ini. Hal ini berarti bahwa potensi rahmat dan berkat Allah tersebut tidak akan terwujut nyata, bilamana tidak diaktualisasikan melalui ikhtiar yang bersifat kependidikan secara terarah dan tepat.[21]
D.    KEGUNAAN PENDIDIKAN
Ilmu pendidikan Islam memiliki arti dan peranan penting dalam kehidupan.  Menurut Arifin yang dikutip oleh Nur Uhbiyati, bahwa Kegunaan pendidikan Islam, antara lain[22]:
1.    Pendidikan sebagai usaha untuk membentuk pribadi manusia harus melalui proses yang panjang, dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengan segera, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan pembuatnya. Dalam proses pembentukan tersebut diperlukan suatu perhitungan yang matang dan hati-hati berdasarkan pandangan dan pikiran-pikiran atau teori yang tepat, sehingga kegagalan atau kesalahan-kesalahan langkah pembentukannya terhadap anak didik dapat dihindarkan. Oleh karena itu lapangan tugas dan sasaran pendidikan adalah makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang yang mengandung berbagai kemungkinan.
2.    Pendidikan Islam pada khususnya yang bersumberkan nilai-nilai agama Islam di samping menanamkan atau membentuk sikap hidup yang dijiwai niali-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan berilmu pengetahuan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang melandasinya adalah proses ikhtiari yang secara pedagogis mampu mengembangkan hidup anak didik kepada arah kedewasaan/kematangan yang menguntungkan dirinya.
3.    Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah dengan tujuan mensejahterahkan dan membahagiakan hidup dan kehidupan manusia di dunia dan akhirat, baru dapat mempunyai arti fungsional dan actual dalam diri manusia bilamana dikembangkan melalui proses pendidikan yang sistematis. Oleh karena itu, teori-teori pendidikan Islam yang disusun secara sistematis merupakan kompas bagi tersebut.
4.    Pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliah dalam pribadi manusia baru dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan.

E.      PENDIDIK
1.      Pengertian Pendidik
Menurut W.J.S Poerwadarminta yang dikutip Abdin Nata, dari segi bahasa pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik.[23]
Jika dari segi bahasa pendidik dikatakan sebagai orang yang mendidik, maka dalam arti luas dapat dikatakan bahwa pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang berusaha dan memberikan pengaruh terhadap pembinaan orang lain (peserta didik) agar tumbuh dan berkembang potensinya menuju kesempurnaan.
Menurut Wiji Suwarno bahwa pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain (peserta didik) untuk mencapai tingkat kesempurnaan (kemanusiaan) yang lebih tinggi. Status pendidik dalam model ini bisa diemban oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.[24]
Dalam konteks pendidikan sebagai usaha sadar yang dengan sengaja dirancang atau didesain dan dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik agar tumbuh dan berkembang potensinya menuju kearah yang lebih sempurna, dan dilaksanakan melalui jalur sekolah formal, maka yang disebut dengan pendidik dapat disederhanakan atau dipersempit maknanya. Yakni, pendidik adalah orang yang dengan sengaja dipersiapkan untuk menjadi pendidik yang profesional.Artinya pekerjaan seorang pendidik merupakan pekerjaan professional.[25]
2.      Perspektif Islam Tentang Pendidik
Kata pendidik dalam bahasa Indonesia, jika dicarikan sinonim dalam literatur bahasa Arab yang sering digunakan oleh umat Islam dalam melaksanakan kegiatan pendidikan, maka dapat ditemukan beberapa istilah yang bisa disepadankan dengan kata pendidik tersebut, yang antara lain; ustāz, mu’allim, murabbĩy, mursyid, mudarris, mu’addib.[26]
Sebagai Ustāz. Menurut Muhaimin yang dikutip oleh A. Fatah Yasin, bahwa kata pendidik adalah identik dengan kata murabbiy. Seorang murabbiy, ketika melaksanakan kegiatan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan, dalam arti berprofesi/bekerja sebagai pendidik profesional, umumnya dipanggil dengan sebuatan ustāz. Kata ustāz biasa digunakan untuk memanggil seorang profesor. Ini mengandung makna bahwa seorang pendidik (guru, ustāz) dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seorang Ustāz memiliki tugas dan kompetensi yang melekat pada dirinya sebagai mu’allim, mu’addib, mudarris, mursyid.[27]
Sebagai Mu’allim. Kata Mu’allim berasal dari kata ‘allama-yu’allimu-ta’lĩman yang berarti mengajar atau memberi ilmu. Jadi kata Mu’allim berarti orang yang mengajar atau orang yang memberi ilmu. Seseorang mengajarkan ilmu pada orang lain agar orang tersebut memiliki ilmu pengetahuan. Dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 31 Allah berfirman:
Artinya :  Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
Sebagai mu’allim artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu pengetahuan, dan mampu menjelaskan, mengajarkan, mentransferkan ilmu tersebut kepada peserta didik, sehingga peserta didik bisa mengamalkannya dalam kehidupan.
Sebagai Murabbiy. Dalam literatur kependidikan Islam, bahwa yang paling populer digunakan dalam menyebut kata pendidikan adalah tarbiyah. Menurut Abdurrahman al-Nahlawi, bahwa kata tarbiyah berasal dari kata rabā-yarbūw yang berarti tumbuh, tambah, dan berkembang. Atau bisa pula dari kata rabiya-yarbā, yang berarti tumbuh menjadi besar dan dewasa. Dan bisa juga berasal dari kata rabbā-yurabbĩy-tarbiyyatan, yang artinya memperbaiki, mengatur, mengurus, memelihara, atau mendidik. Dari beberapa istilah asal di atas dapat disimpulkan bahwa kata tarbiyah berarti upaya memelihara, mengurus, mengatur, dan memperbaiki sesuatu potensi atau fitrah manusia yang sudah ada sejak lahir agar tumbuh dan berkembang menjadi dewasa atau sempurna.[28] Dalam al-Quran dapat dilihat pada surat al-Isrā: 24
Artinya:     “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Sebagai Mursyid, artinya orang yang memiliki kedalam spiritual atau memiliki tingkat penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, memiliki ketaatan dalam menjalankan ibadah, serta berakhlak mulia. Kemudian berusaha untuk mempengaruhi peserta didik agar mengikuti jejak kepribadiannya melalui kegiatan pendidikan.
Sebagai Mudarris, artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual lebih, dan berusaha membantu menghilangkan, menghapus kebodohan/ketidaktahuan peserta didik dengan cara melatih intelektualnya (intellectual training) melalui proses pembelajaran sehingga peserta didik memiliki kecerdasan intelektual dan ketrampilan.
Sebagai Mu’addib, artinya apabila kata mu’addib sebagai isim fāil dari kata “addaba-yuaddibu-ta’dĩban“ yang berarti mendisiplinkan atau menanamkan sopan santun. Maka seorang mu’addib adalah seorang yang memiliki kedisiplinan kerja yag dilandasi dengan etika, moral dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada peserta didik melalui contoh untuk ditiru oleh peserta didik. Bahkan menurut Syed Muhammad al-Naquib al-Attas yang dikutip oleh A. Fatah yasin, mengartikan pendidikan Islam (ta’dib) sebagai upaya membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan dengan cara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia.[29]
F.     ANAK DIDIK
1.      Pengertian Anak Didik
Mengacu kepada konsep pendidikan sepanjang masa atau seumur hidup (long life education), maka dalam arti luas yang disebut dengan peserta didik adalah siapa saja yang berusaha untuk melibatkan diri sebagai peserta didik dalam kegiatan pendidikan, sehingga tumbuh dan berkembang potensinya, baik yang masih berstatus sebagai anak yang belum dewasa, maupun orang yang belum dewasa.[30]
Dalam konteks ini, siapa saja sebagai anggota masyarakat bisa menjadi peserta didik, apabila mereka mengikuti proses pembelajaran pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun pemerintah.
Peserta didik yang mengikuti proses pendidik atau pembelajaran di jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan menengah biasanya disebut anak didik, artinya mereka adalah manusia yang masih berstatus sebagai anak dan masih belum dewasa secara utuh, sehingga membutuhkan bimbingan dan pembinaan terhadap potensi yang dimilikinya
2.      Anak Didik dalam Pendidikan Islam
Dalam perspektif pendidikan Islam, anak didik merupakan orang yang belum dewasa secara sempurna dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.Disini anak didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaninya, ia memiliki bakat, memiliki kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.[31]
Di samping itu terdapat hadits Nabi SAW yang populer yang banyak disitir oleh para ulama antara lain sebagai berikut:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أويمجسانه
Artinya: tiap-tiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi”
G.    LINGKUNGAN
Lingkungan pendidikan merupakan suatu institusi atau kelembagaan dimana pendidikan itu berlangsung. Lingkungan tersebut akan mempengaruhi proses pendidikan yang berlangsung. Dalam beberapa sumber bacaan kependidikan, jarang dijumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkunganpendidikan, namun lingkungan pendidikan biasanya terintegrasi secara implisit dengan pembahasan mengenai macam-macam lingkungan pendidikan. Menurut Abuddin Nata yaitu “lingkungan pendidikan (tarbiyah Islamiyah) itu adalah suatu lingkungan yang didalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik”.[32]
Lingkungan atau tempat berguna untuk menunjang suatu kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan, karena tidak ada satupun kegiatan yang tidak memerlukan tempat dimana kegiatan itu diadakan. Sebagai lingkungan tarbiyah islamiyah,ia mempunyai fungsi antara lain menunjang terjadinya proses kegiatan belajar mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan.
Memperhatikan uraian dan informasi di atas dapat diindentifikasikan bahwa lingkungan atau tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan Islam itu terdiri dari rumah, masjid, kutab, dan madrasah. Pada perkembangan selanjutnya institusi lembaga pendidikan ini disederhanakan menjadi lingkungan sekolah pendidikan dan pendidikan luar sekolah. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, misalnya mengatakan sebagai berikut: a) Suatu pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah b) Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan. c) Satuan pendidikan di luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis.[33]
H.    SARANA PENDIDIKAN
     Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen penting yang saling berhubungan.Di antara komponen yang ada dalam sistem tersebut adalah sarana dan prasarana.Sarana dan prasarana turut menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan yang dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu sarana dan prasarana mesti dikembangkan secara dinamis sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.
Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Adapun, prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan-pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu 1) habis tidaknya dipakai; 2) bergerak tidaknya pada saat digunakan; 3) hubungannya dengan proses belajar mengajar.[34]
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang tidak secara langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti, halaman, kebun, taman Islam, jalan menuju sekolah Islam, dan lain-lain.[35]
Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang ada harus didaya gunakan dan dikelola untuk kepentingan proses pembelajaran. Pengelolaan sarana dan prasarana tersebut dimaksudkan agar penggunaannya bisa berjalan dengan efektif dan efisien dan tujuan pendidikan Islam dapat tercapai.
I.       METODE PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya ke arah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimanapun baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan Islam, tidak akan berarti apa-apa bila tidak diikuti metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada anak didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan memperhambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu dan tenaga secara percuma. Karenanya metode merupakan syarat mutlak untuk efesiensinya aktivitas pendidikan Islam.
Metode pendidikan Islam memiliki asas-asas dimana ia tegak berdiri dan memperoleh unsur, tujuan dan prinsip. Asas tersebut pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan asas-asas tujuan kurikulum pendidikan Islam. Konsep ini menggambarkan bahwa seluruh komponen yang terkait dalam proses pendidikan Islam adalah merupakan satu kesatuan yang membentuk sistem.
       Secara umum asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany adalah ;
1.      Asas agama, yaitu prinsip, asas-asas dan fakta umum yang diambil dari sumber asasi Islam yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
2.      Asas biologis, yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia peserta didik.
3.      Asas pskilogis, yaitu prinsip yang lahir di atas pertimbangan kekuatan psikologis, seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat dan kecakapan akal atau kapasitas intelektual.
4.      Asas sosial, yaitu Asas yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.[36]
Metode pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri, adapun yang menjadi karakteristik dari metode pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1.      Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari pembentukannya, penggunannya sampai pada pengembangannya tetap didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal.
2.      Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat dipisahkan dengan konsep al-akhlak al-karimah sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam, sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam.
3.      Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik, pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
4.      Metode pendidikan Islam berusaha bersungguh-sungguh untuk menyeimbangkan antara teori dan praktek.
5.      Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan dan al-akhlak al-karimah.
6.      Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajarannya.
7.      Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi dan kondisi memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif dan kondusif.
8.      Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efesien.
An-Nahlawi dalam Samsul Nizar mengemukakan beberapa metode yang paling penting dalam pendidikan Islam yaitu :
1.      Metode hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi
2.      Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
3.      Mendidik dengan amtsal (perumapamaan) Qur’ani dan Nabawi
4.      Mendidik dengan memberi teladan
5.      Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
6.      Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan muidhah (peringatan)
7.      Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).[37]
 Abudin Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam 1 menyatakan bahwa macam-macam metode yang ditawarkan oleh Al-Qur’an diantaranya adalah: “Metode teladan, kisah-kisah, nasihat, pembiasaan, hukum dan ganjaran, ceramah (khutbah), diskusi”.[38]
            Keseluruh metode di atas penerapannya dalam kependidikan Islam adalah prinsip bahwa tidak ada satu metodepun yang ideal untuk semua tujuan pendidikan, semua ilmu dan mata pelajaran, semua tahap pertumbuhan dan perkembangan, kematangan dan kecerdasan, guru dan peserta didik, lingkungan dan sarana kependidikan. Oleh karenya hendaknya seorang pendidik diharapkan mampu dalam mengkolaborasikan dari berbagai metode yang telah disebutkan dalam praktek pengajarannya di lapangan.


BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Pendidikan merupakan sebuah kekuatan dalam membagun sebuah generasi yang cemerlang. Hal ini tentu tidak bisa dengan angan-angan maupun khayalan, Namun harus dengan perjuangan yang bersungguh sungguh.
Islam adalah agama yang mengatur segalanya, tak terkecuali pendidikan. Pendidikan dalam Islam merupakan hal yang sangat penting untuk selalu diperhatikan. Siapapun yang ingin maju maka harus memperhatikan pendidikan.
Panduan-panduan dalam melaksanakan pendidikan harus selalu diperhatikan. Dan pengertian segala hal yang berkaitan dengan pendidikan harus selalu direnungi dan diresapi. Agar masing-masing individu dalam pendidikan bisa menjalankan perannya sesuai dengan fungsinya.
Pendidikan itu tidak hanya berkaitan dengan keilmuan, namun yang terpenting dalam pendidikan Islam itu adalah berakhlak mulia dan bisa mencapai tujuan akhir yang bahagia yaitu surga.










DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam dalam keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, (Bandung: CV. Diponegoro, 1996).
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1989
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992).
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997)
Nizar, Rasyidin dan Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press. Cet. II edisi Revisi, 2005)
 Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), cet. 1.
Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 2008).
Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta: Aksara Baru, 1985.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 1: Untuk IAIN,STAIN, PTAIS, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 17-18.
W.J.S. Powerwardarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet. 12.
Yasin, A. Fatah, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008)




[1] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991), h. 69.
[2] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 1
[3] Sudirman, dkk, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), h. 4
[4] Hasbullah, h. 2-3
[5] Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), h. 2
[6] Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003, BAB I, ketentuan Umum Pasal 1, (Yogyakarta : Media Wacana, 2003), h. 9.
[7] Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 33-37
[9] Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 3
[10] al-Ragib al-Isfahani, Mu’jam al-Mufradat Alfazh al-Qur’an, (Beirut: Dar al-fikr) h. 189.
[11] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1977), h. 82
[12] Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam), (Yogyakarta: Ircisod, 2004), h. 41-41. lihat juga Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 26
[13] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan historis teoritis dan praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 26
[14] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), h. 23. lihat juga Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h. 24
[15] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 99
[16] Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), h. 399.
[17] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-5 (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), h. 133
[18] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, cetakan III (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2007), hlm. 68
[19] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 111
[20] Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan,  h. 68
[21] Muzayyin Arifin, h. 114
[22] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 1: Untuk  IAIN,STAIN, PTAIS, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 17-18
[23] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 61
[24] Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, ( Jogyakarta: Ar-Ruzz  Media, 2006), h. 37
[25] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 69
[26] A. Fatah Yasin, h. 84
[27] A. Fatah Yasin, h. 85
[28] Abdurrahman al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bait, wa al-Madrasah wa al-Mujtama, (Beirut: Darul Fikr, 1983), h. 12-13
[29] A. Fatah Yasin, h. 22
[30] A. Fatah Yasin, h. 95
[31] Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press. Cet. II edisi Revisi, 2005), h. 47
[32] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 95-111
[33] Undang-undang Nomor 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV, pasal 9, h.5.
[34] Rustiyah NK, Kompetensi Mengajar dan Guru, (Jakarta: Nasco, 1979), h. 6
[35] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Kosenp Strategi dan Aplikasi, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009, h. 115)

[36] Samsul Nizar, h.68.
            

[37] Samsul Nizar, h.73
[38] Abudin Nata, h. 95-107

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »